Istri Rahasia Presdir

Istri Rahasia Presdir
Kali kedua


__ADS_3

Valerie merasa terusik dengan ci*man suaminya. Meskipun Hansel melakukannya dengan sangat lembut.


Valerie membuka matanya, dia langsung tersadar dan menolak pelan dada bidang Hansel karena dirinya mulai kehabisan udara segar.


"Kak, kamu mencuri ciuman dariku? Beraninya kamu diam-diam menciumku!" Valerie memegangi bibirnya yang masih basah.


"Siapa yang mencuri ciuman? Aku sedang mencium istriku, memangnya siapa yang berani melarang jika seorang suami sedang mencium istrinya sendiri?" tanya Hansel sembari mengusap bibir Valerie.


"Tapi, kamu melakukannya secara diam-diam, Kak!"


"Lalu?" Hansel menaikkan sebelah alisnya.


"Sudahlah. Aku malas berdebat denganmu. Sebentar lagi kamu mau pergi ke kantor, kan?" tanya Valerie.


"Ya, kenapa? Kamu mau ikut?" tanya Hansel bercanda.


"Haha. Mana mungkin. Kan kamu sendiri yang bilang kalau aku tidak boleh sering-sering ke kantormu. Kamu bersiap-siap saja terus. Aku mau pulang!" ucap Valerie, hendak turun dari ranjang.


"Mau ke mana?" Hansel menarik tangan Valerie.


"Aku mau pulang, Kak!" Valerie kesal karena harus mengulangi lagi ucapannya.


"Jangan buru-buru." Hansel menarik tubuh Valerie ke dalam pelukannya. Valerie terperanjat, semudah itu Hansel menarik tubuhnya.


"Kau ringan sekali, Vale! Makanlah yang banyak!" tukas Hansel.


"Kamu suamiku, Kak. Jadi, tugas memberiku makan, sekarang sudah menjadi tugasmu!" sahut Valerie.


"Kau memang pintar berbicara!" Hansel kembali mel*mat bibir Valerie, bibir ranum itu kini telah menjadi candunya. Jika sedang bertemu dengan Valerie, rasanya Hansel selalu ingin menyesap bibir istrinya tersebut.


Valerie membiarkan Hansel menuntaskan kemauannya. Sebagai seorang istri, tentu dia tahu, tidak boleh menolak keinginan hasrat Suaminya.


Setelah beberapa saat, Valerie menolak dada bidang Hansel sebab pria itu tidak kunjung melepaskan pagutan mereka.


"Kak! Bukannya kamu mau ke kantor? Kenapa malah terus menciumku?" sentak Valerie memberengut.


"Jangan banyak bicara, Vale. Berikan bibirmu, aku selalu ingin menciummu!" Hansel kembali menarik tengkuk Valerie, menyesal bibir yang terasa manis bagi Hansel.


Tidak bisa dipungkiri, Valerie juga sangat menikmati ciuman Hansel yang selalu memabukkannya. Namun, sekarang Hansel akan ke kantor, mana mungkin mereka akan terus berciuman seperti ini.


"Kak!"

__ADS_1


"Kenapa kau senang sekali menolakku?" tanya Hansel, wajahnya merah padam menahan kekesalan.


"Lihat jam!" titah Valerie.


"Hanya waktu saja. Lagipula, rapat itu tidak akan berjalan jika aku tidak ada. Jadi, untuk apa takut?" Hansel merebahkan tubuh Valerie, menyingkap midi skirt yang dikenakan Valerie.


"Kak?" Valerie merengek, dia masih sangat malu kalau Hansel harus melihat bagian sensitifnya.Ya, meskipun mereka sudah pernah melakukanya.


"Ssssttt!" Hansel menaruh jarinya di bibir Valerie, meminta wanita itu diam. "Nikmati saja. Tidak akan semenyakitkan seperti yang pertama kali. Jadi, kamu tenang saja," ucap Hansel menenangkan.


"Tapi, Kak, nanti kamu telat ke kantor!" ucap Valerie, bukan ingin menolak suaminya. Tapi, hanya sekedar mengingatkan.


"Tidak apa-apa. Aku merindukanmu, Vale. Jadi, jangan halangi aku dengan segala macam alasan lagi. Kumohon...." ucap Hansel dengan suara lembutnya.


"Ba-baik, Kak. Maafkan aku."


Valerie menerima setiap sentuhan Hansel, menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh suaminya itu.


Hansel memasukkan tangannya ke dalam kaos oblong Valerie, menggenggam bukit kembar istrinya dan mengusap-usap pucuk hitamnya.


"Ssssttt!" Valerie meringis. Dia benar-benar sangat geli ketika Hansel menyentuh area sensitifnya.


"Kak, aku geli...." keluh Valerie. Namun, dia tidak bisa menghentikan Apa yang dilakukan Hansel. Malahan, Valerie merasa ketagihan dan tak ingin sentuhan itu disudahi begitu saja.


"Nikmati saja!" Hansel kembali menyesap bibir istrinya. Valerie mengalungkan tangannya di leher suaminya. Lumayan lama bibir mereka bersilaturahmi.


"Kak?" Valerie melenguh. "A-aku ti-dak tahan!" ucap Valerie, rasa geli yang diberikan Hansel membuatnya ingin terbang.


"Kamu sudah tidak tahan?" Hansel menciumi dada Valerie, membuat wanita itu meringis.


"Kak, jangan main-main. A-aku susah sangat hmmm...!" Valerie kembali melenguh, membuat hasrat Hansel semakin meningkat.


"Baiklah. Sekarang, kita akan langsung ke hidangan utama, ya?" Hansel tersenyum. Dia membantu Valerie menanggalkan semua pakaian yang sudah acak-acakan di tubuh Valerie.


"Vale, tubuhmu sangat indah!" puji hansel sambil menciumi lengan istrinya. Gerakan Hansel mendorong tubuh Valerie sampai wanita itu kembali terbaring di atas ranjang.


Hansel mengarahkan burung perkututnya ke dalam lembah Valerie yang sudah siap untuk dimasuki.


"Kak!" Valerie memanggil nama suaminya dengan mata terpejam. Sungguh, kenikmatan ini semakin lama makin kentara.


"Nikmati, Sayang!" Hansel menggoyangkan pinggulnya, menciptakan sebuah rasa yang diyakini baru kali ini dirasakan oleh wanita yang sedang dia kukung di bawahnya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat mereka saling menyesap, lidah mereka pun bersilaturahmi sampai beberapa kali. Dan, akhirnya tiba mereka kedua akan mencapai puncak dari permainan mereka.


"Kamu sudah meminum pil kontrasepsi?" tanya Hansel, sebelum melepaskan kecebongnya, dia harus kembali memastikan.


"Sudah, Kak." Valerie menganggukkan kepalanya.


Setelah mendapat jawaban dari Valerie, Hansel melepaskan kecebongnya dengan tenang ke dalam lembah Valerie yang juga sudah banjir.


Hansel merebahkan tubuhnya di samping Valerie. Mereka sama-sama mengatur nafas yang masih tersenggal-senggal. Keringat yang bercucuran di tubuh mereka membuat keduanya semakin bersemangat.


"Kak, kamu tidak ke kantor?" tanya Valerie yang hanya membuka matanya sedikit.


Hansel melirik jam yang berada di atas nakasnya. Sudah hampir jam sebelas. Dengan malas Hansel menggerakkan tubuhnya dan berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


"Huffttt!" Melihat Hansel yang meninggalkannya begitu saja, Valerie menghembuskan nafas pasrah.


Meskipun kerap kali melihat perlakuan baik Hansel. Namun, sampai sekarang pun Valerie tak kunjung merasakan cinta dari Hansel.


Sering kali dia juga meragukan perasaan Hansel padanya. "Apakah Kak Hansel benar-benar mencintaiku?" sering Valerie bertanya-tanya dengan dirinya sendiri. "Tidak. Kak Hansel memang sudah pasti mencintaiku. Kalau tidak, mana mungkin dia menikahiku!" Valerie kembali membantah pemikiran miringnya sendiri.


Hansel memejamkan matanya, meskipun hanya bermain satu ronde, tapi dia juga merasa lelah. Tubuhnya terasa pegal-pegal.


Bunyi deritan pintu menyita perhatian Valerie, namun dia tidak membuka matanya. Sampai ponsel Hansel pun berbunyi.


"Baik, Pa, Hansel segera datang ke sana sekarang juga!" hanya itu yang terdengar oleh Valerie.


"Siapa, Kak?" tanya Valerie penasaran.


"Papaku!" jawab Hansel singkat.


"Benar kan, Kakak sudah telat datang ke rapat. Kasihan yang lain sudah menunggu. Kakak malah enak-enakan di si--"


"Bukan masalah rapat," potong Hansel sambil mengancingkan kemejanya.


"Bukan masalah rapat? Lalu, apa lagi?" tanya Valerie yang merasa butuh kejelasan.


"Papa memintaku datang ke cafe Seroja. Om Daniel dan Om Rey juga ada di sana. Katanya, partner bisnis Om Daniel dan anaknya yang mau dijodohkan denganku sudah menunggu, mereka ... mau bertemu denganku!" terang Hansel.


-Bersambung-


Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar. Berikan juga rate 5, Vote, dan Hadiah sebanyak-banyaknya agar author tambah semangat buat update 🙏🥰 Terima kasih yang sampai sekarang masih setia membaca🙏😁🥰

__ADS_1


__ADS_2