Istri Rahasia Presdir

Istri Rahasia Presdir
Dia Pacarku


__ADS_3

"Tidak. Hansel datang ke sini tadi, Tant," jujur Valerie.


"A--apa? Dia menyakitimu? Ada menyentuhmu?" tanya Joana, memperhatikan Valerie dari atas ke bawah.


Valerie menggeleng sambil tersenyum. Menampakkan kalau dirinya baik-baik saja.


"Aku baik-baik saja kok, Tante." Valerie terkekeh pelan karena Joana memeriksa tubuhnya dengan detail.


"Jadi, kenapa dia datang ke sini? Jujurlah, Valerie!" desak Joana, memperhatikan mimik wajah Valerie. Sedikit pun Valerie tidak memperlihatkan kalau Hansel sudah melecehkannya tadi. Dia terpaksa berbohong. Terlalu takut untuk jujur.


"Maafkan aku, Tant. Aku terpaksa berbohong. Aku takut kamu melaporkan Hansel ke polisi. Jika dia ditangkap, dia pasti akan mengatakan yang sebenarnya. Aku takut semuanya akan terbongkar. aku takut Mama dan Papa akan kecewa. Terima kasih karena sudah mengkhawatirkan aku, Tant," gumam Valerie membatin.


"Kenapa kamu termenung?" Joana mengusap lembut pipi Valerie. "Kedatangan pria itu membuatmu susah untuk melupakannya? Jangan-jangan usahamu menjadi sia-sia?" tanya Joana, mencoba menerka dari raut wajah keponakannya.


"Tante, ayo masuk dan bicarakan di dalam saja," ajak Valerie. Sengaja membiarkan Joana berjalan duluan biar Tantenya itu tidak curiga ketika melihatnya berjalan kesusahan.


"Jadi, ngapain dia datang ke sini, sih, Vale?" desak Joana setelah mendudukkan bokongnya di sofa.


"Dia hanya mau mencariku saja. Apa Mama ada menyampaikan kalau Hansel menyesal atas perlakuannya padaku dulu?" tanya Valerie pelan. Takut jika Joana mengiranya terlalu percaya diri.


"Nah! Rena juga bilang seperti itu, Vale. Makanya Tante bingung. Apa dia juga mengaku seperti itu juga sama kamu?" tanya Joana.


Valerie menganggukkan kepalanya. "Dia juga mengaku menyesal, Tant," akunya membenarkan.


"Kamu percaya, Vale? Yang Tante katakan tadi itu benar? Usaha kamu selama ini sia-sia?" cecar Joana, menyandarkan punggungnya sembari menghela nafas panjang.


"Tidak kok. Malahan aku semakin membencinya. Tekadku untuk melupakan Hansel semakin besar, Tante. Tante tenang saja," ucap Valerie sambil mengusap tangan Joana.


"Tapi kamu benar-benar tidak diapa-apain sama dia, kan, Vale? Jujur saja. Pria yang sedang marah dan menahan rindu itu sangat mengerikan, loh. Kamu tidak di--" Joana menggantung kalimatnya. Valerie sudah pasti paham apa maksud Tantenya itu.


Valerie langsung menggeleng. "Tidak kok. Aku langsung mengusirnya tadi," bohongnya lagi.


Joana mengusap rambut keponakannya, mengusap lembut pipinya juga sembari berkata, "Baguslah, Vale. Tante harap, kamu bisa menghindar dari Hansel supaya kamu bisa lebih mudah melupakan dia. Perjuangan kamu sudah cukup, Vale. Jangan lagi memperjuangkan sesuatu yang sudah jelas tidak bisa dimiliki. Hanya membuang-buang waktu dan menyia-nyiakan usaha saja," ucap Joana.

__ADS_1


"Aku mengerti, Tante."


"Tidurlah lagi. Maaf karena Tante mengganggu waktu istirahatmu, Vale," ucap Joana, melirik ke arah ranjang Valerie yang berantakan. Meski hatinya merasa janggal akan penjelasan Valerie, tapi Joana enggan untuk memperpanjang.


"Mungkin dia memang belum siap untuk menceritakannya," batin Joana. Menutup pintu kamar perlahan.


Valerie menghela nafas panjang. Setidaknya, kali ini dia sudah lolos. Valerie mengambil ponselnya, kembali memblokir semua akun media sosial Hansel.


Terlintas sebuah ide di kepalanya. Valerie tersenyum menyeringai, kemudian mengirimkan sebuah pesan pada Ken.


"Hansel, mungkin kau lupa. Larangan itu adalah sebuah perintah!" ucap Valerie sembari menahan kesal.


***


Tok! Tok! Tok!


Suara ketukan pintu di luar rumah terdengar. Valerie yakin kalau itu adalah Ken, orang yang sudah ditunggunya. Buru-buru Valerie membukakan pintu untuk pria itu.


"Wah, pagi sekali!" seloroh Valerie, terkekeh pelan memperhatikan Ken dari atas ke bawah.


"Beib?" tanya Valerie, memperlihatkan raut tak sukanya ketika Ken memanggilnya seperti itu.


"Ya. Apa ada masalah?" Ken kembali tersenyum, senyuman termanisnya.


"Terserah kau saja." Valerie acuh, dia masuk ke dalam untuk mengambil sepatunya.


"Sebenarnya, ada maksud apa kamu tiba-tiba mengajakku pergi?" tanya Ken, mengekor dari belakang.


Valerie menghela nafas panjang. Ternyata Ken cukup peka pada maksudmu terselubung yang disembunyikan Valerie.


"Semalam Hansel datang ke sini. Aku yakin dia masih di sekitar sini," tukas Valerie santai sambil mengenakan sepatunya.


"Jadi, kau mau membuatnya cemburu? Begitu?" tanya Ken tepat sasaran. Valerie mengangguk dengan wajah datarnya.

__ADS_1


"Terlalu kekanak-kanakan, Vale. Tapi, demi kamu aku pasti akan membantu kok," ucap Ken sambil tersenyum simpul.


"Entahlah. Aku hanya mengikuti kemauan hatiku saja. Kalau kamu keberatan, ya tidak apa-apa kok," ucap Valerie.


"Aku akan melakukan apa pun untuk membuatmu senang, Vale. Tenang saja," ucap Ken.


Ken merangkul pinggang ramping Valerie. Tentu saja, hal itu membuat Valerie sangat risih. Langsung saja Valeri memukul tangan Ken.


"Kenapa kau memelukku? Tidak tahu malu!" Valerie mencebik.


"Pasangan itu harus bertingkah romantis, bukan? Kalau kamu keberatan aku merangkulmu, Hansel akan curiga," ucap Ken.


Valerie terdiam sejenak, memikirkan alasan masuk akal. "Baiklah. Tapi, hanya kalau di depan Hansel, ya!" tegas Valerie dengan sorot mata tajam.


"Tidak masalah. Setidaknya aku berhasil memelukmu," gumam Ken.


"Apa katamu?" sentak Valerie kesal.


"Tidak ada. Aku hanya bersenandung saja," bohong Ken.


Mereka berjalan ke arah luar. Semalam, Valerie sengaja menghubungi Ken duluan dan mengajak pria itu untuk jogging bersama. Ken mulai curiga, kenapa wanita yang selama ini selalu menjauhkan diri tiba-tiba malah datang padanya dengan sendirinya. Berinisiatif mengajaknya jogging berdua pula.


Ternyata, kecurigaan yang bersemayam di pikiran Ken memang benar adanya. Kendati demikian, Ken tidak merasa keberatan untuk membantu Valerie menggapai maksudnya.


Keduanya tampak becanda sembari tertawa. Bukan candaan yang dibuat-buat. Tetapi, memang candaan yang murni karena Valerie merasa terhibur dengan berbagai lelucon yang dilontarkan Ken.


Dari kejauhan, seorang pria memperhatikan interaksi keduanya dengan mata menyipit. Setelah memastikan, tangannya meremas kuat sebotol air mineral di genggamannya.


"Valerie, ternyata kau masih tidak mengindahkan peringatanku! Kau istriku, Valerie. Hanya milikku dan selamanya akan tetap seperti itu!" gumam Hansel, membuang botol minumnya dan mengambil langkah besar menghampiri Valerie dan Ken yang juga langsung menghentikan langkahnya.


"Valerie, siapa dia?" Hansel menatap lekat wajah Valerie yang tidak menunjukkan kegentaran.


"Perkenalkan, dia kekasihku." Valerie memeluk lengan Ken, menggenggam erat jemari pria itu sambil tersenyum manis.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2