Istri Rahasia Presdir

Istri Rahasia Presdir
Memiliki Alasan


__ADS_3

"Tidak bisa? Kenapa?" tanya Daniel, kini perhatiannya tertuju pada Valerie. Mereka semua juga menunggu jawaban Valerie yang sukses membuat mereka semua jadi begitu penasaran.


"Ka-karena...."


"Karena Valerie menyukai Hansel. Benar, kan, Vale?" sahut Hilsa sambil menyenggol bahu Valerie yang tergagap. Valerie hanya tersenyum kikuk. Dia juga sangat tahu bahwa perasaannya kepada Hansel juga sudah menjadi rahasia umum di keluarga besar mereka. Tapi, dia terlalu malu untuk mengakuinya.


"Ti-tidak. Bukan seperti itu," sanggah Valerie malu-malu. "Kak Hansel sudah punya pacar. Kalau dijodohkan pasti kasihan dengan pacarnya, kan?" alasan Valerie.


Sesungguhnya, itu hanya alasannya saja. Dia lah yang tidak rela kalau suaminya menikah dengan wanita lain lagi. Hansel sudah menjadi suaminya, harus bisa menjadi milik Valerie seutuhnya.


"Benarkah? Vale, kamu tidak cemburu Kak Hansel punya pacar? Kenapa kamu bisa setenang ini?" tanya Hilsa, sebab tanggapan Valerie sangat berbeda dengan biasanya.


Valerie hanya memberikan sedikit senyum sebagai jawaban. Hilsa langsung beralih pada Hansel yang sedang menikmati makan tanpa mempedulikan percakapan orang lain.


"Kak Hansel, sejak kapan kamu sedekat itu dengan Valerie? Bahkan, aku saja tidak tahu kamu punya pacar baru. Tapi, Valerie tau?" tanya Hilsa pada Kakaknya itu.


Hansel dan Valerie sama-sama tergagap. Semua orang juga tau, bagaimana sikap Hansel pada Valerie selama ini. Jika tiba-tiba Valerie mengetahui banyak tentang Hansel, pasti menjadi tanda tanya besar untuk semua orang.


"Jangan berpikir yang macam-macam, Hil! Vale mengetahui Kakak punya pacar karena kemarin dia tidak sengaja melihat Kakak saat di cafe," kelit Hansel. Mata tajamnya menatap Valerie untuk mencocokkan alasan mereka.


"Benar begitu?" tanya Embun, dia mengerti arti tatapan mengancam Hansel untuk Valerie.


"Be-benar, Tante. Vale tidak sengaja memergoki Kak Hansel berduaan dengan pacarnya," jawab Valerie sambil tersenyum canggung.


Huffttt! Hampir saja. Untung saja, Kak Hansel bisa dengan mudah mengendalikan keadaan yang membingungkan itu. Kalau tidak, maka semuanya akan runyam. Dan mungkin saja, pernikahan rahasia kami juga akan terbongkar.


"Masih pacar, kan? Lagipula, tidak ada salahnya juga kalau mencoba dengan yang lain. Mencoba hubungan yang lebih serius," celetuk Bara, menatap Hansel sambil menaikkan sebelah alisnya. "Hansel, bagaimana?" tanya Bara lagi.


"Seorang Presdir memang membutuhkan seorang pendamping. Kamu bisa mencoba dulu. Jika memang tidak cocok, tidak akan ada yang memaksamu," timpal Rey juga mendorong Hansel.


Kenapa Papa, Om Bara, dan Om Daniel kompak mau menjodohkan Kak Hansel? Bukankah mereka tau aku menyukai Kak Hansel. Lantas, mengapa semuanya menjadi seperti ini. Tidakkah mereka tahu kalau aku kecewa dan sedih?


Valerie tidak mengerti kenapa semua keluarganya memutuskan untuk menjodohkan Hansel. Sedangkan, mereka sangat tahu Valerie menyukai Hansel. Sekarang, hatinya hanya bisa menjawab agar Hansel tidak akan menerima perjodohan yang telah diatur oleh pada orang tua itu.

__ADS_1


"Baik. Aku akan mencoba menjalani perjodohan ini. Tapi, kalau aku merasa tidak cocok, tidak seorang pun boleh memaksaku, ya!" akhirnya Hansel menyetujui perjodohan itu.


Mendengar jawaban Hansel, Valerie mendongak. Dia benar-benar tidak percaya Hansel akan menerima perjodohan itu. Valerie memelototkan matanya agar Hansel meralat ucapannya dan menolak perjodohan itu. Namun, sedikitpun Hansel tidak melirik pada Valerie.


******


Acara makan malam berakhir. Seperti biasa, para orang tua akan duduk di ruang keluarga. Sedangkan para anak-anak mereka akan berada di lantai atas, atau di taman belakang. Berkumpul untuk saling menceritakan keseruan yang mereka miliki.


Di ruang keluarga, mulut Embun sudah gatal untuk menanyakan maksud dari ketiga pria paruh baya itu. Dan sekarang adalah waktu yang pas untuknya membicarakan hal itu.


"Pa, kenapa kalian mau menjodohkan Hansel dengan wanita lain? Sedangkan, kita semua tau, selama ini Valerie sangat menyukai Hansel!"


"Hanya Valerie yang menyukai Hansel. Tapi, apa Hansel membalas perasaan Vale?" sahut Bara, dia membantu Daniel berbicara karena memiliki maksud tersendiri.


"Maksud kamu?" Embun mengerutkan alisnya.


"Kamu tidak kasihan melihat Valerie selalu disakiti oleh Hansel? Bukannya membalas perasaan Valerie, dia malah sibuk berpacaran dengan wanita lain. Kami bertiga sengaja menjodohkan Hansel, jika Hansel sudah menikah nanti, Valerie pasti akan menyerah. Dia akan berhenti, dan tidak akan ada lagi yang menyakitinya. Valerie juga bisa mencari pria yang lebih baik lagi," terang Bara.


Embun menatap Daniel dan Rey secara bergantian. Kedua pria itu juga kompak menganggukkan kepala.


"Maaf karena Hansel terlalu menyakiti Valerie." Embun merasa bersalah dan tidak enak pada Rey dan Rena.


"Tidak, Kak. Mereka tidaklah salah. Perasaan memang tidak bisa dipaksakan," tukas Rena.


Belle hanya diam, dia bingung mau mengatakan apa. Dia cukup tau bagaimana perasaan Rena dan Embun.


"Kuharap, kamu juga bisa membantu membuat Hansel yakin untuk menikah dengan wanita pilihan Daniel itu," ucap Bara.


Dengan perasaan tidak ikhlas Embun mengangguk.


Mereka semua tersenyum dan mengalihkan pembicaraan.


Di roof top, semua orang berkumpul. Seperti biasa, mereka akan saling membicarakan kesibukan mereka masing-masing sambil bercengkrama dan bercanda. Hansel sibuk dengan ponselnya. Namun, Valerie sangat tau, itu bukanlah tentang pekerjaan. Ingin sekali Valerie bertanya atau mengintip apa yang sedang dilakukan Hansel.

__ADS_1


"Tasya, kapan kamu dan Gavin akan menikah?" tanya Hilsa.


"Setengah tahun lagi," jawab Tasya kemudian terkekeh. "Aku menunggu kepulangan Bia dan Paman Brandon terlebih dahulu. Saat mereka sudah kembali nanti, kami pasti akan langsung mengadakan pernikahan," imbuh Tasya sambil cengengesan.


"Kamu, apa belum memiliki pacar?" tanya Tasya.


"Sudah. Tapi aku tidak mau melangkahi Kak Hansel. Bicarakan dia berurusan dengan perjodohannya terlebih dahulu. Kemudian, baru aku akan menyusul," jawab Hilsa sambil tersenyum.


"Vale, bagaimana denganmu? Sepertinya, kamu sudah move on dari Kakakku. Berarti, aku gagal dong jadi adik iparmu. Sekarang, pria mana yang menggantikan pria dingin itu?" tanya Hilsa menggoda Valerie.


"Belum ada. Hatiku ... masih kosong!" Valerie sempat ragu. Tapi, hanya jawaban itu yang dia punya.


"Wah, kamu hebat, Vale. Bisa move on semudah itu!" seru Valerie.


Jarum jam begitu cepat berputar. Tanpa terasa malam semakin larut. Udara juga menjadi semakin dingin. Mereka semua memutuskan turun sambil memeluk diri. Valerie berada di urutan yang terakhir. Saat Valerie hendak turun, tangannya ditarik oleh Hansel.


Tanpa mengatakan apapun, Hansel langsung ******* bibir Valerie dengan rakus. Sontak, hal itu membuat Valerie terkejut dan takut.


Dia berusaha meronta dan meminta Hansel menyudahi ciuman mereka. Takut kalau tiba-tiba ada yang melihat mereka. Namun, bukannya melepaskan Valerie, Hansel malah semakin menarik pinggang Valerie ke dalam pelukannya dan semakin mengganas saat mencium Valerie.


"Hum!"


Hansel melepaskan pagutan mereka.


"Kamu takut ketahuan, kan? Makanya jangan bersuara. kalau kamu bersuara dan meronta, mungkin mereka akan mendengar dan kembali ke sini!" bisik Hansel. "Diam dan nikmati saja! Sekarang, aku ini suamimu, Vale!" sambung Hansel membuat Valerie diam tak bekutik.


Hansel kembali menci*um bibir Valerie. Dia menginginkan yang lebih. Namun, dirinya masih sangat sadar, untuk sekarang, mereka tidak akan mungkin bisa melakukannya.


"Vale, besok kamu ada jam kuliah?" tanya Hansel dengan suara parau sebab sedang menahan hasratnya.


"Ti-tidak ada, Kak!" jawab Valerie, masih berada dalam dekapan Hansel.


"Besok, aku tunggu kamu di apartemenku!" bisik Hansel.

__ADS_1


-Bersambung-


Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar. Berikan juga rate 5, Vote, dan Hadiah sebanyak-banyaknya ya. Terima kasih ❤️❤️❤️


__ADS_2