Istri Rahasia Presdir

Istri Rahasia Presdir
Kepergian Valerie


__ADS_3

"Biarkan saja Valerie pergi menyusul Tantenya, Ma. Lagipula, kita masih bisa merayakan ulang tahun bapak dengan cara yang lain, bukan? Sekarang juga sangat mudah, kita bisa melakukan panggilan video atau semacamnya," ujar Rey yang baru saja datang. Tampaknya, dia mengetahui yang dibicarakan Valerie tadi.


"Papa ...," panggil Valerie lirih.


"Vale, siapkan semua barang-barangmu. Papa sendiri yang akan mengantarkan kamu ke bandara," titah Rey pada putrinya itu.


Valerie menghapus air matanya dengan jari. Kemudian, langsung menganggukkan kepalanya. "Baik, Pa. Sebentar, ya!"


Setelah Valerie masuk ke dalam kamarnya, Rena menghampiri Rey dan mempertanyakan sikap suaminya itu.


"Pa, kenapa mengizinkan dia pergi begitu saja? Valerie akan pergi jauh, Pa. Kenapa kamu terlihat tenang sekali? Mama tidak mengizinkan dia pergi!" tegas Rena, khawatir terhadap keselamatan Valerie nantinya.


"Ma, lihatlah dari sisi Valerie. Dia sedang kecewa, sedang patah hati. Bukankah sejak dulu kamu berharap Valerie bisa melupakan Hansel? Ini saatnya, Ma. Papa yakin, dia sedang kecewa terdapat pria itu!" ucap Rey. Perlahan-lahan mencoba membuat Rena mengerti. "Papa tahu, ini kali pertama Valerie pergi. Tetapi, kita juga harus bisa mengajarkan dia dewasa. Dia tidak bisa selalu berada dalam lingkaran yang kita buat, kan? Biarkan dia pergi dan mengejar apa yang menjadi mimpinya!" sambung Rey, berharap istrinya itu akan mengerti.


"Mama hanya khawatir, Pa." Rena tidak bisa sepenuhnya menghilangkan perasaan resah yang terus menggelayuti hatinya. Valerie sudah menjadi bagian darinya.


"Tenanglah. Dia bersama Joana, Bibinya. Valerie pasti akan baik-baik saja, Sayang! Biarkan dia membahagiakan dirinya. Jika kita melarangnya pergi, dia tetap akan berada dalam kehancuran untuk waktu yang lama, Rena. Sekarang, kamu mengerti, kan?" Rey menggenggam tangan Rena. Berulang kali memberikan pengertian supaya istrinya itu bisa menghalau kegundahan yang terus bersemayam.


Perlahan Rena mengangguk. "Aku mengerti. Semoga, dengan kepergiannya ini, Valerie bisa membuang jauh perasaannya terhadap Hansel." hanya itu harapan besar yang selalu tertanam dalam benak Rey dan Rena. Bukan karena mereka tidak menyukai Hansel. Hanya saja, karena perasaan Valerie dan Hansel berbeda.


"Itu juga yang menjadi harapanku," tukas Rena.


"Pa, ayo kita berangkat sekarang!" ajak Valerie. Rena dan Rey dibuat terkejut melihat barang bawaan Valerie.

__ADS_1


"Vale, kamu hanya membawa itu?" Rena menunjuk ke sebuah tas kecil yang dipegang Valerie.


"Apa ada yang salah, Ma?" Valerie mengangkat tasnya itu.


"Kenapa sedikit sekali, Vale? Kamu mau menginap dua hari saja?" tanya Rena lagi.


"Sampai kuliahku selesai, Ma. Aku sengaja tidak membawa banyak barang. Di sana, aku bukan hanya mau menata hati, tapi juga mau menata hidupku menjadi lebih baik dan terarah. Benar kata kalian, harusnya sejak dulu aku sudah mendengarkan apa yang kalian katakan. Cinta bertepuk sebelah tangan itu sangat menyakitkan." Valerie tersenyum getir.


"Ma, Pa, do'akan Valerie di sana, ya. Semoga Valerie bisa menghapuskan bayang-bayang kelam yang selama ini selalu menghantui ini," mohon Valerie sambil menggenggam kedua tangan orang tuanya.


"Kami pasti selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu, Vale," ucap Rena.


"Satu lagi, Pa, Ma. Valerie mau, rahasiakan kepergian Valerie ini. Jangan sampai ada satu orang pun yang tahu, kecuali orang yang benar-benar kalian percayai tidak akan membocorkan tempat di mana Valerie berada. Valerie mohon ...."


"Tampaknya, Valerie benar-benar ingin menenggelamkan kisah kelamnya. Kuharap, setelah kembali ke sini nanti, dia bisa menjadi orang yang berbeda. Orang yang lebih pintar dan bijaksana mengenai hal apa pun. Termasuk hati." batin Rena dalam senyumnya.


"Pa, Mama ikut mengantarkan Valerie, ya. Setelah ini, entah kapan Mama bisa bertemu Vale lagi." Rena mengusap air matanya yang menganak di sudut mata.


"Ma ...." Valerie berhambur ke dalam pelukan sang Mama dan ikut menangis dalam pelukan Rena.


"Tidak apa-apa, Sayang. Sekarang kan kita bisa menggunakan teknologi. Mama pasti sering-sering menelepon kamu. Kalau kamu merasa terganggu, katakan saja, ya!" ucap Rena.


"Aku tidak akan pernah terganggu kok, Ma."

__ADS_1


"Ma, Pa, kalian mau ke mana? Liburan? Kok tidak mengajak Arga?"


"Siapa yang mau liburan? Kami mau mengantar Kakak kamu ke bandara. Kamu mau ke mana?" tanya Rey, menatap anak laki-lakinya itu dari atas ke bawah.


"Biasalah, Pa. Arga mau kumpul sama yang lainnya." Arga cengegesan.


"Pergilah! Jangan pulang malam!" ucap Rey.


"Baik, Pa!"


Valerie tidak mengatakan apa pun pada adiknya itu. Hanya menyuguhkan senyum manisnya pada seseorang yang selama ini selalu menjadi teman bertengkarnya. Mulut Valerie bergerak, ingin sekali dia mengucapkan beberapa bait kata perpisahan. Namun, dia takut belum apa-apa air matanya sudah meleleh.


Arga mengemudikan mobilnya menuju Club. Di sana, semua orang sudah berkumpul. Arga langsung duduk dan menyandarkan punggungnya. Menghela nafas panjang sambil menatap langit-langit.


"Tumben kamu bisa cepat sampai ke sini," ledek Gavin sambil menepuk pelan lengan Arga.


"Karena Papaku mau pergi. Mungkin tidak mau ambil pusing jadi langsung mengizinkan saja," gurau Arga sambil terkekeh pelan.


"Pergi ke mana sampai tidak mempedulikan Anaknya lagi?" timpal Hilsa.


"Entahlah. Katanya mau mengantarkan Kak Valerie ke bandara," jawab Arga apa adanya.


"Bandara?" mata Hansel membelalak, dia tersedak dengan minumannya.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2