Istri Rahasia Presdir

Istri Rahasia Presdir
Rencana menikah


__ADS_3

"Entahlah. Aku juga tidak tahu. Karena, dia memintaku untuk menjalani pernikahan rahasia dengannya!" ucap Valerie dengan kepala tertunduk.


Mendengar ucapan Valerie, Lula terperangah. Spontan, dia langsung memukul lengan Valerie hingga wanita itu mengaduh kesakitan.


Plak! Plak!


"Kenapa kamu malah memukulku? Memangnya, di mana letak kesalahanku, La?" Tentu saja Valerie tidak serta merta mau menerima pukulan dari Sahabatnya tersebut.


"kenapa aku memukulmu? Tentu saja, karena kau bodoh!" sentak Lula kesal. "Kalau dia memang benar-benar menyukaimu, mana mungkin dia merahasiakan pernikahan kalian ini!" sungut Lula berusaha membuat Valerie sadar akan kebodohannya.


"Dia memiliki alasan tersendiri mengapa memilih untuk merahasiakan pernikahan kami. Lula, kamu jangan salah paham padanya!" tangkas Valerie. Dia benar-benar tidak mau kalau sampai dua orang penting dalam hidupnya nanti malah bertengkar.


"Alasannya apa?" tanya Lula, dia terus menggelengkan kepalanya, tidak habis pikir dengan jalan pikiran yang begitu mudah dibohongi.


"Aku tidak tahu. Yang penting, aku percaya padanya, La. Kelak Kak Hansel akan menjadi suamiku, kamu harus baik-baik padanya, ya!" Valerie menyenggol lengan Lula yang masih membekuk wajahnya. Memperlihatkan ketidak senangannya secara terang-terangan.


Percuma saja aku mengatakan ini dan itu. Vale sedang dibutakan oleh cinta. Jadi, apapun yang aku katakan tidak akan berpengaruh untuknya.


"Iya. Asalkan kamu senang saja!" cetus Lula mengiyakan apa yang dikatakan oleh Valerie.


"La, kau tahu, aku sangat senang sekali. Akhirnya, mimpiku bisa terwujudkan!" Valerie terus saja berceloteh. Namun, walaupun Lula merasa sangat kesal, dia tetap menahannya dan tetap memperlihatkan rasa bahagianya, karena Valerie sebentar lagi akan menikah dengan Hansel, pria idaman Valerie selama ini.


"Jadi, kapan kalian akan menikah?" tanya Lula.


"Kami akan menikah di akhir pekan ini. Kamu datang, kan?" tanya Valerie. tampaknya Dia sangat berharap Lula bisa datang ke acara pernikahannya.


"Katamu, pernikahan ini kalian jalani secara rahasia. Lalu, kenapa kamu malah mengundangku datang ke acara pernikahanmu?" tanya Lula heran.


"Walaupun pernikahan dirahasiakan dari semua orang. Tapi, aku tidak ma rahasiakan tentang ini darimu. Kuharap, kamu bisa menjaganya dengan baik!" tukas Valerie, sebegitu percayanya dia pada Lula, sahabatnya.


"Sudah pasti. Aku akan menjaga rahasia ini dengan aman. Tapi, maaf sekali ... aku tidak bisa datang ke pernikahanmu nanti, Vale. Orang tuaku akan kembali ke luar negeri. Dan aku harus mengantarkan mereka ke sana. Tidak apa-apa, kan?" Lula mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Dia benar-benar merasa menyesal karena tidak bisa menghadiri hari bahagia sahabatnya itu.

__ADS_1


"Tidak apa-apa. Lagipula, aku bilangnya juga terlalu mendadak. Wajar saja, kalau kamu terhalang dengan rencana yang lain." Valerie memaklumi.


****"


Sepulang dari kampus, Valerie merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk di kamarnya. Rena datang ke kamar putrinya itu, dia selalu memastikan keadaan Valerie. Karena, biasanya Valerie akan pulang dengan wajah murung dan membutuhkan sesuatu untuk menyemangatinya.


Melihat Valerie merebahkan tubuhnya di tepi ranjang dengan kaki menjuntai ke bawah, Rena sudah mengerti. Tanpa basa-basi, dia langsung mendudukkan tubuhnya di samping Valerie.


"Vale? Bagaimana dengan hari ini?" tanya Rena sambil mengusap tangan Valerie.


"Vale baik-baik saja, Mam!" sahutnya sambil memejamkan mata. Namun, dia tidak tidur.


"Bibi Embun bilang, hari ini kamu datang ke kantor Hansel?" Rena terdiam sejenak. "Boleh Mama tau, kenapa ... kamu datang ke kantor Hansel?" akhirnya pertanyaan itu keluar dari mulutnya. Rena menanyakan perihal itu dengan sangat hati-hati. Dia takut menyakiti hati Valerie yang sedang rapuh.


"Benar. Tidak ada apa-apa, Ma. Vale hanya ingin melihat Kak Hansel, itu saja!" kelitnya tanpa menoleh pada Rena.


"Benarkah?" Rena berusaha memastikan. Sebab, sepulang dari bertemu dengan Hansel, Valerie pasti akan menangis karena Hansel selalu saja cuek dengannya.


"Baiklah kalau begitu. Kalau kamu lelah, istirahat saja dulu." Rena melihat jam di atas nakas Valerie. "Sudah jam empat sore. Nanti kamu mandi-mandi, setelah itu langsung turun dan makan malam bersama, ya!" pinta Rena.


"Iya, Ma." Valerie bangun, mengecup singkat pipi Rena. Meskipun bukan anak kandung Rena dan Rey, tapi Valerie sangat menyayangi kedua orang tuanya itu. Dia juga bisa merasakan kasih sayang yang tulus dari keduanya. Mereka berdua tidak pernah membedakan antara dirinya dan Arga, anak kandung Rena dan Rey. Dalam hatinya, Valerie juga sangat berterima kasih karena Rena dan Rey mau membesarkannya. Dan lagi, Rena dan Rey selalu membawa Valerie mengunjungi makam Amanda, Almarhum Ibunya Valerie.


Saat masih kecil, Nenek beserta Bibi kandung Valerie harap meminta Valerie untuk pulang ke rumah mereka. Namun, Valerie selalu saja menolak karena dia merasa lebih nyaman berada di samping Rena dan Rey.


Sekarang pun, Valerie hanya sesekali menyambangi rumah neneknya. Sesekali menginap untuk tuntaskan perasaan rindu neneknya terhadap dirinya.


Nenek Valerie juga sudah tidak pernah meminta Valerie untuk tinggal bersamanya lagi. Mungkin, wanita paruh baya itu sekarang lebih mengerti Kalau Valeri lebih nyaman bersama Rey dan juga Rena.


"Baiklah. Kalau begitu, Mama keluar dulu, ya?"


"Iya, Ma."

__ADS_1


Rena mengganggukan kepalanya. Kemudian, dia bangkit hendak keluar dari kamar Valerie. Namun, belum sempat Rena mengambil langkah, tangannya ditahan oleh Valerie.


"Ma, aku mau minta izin...." ucap Valerie, Dia sedikit gugup karena hendak membohongi Rena.


Rena hanya diam, menunggu Valerie untuk menetaskan ucapannya.


"Ma, akhir pekan ini Valerie mau mengunjungi makam ibu. Apakah boleh?" tanya Valerie.


"Tentu saja boleh, Nak! Mana mungkin Mama melarang kamu pergi ke makam Ibumu. Tapi, kami sebenarnya juga memiliki rencana mau berlibur ke pusat taman bermain internasional yang baru buka dan akhir-akhir ini sering menjadi perbincangan orang. Karena kamu tidak bisa ikut, kita tunda saja rencananya sampai kamu bisa ikut," tukas Rena sambil tersenyum dan menaikkan sebelah alisnya.


"Jangan, Ma! Kalian pergi saja. Tidak apa-apa walaupun pergi tanpa Vale. kalau menundanya lagi, kasihan Arga. Dia pasti sangat menantikan hal ini sejak lama," potong Valerie.


"Lalu, bagaimana denganmu?" tanya Rena.


"Mama tidak usah mencemaskan Valerie. Vale sudah besar, Ma.Vale bisa pergi dengan orang lain nanti," sahut Vale.


"Orang lain?" tanya Rena memastikan. "Maksud kamu Lula?"


"Iya, Ma. Vale bisa pergi bersama Lula," jawabnya cepat.


"Baiklah kalau begitu. Kami tidak akan menunda lagi." Rena tersenyum sambil mengelus-halus rambut Valerie.


setelah Rena keluar dari kamarnya, Valerie menatap ke arah pintu dengan tatapan nanar.


"Maafkan Vale, Ma. Vale memilih merahasiakan semuanya dari kalian. Bahkan, Vale juga harus menjalani pernikahan yang sangat jauh dari impian Vale dulu. Pernikahan yang Vale impikan adalah pernikahan paling megah dan mewah. Namun, semuanya berubah. Sebab, Vale akan menjalani pernikahan rahasia dengan Kak Hansel.


Dihari penting Vale, kalian malah tidak ada di samping Vale. Vale sedih, tapi tidak bisa berbuat apa-apa!" ucap Valerie lirih.


-Bersambung-


Jangan lupa untuk tinggalkan jejak like, komentar. Berikan juga rate 5, bunga, dan vote. Terima kasih ❤️🥰

__ADS_1


__ADS_2