Istri Rahasia Presdir

Istri Rahasia Presdir
Jalur Paksaan


__ADS_3

"Walaupun rasa minuman ini agak pahit, tetapi kandungannya akan membuat kita merasakan bahagia di kemudian hari. Valerie, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Kau milikku, sampai kapan pun tetap akan menjadi milikku!" ucap Hansel sambil memperhatikan minuman di tangannya.


Sorot lampu mobil Ken menyilaukan Hansel. Seutas senyuman tergambar di sudut bibir Hansel, dia senang karena Valerie sudah datang.


"Valerie, ayo kita pergi sekarang."


"Valerie, hati-hati," ucap Ken, masih tidak tenang tetapi tidak bisa berbuat apa pun.


"Terima kasih karena sudah mengantarku Ken. Sudah larut malam, pulanglah! Ingat, jika Papa atau Mamaku menanyaimu, katakan saja aku ke rumah Lula," pesan Valerie sebelum dia pergi bersama Hansel.


Ken hanya mengangguk pelan. Ken begitu kesal dengan dirinya sendiri yang tidak bisa membuat Valerie langsung lupa dengan pria sialan Hansel itu.


Sesaat setelah mobil Hansel pergi, Ken masuk ke dalam mobilnya dan pulang ke apartemennya sendiri.


"Kenapa kita tidak bicarakan sekarang saja? Tidak perlu buang-buang waktu pergi ke vila itu lagi. Villa itu sangat jauh," ujar Valerie, tanpa menoleh pada lawan bicaranya yang hanya diam saja.


"Kita harus tiba di sana dulu. Aku takut tidak fokus menyetir jika kita terlalu cepat membicarakannya," bohong Hansel, pura-pura cuek dengan tidak melirik ke arah Valerie sama sekali.


Valerie menghembuskan nafas panjang. Karena tubuhnya terasa lelah, dia memejamkan matanya, bermaksud mengistirahatkan tubuhnya. Ujung matanya melirik sebuah botol minuman rasa jeruk yang bergoyang di dashboard akibat jalan yang lumayan terjal.


"Kalau mau ambil saja," ucap Hansel, sadar tatapan mata Valerie terus mengarah ke sana.


"Aku memang menyukai jus jeruk, tapi itu dulu. Sekarang sudah tidak lagi. Aku sudah melupakan dan membenci apa pun yang kusukai dulu. karena, itu bukan murni kesukaanku," tukas Valerie, memperlihatkan sejauh apa perubahannya yang sudah melupakan Hansel.


"Benarkah?" tanya Hansel, hatinya merasa getir mendengar pengakuan Valerie.


"Tentu saja, untuk apa aku berbohong."

__ADS_1


Hansel tidak lagi mengatakan apa pun. Hanya melirik Valerie dari ekor matanya, mematikan jika wanita itu sudah tertidur pulas. Tapi, untuk menjaga kerahasian kalau Hansel sudah mencampur sesuatu ke dalam minuman itu, Hansel tidak berani berbicara sepatah kata pun.


"Butuh waktu beberapa jam untuk tiba di villa. Tidak mungkin dia tidak haus. Lebih baik, biarkan saja dulu," batin Hansel melenguh pasrah.


***


Ternyata, yang Hansel pikirkan sebelumnya memang benar. Tempo setengah jam, secara tidak sadar dengan mata yang masih tertutup Valerie meraba-raba dashboard seperti sedang mencari sesuatu. Hansel yakin, Valerie sedang mencari minuman itu karena tenggorokannya terasa kering.


Hansel tersenyum, mendekatkan minuman itu pada Valerie. Setelah menemukan minumannya, Valerie langsung meminumnya beberapa tegukan.


"Kenapa jus jeruk ini agak pahit? Kamu mencampurkan sesuatu ke dalamnya?" tanya Valerie, mencecap rasa yang tertinggal di lidahnya. Pahitnya masih terasa.


"Apa yang aku taruh? Pahit? Sepertinya itu rasa yang wajar. Rasa yang dominan dari buah jeruk kan memang pahit, manis, dan asam. Lantas, kenapa kamu malah menuduhku?" Hansel mengendikkan bahunya. Menunjukkan ekspresi tersinggung karena Valerie telah menuduhnya.


"Benar juga yang dia katakan. Tetapi, masa sudah dibuat jadi jus kemasan rasa pahitnya masih melekat, sih? Kenapa aku ragu, ya?"


Valerie menoleh kiri dan kanan, dia ingat jalan villa itu. Mereka sudah dekat dengan Villa.


Benar saja, sebuah villa mulai tampak dari kejauhan.


Keduanya turun, tidak ada yang menyambut. Hansel langsung membawa Valerie masuk ke dalam kamar yang dulu pernah mereka tempati. Begitu masuk ke dalam kamar, hati Valerie menjadi tidak karuan. Bayangan saat mereka menikah, malam pertama yang mereka lakukan di kamar itu, terulang kembali seperti reka adegan yang berputar.


Valerie terdiam di dekat pintu yang hampir Hansel tutup. Mengintai ke segala sudut kamar yang tertata rapi, semua dekorasinya masih sama seperti saat mereka tinggalkan waktu itu.


"Kenapa kita harus bicara di dalam kamar? Di taman atau di ruang tamu saja," pinta Valerie, ada rasa tidak nyaman yang merasuk di relung hatinya.


"Kenapa harus di taman? Ini sudah larut malam, Valerie. Banyak nyamuk dan juga pasti akan dingin. Nanti kita tidak akan fokus bicara. Katanya, malam ini banyak yang menginap di sini, apa kamu mau pernikahan rahasia kita ini jadi konsumsi publik?"

__ADS_1


Valerie membenarkan apa yang Hansel tuturkan. Mau tidak mau, mereka memang harus berbicara di dalam kamar.


Melihat Valerie yang sudah duduk di tepi ranjang, Hansel tersenyum senang. Mengunci pintunya dan ikut duduk di samping Valerie.


"Jadi, kapan kita akan bercerai?" tanya Valerie, menatap netra Hansel yang selama ini selalu membuatnya berdebat tak karuan. Namun, sekarang debaran itu tidak lagi Valerie rasakan.


"Kamu yakin mau bercerai dariku? Valerie, apa tidak ada kesempatan kedua untukku? Kenapa perubahanmu terlalu besar?"


"Setelah aku terbiasa, baru kau tanya kenapa aku berubah? Hansel, aku sudah memberikan beribu kesempatan untukmu. Mungkin, selama ini kau tidak pernah menyadarinya. Sekarang, hatiku sudah herpaut pada Ken. Setelah bercerai darimu, aku akan menikah dengannya. Tolong, jangan membuat orang tua kita curiga. Mereka pasti akan kecewa jika mengetahui tentang pernikahan rahasia ini!" mohon Valerie.


"Menikah dengan pria itu? Lalu, bagaimana denganku? Valerie, aku tau ini sangat terlambat, tapi aku sangat mencintaimu. Maafkan sikapku yang dulu, aku sangat mencintaimu!" mohon Hansel lagi.


"Cintamu tidak bisa aku terima lagi, Hans. Maafkan aku."


"Lalu, bagaimana kalau di antara kita ada baby? Apa kamu masih berpikir untuk meninggalkan aku?"


"Aku bisa membesarkannya seorang diri. Menjadi Hot Mommy juga bukanlah hal yang buruk kok."


Hansel geram, entah seperti apa caranya membujuk Valerie, nyatanya wanita itu selalu mengungkit perceraian saat bersamanya. Hansel hanya ingin bersama Valerie, wanita itu yang sudah membuatnya tergila-gila. Tidak ada yang boleh memiliki Valerie selain dirinya.


"Aku mencintaimu, Vale."


Hansel mengukung tubuh Valerie di bawahnya. Mencumbui leher jenjang dan bibir ranum wanita itu. Walaupun Valerie berontak berulang kali, Hansel tetap tidak peduli. Tujuannya saat ini adalah membuat Valerie hamil anaknya.


"Valerie, jika aku tidak bisa memilikimu secara baik-baik. Maka aku akan menggunakan cara pemaksaan. Kau istriku, tidak boleh dekat-dekat dengan pria lain!" kecam Hansel, terlihat egois. Tapi, begitulah cara Hansel mempertahankan kepemilikannya yang sempat dia sia-siakan.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2