Istri Rahasia Presdir

Istri Rahasia Presdir
Hamil


__ADS_3

"Mundurlah sedikit! Aromamu sangat menyengat! Membuatku muntah!" sinis Valerie disela-sela muntahnya.


Amara reflek mundur ke belakang sampai beberapa langkah. Namun, wanita itu tetap saja mengomel karena kesal Valerie mengatai parfumnya.


"Berani-beraninya kau mengatai parfumku. Hidungmu saja yang bermasalah makanya tidak sanggup mencium aroma parfum semahal ini!" sinis Amara, mencebikkan bibirnya ke depan.


Valerie tidak sanggup mendengar ocehan Amara yang sangat mengganggu baginya. Dia melambai-lambaikan tangannya meminta Amara untuk segera pergi dari sana.


"Kau mengusirku?" Amara semakin geram. "Sialan!" Amara berdecak.


Valerie berbalik badan, rumahnya sudah hampir sampai. Tiba-tiba kepala Valerie sangat pusing, perutnya juga terasa tidak nyaman. Valerie tidak tahu kenapa ini bisa terjadi.


"Kau mau ke mana?" Amara masih harus berbicara, tetapi Valerie malah meninggalkannya begitu saja.


"Hey! Kembalilah! Kau sudah merebut pacarku. Beraninya kau pergi begitu saja. Lihatlah! Kau kena karma, kan?!" teriakan Amara menggema. Setelah Valerie berbelok ke dalam rumahnya, Amara pergi.


"Tadi itu dia kenapa, ya? Muntah-muntah mencium aroma parfumku. Penciumannya sensitif sekali, dulu sepertinya tidak seperti itu," gumam Amara, lama dia berpikir tentang keadaan Valerie yang janggal.


"Biasa, Ibu hamil lah yang penciumannya sensitif," sambungnya, tiba-tiba Amara tersenyum karena mengingat sesuatu saat dia menyebutkan kata 'Ibu hamil' tadi.


"Jangan-jangan dia benar-benar hamil? Anak siapa? Jangan sampai itu anak Hansel. Tapi, tidak mungkin. Selama ini dia berada di luar negeri. Itu pasti anak hasil pergaulan bebasnya. Cih, sok pendiam, naif sekali!" umpat Amara, tersenyum sinis karena mengetahui rahasia besar Valerie.


"Aku harus memberitahukan Hansel mengenai ini supaya Hansel merasa jijik dan kecewa pada wanita itu. Jadi, Hansel juga tidak akan mendekati wanita ****** itu lagi," imbuhnya.


Sambil tersenyum senang, Amara melajukan mobilnya menuju kantor Hansel. Setibanya di sana, dengan percaya diri yang amat tinggi Amara langsung masuk. Namun, tepat di depan pintu, langkahnya dihentikan oleh dua orang satpam yang bersiaga.


"Maaf, Nona, Anda tidak diperbolehkan masuk ke dalam," sanggah seorang satpam, menghalau Amara dengan tangannya.


"Kau ... berani-beraninya menghalangi aku!" Amara kesal. "Aku ini calon istrinya Hansel. Kenapa tidak boleh masuk?" Amara menggerutu.

__ADS_1


"Maaf, ini perintah dari Pak Hansel langsung," timpal satpam yang satunya.


"Bagaimana mungkin. Jangan mengada-ada. Tidak mungkin Hansel tidak mengizinkan calon istrinya masuk!" Amara tidak percaya, dia malah membuat onar dengan meneriaki nama Hansel berulang-ulang. Tentu saja, tingkahnya mengganggu pekerjaan yang lainnya.


"Bawa dia!" titah satpam kepada temannya.


Satpam yang berjaga di depan hendak menyeret Amara yang keras kepala pergi dari sana. Namun, ketika Amara melihat mobil Hansel memasuki kawasan parkir, Amara bergegas meninggalkan dia satpam menyebalkan itu dan berlari ke arah mobil Hansel.


"Hansel! Kenapa kamu tidak mengizinkan aku masuk ke kantormu?" tanya Amara dengan raut kesal.


Hansel tidak peduli. Berjalan dengan tatapan lurus ke depan. Melihat tanggapan Hansel padanya, Amara semakin kesal.


"Hansel! Kenapa kau begini?" Amara meraih tangan Hansel.


"Amara, tolong jangan buat kekacauan. Hubungan kita sudah berakhir, jangan temui aku lagi!" Hansel menunjukkan ketidaksukaannya.


"Lepaskan dan pergilah!" Hansel menepis tangan Amara, kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantor.


"Aku mau memberitahumu tentang kehamilan wanita yang sangat kau cinta itu!" teriak Amara. Seperti dugaannya, Hansel benar-benar berhenti dan menunjukkan rasa penasarannya.


"Apa maksudmu?" Hansel kembali menghampiri Amara yang tersenyum mengejek.


"Valerie, wanita ****** kesayanganmu itu hamil karena pergaulan bebas. Kau pasti kecewa, kan?" Amara terus menerus memperlihatkan senyum sinisnya. "Terlihat polos tapi sebenarnya wanita murahan!" sinis Amara lagi.


"Darimana kau tahu mengenai kabar ini?" jantung Hansel berdetak kencang. Berita bahagia inilah yang sangat ditunggu-tunggu Hansel.


"Tadi aku tidak sengaja bertemu dengannya. Kemudian, dia malah mengatai parfumku ini sangat bau, penciumannya sensitif. Setahuku, kalau penciumannya sensitif, biasanya dia Ibu hamil," terang Amara.


Deg!

__ADS_1


Hansel hampir saja tersenyum. Namun, kabar yang diberikan Amara belum tentu benar. Hansel tidak bisa mengiyakan dan langsung sesenang itu tanpa kembali memastikannya lagi.


"Jangan membual. Pergilah! Kabar buruk atau bahagia apa pun yang kau bawa, hubungan kita tetap tidak akan kembali seperti dulu!" Hansel pergi begitu saja, wajahnya berseri-seri. Tidak menyangka, rencananya berhasil.


***


Valerie kembali dengan langkah gontai, memasuki rumahnya, berharap tidak bertemu siapa pun. Dia tidak mau ada yang melihat penampilan acak-acakannya seperti itu.


Namun, Tuhan tidak mengabulkan permintaannya. Sepertinya, memang harus ada yang melihat penampilan lemahnya itu. Semenjak mual muntah karena parfum Amara, sampai saat ini Valerie menjadi semakin pusing.


"Vale, kamu baru pulang? sudah siang, loh. Mama pikir kamu akan pulang pagi," sapa Rena, berjalan ke arah Valerie yang terdiam. Dia tidak tahu apa yang Rena katakan, kepalanya sangat pusing.


"Kamu kena--"


belum sempat Rena menyelesaikan ucapannya, Valerie langsung ambruk. Rena menjerit histeris, takut terjadi sesuatu hal buruk pada putrinya itu.


Para maid berdatangan setelah mendengar teriakan Rena. Sama-sama mereka membopong Valerie menuju ke rumah sakit untuk diperiksa.


"Pak! Cepatlah!" desak Rena pada sang supir, sesekali dia melirik Valerie yang masih belum sadar.


Jalanan begitu lenggang, membuat mobil bisa berjalan cepat dan sampai di rumah sakit tepat waktu. Valerie di masukkan ke dalam ruangan, setelah beberapa lama Dokter memeriksa, sang Dokter menghampiri Rena yang menunggu dengan cemas.


"Bagaimana, Dok?" tanya Rena, raut cemas begitu kentara di wajahnya.


"Begini, Bu, putri Anda sedang hamil. Kemungkinan besar, dia pingsan karena pengaruh hormon kehamilan," ucapan sang Dokter membuat Rena menganga, syok tak percaya.


"Ha--hamil?" Rena menutup mulutnya sendiri.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2