
"Ken? Kau juga berada di sini?" Valerie langsung menepis tangan Ken dari pinggang rampingnya. Dia memperlihatkan raut tak sukanya sebab Ken telah lancang memegangnya.
"Ya. Aku di sini bersama Stela. Kamu ... datang dengan Tantemu?" tanya Ken, menelisik ke belakang Valerie untuk mencari keberadaan Joana.
"Ya. Tante Joana sedang menyapa teman-temannya," jawab Valerie.
"Kamu mau aku temani berkeliling?" tanya Ken, ingin membangun kedekatan dengan Valerie. Tapi, tampaknya Valerie menolak. Dia tidak ingin berinteraksi berlebihan dengan pria manapun lagi.
"Tidak perlu. Aku lebih nyaman di sini ... sendirian!" ucap Valerie sungguh-sungguh.
"Oh, apa aku mengganggu ketenanganmu?" Ken tertawa, dia merasa tidak enak hati pada Valerie.
"Sedikit," jujur Valerie sambil terkekeh.
"Maaf. Aku hanya ingin menyapamu saja," ucap Ken. Meski Valerie mengungkapkan keberatannya akan kehadiran Ken, tetapi pria itu tak kunjung pergi dan terus mengajak Valerie mengobrol.
Valerie tidak lagi menanggapi ocehan Ken. Mirisnya, dalam keramaian, hatinya masih terasa sepi. Hatinya masih belum terbiasa terpisah jauh dari Hansel. Walaupun mulutnya selalu mengucapkan keberatan ketika orang lain menyebut nama pria itu di depannya. Tetapi, dia tidak bisa membohongi hatinya. Sudah berpuluh tahun dia menaruh hati pada Hansel, hingga hatinya telah terpaut jauh. Mana mungkin dalam sekejap bisa melupakan pria itu begitu saja.
"Kamu ... Ken?" sapa Joana, mendudukkan dirinya di samping Valerie dengan senyum yang merekah.
"Iya, Tante." Ken juga membalas sapaan Joana dengan senyuman.
Setelah lama berbincang-bincang, Ken pamit untuk menemui Stela. Joana memperhatikan raut wajah Valerie yang terlihat masam dan tidak nyaman.
"Vale, kamu kenapa? Apa tidak nyaman berada di sini? Kalau memang benar, kita pulang saja."
__ADS_1
"Bukan begitu, Tant. Aku tidak suka Ken mendekatiku," jujur Valerie supaya Joana tidak salah paham.
"Kamu tidak berniat membuka hati untuk orang lain, Vale?" Joana merangkul keponakannya itu. "Lihatlah ke sana. Banyak sekali pasang mata yang tertarik padamu. Agar kamu bisa cepat melupakan Hansel, kamu bisa mencoba merajut kasih dengan yang lainnya," tukas Joana, ucapan wanita itu memaksa Valerie untuk melihat ke sekelilingnya. Memang benar yang dikatakan Tantenya. Tetapi, sedikit pun Valerie tidak tertarik dengan hal itu.
"Melupakan Hansel saja belum bisa aku lakukan. Bagaimana mungkin aku menjalin perasaan dengan orang lain lagi?" batin Valerie, segera menundukkan kepalanya ketika matanya bersitatap dengan Ken yang sedang berbincang dengan orang lain.
"Tante, beberapa hari lagi Papa ulang tahun. Aku merasa bersalah karena tidak menunggu hari spesial itu dulu. Apa ... aku kembali saja dan ikut merayakan ulang tahun Papa?" tanya Valerie meminta pendapat pada Joana.
Joana tersenyum seraya berkata, "Tante sudah menebak hal ini terjadi. Kita bisa mengiriminya hadiah, Vale. Tidak perlu kamu pulang ke sana. Buktikan pada semua orang, kamu benar-benar kuat!" Joana menggariskan senyuman di wajah Valerie.
"Baik, Tante. Aku akan mengirimkan hadiah terbaik untuk papa." Valerie tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
***
Hari berganti begitu cepat. Sehari sebelum birthday party Rey dilaksanakan, Valerie sudah mengirimkan hadiah berupa setelan jas formal untuk sang Papa.
"Papa jangan sedih. Di sini Valerie baik-baik saja kok, Pa. Jika waktunya sudah memungkinkan, Valerie akan pulang dan kembali berkumpul bersama kalian. Tenang saja, Pa!" ucap Valerie sambil mengembangkan senyum dengan mata berkaca-kaca.
Valerie sendiri tidak bisa menepis kesedihan di hatinya. Perasaan rindu untuk keluarganya yang begitu menggebu juga tidak bisa ia pungkiri. Namun, Valerie harus bisa menjalani semua jalan yang dipilihnya dengan sebaik mungkin.
"Kamu juga jangan menangis, Vale. Papa dan Mama sudah melihat foto-foto cantikmu kemarin. Papa senang dengan perubahanmu. Papa juga akan mendo'akan kamu mendapatkan pria baik di sana. Suami yang kelak bisa menerima kamu apa adanya," ucap Rey disertai dengan senyuman.
Deg!
Karena Rey mengucapkan kata suami. Pemikiran Valerie langsung berpusat pada Hansel.
__ADS_1
"Aku dan Hansel belum bercerai." batin Valerie.
"Vale, kamu kenapa?" tanya Rey, khawatir ketika melihat perubahan raut wajah putrinya.
"Tidak apa-apa, Pa. Aku lelah. Lain kali aku hubungi Papa lagi, ya," ucap Valerie. Setelah berpamitan, langsung memutuskan sambungan teleponnya dengan Rey.
Sampai saat ini pun, status hubungannya dengan Hansel masih menjadi momok beban tersendiri di pikiran Valerie.
"Untuk apa aku terlalu memikirkannya? Kuyakin, Kak Hansel juga sudah tidak peduli lagi. Dia pasti senang karena beberapa hari ini tidak ada lagi yang mengganggunya. Parasitnya sudah pergi." Valerie tersenyum getir.
Sementara itu, semua anggota keluarga sudah berdatangan ke rumah besar Rey dan Rena. Setiap tahun, Rey pasti akan mengadakan acara makan-makan setiap kali umurnya bertambah. Kali ini, ada yang berbeda, Valerie tidak ada di samping mereka.
Hansel berangkat sendiri. Seperti biasanya pula, Hansel ogah-ogahan datang karena ada Valerie yang membuat perasaannya kacau. Namun kali ini, terbersit rasa penasaran di hatinya tentang keberadaan Valerie. Sudah seminggu ini Hansel tidak melihat Valerie di manapun. Harusnya dia senang dengan kehidupan tenang yang selalu dia impikan. Tapi, perasaan gelisah selalu menghampiri tiap Hansel mengingat wanita yang masih menjadi istrinya itu.
Hansel memarkirkan mobilnya. Mata pria itu langsung terbelalak ketika melihat Amara yang sudah bergelayut manja saat Hansel baru saja keluar dari mobil.
"Amara! Kenapa kamu di sini?" Hansel meremas lengan Amara sampai wanita itu meringis.
"Memangnya kenapa? Kau tidak mengizinkan aku datang. Aku hanya bisa menggunakan cara ini. Hansel... aku juga mau diperkenalkan pada anggota keluargamu!" rengek Amara.
"Hentikan Amara. Jangan kekanakan. Pulanglah segera!" usir Hansel geram.
"Kenapa kau mengusirku, ha? Kau takut wanita cupu itu melihat aku datang bersamamu? Iya, kan?" Amara memanyunkan bibirnya.
"Pergilah!" Hansel melepas paksa tangannya yang dipeluk Amara.
__ADS_1
"Kenapa Hansel? Aku ini kekasihmu. Ini kesempatanmu untuk memperkenalkan aku pada seluruh anggota keluargamu. Jangan-jangan, ada yang kau sembunyikan? Sebenarnya kau mencintai wanita cupu itu, kan? Makanya kau selalu saja memintaku pergi setiap ada wanita sialan itu? Benar, kan?" Amara meninggikan intonasi suaranya.
*Bersambung*