
"Lalu, kenapa? Meskipun dia sudah memuaskanku. Kau juga tetap harus memuaskan suamimu, Vale. Jangan melawan lagi atau aku akan membuatmu tidak bisa berjalan sampai satu bulan!" kecam Hansel, langsung ******* bibir Valerie. Tangannya pun mulai nakal, memegang area sensitif Valerie sambil sesekali merem*as-rem*as buah sintal Valerie yang begitu menonjol.
"Lepasin vale, Kak!" Valerie meronta. Kali ini, dia benar-benar tidak mau disentuh oleh Hansel.
Hansel tidak mendengarkan, dia langsung menggendong tubuh Valerie dan melemparkannya ke atas ranjang empuk di kamarnya. Valerie pun tidak tinggal diam, dia buru-buru bangun dan beringsut mundur. Raut wajah Valerie penuh kekecewaan. Dia benar-benar tidak menyangka, Hansel yang selama ini dia percayai bisa melakukan hubungan intim dengan wanita lain.
"Apakah setelah ini kau akan membenciku?" tanya Hansel, berdiri berkacak pinggang di depan Valerie.
Valerie terdiam, dia berpikir, apakah dia bisa langsung membenci Hansel setelah bertahun-tahun mencintai pria ini?
"Tidak. Aku akan tetap mencintaimu. Tapi, tidak untuk kamu sentuh!" jawab Valerie tegas.
"Tidak membenciku meskipun aku sudah menyentuh wanita lain?" tanya Hansel, berusaha menggoyahkan pendirian Valerie, bermaksud agar wanita itu bisa membencinya.
"Aku sudah mencintaimu selama bertahun-tahun. Perasaan yang sudah lama ini, mana mungkin dalam sekejap bisa berubah menjadi perasaan benci? Itu tidak masuk akal. Meksipun aku mengatakan membencimu, tapi hatiku tidak begitu. Dan aku, tidak mau menjadi orang munafik karena mengatakan sesuatu yang berbeda dengan hatiku!" terang Valerie.
Berarti, aku harus pelan-pelan agar bisa membuatnya membenciku? Selama apapun itu, aku akan menjalaninya. Tujuanku hanya satu, yaitu melepaskan diri dari genggaman cinta Valerie yang tidak pernah aku inginkan!
"Kalau begitu, kamu tetap harus melayaniku. Aku ini suamimu!" Hansel kembali menegaskan statusnya pada Valerie.
"Suami?" Valerie terkekeh. "Suami yang telah mengkhianati istrinya?" imbuh Valerie dengan mata yang menatap tajam ke arah Hansel.
"Apa kamu tidak merasa jijik, Kak? Setelah meniduri Amara, kamu malah mau melakukanya lagi denganku?" pekik Valerie seolah hilang kendali. Hansel mengerti, dia cukup tau bagaimana sakitnya hati Valerie yang merasa dikhianati. Jika itu tertimpa pada orang lain pun, mungkin kebanyakan orang akan melakukan hal yang sama.
"Kamu memang tidak merasa jijik. Tapi, aku ji--"
"Aku memang melakukan olahraga pagi dengan Amara. Tapi, olahraga pagi yang kamu lakukan bukan seperti yang kamu pikirkan. Kami hanya lari pagi di sekitaran sini saja." tangkas Hansel, dia buru-buru menjelaskan sebelum Valerie hilang kendali.
Aku memang aneh. Aku ingin dia membenciku. Tapi, setiap kali dia salah paham, aku buru-buru menjelaskan. Aku tidak tega melihatnya berlarut-larut dalam kesalah pahaman yang aku ciptakan. Padahal, inilah waktunya untuk memupuk rasa benci itu sedikit demi sedikit.
"A-apa?" wajah Valerie memerah. Valerie langsung membuang muka. Kali ini, dia benar-benar malu. Sangat-sangat malu!
"Yang kamu pikirkan itu terlalu mesum, Vale! Kau pikir, aku ini pria macam apa?" lanjut Hansel menjelaskan.
Perasaan Valerie semakin kacau. Rasanya, dia sampai ingin menenggelamkan dirinya ke dasar bumi untuk menghilangkan jejak malunya itu.
__ADS_1
"A-aku salah paham, Kak. Tapi, ini semua kan karena Amara, dia berbicara sesuatu yang begitu ambigu. Aku yakin, kalau orang lain mendengarnya, juga akan salah sangka!" tukas Valerie.
"Sudahlah!" potong Hansel. Dia naik ke atas ranjang. Berbaring di atas paha Valerie.
"Aku sangat mengantuk!" ucapnya sambil menguap lebar.
Sontak, Valerie langsung menutup mulut Hansel dengan tangannya.
"Kak, kalau menguap, lebih baik mulutnya ditutup!" tegur Valerie. "Nanti bau mulutnya menguar kemana-mana!" seloroh Valerie sambil tertawa. "Nanti banyak setan yang masuk!" imbuhnya lagi.
Hansel memindahkan kepalanya ke atas bantal. Kemudian, menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya.
"Tidur sini!" pinta Hansel.
Walau sedikit gagal paham, Valerie tetap menuruti apa yang diminta oleh Hansel. Dia melepas tas jinjingnya dan meletakkannya di atas nakas, kemudian bebaring di samping Hansel.
Hansel memeluk pinggang ramping Valerie, wajah Valerie ditempelkan ke dada bidang Hansel. Valerie memundurkan kepalanya. Meskipun senang karena bisa sedekat itu dengan Hansel, tapi dia sesak karena tidak bisa bernafas.
Hansel kembali mendorong kepala Valerie ke dada bidangnya. "Jangan banyak bergerak!" ucap Hansel dengan mata terpejam.
Valerie kembali memundurkan kepalanya. "Kak, aku tidak bisa bernafas!" sungut Valerie kesal.
Apa dipikir dia sedang menidurkan bayi besar?
batin Valerie. Tubuh Valerie menegang. Sebab, baru kali ini ada yang menyentuh tempat-tempat sensitifnya.
Valerie mendongak, melihat mata Hansel yang sudah terpejam. "Kak, Kakak sudah tidur?" tanya Valerie.
Hansel tidak menjawab. Valerie melenguh, dia tidak menduga Hansel bisa tertidur begitu cepat.
"Jadi, aku di suruh datang ke sini karena untuk menemaninya tidur saja? Kukira, dia akan melakukan sesuatu yang lain!" keluh Valerie bergumam dengan dirinya sendiri.
"Jadi, kamu mau kita ngapain dulu baru tidur?tanya Hansel, pria itu sudah menatap wajah Valerie dengan tatapan menggoda.
"Kak Hansel belum tidur? Bu-bukan seperti itu. Maksudku, mungkin Kakak mau mengajakku jalan-jalan ke taman?" tangkas Valerie sambil cengengesan.
__ADS_1
"Yakin?" Hansel kembali menggoda dengan tatapannya.
Ahhh! Dia benar-benar sangat menawan!
"Ya-yakin, Kak!" Valerie buru-buru menganggukkan kepalanya berulang kali agar lebih meyakinkan.
"Kalau mau jalan-jalan, jangan sekarang. Nanti, akhir pekan aku akan membawamu jalan-jalan," jawab Hansel.
"Kenapa tidak sekarang, Kak?" Valerie mencebikkan bibirnya.
"Jam sebelas nanti, aku ada rapat penting di kantor. Tidak bisa kutinggalkan," terangnya.
"Oh. Baiklah." Valerie hanya bisa menurut.
"Ya sudah. Tidurlah. Sebelum jam sebelas kita harus sudah bangun," titah Hansel.
Tidak berselang lama, terdengar nafas Hansel mulai teratur. Valerie tahu, suaminya sudah tertidur pulas. Dalam dekapan Hansel, Valerie merasa nyaman. Kantuk menyerangnya, dan dia siap berperang dengan mimpi-mimpi indahnya.
******
Teriknya panas di luar menembus ke dalam. Sinar matahari yang begitu menyilaukan menyusup masuk melalui celah-celah gorden yang sengaja masih ditutup.
Hansel terbangun saat dirinya merasa silau. Tangannya terasa berat, sebab Valerie masih nyenyak tertidur dalam pelukannya.
"Tidur saja dia masih mengenakan kacamata!" gerutu Hansel. "Kacamata inilah yang selalu menghalangi kecantikannya."
Hansel melepaskan kacamata Valerie. Sejenak dia tertegun dengan kecantikan Valerie yang begitu alami. Perhatian Hansel terpaku pada bibir ranum Valerie yang begitu menggoda.
Tanpa segan, dia langsung mencium bibir istrinya yang masih mengarungi lautan mimpi indah. Hansel mel*mat, menyesap, dan menghisap bibir Valerie yang begitu menggemaskan.
Valerie merasa terusik dengan ci*man suaminya. Meskipun Hansel melakukannya dengan sangat lembut.
Valerie membuka matanya, dia langsung tersadar dan menolak pelan dada bidang Hansel karena dirinya mulai kehabisan udara segar.
"Kak, kamu mencuri ciuman dariku? Beraninya kamu diam-diam menciumku!" Valerie memegangi bibirnya yang masih basah.
__ADS_1
-Bersambung-
Jangan lupa berikan like dan komentar. Berikan juga bintang 5, vote, dan hadiah sebanyak-banyaknya. Terima kasih 🙏❤️❤️❤️