Istri Rahasia Presdir

Istri Rahasia Presdir
Mengubah Diri


__ADS_3

"Entahlah. Katanya mau mengantarkan Kak Valerie ke bandara," jawab Arga apa adanya.


"Bandara?" mata Hansel membelalak, dia tersedak dengan minumannya.


Sontak, semua perhatian langsung tertuju pada Hansel yang langsung membenarkan posisi duduknya. Hansel terlihat salah tingkah di depan mereka semua tapi tidak mau mengatakan apa-apa.


"Kenapa kamu seterkejut itu? Jangan-jangan, kepergian Valerie itu karena kamu, ya, Kak? Ayo mengaku!" desak Hilsa, menodongkan telunjuk ke wajah Hansel.


"Jangan sembarangan berbicara, Hils! Aku tidak mengetahui apa pun," elak Hansel, melirik ke arah lain sambil meremas jemarinya.


"Tentu saja aku menuduhmu. Seharusnya, sekarang kau sedang berada di kantor. Lalu, untuk apa kamu berada di sini sekarang, ha? Pasti untuk menenangkan pikiran, kan? Valerie juga pergi jauh. Ini semua pasti ada hubungannya denganmu!" kekeuh Hilsa, mencibirkan bibirnya karena tidak ada jawaban dari Hansel.


"Diamlah! Suaramu sangat menggangguku, Hilsa!" bentak Hansel. Kini, perasaannya benar-benar kalut. Ada segenggam perasaan aneh dalam hati Hansel. Perasaan aneh yang sukar digambarkan olehnya.


"Valerie, kamu benar-benar pergi? Baguslah! Akhirnya, aku terbebaskan dari belenggu cintamu yang begitu mengganggu!" batin Hansel, tersenyum senang karena semua rencananya berjalan dengan lancar.


Kini, Valerie tiba di bandara tujuannya. Dia berjalan sambil memeluk tas kecil yang berisikan beberapa helai pakaiannya saja. Valerie menapaki kakinya yang gemetar. Valerie tidak menyangka, demi mengkandaskan perasaannya, dia harus pergi jauh, berpisah dari orang-orang terdekatnya yang lain.


"Hansel, semoga aku bisa cepat membuang perasaan ini. Memulai hidup baruku dengan baik. Berusaha untuk tidak mengagungkan namamu lagi. Tidak menaruh harapan besar pada pria keji sepertimu. Mulai saat aku menginjakkan kakiku untuk pergi dari rumah, aku bukan lagi Valerie yang dulu. Cintaku untukmu harus musnah!" batin Valerie, menggenggam tekad yang begitu besar.


"Valerie!" teriak seorang wanita berpakaian modis dari arah depan Valerie. Dia melambaikan tangannya di antara kerumunan orang yang sedang berlalu lalang.

__ADS_1


"Tante Joana ... aku sangat merindukanmu," ucap Valerie, menghamburkan ke dalam pelukan Adik Ibunya itu.


"Vale, kenapa kamu datangnya tiba-tiba sekali? Tidak membawa koper?" Joana celingak-celinguk ke belakang Valerie.


Valerie tersenyum seraya menggelengkan kepalanya. "Tidak, Tante. Aku ... ingin mengubah diriku. Dari mulai penampilan, kebiasaan, dan hatiku menjadi lebih tangguh dalam segala hal. A-aku suda muak dibutakan cinta yang sebenarnya tidak pernah ada." Valerie menggigit bibirnya sendiri. Sedikit malu untuk menceritakan hal yang menimpanya saat ini.


"Saat menghubungi Tante, Mama kamu juga. mengatakan hal yang serupa. Sebenarnya, ada apa?" Joana mengambil alih tas dari pelukan Valerie, menggandeng keponakannya itu berjalan keluar dari bandara.


Valerie kembali tersenyum, gelengan kepalanya sudah cukup membuat Joana mengerti jika Valerie masih belum bisa menceritakan kepedihan hatinya.


"Pelan-pelan saja, Vale. Kamu masih memiliki banyak waktu, kan? Apa kamu lapar?" tanya Joana.


"Tidak, Tante. Sebelum kesini aku memakan banyak makanan tadi. Tapi, apa Tante sekarang sedang buru-buru dengan pekerjaan?" tanya Valerie.


"Aku ingin membeli pakaian dan beberapa kebutuhanku, Tante. Aku ingin berpenampilan seperti Tante. Modis dan cantik," akunya dengan berani.


"Modis dan cantik? Kita harus mengubah ciri khasmu, Vale. Mengubah tatanan rambut dan kamu tidak bisa memakai kacamata ini lagi," ucap Joana, mengusap lembut pipi Valerie.


"Itulah yang aku inginkan, Tant. Bisakah kamu membantuku?" Valerie menggenggam tangan Joana erat-erat.


"Apa kamu memutuskan berubah untuk Hansel?" goda Joana.

__ADS_1


"Untuk Hansel?" Valerie tersenyum getir. "Lebih tepatnya untuk melupakan Hansel," ralatnya lagi.


Joana mengangguk mengiyakan. Sedikit banyak, Joana mulai mengerti apa yang menitik beratkan keinginan Valerie untuk berubah. Dia yakin, telah terjadi sesuatu di antara Hansel dan Valerie. Tapi, apa? Selama ini, siapa yang tidak tahu ketekunan Valerie dalam mencintai Hansel. Sebesar apa rasa sakit hati yang ditorehkan Hansel sehingga wanita ini mau meruntuhkan perasaan yang sudah bertahun-tahun dia bangun.


Valerie dan Joana memasuki sebuah mall. Jika mau membeli apa-apa, Joana pasti membelinya di sana.


"Vale, lanjutkan pilih saja apa saja yang kamu mau. Tante akan temani," ucap Joana pada Valerie.


"Aku tidak terlalu tahu baju mana yang terlihat bagus untukku, Tant. Bantu aku pilih, ya!" Valerie memohon.


"Kamu mau yang seperti Tante?" Joana menunjuk dirinya sendiri. Gaya berpakaian wanita itu memang cenderung terbuka dan seksi. Selalu sukses menjadi pusat perhatian orang-orang.


"Ya, aku mau. Tapi, jangan terlalu terbuka seperti ini, sih." Valerie cengegesan. "Aku belum terbiasa kalau harus langsung memakai yang sangat terbuka seperti ini, Tant," lanjutnya.


"Tante tahu. Sekalian Tante akan memilihkan beberapa gaun cantik untukmu. Besok ada acara amal, kamu harus ikut, Vale. Hitung-hitung menambah relasi," ujar Joana sambil mengedipkan sebelah matanya.


Valerie hanya mengangguk. Dia tidak terkalahkan khawatir karena ada Joana bersamanya. Valerie sibuk melihat-lihat pakaian mana yang cocok untuknya sampai dia tidak melihat jalan dengan jelas.


Bruk!


Valerie tidak sengaja menabrak tubuh seseorang tapi malah dirinya yang terpental ke belakang.

__ADS_1


"Maaf ...," ucap pria itu, berusaha membantu Valerie untuk berdiri.


*Bersambung*


__ADS_2