
"Jadi, kamu menjemputku hanya karena takut aku belum mengetahui alasan yang harus aku katakan nanti? Bukan karena sukarela?" tanya Valerie sambil menahan sesak.
"Tentu saja bukanlah!" sangkal Hansel.
"Kak, kamu serius?" tanya Valerie, dia masih tidak percaya kalau Hansel benar-benar terpaksa.
"Tentu saja, kamu pikir aku bercanda? Memangnya, wajahku terlihat sedang bercanda?" sentak Hansel membuat Valerie bertambah kaget. Valerie benar-benar bingung kenapa tiba-tiba Hansel sangat kasar saat berbicara padanya.
Kenapa Kak Hansel sekasar ini? Dia terlalu ketus sama seperti dulu saat dia ... tidak menyukaiku!
batin Valerie.
Hansel bukannya tidak tahu perubahan raut wajah Valerie yang menjadi ucapan tidak enak dari mulutnya. Namun, dia mengeraskan hati agar semua rencananya bisa berjalan dengan lancar, dan usahanya selama ini pun tidak sia-sia.
Maafkan aku Valerie. Hanya ini yang bisa aku lakukan. Aku juga terpaksa. Tapi, aku juga tidak memiliki cara lain lagi. Semoga, kamu bisa cepat membenciku agar aku tidak terlalu lama menyakitimu.
Setelah Hansel membentaknya, sepanjang jalan Valerie memilih diam. Dia tidak mau mengatakan apapun lagi karena takut.
Mereka pun tiba di kediaman keluarga Wirastama. Hansel langsung masuk tanpa basa-basi dengan Valerie. Mungkin, dia menganggap Valerie sebagai angin yang tidak terlihat oleh kedua matanya.
Melihat Hansel yang mulai merubah saat memberlakukannya, Valerie hanya bisa mengelus dada sambil menghembuskan nafas panjang, agar dirinya bisa lebih bersabar dari apa yang dia harapkan.
"Di mana Valerie?" tanya Embun menghampiri Hansel yang baru saja masuk.
"Di luar, Ma!" jawab Hansel seadanya.
"Kenapa kalian tidak masuk bersama, sih? Sejak tadi, kami menunggu kalian!" tanya Embun.
"Dia bisa jalan sendiri, Ma. Lagipula, kenapa kalau dia sendirian. Dia sudah besar, tidak akan hilang karena diculik ataupun kesasar, kan? Dia sering ke sini, Ma. Jadi, tidak perlu terlalu berlebihan seperti itu!" sahut Hansel. Setelah Hansel selesai berbicara, dia langsung mendapat hadiah sebuah Jupiter dari Embun.
"Hansel, kamu sadar tidak dengan apa yang sedang kamu katakan?" sungut Embun sambil melotot. "Kenapa mulutmu sepeda cabai Carolina Reaper sih? Pedas... sekali!" imbuh Embun terlampau kesal dengan Hansel yang selalu bermulut tajam jika sudah membahas Valerie.
__ADS_1
Embun bukan hanya ingin menjaga perasaan Rena dan Rey. Tetapi, sikap engsel memang tidak baik.
"Tentu saja Hansel sadar, Ma. Sudahlah, Hans gerah. Mau mandi dulu," potong Hansel sambil mengendurkan dasinya.
"Hansel, kami tidak ada yang memaksamu untuk menjemput Valerie dari kampusnya. Kamu sendiri yang meminta. Lantas, sekarang kenapa kamu malah kesal seperti ini?" tanya Embun heran.
"Hansel tidak kesal Ma. Hanya saja, Hansel gerah. Mau mandi dulu, ya," ucap Hansel kemudian langsung berlalu pergi dari sana.
Tanpa Embun dan Hansel ketahui, percakapan mereka barusan didengar langsung oleh orang yang bersangkutan. Yaitu Valerie yang sedang bersembunyi di balik tembok. Awalnya, dia ingin menghindari Embun untuk sementara waktu. Tapi, tanpa diduga dia malah mendengar sesuatu yang membuat hatinya semakin teriris.
"Jangan dimasukkan ke hati, Vale! Bukankah sejak dulu sikap Kak Hansel memang sudah seperti itu? Jadi, untuk apa kamu sedih dengan kata-katanya?" ucap Valerie berbicara dengan dirinya sendiri.
Valerie keluar dari persembunyiannya. Menghampiri keluarganya yang lain yang sedang berkumpul dan saling melempar lelucon. Valerie ikut duduk bersama mereka, berharap hati dan pikirannya dapat teralihkan. Namun, sepertinya harapannya hanya sia-sia.
Karena, selucu apapun lelucon yang di dengarnya, hatinya masih terganggu dengan perubahan sikap Hansel hari ini. Perubahan itu sangat kentara.
"Vale, ada apa denganmu?" tanya Rena, duduk di samping Valerie yang sedang termenung. "Mereka semua membuat lelucon sampai tertawa terpingkal-pingkal. Kamu duduk di tengah-tengah mereka dengan memasang wajah cemberut? Apakah lelucon mereka tidak selucu itu bagimu?" goda Rena sambil mengusap-usap punggung Valerie.
"Kemarin, bunga apa yang kamu bawakan untuk Ibumu Amanda?" tanya Rena dengan senyuman.
Bunga apa? Aku harus jawab apa? Apa asal jawab saja, ya?
Valerie kebingungan sendiri. Dia benar-benar tidak tahu.
"Bu-bungan lili putih, Ma!" jawab Valerie cepat.
"Kamu memang pintar memilih bunga Vale. Putih memang selalu menggambarkan kesucian dan ketenangan serta keamanan, " ucap Rena.
Valerie tidak menanggapi apapun dia hanya memaksakan senyum agar Rena percaya dengan jawabannya.
"Vale, malam kemarin kamu menginap di sini, ya?"
__ADS_1
"Mama tahu dari mana?" tanya Valerie yang menjadi semakin gugup.
"Pagi tadi saat di toko kue, Tante Embun yang memberitahukan pada Mama," terang Rena.
"Iya, Ma. Kemarin, aku kemalaman. Takut papa marah. Jadi, aku memutuskan untuk menginap di sini saja," bohong Valerie.
Vale, sejak kapan kau pintar berbohong seperti ini?
Setelah semua keluarga berkumpul semua, masing-masing dari mereka mengambil tempat yang telah di tentukan. Tempat duduk Valerie, selalu berhadapan dengan Hansel. Kebiasaan mereka, jika tiga keluarga sudah berkumpul seperti ini, acara makan malam mereka pasti jadi jauh lebih mengasyikkan.
"Hansel, usia kamu sudah berapa saat ini?" tanya Daniel disela-sela makannya.
"Sudah dua puluh tujuh, Om!" jawab Hansel.
"Ah... memang cocok sekali!" Seru Daniel sambil tersenyum.
"Cocok? Untuk apa?" tanya Bara penasaran.
"Kebetulan, kolega Bisnisku memintaku untuk mencarikan suami untuk anaknya. Gavin kan sudah bertunangan. Usia Arga juga masih terlalu kecil untuk menikah. Yang cocok memang Hansel. Apalagi, dia tidak memiliki pacar, kan? Jadi, dia pasti bisa kita jodohkan dengan anak kolega bisnisku saja. Anaknya cantik, pasti sesuai dengan seleranya Hansel!" ucap Daniel sambil menatap raut wajah Hansel dan Bara secara bergantian.
"Benar juga. Tapi, walau bagaimanapun kita tidak bisa mengambil keputusan sendiri. Kalau anak-anakku tidak mau dijodohkan maka aku tidak akan memaksa mereka. Tanyakan saja langsung pada Hansel," tukas Bara.
"Bara, bagaimana menurutmu?" tanya Daniel, dia berharap Hansel bisa mempertimbangkan perjodohan ini.
"Tidak bisa, Om! Perjodohan ini tidak bisa dilakukan!" sanggah Valerie membuat semua perhatian tertuju padanya. Setelah tiba-tiba menyanggah tanpa ada persiapan alasan yang jelas, Valerie mendadak menyesali perilakunya sendiri.
"Tidak bisa? Kenapa?" tanya Daniel, kini perhatiannya tertuju pada Valerie. Mereka semua juga menunggu jawaban Valerie yang sukses membuat mereka semua jadi begitu penasaran.
"Ka-karena...."
-Bersambung-
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar nya ya. Berikan juga rate 5 Vote dan Hadiah sebanyak-banyaknya ya. Terima kasih ❤️❤️❤️