
Karena Valerie tidak kunjung menjabat tangannya, Boy memperhatikan tangan Hansel dan Valerie yang saling terpaut erat.
"Wah, sepertinya ada yang sedang cemburu!" sorak Boy.
"Boy, jangan banyak bicara! Lakukan saja tugasmu!" sentak Hans geram dengan tingkah Boy yang terlalu pecicilan.
"Haha. Maaf!" Boy lansung menurunkan tangannya. "Kalau begitu, ayo kita masuk. Pak penghulunya sudah menunggu kalian sejak tadi," ucap Boy mempersilahkan mereka kedua masuk ke dalam.
Tanpa basa-basi, Hansel langsung menarik lengan Valerie. Dan benar saja, seorang Bengkulu memang sudah menunggu mereka di dalam.
"Kalian pengantinnya?" tanya Pak penghulu yang merasa heran karena mental dan Valerie tidak mengenakan gaun seperti para pengantin pada umumnya.
"Iya, Pak!" Hansel mengangguk.
"Kenapa memakai wali? Apakah Ayahnya sudah meninggal?" tanya penghulu tersebut.
"Ayah dari calon istri saya tidak diketahui keberadaannya. Dan, dia juga tidak memiliki wali kandung yang bisa dijadikan wali nikahnya, Pak!" terang Hansel.
"Oh begitu!" sang penghulu manggut-manggut pertanda dia mengerti.
"Bisa kita mulai sekarang?" tanya Hansel. Dia tidak suka diintrogasi. Dan, dia juga ingin mengakhiri ini secepat mungkin.
"Oh... boleh, boleh!"
Hansel berjabat tangan dengan penghulu. Ada beberapa orang tidak dikenal yang sengaja mereka undang untuk meramaikan suasana pernikahan Valerie dan Hansel.
Saat akad nikah disebutkan, semua tanggung jawab yang telah berpindah pun harus ditunaikan. Membahagiakan, menyayangi, memberikan rasa aman dan nyaman serta menafkahi lahir batin. Mungkin, Hansel bisa memberikan semua untuk Valerie. Nafkah lahir batin, tentu akan dia berikan. Rasa sayang, sejak dulu sudah tertanam di hati Hansel. Dia memang selalu menyayangi Valerie meksipun sebagai adik. Namun, untuk membahagiakan wanita yang baru saja menjadi istrinya, dia tidak bisa berjanji.
Valerie mencium tangan Hansel dengan penuh senyuman yang terukir di wajahnya. Dengan sangat terpaksa, Hansel mencium kening Valerie agar rencananya dapat terlihat lebih sempurna lagi.
Valerie tersenyum senang, karena dia berpikir itulah awal dari segala kebahagiaan yang akan diraih di masa depan. Hanya saja dia tidak tahu, alasan mengapa Hansel menikahinya, dan mungkin saja, pernikahan inilah yang akan menjadi awal kepedihan segala penderitaan yang dia rasakan.
"Kamu senang sekali?" tanya Hansel, memperhatikan wajah Valerie yang sejak tadi menabur senyuman.
"Tentu saja. Ini hari bahagia kita, mana mungkin aku malah bersedih sampai menangis!" seloroh Valerie sambil terkekeh.
"Selamat! Kalian sudah sah menjadi suami istri!" ucap sang penghulu. Yang semakin tidak dimengerti, kenapa Hansel dan Valerie memilih menikah sah di mata agama saja, tapi tidak terdaftar di negara.
Padahal mereka sama-sama masih muda dan berstatus lajang. Sudahlah ... itu hak mereka. Tujuanku datang ke sini hanya untuk menikahkan mereka. Dan tugasku juga sudah selesai. Untuk apa aku memusingkan hal yang tidak perlu.
__ADS_1
Setelah memberikan uang pada semua orang tak dikenal yang datang, Hansel langsung membawa Valerie masuk ke dalam kamar.
"Hansel! Kau memang sangat tidak sabaran!" teriak boy kemudian terkekeh.
Mendengar teriakan Boy, wajah Valeri langsung merah merona. Jantungnya berdegup kencang. tangannya yang digenggam oleh Hansel pun berkeringat dingin.
'Apa Kak Hansel akan melakukan kali pertama kami di siang bolong seperti ini? Jujur saja, aku sangat gugup sekali.' batin Valerie.
Setelah berada di dalam kamar, Hansel melepaskan genggaman tangan mereka.
"Ka-Kak?" panggil Valerie, pikirannya mulai berkelana jauh. Bayangan gaya-gaya erotis mulai menari-nari dalam benaknya.
"Hum?" tanya Hansel. Valerie semakin gugup ketika melihat Hansel melepaskan kaos yang dipakainya. Walaupun sudah terbiasa melihat Hansel bertelanjang dada sampai mengangumi dan ingin menyentuh ABS perut sixpack Hansel yang selalu saja sukses membuat Valerie terkagum-kagum. Namun, kali ini sungguh sangatlah berbeda.
Sekarang, mereka sudah sah menjadi suami istri. Baru beberapa menit berlalu. Setelah menikah, pasangan suami istri pasti akan melakukan hubungan intim. Itulah yang terus terngiang-ngiang di kepala Valerie. Makanya, saat melihat Hansel bertelanjang dada, Valerie menjadi gugup tak menentu.
Valerie tak melanjutkan ucapannya, dia malah terfokus pada badan sixpack Hansel. Valerie menelan ludah, dia ingin menyentuh perut Hansel tapi malu sekaligus takut, kalau tiba-tiba Hansel menepis tangannya atau memukul kuat tangan Valerie karena marah.
"Vale, mandi sana!" titah Hansel, dia tau pandangan mesum Valerie padanya. "Jangan pakai air hangat, ya! Tapi, pakai air dingin!" tambahnya sengaja agar pikiran-pikiran mesum Valerie hilang.
"Ke-kenapa? Ini kan area pegunungan. Pasti dingin sekali. Lebih bagus aku mandi dengan air hangat saja!" bantahnya.
"Biar kamu tidak mengantuk!" celetuk Hansel yang kembali membuat Valerie salah paham.
"Mandi sana!" titah Hansel sekali lagi.
"Se-sekarang?" pertanyaan konyol itu terucap begitu saja dari bibir Valerie.
"Lalu, kau maunya kapan?"
"Hem. Kak, aku mandi ... sendiri?" Valerie memiliki keinginan lain.
"Pergilah sekarang, Vale!" Hansel meninggikan sedikit suaranya.
"Ba-baiklah! Aku akan mandi sekarang juga!" Valerie lari kocar-kacir masuk ke dalam kamar mandi.
Sepertinya, Kak Hansel memang sudah tidak sabaran untuk menerkamku. Apa aku harus melepaskan keperawananku padanya sekarang? Tapi, aku belum siap! batin Valerie sambil melucuti semua pakaiannya sendiri. Valerie menutup muka dengan tangannya sendiri kala bayangan mesum saat dia melakukan hubungan intim bersama Hansel dengan berbagai gaya kembali menggerayangi kepalanya.
Seperti permintaan Hansel tadi, Valerie benar-benar mandi menggunakan shower dengan air dingin. Ketika mandi, dia tidak henti-hentinya mengulas senyum.
__ADS_1
"Ahh... aku jadi malu dengan diriku sendiri!" pekiknya berteriak girang.
Setelah menggosok seluruh bagian tubuhnya. Valeri pun selesai dari ritual mandinya.
"Aku keluar dengan handuk pendek atau dengan Bathrobe ini, ya?" gumamnya kebingungan. "Harusnya, aku membawa lingerie berwarna putih agar Kak Hansel biar bisa lebih bersemangat!" gumam Valerie.
Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Valerie memilih keluar dengan mengenakan bathrobe. Namun, setelah dia mendekat ke arah ranjang, dia merasa kecewa karena melihat Hansel yang sudah tertidur pulas.
"Apa-apaan!" sentak Valerie kesal. "Kenapa dia malah tidur? Apa dia kelamaan menungguku sampai mengantuk?" terka Valerie dengan wajah cemberut.
"Hah!" terlampau kesal, Valerie menghentak-hentakkan kakinya. Dia menuju sofa dan membaringkan tubuhnya di sana.
'Aku sudah menunggunya sampai gemetaran dan senyam-senyum seperti orang gila, dia malah ketiduran? Benar-benar keterlaluan!' sungut Valerie sambil melirik kesal pada Hansel yang sudah tertidur nyenyak.
*****
Mereka berdua tidur sampai melewatkan jam makan siang. Saat warna langit sudah berubah jingga, Hansel terbangun karena rasa laparnya. Hansel mencari-cari keberadaan Valerie. Dia teringat dan takut kalau sampai terjadi sesuatu pada Valerie. Ketika melihat Vale tertidur pulas di sofa, Hansel menghembuskan nafas lega.
"Kenapa dia malah tidur di sofa kecil ini?" gumam Hansel, tidak tega melihat Valerie yang tertidur dengan postur meringkuk.
Hansel berniat mengangkat tubuh Valerie dan memindahkan wanita itu ke atas ranjang agar bisa tertidur dengan nyaman. Namun, baru memasukkan tangannya di bawah tubuh Vale, wanita itu membuka matanya dan menatap Hansel sambil menjerit.
"Ka-Kak Hansel? Apa yang kamu lakukan?" Valerie lansung duduk tegap. Karena dia terlalu lasak, tali Bathrobe yang dia gunakan pun mengendur dan berakibat belahan nya terbuka dan mengekspos belahan dada Valerie.
"Kenapa kau ketakutan dengan suamimu sendiri? Meskipun aku menidurimu, tidak ada yang bisa melarangku, Vale!" tukas Hansel masih berdiri di depan Vale.
Mendengar penuturan Hansel yang dianggapnya benar, Vale menurunkan kewaspadaannya.
"Ma-maaf. Kita baru saja menikah, karena itu hal baru untukku. Aku lupa dan terkejut," ucap Valerie lirih.
"Tidak masalah!" Hansel mendekati Valerie.
"Tapi, malam ini kita harus menginap di sini!" seru Hansel.
"A-apa? Kenapa kita harus menginap, Kak?" Valerie langsung mendongakkan wajahnya.
"Karena, kita harus menghabiskan malam pertama kita sebagai pasangan pengantin baru, Vale!" bisik Hansel dengan suara parau.
-Bersambung-
__ADS_1
Jangan lupa untuk tinggalkan komentar dan Like, ya! Itu sangat berharga buat author. Berikan juga Vote, bintang lima, dan hadiah sebanyak-banyaknya biar author tambah semangat guys ...
NOTE : Kalau mau komentar, sangat tidak disarankan untuk komen "Lanjut dan Next!" Karena itu Otomatis akan dihapus oleh sistem. Gatau kenapa, tapi memang gitulah adanya.