Istri Rahasia Presdir

Istri Rahasia Presdir
Kecewa


__ADS_3

"Besok, aku tunggu kamu di apartemenku!" bisik Hansel.


"Di apartemen? Kenapa?"


"Kamu benar-benar tidak tahu kenapa aku memintamu datang ke apartemenku, Vale?" tanya Hansel dengan menyipitkan matanya. Pusat perhatiannya, tertuju pada bibir Valerie yang terlihat memerah.


"Tentu saja aku tau, Kak! Aku bukanlah anak kecil lagi. Aku sudah cukup dewasa untuk mengerti hal-hal seperti itu, Kak. Mana mungkin aku tidak mengerti dengan hal-hal yang seperti itu. Hanya saja, aku ma-malu!" Valerie menundukkan kepalanya, tidak berani menatap manik hitam Hansel yang begitu tajam.


Hansel mengangkat wajah Valerie agar wanita itu menatapnya. "Kenapa? Bukankah kita sudah pernah melakukannya? Kita sudah pernah saling bertukar Saliva. Aku juga sudah hafal lekuk tubuhmu. Lantas, kenapa kamu masih harus malu terhadap suamimu sendiri? Malumu salah tempat, Vale!" lirih Hansel, hembusan nafas Hansel yang mengenai wajah Valerie, membuat wajah Valerie semakin memerah.


"Kak!" sentak Valerie sambil menangkup wajahnya.


"Kenapa?" Hansel tersenyum melihat Valerie salah tingkah. Hansel baru sadar, ucapannya lah yang terdengar sangat memalukan.


"Tapi, ada satu yang ingin aku tanyakan padamu. Kenapa kamu menerima perjodohan ini? Bukankah kita sudah me--" Hansel tidak mengizinkan Valerie melanjutkan ucapannya. Dia menutup mulut vallery dengan jari telunjuknya.


"Jika sedang berada di sini, jangan pernah ucapkan kata-kata yang membuat orang curiga, Vale. Kira tidak tau, telinga siapa yang sedang menempel di balik tembok sekitar sini," sanggah Hansel.


Valerie langsung membekap mulutnya sendiri. Dia mengangguk paham akan maksud Hansel.


"Kamu tenang saja. Alasanku masih seperti tadi siang saat kamu bertemu dengan Amara," ucapnya dengan raut wajah santai. Hansel melirik keadaan sekitar, setelah memastikan benar-benar aman, Hansel mendekatkan wajahnya pada Valerie dan membisikkan sesuatu, "aku tidak akan berbuat yang aneh-aneh. Kamu tidak perlu cemas aku akan mengkhianati kamu!" bisik Hansel.


"Tapi, Kak, meskipun alasanmu seperti itu, aku tetap sakit hati. Apalagi, melihat kamu berduaan dengan wanita lain, hati aku perih, Kak!" ucap Valerie dengan mata berkaca-kaca.


"Sudahlah, Valerie. Jangan terlalu mendramatisir. Semua yang aku lakukan juga untuk kebaikan kita berdua. Aku tidak mau ada yang curiga dengan hubungan kita!" tukas Hansel, meskipun Valerie sudah hampir menangis, tapi Hansel tidak memiliki rasa iba sedikitpun.


"Lagipula, keluarga kita juga setuju kalau kita menikah. Kenapa Kakak malah merahasiakan hal ini dari mereka semua?"


"Sudah kukatakan, jangan mengucapkan sesuatu yang akan membuat orang curiga." Hansel mendengus kesal. "Aku memiliki alasan yang tidak bisa aku katakan pada orang lain, termasuk dirimu!" tegas Hansel.


"Vale! Kenapa kamu masih di sini?" Hilsa mendatangi Valerie yang terlihat gugup ketika Hilsa mendatanginya. "Sejak tadi Tante Rena mencarimu. Kupikir, kamu sudah turun. Ternyata masih di sini," imbuhnya sambil menatap Hansel yang mulai menjauh dari Valerie.


"Eee, itu... tadi ada yang aku bicarakan dengan Kak Hansel," ucap Valerie gugup.


"Oh. Ya sudah, ayo kita turun sekarang. Jangan dekat-dekat dengan dia!" Hilsa menarik tangan Valerie menjauh dari Hansel. Dia menyayangi Valerie, dia juga tau, selama ini Hansel selalu menyakitinya. Makanya, dia menjauhkan Valerie dari Hansel.


"I-iya, Ayo!" Valerie bersama Hilsa, Valerie melirik sekilas Hansel yang berdiri mematung sambil menatap langit.


"Vale, kamu dari mana?" tanya Rena.

__ADS_1


"Valerie tadi di kamar mandi, Tante," jawab Hilsa tanpa persetujuan Valerie terlebih dahulu.


Kenapa dia mengatakan kalau aku dari kamar mandi? Jelas-jelas tadi dia menemuiku di roof top bersama dengan Kak Hansel.


Valerie tidak mengerti Kenapa


Hilsa mengatakan dia dari kamar mandi.


"Kalau begitu, kami pamit pulang dulu, ya!" ucap Rena pada Embun dan yang lainnya.


"Iya, hati-hati, ya!" sahut Embun sambil melambaikan tangannya.


Dalam perjalanan, dari spion tengah, Rey dapat melihat wajah murung Valerie.


Tadi, dia ingin menanyakan alasan apa yang dimiliki Hansel, kenapa pria itu terus bersiku untuk merahasiakan pernikahan mereka. Tapi, belum sempat dia bertanya, kedatangan Hilsa membuatnya bungkam. Itulah yang sangat mengganggu pikiran Valerie.


"Vale, kenapa kamu termenung?" tanya Rey, selama ini, putrinya itu sangat riang.


"Tidak apa-apa, Pa!" jawab Valerie sambil memaksakan senyumnya.


"Sudah waktunya kamu memperkenalkan calon suamimu, Nak. Papa dan Mama sudah ingin menggendong cucu dari kamu," ucap Rey pelan-pelan supaya Valerie tidak salah paham.


"Iya. Kapan kamu akan memperkenalkan pacarmu? Papa akan mempersiapkan waktu untuk pacarmu itu," tukas Rey sambil tercengir kuda.


Pacar? Bahkan aku sudah memiliki suami, Pa. Tapi, pernikahan suami rahasiaku terus memaksaku untuk bersembunyi. Entah sampai kapan pernikahan Rahasia ini akan terus berjalan.


"Aku tidak tahu, Pa. Bahkan, Vale tidak memiliki pacar," jawabnya.


"Belum? Kebetulan, anak teman Papa ingin menjodohkan anaknya dengan kamu. Kamu mau?" tanya Rey yang terlihat begitu bersemangat.


"Terlalu kebetulan, ya!" Valerie tersenyum miring. Praduga Valerie selalu tepat, dia tau, kedua orang tuanya selalu ingin dia melupakan cintanya pada Hansel.


"Pa, Vale tau, yang Papa dan Mama lakukan ini untuk kebaikanku. Tapi, bisakah kalian memberikan waktu untukku? Aku masih harus menyembuhkan hatiku dari luka."


"Tentu saja, bisa. Kami akan menunggu, Vale," sahut Rena.


Valerie hanya tersenyum. Dia memejamkan matanya, merasakan perasaan lelah dan bingung berbaur jadi satu. Kenapa, dunia selalu mempermainkannya sekejam ini.


*****

__ADS_1


Keesokan harinya, Valerie sudah bersiap-siap. Dalam kamar, berulang kali dia memperhatikan penampilannya yang terlihat sudah sempurna di matanya. Sesekali Valerie mengecek ponselnya, agar dia tau kalau taksi online pesanannya sudah tiba.


"Kamu mau ke mana, Vale?" tanya Rena yang langsung masuk ke dalam kamar putrinya.


"Mama? Vale mau pergi jalan-jalan bersama Lula," bohongnya.


"Jalan-jalan?" tanya Rena kemudian tersenyum.


Valerie mengangguk.


"Lepaskan saja kacamatanya. Pakai lensa kontak saja, Vale!" saran Rena yang memperhatikan penampilan Valerie dari belakang.


"Seperti ini saja sudah cukup, Ma." Valerie selalu menolak untuk merubah penampilannya. Ada satu alasan kuat mengapa dari dulu sampai sekarang dia selalu mempertahankan penampilan cupunya ini.


Rena menghela nafas panjang. Meski begitu, dia tetap tidak bosan untuk memperingatkan Valerie agar merubah penampilannya.


"Vale pergi dulu, Ma! Taksinya sudah menunggu di depan," ucap Valerie. Mencium punggung tangan Rena kemudian langsung pergi.


Rena memperhatikan langkah Valerie sambil tersenyum senang. Dia senang karena sekarang Valeri sudah sering keluar untuk menikmati hidup.


"Semoga, dengan dia sering bepergian seperti ini, dia bisa melupakan perasaannya pada Hansel dan menemukan seseorang yang bisa menerima dia apa adanya," harap Rena.


Dalam perjalanan, Valerie terus-menerus merem*s-rem*s jemarinya. Dia begitu gugup ketika membayangkan apa yang akan dilakukannya bersama Hansel nanti. Saking gugupnya dia, keringat pun sampai bercucuran dari dahi Valerie.


Tidak terasa, dia sudah berada di depan sebuah apartemen mewah milik Hansel. Setelah membayar tagihan taksi, Valerie turun.


Sejenak, Valerie berdiri di depan pintu gedung yang menjulang tinggi itu. Mempertahankan letak kamar Hansel dengan perasaan gelisah.


"Vale, seberapa lama kau berdiri di sini. Ujung-ujungnya, kau akan tetap masuk dan melayani suamimu. Jadi, lebih baik pergi saja sekarang." Valerie berbicara dengan dirinya sendiri.


Dengan perasaan gugup Valerie melangkahkan kakinya masuk ke dalam gedung apartemen. Masuk ke dalam lift, dan menekan angka dua puluh, tempat di mana kamar Hansel berada.


Ketika berada di depan pintu kamar Hansel, Valerie menekan bel. Lama sekali sampai akhirnya pintu kamar Hansel terbuka.


Valerie terperanjat, matanya melotot ketika melihat seorang gadis yang membukakan pintu untuknya sambil tersenyum sinis.


"Ada keperluan apa kau datang ke apartemen Hansel?" tanya wanita itu dengan nada sinis.


-Bersambung-

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar. Berikan juga rate 5, Vote, dan Hadiah supaya author tambah semangat. Terima kasih 🙏❤️❤️


__ADS_2