
Satu Minggu telah berlalu. Satu Minggu itu pula berjalan tanpa kabar apapun dari Hansel. Valerie juga tidak memberi atau mencari kabar tentang suaminya itu. Dia terlalu sibuk sampai kelelahan dengan kuliahnya yang hampir menemui akhir.
Berulang kali Valerie menguap, rasa
penatnya sudah sangat terasa. Tubuhnya hampir tidak bisa menahan rasa penat itu lagi.
"Vale, kamu sudah memutuskan mau magang di perusahaan mana?" tanya Lula, mereka duduk di taman sambil menikmati angin sore.
"Bahkan, dari aku masih SMA, aku sudah memutuskan mau magang di mana," jawabnya sambil tersenyum.
"Aku baru sadar, pertanyaanku salah," ucap Lula.
"Ya, memang salah." Valerie mengangguk.
"Kenapa harus di perusahaan Wirastama, sih? Jadinya, kan aku harus ikut ke sana juga biar bisa melindungimu." Lula mencebikkan bibirnya.
"Kamu tidak perlu menjagaku, La. Aku sudah dewasa, bukan anak kecil lagi!" tukas Valerie.
"Itu keinginanku, Vale. Jangan menghalanginya," ucap Lula seperti tak senang.
"Baiklah, maaf." Valerie kembali tersenyum.
"Vale, supirmu sudah sampai!" seru Lula menunjuk ke arah depan.
"Oh, ya, kamu mau pulang bersama?" tanya Valerie.
"Tidak," tolak Lula. "Nanti akan ada yang menjemputku," imbuhnya.
"Aku pulang duluan!" Lula mengangguk sambil tersenyum.
Valerie masuk ke dalam mobilnya, sang supir langsung menyampaikan amanah yang diberikan oleh Rey dan Rena.
"Nona, Tuan Rey meminta anda menginap di rumah Tuan Bara. Hanya untuk dua hari saja," ucapnya.
"Kali ini, Papa dan Mama ke mana?" Valerie tidak kaget lagi. Rey dan Rena sudah sering menitipkannya pada Embun dan Bara jika mereka sedang berpergian entah itu perjalanan bisnis, atau pergi berbulan madu.
"Mereka ada perjalanan bisnis," jawab sang supir.
"Lalu, Arga tidur di mana? Apa mereka sudah pergi, Pak?" tanya Valerie lagi.
"Tuan Arga akan menginap di rumah temannya. Mereka sudah pergi sejak dua jam yang lalu. Mereka tidak sempat mengatakannya langsung pada Anda karena perjalanan bisnis kali ini sangat tiba-tiba," jelas sang supir.
"Terima kasih," ucap Valerie.
Kenapa hanya aku yang dititipkan pada Tante Embun? Sedangkan, Arga bebas berkeliaran kemanapun dia mau pergi? Apa karena aku wanita? Tapi, aku kan juga sudah dewasa. Tapi, ada baiknya aku dititipkan di sana. Aku bisa melihat Kak Hansel. Sudah satu Minggu aku belum menemuinya lagi.
__ADS_1
Valerie memandangi langit yang mulai berubah warna menjadi senja. Tenggorokan Valerie tercekat, dahaga membuat kerongkongannya terasa kering.
"Akhirnya sampai juga," ucap Valerie, setelah mobil terhenti, Valerie langsung berlarian ke dalam.
Namun, langkahnya terhenti ketika dia melihat Amara sedang berbincang dengan Embun.
"Amara?" sapa Valerie yang masih mematung. "Kenapa kamu di sini?" tanyanya seakan tidak terima dengan kehadiran Amara di sisi Embun. Terlebih, Amara terlihat sangat akrab dengan Embun.
"Valerie, kamu sudah kenal dengan Amara?" Embun melambaikan tangannya memanggil Valerie dan menepuk-nepuk tempat di sebelahnya. Melihat hal itu, Amara menampakkan ketidak sukaannya terhadap kedekatan Embun dan Valerie. Namun, dia tidak bisa memperlihatkannya dengan jelas.
"Iya, Tante, Amara sempat beberapa kali bertemu Valerie di kantor Hansel," jawab Amara sengaja.
Embun terdiam, alisnya saling bertautan.
Valerie di kantor Hansel?
Sejurus kemudian, Embun kembali memperlihatkan senyum menawannya, seakan dia tidak ambil pusing dengan hal itu.
"I-iya, Tante, Vale sempat beberapa kali ke kantor Kak Hansel untuk mengurusi keperluan magang." Valerie juga buru-buru menjelaskan, tidak mau embun berlarut-larut dalam rasa penasaran dan menjadi curiga dengan hubungannya dan Hansel.
"Oh? Magang!" Embun membelai kepala Valerie, seolah sedang memperlihatkan kedekatannya dan Valeri di depan Amara.
Sontak saja, hal itu menuang rasa tidak suka dari Amara. tapi dia tidak bisa berkomentar apapun, karena takut calon Ibu mertuanya itu tidak menyukai mulut pedasnya. Jadi, Amara hanya bisa diam dan menelan semuanya dalam hati sambil menggerutu.
Kenapa Tante Embun sangat dekat dengan Valerie? Malah, seperti sengaja memamerkan kedekatan mereka di depan wajahku. Tetap berpikir positif, Amara! Mungkin saja, Tante Embun melakukan itu karena Valerie adalah keponakannya.
"Sudah lama kamu di sini?" tanya Valerie.
"Baru beberapa menit yang lalu kok," jawab Amara terlihat ramah dan humble.
"Vale, sudah dua Minggu kamu tidak datang ke sini. Ke mana saja kamu? Tante dan Hilsa sangat merindukan kamu. Kamu kalah telak sama Amara. Dalam satu Minggu ini, dia sangat sering datang ke sini. Mungkin, gencar mendekati calon Mama mertuanya, ya? Iya, Amara?" ucap Embun sambil tertawa.
Amara membuang muka, sesekali tertawa juga. Namun, batinnya merasa janggal dengan kata-kata yang diucapkan oleh Embun.
Perkataan Tante Embun memang ada benarnya. Tapi, kenapa aku merasa tersindir, ya?
Valerie hanya tersenyum.
"Kamu kelelahan, ya? Masuk saja ke dalam kamarmu yang biasanya. Hansel sedang menemani Hilsa di toko kue. Sebentar lagi dia akan pulang kok," titah Embun.
"Tidak apa-apa, Vale di sini saja. Menemani Amara berbincang," tolak Valerie. Dia ingin tahu apa saja yang dibicarakan oleh dua wanita beda generasi tersebut.
"Baiklah."
Amara masih betah. Padahal, langit senja yang indah mulai berganti warna menjadi malam yang gelap. Namun, Amara tidak menunjukkan tanda-tanda kepulangannya. Jujur saja, Embun sudah jengah menemani wanita itu di sana. Menunggu kedatangan Hansel dan Hilsa sebab kata Amara, dia juga ingin bertemu dengan Hilsa dan menjalin silaturahmi dengan Adik kandung pacarnya tersebut.
__ADS_1
"Amara, kamu mau ikut makan malam bersama kita?" tawar Embun basa-basi.
"Bo-boleh, Tante!" jawabnya tanpa ragu sambil tersenyum, merasa sudah berhasil mengambil hati calon Ibu mertua.
"Ayo, kita makan sekarang! Sebentar lagi, Hilsa dan Hansel sampai kok," ajak Embun.
"Kalau boleh tau, Om Bara ke mana?" tanya Amara sok akrab.
Embun menghentikan kegiatan makannya, mendongak dan menatap lurus ke arah Amara. Hal itu, sukses membuat Embun bertambah tak suka pada wanita di depannya yang mengaku sebagai pacar Hansel.
"Papa Hansel sedang melakukan perjalanan bisnis," jawab Embun, masih memamerkan senyumannya.
Sudah hampir jam sepuluh, tapi Hansel belum juga pulang. Amara sudah merasa tidak nyaman dengan kedekatan Embun dan Valerie.
"Sepertinya, hari ini aku tidak cukup beruntung. Sudah menunggu sangat lama, tapi Hansel belum juga pulang. Tante, aku merasa tidak enak berlama-lama di sini, aku pamit pulang dulu, ya!" ucap Amara sambil tersenyum.
Akhirnya dia pulang juga! Untungnya, saya sudah meminta Hilsa untuk membawa Hansel berkeliling agar dia tidak bertemu wanita ini!
"Oh, baiklah." Embun dan Valerie ikut mengantarkan Amara sampai di depan pintu. Setelah itu, ada sebuah mobil hitam yang menjemput wanita itu.
"Sepertinya, dia putri dari keluarga kaya raya, ya, Tante. Sangat menguntungkan kalau Kak Hansel bisa menikah dengan Amara. Tapi, Kak Hansel kan akan bertunangan dengan Stela, itu semua sama saja!" ucap Valerie, Embun bisa melihat kegetiran di wajah Valerie.
"Tante, Valerie masuk ke dalam kamar, ya. Maaf, tidak bisa menemani Tante," ucap Valerie.
Embun mengelus punggung tangan Valerie kemudian mengangguk.
Embun memperhatikan punggung Valerie yang mulai menjauh.
"Sangat disayangkan kalau rasa sukamu pada Hansel dipaksa kandas hanya karena tidak terbalaskan. Aku sangat ingin kamu bisa menjadi menantuku. Tapi, sepertinya semua itu susah untuk terwujud. Jika memang jalan takdirnya seperti ini, tidak ada yang bisa mengubahnya. Semoga kamu bisa mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dari Hansel," ucap Embun lirih.
Embun juga masuk ke dalam kamarnya, malam semakin larut, angin yang berhembus juga semakin dingin pula.
Selang beberapa menit, Hansel dan Hilsa tiba di rumah.
"Lain kali, pergilah sendiri! Sudah capek berkeliling, tapi masih tidak membeli apapun!" omel Hansel sambil melepaskan seatbeltnya.
"Cih, dasar pria menjengkelkan! Kau pikir, kalau bukan karena mama yang memintaku, aku mau pergi bersama kakak?" balas Hilsa berdecih. "Entah apa yang dilihat Valerie dari pria menyebalkan sepertimu!" sewot Hilsa.
"Aku lupa, malam ini Valeri tidur di rumah kita. aku mau tidur bersama Valerie saja, ah!" seru Hilsa.
"Jangan aneh-aneh. Tidurlah di kamarmu sendiri, Hilsa!" sentak Hansel.
"Kenapa Kakak melarangku tidur bersama Valerie? Jangan-jangan, karena kamu mau menyelinap ke kamar Valerie?" terka Hilsa sambil menatap lekat wajah Hansel.
-Bersambung-
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar. Berikan juga rate 5, Vote, dan Hadiah sebanyak-banyaknya. Terima kasih ❤️❤️❤️