
Hansel membuka dasinya, mengikat tangan Valerie menggunakan dasinya hingga istrinya itu tidak bisa lagi memberontak.
"Valerie, kau milikku!"
"Sekarang aku tau kenapa kau bersusah payah mencariku sampai ke sini. Ternyata hanya menginginkan aku untuk menuntaskan hasratmu. Kau tidak pernah berubah, Hansel!" pekik Valerie, berusaha keras menahan dada Hansel agar tak menimpanya.
Hansel terdiam. Perkataan Valerie begitu menusuk ke dalam hatinya. Hatinya terpaksa sadar. Matanya terpejam sesaat, merasakan banyak sembilu menikam hati dan perasaannya secara bersamaan. Ingin membantah ucapan nyelekit Valerie. Namun, hati kecilnya ikut membenarkan.
"Kenapa kau diam? Apa yang aku katakan benar, bukan? Sekarang kau sudah cukup tau diri? Enyahlah sialan!" usir Valerie lagi, menatap tajam wajah Hansel yang tidak menunjukkan ekspresi apa pun.
Hansel tersenyum getir.
"Beginikah rasanya diacuhkan, diusir dan terang-terangan dibenci? Hansel, bersabarlah! Memang kau yang membuatnya menjadi sebenci ini padamu. Tidak ada alasanmu untuk menyerah, Hansel! Kau pasti bisa meyakinkan hatinya dan membuatnya kembali," batin Hansel.
Tanpa mengatakan apa pun, Hansel langsung melancarkan serangannya. ******* bibir ranum Valerie, bibir yang sudah sangat dia rindukan. Wanita yang beberapa hari ini berhasil membuatnya kelimpungan karena memikirkan keberadaanya. Membuatnya cemburu karena dekat dengan pria lain.
Air mata Valerie luruh. Menyalahkan dirinya sendiri yang tidak berdaya untuk melawan kekangan Hansel. Bahkan, saat Hansel menjelajahi setiap inci tubuhnya, Valerie merasa sangat muak pada dirinya sendiri yang terlalu lemah.
"Lepaskan aku, Hansel! Dasar tidak tahu malu. Kenapa kau senang sekali mempermainkanku? Apa aku seburuk itu di matamu?" Valerie menangis, meraung tapi Hansel tidak mempedulikan. Matanya sudah gelap, sedikit pun tidak akan melepaskan mangsanya itu.
"Aku hanya ingin membuatmu tahu, kau hanya milikku, Valerie. Tidak akan ada yang bisa menyentuhmu selain aku. Kau istriku, penuhilah tanggung jawabmu!" ucapan Hansel menghancurkan hati dan fisik Valerie. Ingin sekali dia menendang burung kenari Hansel yang sudah menegang supaya pria itu melepaskannya.
"Aku bukan tempat pelampiasan hasratmu, Hansel sialan! Bajing*n!" umpatan keluar dari mulut Valerie.
Namun, suaranya mulai melemah ketika Hansel mempermainkan area sensitifnya. Mati-matian Valerie menahan suaranya supaya tidak keluar. Mengatup bibirnya rapat agar suaranya tidak terdengar oleh Hansel.
__ADS_1
Hansel memainkan area sensitif sambil menyesap pucuk bukit kembar Valerie. Membuat wanita itu merasa terbang karena sentuhan-sentuhan yang sampai kini masih membuatnya meremang.
"Kau menikmatinya, Vale." Hansel mengecup dahi istrinya, senang karena naluriah Valerie tidak menolak sentuhan-sentuhannya.
"Setiap wanita yang dirudapaksa sekali pun, jika area sensitifnya disentuh, pasti tubuhnya menegang. Bukan hanya aku. Jangan terlalu percaya diri!" ketus Valerie, diakhiri dengan ******* kecil.
Hansel menanggalkan pakaiannya. Pria itu masih belum puas melakukan pemanasan. Hansel terus menerus mengecup wajah, leher, bukit kembar, dan bagian sensitif lain Valerie hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana. Valerie tidak bisa menyembunyikan rasa gelinya akibat sentuhan Hansel, suaminya. Mau melawan pun percuma. Hanya bisa pasrah.
Hansel sengaja melepaskan susu kentalnya ke dalam. Berharap Valerie segera hamil. Entahlah, mungkin dia memiliki rencananya sendiri.
Setelah beberapa kali Hansel memuaskan diri, Hansel pun melepaskan Valerie yang sudah terkulai lemah.
"Semoga kamu cepat hamil, Vale," ucap Hansel, mengecup singkat perut datar Valerie.
"Memangnya kau tega. Itu memang darah dagingku, tetapi dia juga anakmu, bukan?" Hansel kembali tersenyum puas.
Hansel mengenakan pakaiannya. "Aku berada di sekitar sini, Valerie. Aku tidak suka kau dekat dengan pria manapun. Jangan pernah berani dekat dengan pria lain atau pria itu yang akan menerima akibatnya!" ancam Hansel, sorot mata tajamnya lurus ke arah Valerie yang tidak menganggap serius ucapan Hansel.
Sebelum pergi, Hansel mengambil ponsel Valerie. Kebiasaan Valerie sejak dulu tidak pernah mengunci ponselnya. Hansel membuka blokir semua media sosialnya yang sempat diblokir oleh Valerie.
"Aku pergi dulu. Ingatlah, jangan pernah macam-macam, Sayang!" ucap Hansel, mengecup pelan pipi Valerie dan bergegas pergi dari sana.
Valerie mengusap kasar bekas kecupan Hansel. Dia merasa sangat jijik dengan apa saja yang baru disentuh pria itu, termasuk dirinya sendiri.
Tertatih-tatih Valerie turun dari ranjang dan memunguti pakaiannya yang bertebaran di lantai. Mengenakannya secara perlahan. Kewanitaan Valerie terasa perih karena sudah sangat lama dia tidak pernah melakukanya lagi.
__ADS_1
"Hansel! Sialan! Kau pikir aku takut dengan ancamanmu?" Valerie menangis sesegukan, tangannya terkepal sembari menggenggam seprainya yang sudah berantakan.
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu kamar mengalihkan perhatian Valerie. Wanita itu berjalan perlahan sambil meringis.
"Kenapa Tante?" tanya Valerie, berusaha tersenyum, menyembunyikan perasaan sesak dan sakit di sekujur tubuhnya.
"Vale, kau tau? Barusan orang tuamu menghubungi Tante. Katanya tadi Hansel datang ke rumah dan meminta alamatmu sekarang. Dasar pria gila!" umpat Joana mencebik, bersedekap sambil memutar kedua bola matanya.
"Aku tahu kok," ucap Valerie.
"Rey dan Rena juga sudah mengubungimu, ya?" tanya Joana. Namun, ketika Valerie menggeleng, dahi Joana mengerut dalam.
"Tidak. Hansel datang ke sini tadi, Tant," jujur Valerie.
"A--apa? Dia menyakitimu? Ada menyentuhmu?" tanya Joana, memperhatikan Valerie dari atas ke bawah.
*Bersambung*
*NOTE*
Sebenarnya author sudah update dari kemarin. Tapi, ditolak karena katanya Pornografi. Ini udah tiga kali diedit, hehe. Jadi, jangan lupa tinggalkan komentar, Like, vote, dan gift, ya...
Terima kasih...🥰🥰
__ADS_1