Istri Rahasia Presdir

Istri Rahasia Presdir
Membuka Sekat


__ADS_3

"Tant, sudah larut. Aku pamit dulu, ya!" ucap Ken.


"Kenapa tidak dari tadi?" cetus Valerie.


Joana sudah berjalan duluan ke depan pintu. Saat Valerie hendak menyusul Joana, Ken menarik tangannya dan membisikkan, "Valerie, aku tidak pernah main-main dengan ucapanku. Termasuk mau mengejarmu!"


Valerie segera menepis. Dia sangat sebal dengan tipe pria tidak tahu malu seperti Ken.


Ken juga tak banyak bicara, langsung pergi.


"Valerie, jangan galak-galak. Tante bisa melihat Ken itu pria yang baik kok. Walaupun kamu belum bisa membuka hati untuk mencintai pria lain, setidaknya kamu menghapus garis sekat yang selama ini kamu bangun. Tujuanmu datang ke sini untuk melupakan Hansel, bukan? Jika kamu masih sama seperti dulu, hanya melihat Hansel di matamu, kamu tidak akan bisa keluar dari bayang-bayang pria itu, Vale!" ucap Joana, berusaha menasihati keponakannya. Berharap jika Valerie bersedia mendengarkan dan melakukan saran yang Joana berikan


Melihat Valerie masih mendengarkan, Joana duduk di sebelah Valerie. "Kamu memang pernah dikecewakan oleh seorang pria. Tetapi, bukan berarti semua pria itu bersifat sama. Berteman boleh dengan siapa pun kok." ucapan Joana dipertimbangkan oleh Valerie. Wanita itu membenarkan apa yang dikatakan oleh Tantenya.


"Aku akan mencoba untuk memperbanyak teman, Tant. Apa yang Tante katakan memang benar," ujar Valerie sambil tersenyum seraya mengangguk.


"Baiklah. Besok pagi kamu berencana jogging, kan? Biarkan saja Stela dan Ken ikut serta. Bukannya bagus kalau jogging sama teman-teman?" Joana menepuk-nepuk pelan paha Valerie.


"Loh, Tante tidak ikut Valerie jogging?" tentu Valerie kaget. Sebab, tadi mereka berencana untuk jogging bersama-sama.


"Kalau ada Stella dan Ken, Tante tidak ikut. Sudah tua, takut tulangnya rontok semua," Joana meringis sambil memegangi tubuhnya.


Mendengar penuturan Tantenya, Valerie hanya bisa tersenyum seraya mengangguk.


"Baiklah ...."


***


Keesokan harinya, Valerie sedang bersiap-siap untuk jogging di sekitar taman apartemen tempat dia dan Joana tinggal. Saat Valerie sedang memakai sepatunya, terdengar suara ketukan pintu berulang kali sembari memanggil-manggil nama Valerie. Valerie sangat kenal dengan suara di balik pintu itu. Tanpa harus membiarkan kedua orang itu menunggu, Valerie membiarkan mereka masuk dengan senyuman ramah yang menghiasi bibirnya.


"Kalian sudah datang?" sapa Valerie, mempersilakan Ken dan Stela masuk ke dalam. Karena sikap Valerie berbeda dari biasanya, perbedaan itu mengundang tanda tanya besar bagi keduanya.


"Kami boleh masuk dan ikut kamu jogging?" tanya Stela sekali lagi untuk memastikan.

__ADS_1


"Tentu saja, aku juga butuh teman," Valerie mengangguk lagi.


"Di mana Tante Joana?" tanya Stela, celingak-celinguk tetapi hanya menemukan Valerie seorang diri.


"Tante Joana ada pemotretan, pagi-pagi sekali sudah pergi," jawab Valerie ringkas.


Stela manggut-manggut lagi.


"Kalian sudah sarapan?" tanya Valerie.


"Sudah kok," jawab Ken cepat.


"Ayo, kita mulai jogging sekarang!" ajak Stela, berlalu meninggalkan Ken dan Valerie. Sengaja memberikan ruang kesempatan bagi keduanya.


Matahari mulai naik, berulang kali Valerie menyeka keringatnya. Biasanya, Valerie pasti mengenakan pakaian yang lebih tertutup. Namun kini, dia terlihat cantik dengan Hotpants, crop top serba hitam, dan rambut yang di kuncir kuda.


"Duduklah di sini dulu, aku akan membelikan minum," pinta Ken.


"Di mana Stela?" tanya Valerie, mencari temannya yang lain.


"Stela sudah pergi dari tadi. Tiba-tiba perutnya mules," ujar Ken. "Kamu mau minum apa?" tanya Ken lagi.


"Air putih saja," jawab Valerie sambil tersenyum. Ken termangu, sudah beberapa kali mereka bertemu, baru kali ini Valerie menunjukkan senyum manisnya hanya untuk Ken.


Ken langsung berbalik, membawa debaran jantungnya yang tidak karuan, membuang mukanya yang telah merona, tersipu.


"Kenapa dia seperti itu? Apa senyumku begitu jelek? Pantas saja kalau Kak Hansel tidak pernah menyukaiku," pikir Valerie, tersenyum kecut untuk dirinya sendiri.


"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Ken menyodorkan sebotol air putih untuk Valerie.


"Tidak ada. Hanya memikirkan nasib percintaanku yang tragis," jawabnya, tersenyum lagi sembari menerima botol dari Ken.


"Sudah di buka?" Valerie agak kaget karena tutup botolnya sudah dibuka. Dia tidak pernah menerima perhatian seperti itu dari Hansel. Perhatian kecil yang membuat wanita itu tersenyum senang.

__ADS_1


"Kenapa? Apa kamu tidak suka? Aku selalu melakukannya untuk orang yang aku cintai, misalnya Stela!" jujur Ken, menatap Valerie begitu lekat sehingga Valerie merasa risih.


"Jangan terus menatapku!" tegur Valerie tanpa menoleh pada lawan bicaranya.


"Kenapa? Gugup?" Ken terkekeh kecil, hal itu membuat Valerie sebal sampai dia meninju pelan bahu kekar Ken.


"Ya, aku gugup. Apa kau puas?" Valerie mencebikkan bibirnya. Saat sedang bersuka ria dengan orang lain, dia melupakan seseorang yang memang ingin dia lupakan.


"Kata Stela, kamu menyukai seseorang tetapi bertepuk sebelah tangan?" pertanyaan Ken membuat Valerie terdiam. Terlalu bingung untuk sekedar mengiyakan atau memilih untuk tidak mengakui. Namun, Valerie sudah menyiapkan sebuah jawaban tersendiri.


"Benar. Dan akhirnya aku hanya bisa menjadi pecundang yang melarikan diri. Perasaan yang sudah berpuluh tahun ini terpaksa aku musnahkan secara paksa. Sangat menyakitkan, tetapi aku kuat kok," Valerie tersenyum getir. Setelahnya, Valerie baru sadar jika dia sudah berbicara terlalu banyak.


"Kau bukan pecundang, Vale. Aku yakin dia sedang menyesal karena kehilangan wanita sebaik kamu!" ucap Ken memecah keheningan yang sempat terjadi beberapa saat.


"Baik? Kita baru kenal, dari mana kamu tahu kalau aku sebaik yang kamu pikirkan? Hati-hati dalam menilai seseorang."


"Kamu bisa mencintai seseorang sampai sebegitu lamanya, berarti kamu orang yang setia dan tulus. Setia dan tulus hanya bisa ditemukan pada orang baik," ujar Ken.


"Entahlah... aku juga tidak mengerti kenapa mulutku kelepasan dan berbicara terlalu banyak!" Valerie melihat jam di pergelangan tangannya. "Sudah terik, ayo pulang sekarang!" ajak Valerie, langsung beranjak tanpa menunggu Ken.


Sementara itu, di tempat yang berbeda, seorang pria sedang merasa resah. Mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Setibanya ia di depan sebuah rumah yang menjadi tujuannya, buru-buru dia masuk dan mencari si pemilik rumah.


"Di mana Om Rey dan Tante Rena?" tanya Hansel pada seorang maid yang menyambut kedatangannya.


"Di taman belakang, Tuan."


Hansel langsung berjalan cepat menuju taman belakang yang sudah dia ketahui letaknya. Memang benar, Rey dan Rena sedang berbincang. Melihat kedatangan Hansel, keduanya langsung tersenyum.


"Hansel, ada apa? Arga belum pulang kuliah," ucap Rena.


"Aku tidak berniat untuk menemui Arga, Tante. Tetapi, aku ingin menanyakan sesuatu tentang Valerie," ucapnya kemudian. Sontak, Rey dan Rena pun saling memandang.

__ADS_1


"Mengenai Valerie? Ada apa, Hans?" tanya Rena penasaran.


*Bersambung*


__ADS_2