Istri Rahasia Presdir

Istri Rahasia Presdir
Kedatangan Hansel


__ADS_3

"Aku tidak berniat untuk menemui Arga, Tante. Tetapi, aku ingin menanyakan sesuatu tentang Valerie," ucapnya kemudian. Sontak, Rey dan Rena pun saling memandang.


"Mengenai Valerie? Ada apa, Hans?" tanya Rena penasaran.


"Om, Tante, aku minta alamat Valerie sekarang," pinta Hansel, menatap kedua orang di depannya bergantian.


"Maaf, Hansel, bukannya kami yang tidak mau memberikannya. Tetapi, Valerie sendiri yang memintanya untuk tidak memberitakan tempat tinggalnya sekarang," tolak Rey. Sampai kapan pun dia tidak akan memberikan alamat Valerie pada siapa pun, termasuk Hansel.


"Valerie sendiri yang meminta?" Hansel tidak menduga. Valerie benar-benar pergi untuk melupakannya.


"Ya. Makanya kami tidak bisa menuruti permintaan kamu. Maaf sekali," ujar Rena kemudian.


"Tante, Om, Hansel minta maaf karena selama ini sudah menyakiti perasaan Valerie. Sekarang Hansel baru sadar kalau perlakuan Hansel selama ini sangat salah. Maka dari itu, Hansel mohon kalian bisa memberitahukan alamat Valeri saat ini. Hansel mau minta maaf ...." akhirnya, Hansel memohon untuk mengetahui keberadaan Valerie. Bukankah dulu dia yang tidak pernah memperdulikan kehadiran wanita itu. Bahkan, menikahinya hanya untuk dipermainkan. Memalsukan hubungan sakral yang harusnya mengacu pada keabadian, dan berakhir dengan kekecewaan karena Valerie telah dicampakkan.


"Bagaimana pun kamu memohon, tidak akan merubah keputusan kami, Hans. Maaf, kami hanya menjalankan amanah saja. Selebihnya, kamu bisa menghubungi Valerie untuk mencari tahu sendiri," ucap Rey, tetap kekeuh pada pendiriannya. Berusaha untuk tidak merasa kasihan pada wajah melas Hansel.


"Bagaimana caraku menghubunginya untuk meminta maaf dan menanyakan alamat? Semua akun media sosial-ku saja sudah diblock olehnya. Jika aku bisa menghubunginya, aku tidak akan datang ke sini. Sudah sejak kemarin aku akan menanyakan secara langsung saja," batin Hansel berkecamuk.


Hansel terdiam cukup lama. Bergelut dengan hati serta pikirannya. Rey dan Rena memperhatikan diamnya Hansel. Namun, tetap tidak ada rasa kasihan dalam diri mereka.


"Kalau begitu, aku pulang dulu, Om, Tante," pamitnya, segera pergi setelah Rey dan Rena mengiyakan.


"Sebenarnya Mama sangat kasihan pada Hansel, Pa. Tetapi, jika mengingat perlakuan dia pada Valerie. Mengingat bagaimana putus adanya Valerie setiap hari. Mengingat ka--"


"Sudahlah, Ma. Semua orang juga memilikinya kesalahan, bukan? Mungkin, yang dikatakan Hansel memang benar seperti itu. Dulu dia tidak menyadari, setelah kepergian Valerie, barulah dia sadar seberapa berharganya cinta yang Valerie bawa."


"Kita tidak bisa menghakimi orang lain. Kisah mereka hampir mirip seperti Bara dan Embun dulu. Kamu masih ingat, kan?" tukas Rey, menekan kuat perasaan kecewa Rena pada Hansel.


"Aku yakin, Valerie sudah memblokir semua media sosial Hansel makanya dia kelimpungan mencari keberadaan putri kita. Bagaimana pun keputusan Valerie, selama itu yang terbaik untuknya, aku akan mendukungnya," ucap Rena kekeuh.

__ADS_1


"Ya. Aku pun begitu, Ma," sahut Rey.


Hansel melakukan mobilnya ke Club milik Daniel. Dia ke sana bukan untuk mabuk-mabukan, tetapi mencari Gavin. Hansel sangat yakin sahabatnya itu sedang berada di Club Night Butterfly.


Setibanya di Club, Hansel langsung masuk ke dalam.


"Hans, ada apa? Tumben ...," ucap Gavin, meletakkan ponselnya dan mendengarkan Hansel berbicara.


"Aku mau meminta bantuanmu, Gavin. Bisakah kamu membantuku?" pintanya, wajah seriusnya membuat Gavin tertawa.


"Sebentar. Sepertinya aku sudah bisa menebak apa yang ingin kamu minta. Kamu ... mau bertanya mengenai Valerie?" tebal Gavin dan langsung diangguki Hansel.


"Ya. Bisakah?"


"Apa yang harus aku bantu?" tanya Gavin, mulai serius mendengarkan Hansel lagi.


"Kenapa? Apa kau mau menghampiri Valerie? Hansel, kau yakin?" Gavin benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang Hansel pikirkan.


"Tentu saja aku yakin. Gavin, cinta itu harus diperjuangkan, bukan? Mungkin, ini saatnya aku untuk berjuang," ucapnya yakin.


"Baiklah. Aku akan membantumu."


Setelah mendapatkan alamat pasti Ken, tanpa ragu Hansel langsung memesan tiket pesawat.


"Tuhan saja mendukungku. Kebetulan sedang ada waktu penerbangan menuju ke sana!" gumamnya kegirangan.


Setelah menempuh penerbangan selama beberapa jam, Hansel memesan taksi dan langsung menuju ke apartemen tempat Ken tinggal.


"Pak, menunggu di sini sebentar, ya. Nanti saya kasih tips," pinta Hansel.

__ADS_1


"Baik, Tuan," jawab sang supir.


Hansel tersenyum senang ketika melihat Ken baru keluar dari apartemen dan masuk ke dalam mobilnya.


"Sepertinya, takdir memang ingin mempertemukan aku dengan istriku!" ucap Hansel sembari tersenyum.


"Pak, ikuti mobil di depan, ya!"


Selama perjalanan, Hansel melihat-lihat gedung-gedung yang dia lewati. Nama-nama jalan yang dia lewati supaya dia ingat.


Lima belas menit mereka menempuh perjalanan, akhirnya Ken memberhentikan mobilnya di sebuah apartemen mewah.


Hansel ikut turun, dia meyakini jika Ken pasti akan menghampiri Valerie.


Hansel tidak bersembunyi, dengan leluasa dia mengikuti Ken yang diyakininya tidak mengenali Hansel.


Hansel berdiri di balik pot bunga besar, mengintip Ken yang mengetuk pintu, di tangannya ada sebuah paper bag.


"Valerie?" gumam Hansel ketika melihat wanita itu keluar menghampiri Ken sembari tersenyum. Setelah berbincang beberapa saat, Ken pun pergi.


"Ini waktunya aku menemuinya. Terima kasih karena sudah memberitahukan tempat tinggal istriku!"


Hansel mengetuk pintu beberapa kali. Sama seperti yang Ken lakukan tadi. Berselang lima menit, handle pintu pun bergerak.


"Ada apa Ken, kenapa balik la--" suara Valerie menggantung ketika melihat siapa yang datang.


"Ha--hansel?" kata wanita itu melotot tajam.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2