
Pintu ruangan Hansel juga tidak pernah dikunci. Valerie langsung masuk seenaknya saja. Namun, saat kakinya baru melangkah masuk, mata Valerie langsung tertuju pada sepasang pria dan wanita yang sedang saling berpelukan di dekat jendela.
"Kak Hansel!" teriak Valerie.
"Vale?"
Sejenak, Valeri dan Hansel sama-sama tertegun.
"Sayang, siapa dia?" pertanyaan wanita di samping Hansel membuyarkan lamunan Hansel dan Valerie.
"Sa-sayang?" Valerie berucap dengan gagap. "Kak, apa maksudnya? Kenapa dia memanggilmu Sayang?" Valerie menuntut penjelasan dari Hansel.
Aduh! Kenapa semua malah runyam seperti ini, sih? Kenapa Valerie datang di saat Amara berada di sini!
Hansel berkeringat dingin. Untuk hari ini, sudah kedua kalinya dia bingung dengan sebuah penjelasan yang runtut.
"Amara, kamu tunggu di sini sebentar, ya!" pinta Hansel dengan tatapan memohon. Tapi, tampaknya wanita cantik berambut panjang itu tidak suka dengan berubahnya panggilan Hansel terhadap dirinya.
"Amara?" dia mengulangi dengan wajah cemberut. "Kenapa sekarang kau malah memanggil namaku? Apa karena wanita cupu ini?" tuding Amara melirik sinis ke arah Valerie yang terpaku dengan pertengkaran sepasang kekasih di depannya.
"Bukan, bukan. Mana mungkin dia bisa mempengaruhi. Aku akan menjelaskan apa yang ingin kamu ketahui. Tetapi, aku harus berbicara dengannya terlebih dahulu!" tukas Hansel mulai panik.
"Tidak. Bicara di sini atau tidak sama sekali?" Amara kekeuh.
"Sayang... aku harus berbicara secara pribadi dengannya," Hansel masih membujuk.
"Memangnya, siapa dia?" Amara bersedekap.
"Dia adik sepupuku, Sayang. Kami berdua sedang dirundung masalah keluarga. Makanya harus membicarakan secara pribadi!" kelit Hansel.
__ADS_1
"Baiklah. Bicarakan saja!" ketus Amara.
Tanpa segan, Hansel menarik tangan Valerie dan membawa wanita itu keluar dari ruangannya.
"Kak, siapa dia? Kenapa dia memanggilmu Sayang? Dan, kenapa kamu juga memanggil dia Sayang? Kalian malah bersikap romantis di depanku?! Tidakkah kamu menghargai sedikit saja bagaimana perasaanku?" pekik Valerie mulai bercucuran air mata.
"Vale, kenapa kamu datang ke kantorku? Kamu kan bisa menghubungiku via telepon. Tidak mesti datang langsung ke sini, Vale!" Hansel malah mengalihkan pembicaraan. dia seolah tuli dengan cecaran pertanyaan dari Valerie tadi.
"Kenapa aku tidak boleh datang ke kantormu? Apa karena kamu sedang bersama dia?" Valerie tersenyum kecut. "Jika aku tidak datang ke sini, selamanya aku akan buta, tidak pernah tau tentang hubungan gelap dengan wanita lain. Via telepon? Bahkan, nomor ponselmu saja aku tidak punya, Kak!" sambungnya. Rasanya, Valerie ingin sekali menangis. Pernikahannya baru berlangsung satu hari. Tapi, dia sudah dikhianati? Bagaimana mungkin hatinya tidak runtuh.
"Jadi, kenapa kamu datang ke sini? Kalau kamu datang ke sini hanya untuk marah-marah dan menangis, maka pulanglah!" seru Hansel, sedikitpun dia tidak memikirkan hancurnya perasaan Valerie yang telah memergoki dirinya yang sudah menjadi suami Valeri malah bermesraan dengan wanita lain.
"Pulang? Kenapa aku harus pulang? Apa tidak ada yang ingin kamu jelaskan?" tanya Valerie, dia bersikukuh untuk tetap berada di sana sampai Hansel mau menjelaskan siapa wanita tadi.
"Tidak ada yang perlu aku jelaskan, Vale!" Hansel juga bungkam, membuat luka hati Valerie semakin perih.
"Aku datang ke sini bukan sengaja karena ingin melihatmu bermesraan dengan wanita lain. Aku hanya ingin meminta pendapatmu tentang sebuah alasan jika sewaktu-waktu Tante Embun bertanya tentang kedatanganku semalam. Bukankah memang kamu yang memikirkan alasannya? Tapi, kedatanganku ke sini memang sangat tepat. Aku melihat kejadian yang begitu tidak terduga."
"Dia Amara, pacarku!" akunya sambil menatap datar Valerie yang langsung membelalakkan matanya.
"Pacar?" air mata Valerie semakin berjatuhan. Dia benar-benar tidak menduga dengan pengakuan Hansel.
"Segampang itu kamu mengakuinya?" Valerie masih tidak habis pikir.
"Dia memang pacarku, Vale! Kami baru saja berpacaran," akunya lagi.
"Baru saja? Kapan?" Valerie tertawa.
"Kemarin."
__ADS_1
"Kemarin? Kau menikahiku dan memacari wanita lain di saat yang bersamaan, Kak?" cecar Valerie.
"Apa artiku untukmu? Bahkan, untuk mengakui hubungan kalian pun, kau begitu mudah mengatakannya. Tapi, kamu malah memilih merahasiakan pernikahan kita?"
"Jangan salah paham, Vale. A-aku sudah memperhitungkan semuanya dengan baik." Hansel terpikirkan sebuah alasan.
"Apa?"
"Aku memacari Amara hanya untuk kedok saja. Supaya pernikahan kita tidak ketahuan. Semua itu hanya untuk keuntungan kita juga, Vale!" terang Hansel.
Apa yang kau ucapkan Hansel? Inilah saat yang tepat untuk membuatnya sakit hati dan membencimu. Setelah ini, kau akan terbebas dari kejaran cinta Valerie cupu, wanita yang paling menyebalkan. Dia sudah kecewa, tinggal sedikit lagi. Buatlah dia membencimu!
Hansel sadar, sedikit lagi saja rencananya akan sukses. Tidak perlu menunggu lama. Maka semuanya akan berjalan lancar seperti kemauannya. Tapi, entah kenapa hatinya tidak tega membuat Valerie tersakiti. Hansel malah mengurungkan niatnya dan memikirkan alasan yang lain. Bukankah dirinya terlalu konyol?
"Kamu memacari Amara hanya untuk tameng agar pernikahan ini tidak terendus?" tanya Valerie kembali meyakinkan pendengarannya.
Hansel mengangguk membenarkan. "Benar, hanya untuk tameng saja!"
"Tapi, kenapa kamu terlihat sangat ketakutan kalau dia marah?"
"Tidak. Tidak begitu!" sangkal Hansel.
"Satu lagi, jangan sering-sering datang ke kantorku, Vale. Kalau ada yang melaporkan tentang kamu yang sering datang kemari dan menemuiku kepada Mama ataupun papaku, mereka bisa curiga. kita harus sabar hati-hati dalam pergi pernikahan ini!" ucap Hansel.
Benar juga apa yang dikatakan Kak Hansel. Ternyata, aku sudah salah paham padanya. Bisa-bisanya aku menuduhnya yang tidak-tidak. Aku benar-benar terlalu berdosa padanya. Padahal, kami sudah menikah, seharusnya kecurigaan seperti ini sudah bisa aku hilangkan.
"Maafkan Vale, Kak. Vale tidak akan datang suka-suka hati lagi kemari. Tapi, Kakak juga harus berjanji, jangan terlalu sering menemui Amara, ya!" pinta Valerie.
"Kenapa aku tidak boleh terlalu sering bertemu dengan Hansel? Aku dan Hansel sepasang kekasih. Bukan urusanmu untuk mengatur jadwal pertemuan kami!" tangkas Amara yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu sambil bersedekap dan menatap tajam ke arah engsel dan Valeri secara bergantian.
__ADS_1
-Bersambung-
Jangan lupa berikan like dan komentar. berikan juga rating 5, vote, dan hadiah. Terima kasih ❤️❤️❤️