
"Karena, aku ingin membuatmu benci padaku. Agar kau bisa pergi jauh dariku. Karena, jujur saja, aku sudah cukup muak dengan cintamu yang begitu besar dan itu sangat menggangguku. Kuharap, dengan pernikahan ini aku bisa menyakitimu, membuatmu membenciku, dan pergi sejauh-jauhnya dariku!" pungkas Hansel.
Valerie terhenyak. Sangat tidak menyangka dengan penjelasan Hansel yang membuatnya semakin hancur dan patah hati makin dalam.
"Begitukah?" Valerie sudah tidak mampu menyembunyikan tangisannya. Walau dalam tangisnya, Valerie tetap tertawa, menertawakan dirinya sendiri yang sangat bodoh.
"Kak, kamu tau, bukan. Aku sudah menyimpan perasaanku selama bertahun-tahun? Seberapa bahagianya aku ketika kamu memintaku menikah denganmu. Sedikit pun aku tidak memiliki perasaan buruk terhadapmu, aku tidak memiliki kecurigaan apa pun atas alasan-alasan tak masuk akalmu itu. Tidak ada harapan muluk-muluk yang aku mau, hanya balasan baik darimu. Ternyata, perhatianmu selama ini hanya karena kamu mau membuatku membencimu? Semengganggu itukah perasaanku padamu?" Valerie tersenyum kecut.
"Kau tahu jawabannya, Vale. Yang terpenting, sekarang kau tahu kalau aku tidak pernah menyukaimu. Jadi, kau harus sadar dan pergilah sejauh mungkin. Bila perlu, jangan pernah perlihatkan wajahmu di depanku lagi. Aku juga berhak bahagia, Vale. Begitu pula denganmu. Kita bisa mencari kebahagiaan masing-masing. Kuharap, kau mengerti ucapanku dan tidak melakukan hal bodoh lagi!" tukas Hansel, menatap tajam Valerie. Tidak ada perasaan kasihan sedikit pun di wajahnya melihat Valerie yang sudah bersimbah air mata.
"Kak, kata-katamu bagai sembilu. Jutaan panah yang menghujaniku sampai mati. Benar, aku sudah mati rasa padamu. Ini yang kamu mau, kan? Pergi menjauh? Sejauh mungkin? Bahkan, kau muak melihat wajahku?" Hati Valerie semakin berdenyut, membengkak, dan bercucuran darah.
"Aku tidak akan menyesali yang kukatakan saat ini, Vale. Kau tahu, sejak dulu aku tidak pernah mencintaimu. Jangankan cinta, melihat wajahmu saja aku enggan. Kamu saja yang bodoh, bisa tertipu dengan perasaan yang begitu mendalam untuk pria brengsek sepertiku. Kau benar-benar bodoh, Valerie! Bahkan, aku sudah mereguk madumu, bukankah kau memang bodoh?" Hansel semakin gencar menghina Valerie. Walaupun hatinya merasa tidak tega. Tetapi, Hansel merasa inilah kesempatan emasnya untuk mewujudkan rencananya, membuat Valerie sangat-sangat membencinya.
"Cukup Hansel! Kau sudah menyakitiku, dan sekarang kau kembali menyakitiku dengan kata-kata kejammu itu? Ya. Aku akui, aku memang bodoh dan buta. Bisa-bisanya aku mencintai pria brengsek sepertimu! Harusnya, sejak dulu aku mendengarkan kata-kata orang sekitarku untuk melupakan perasaan ini. Aku memang bodoh! Bodoh!" pekik Valerie, air matanya semakin deras. Valerie tidak menutupinya lagi.
__ADS_1
"Bagus kalau kau menyadarinya!" ucap Hansel.
"Aku akan menuruti kemauanmu, Kak. Tenang saja, mulai sekarang kau tidak akan melihat wajah si bodoh ini lagi. Kau tidak akan diganggu oleh si bodoh ini lagi. Tidak akan ada yang akan mengusikmu bersama wanita-wanitamu itu." Selepas mengutarakan isi hatinya, Valerie langsung pergi tanpa mempedulikan ucapan Hansel yang terdengar lirih di telinganya.
Sepemerginya Valerie, Hansel merasakan sesuatu yang begitu menyiksa batinnya. Harapannya tidak seperti ini, dia berpikir setelah mengakui ini semua, perasaannya aja menjadi lega dan membaik. Nyatanya, apa yang Hansel rasakan saat ini tidaklah sama seperti yang dia pikirkan.
"Kenapa hatiku justru merasa sakit?" gumam Hansel. "Apalagi saat melihat dia yang menangis ... aku begitu tersiksa," imbuhnya, kembali mengingat saat-saat kata-kata kasarnya terlontar untuk Valerie.
Valerie menghapus kasar air matanya. Berjalan cepat keluar dari kantor Vano. Tidak perduli meski beberapa orang menatapnya dengan tanda tanya besar di wajah mereka.
Valerie langsung menyetop taksi yang melintas di depan kantor. Tujuannya saat ini adalah rumahnya.
Setibanya di rumah, Valerie langsung berlari masuk ke dalam. Menuju dapur karena Rena sedang berada di dapur.
"Vale, kenapa pulang lagi? Apa ada sesuatu yang tertinggal?" tanya Rena, terdiam ketika Valerie menangis dalam pelukannya.
__ADS_1
"Ma ...." panggilan lirih putrinya itu membuat Rena bungkam.
"Vale, kenapa? Ada sesuatu yang terjadi denganmu?" tanya Rena, mengusap-usap punggung Valerie.
"Ma, Kak Hansel sangat jahat, Ma!" saat Valerie menyebutkan nama Hansel, Rena hanya bisa menghela nafas panjang.
"Dia lagi?" Rena mengurai pelukannya. "Sudah berapa kali kamu seperti ini gara-gara dia, Valerie? Kamu tidak menyenangi dirimu sendiri? Mengadu, menangis, tapi perasaanmu selalu saja untuk Hansel!" Rena mengeluarkan kekesalannya.
"Ma, Valerie tidak mau lagi. Bawa Valerie pergi, Ma!" rengek Valerie, semakin menangis dalam pelukan sang Mama.
"Pergi ke mana, Vale?" Rena merasa ada sesuatu yang berbeda dari wanita itu. Biasanya, Valerie tak pernah mengatakan akan pergi karena ada Hansel di hatinya.
"Ke luar negeri, Ma. Menyusul Tanta Joana!" pinta Valerie. "Vale mau pergi hari ini juga!" imbuhnya.
"Hari ini? Kamu yakin? Minggu depan Papa ulang tahun, Vale!" maksud Rena, dia mengizinkan Valerie pergi tetapi tidak hari ini.
__ADS_1
"Biarkan saja Valerie dari menyusul Tantenya, Ma. Lagipula, kita masih bisa merayakan ulang tahun bapak dengan cara yang lain, bukan? Sekarang juga sangat mudah, kita bisa melakukan panggilan video atau semacamnya," ujar Rey yang baru saja datang. Tampaknya, dia mengetahui yang dibicarakan Valerie tadi.
*Bersambung*