Istri Rahasia Presdir

Istri Rahasia Presdir
Karena terpaksa


__ADS_3

"Kenapa aku tidak boleh terlalu sering bertemu dengan Hansel? Aku dan Hansel sepasang kekasih. Bukan urusanmu untuk mengatur jadwal pertemuan kami!" tangkas Amara yang tiba-tiba sudah berdiri di ambang pintu sambil bersedekap dan menatap tajam ke arah Hansel dan Valeri secara bergantian.


"Amara, kenapa kamu di sini? Kan sudah kukatakan, tunggulah di dalam, Mara!" Hansel langsung meraih tangan Amara, anda membawa Amara pergi dari sana.


Tapi, Amara menepis genggaman tangan Hansel. Amara berjalan menuju ke arah Valerie yang sedang menatapnya dengan wajah bingung.


"Katakan! Kenapa aku tidak boleh sering bertemu dengan Hansel?!" sentak Amara. Namun, Valerie terus menatapnya tanpa gentar.


Sialan! Kenapa dia malah membalas tatapan mataku jauh lebih tajam? Bukankah seharusnya dia takut saat aku membentaknya? Wanita cupu seperti dia, tidak mungkin sangat berani seperti ini, kan?


Amara membatin kesal karena balasan Valerie tidak sesuai dengan harapannya. Awalnya, Amara sempat berpikir, jika dia menggertak Valerie, maka kalori pasti akan ketakutan. Namun, semuanya benar-benar tidak sesuai dengan ekspektasinya. Valerie maulah balik melotot pada Amara.


"Apa? Apa yang harus aku katakan?" tanya Valerie.


"Kau tuli, ya? Aku mau mendengar alasanmu, kenapa kau melarangku bertemu dengan Hansel!" teriak Amara, suaranya menggema ke seluruh ruangan. Sontak, semua perhatian langsung tertuju padanya.


"Amara! Kenapa kamu berteriak pada Valerie?" Hansel langsung menarik tangan Amara, menjauhkan Amara dari Valerie.


"Hansel, apa-apaan sih kamu? Kenapa.


menarikku? Kamu lebih membela dia daripada aku?" sentak Amara sambil menggemeretakkan giginya karena kesal.


"Amara, kita sedang di kantor. Jangan berbuat onar. Teriakan kamu mengundang perhatian orang lain!" bisik Hansel agar Amara tidak mengulangi kesalahan yang sama lagi.


"Hansel, sebenarnya dia ini siapa kamu, sih? Apa benar adik sepupu kamu? Tapi, kenapa semenyebalkan ini, ha?" tanya Amara, sesekali melirik ke arah Valerie.


"Dia memang adikku, Amara. Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa bertanya dengan keluargaku yang lain," tukas Hansel.


"Jadi, kenapa tadi dia bisa berkata seperti itu? Memangnya, apa urusannya?" Amara sangat penasaran dengan maksud dari ucapan Valerie tadi. Tapi, Valerie ataupun Hansel tidak ada yang mau buka mulut dan menjelaskan.


"Amara, redakan emosimu. Jangan kekanakan!" wajah Hansel sudah datar, dia tidak suka dicecar pertanyaan yang jelas-jelas tidak ingin dia jawab.


"Tapi, Hans, aku butuh penjelasan!" kekeuh Amara.


"Bukan apa-apa. Maksud dia berkata seperti itu baik. Dia tidak mengizinkan aku sering bertemu denganmu agar aku bisa tetap fokus mengelola perusahaan ini. Jangan sampai terganggu dengan urusan luar. Itu saja!" kelit Hansel.


Kak Hansel begitu pintar membuat sebuah alasan yang bahkan tidak pernah aku pikirkan. Apakah perkataannya selama ini murni dari hatinya, atau hanya alasan saja?

__ADS_1


"Begitukah?" Amara masih sulit untuk mempercayai apa yang dikatakan oleh Hansel.


"Terserah kalau kamu tidak percaya!" Hansel langsung berlalu masuk ke dalam ruangannya. Meninggalkan Amara yang masih dirundung rasa kesal yang tidak tara.


Melihat Hansel sudah masuk ke dalam ruangannya, Valerie juga pergi dari sana. Dia tidak mau jadi pelampiasan kemarahan wanita gila itu lagi.


Kenapa Kak Hansel harus memilih wanita mengerikan seperti itu, sih?


batin Valerie. Dia menyetop taksi yang melintas di depan perusahaan Wirastama company dan berangkat ke kampusnya.


*****


Jam sudah menunjukkan pukul lima sore. Valerie dan Lula baru keluar dari kelas. Hari ini, adalah hari yang paling melelahkan untuk mereka. Valerie berjalan dengan lunglai. Sejak tadi pun Valerie sudah terlihat tidak bersemangat. Seperti orang yang kehilangan ruhnya. Dia terus memikirkan tentang Hansel.


"Vale, kamu kenapa, sih?" sedari tadi mulut Lula sudah gatal ingin bertanya. Tapi, tidak ada kesempatan.


"Memangnya aku kenapa?" Valerie malah bertanya balik, membuat Lula merasa gemas dengan tingkah sahabatnya itu.


"Sedari tadi kamu melamun terus. Pengantin baru ada masalah apa?" seloroh Lula.


Plak!


"Bisakah mengecilkan sedikit suaramu? Jika orang lain mendengar ucapanmu, akibatnya bisa fatal!" dengus Valerie.


"Haha, maaf!" ucap Lula sambil mengusap-usap lengannya yang terasa sakit. Meskipun sakit, tetapi dia masih bisa tertawa karena merasa bersalah pada Valerie.


Saat ingin menyahuti ucapan Lula, ponsel Valerie berdering. Dia melihat ada satu buah pesan dari nomor tidak dikenal.


[Aku akan menjemputmu. Ini aku Hansel!]


Melihat isi pesan yang begitu menggembirakan, senyuman Valerie pun mengembang. Selama ini, dia memang tidak memiliki nomor ponsel Hansel. Dan sekarang, pria itu sendiri yang berinisiatif mengirimkan pesan pada Valerie dan menjemputnya.


[Iya, Kak!]


Sebelum bersorak, Valerie menyempatkan diri untuk membalas pesan dari Hansel terlebih dahulu.


"Lula!" teriak Valerie sambil memeluk Lula.

__ADS_1


"Apa-apaan sih kamu, Vale? Tadi mukul, sekarang malah meluk," cetus Lula sambil mencebikkan bibirnya.


"Kak Hansel mau menjemputku!" serunya, semakin mengeratkan pelukannya. Sedikitpun dia tidak peduli dengan omelan Lula.


"Serius?" sulit bagi Lula untuk mempercayainya.


"Serius. Barusan, Kak Hansel mengirimkan pesan padaku, La!" berulang kali Valerie mengangguk. Dan hal itu tidak cukup untuk menggambarkan rasa senangnya.


"Yuk, temani aku ke parkiran!" ajak Valerie.


"Vale, aku sudah di jemput. Maaf, kamu harus menunggu kedatangan suamimu sendirian!" Lula tersenyum mengejek.


"Ah, ya sudahlah!" Valerie tetap tersenyum, sebab ada satu hal bahagia yang sedang menantinya.


Vale menunggu di parkiran kampus. Tidak berselang lama, mobil mewah berwarna hitam metallic berhenti tepat di depan Valerie. Valerie sudah tanda mobil siapa yang berdiri di depannya itu. Dia langsung masuk ke dalam dengan wajah penuh senyuman.


"Kak!" sapa Valerie sambil memasang seatbeltnya.


"Pasang yang benar. Jangan asik senyam-senyum saja kamu!" cetus Hansel tapi Valerie tidak peduli dengan ucapan pedas pria itu. Mungkin, karena dirinya sudah terbiasa.


"Tumben kamu mau jemput aku, Kak?"


Ini juga karena terpaksa. Kalau tidak, mana mungkin aku mau jemput kamu, Valerie!


"Iya, aku terpaksa!" jawab Hansel singkat. Perlahan-lahan dia mulai menampakkan sifat aslinya. Jika terlalu menahan watak aslinya, yang ada semuanya akan semakin lambat. Dia ingin cepat-cepat bercerai dengan Valerie.


"Terpaksa?" Valerie terpelongo dengan jawaban Hansel.


"Iya, aku terpaksa. Nanti malam, keluarga besar kita akan mengadakan jamuan makan malam. Semuanya pasti berkumpul. Jadi, kamu pasti akan bertemu dengan Mamaku," terang Hansel.


"Aku jemput kamu karena mau menyampaikan alasan logis. Jadi, saat kamu ditanyai nanti, kamu tidak akan kebingungan lagi," sambungnya.


"Jadi, kamu menjemputku hanya karena takut aku belum mengetahui alasan yang harus aku katakan nanti? Bukan karena sukarela?" tanya Valerie sambil menahan sesak.


"Tentu saja bukanlah!" sangkal Hansel.


-Bersambung-

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar. Berikan rating 5, vote, dan hadiah ya. Terima kasih ❤️❤️❤️


__ADS_2