
"Perkenalkan, dia adalah Ken. Calon suamiku!" ucap Valerie, memperhatikan semua orang tanpa terkecuali Hansel.
Semua orang terkejut, tanpa terkecuali Hansel yang langsung menatap Valerie dengan tatapan tak percaya. Valerie sengaja menatap Hansel sambil tersenyum simpul. Senyuman yang menyiratkan ledekan kalau Valerie memang sudah melupakan semua kenangannya dan juga Hansel.
"Valerie, kamu serius?" tanya Embun, merasa kecewa dengan Valerie yang menikah dengan pria lain ketimbang Hansel.
"Ya. Aku serius," jawabnya tanpa ragu.
Embun memegangi dadanya yang terasa sesak. Tersenyum getir seraya mengangguk-anggukan kepalanya. Melihat Embun yang bersikap demikian, Rena merasa bersalah pada Kakaknya itu. Namun, itu semua sudah menjadi keputusan Valerie, tidak ada yang bisa mengubahnya.
"Kak, kamu sudah melupakan perasaanmu pada Hansel? Secepat itu? Aku tidak percaya!" celetuk Arga sambil menggelengkan kepalanya.
"Maaf semuanya sudah membuat keributan. Di malam yang bahagia ibu saya ingin memperkenalkan diri sebagai calon suami Valerie." Ken angkat bicara, tidak membiarkan Valerie diragukan oleh orang lain.
Hilsa menyenggol lengan Hansel yang sejak tadi memasang wajah datarnya.
"Lihatlah! Dia sudah berubah, Kak. Bukan hanya penampilannya saja, tetapi juga hatinya. Sudah beralih pada Ken, si pengusaha terkenal. Kamu hanya bisa mengucapkan selamat di hari pernikahan mereka kelak." Hilsa tidak pernah bosan mengejek kebodohan Hansel yang memilih membenci disaat Valerie mencintai. Dan memilih mencintai disaat Valerie melupakan.
"Vale, kenapa berdiri di sana? Ajak Ken duduk, ayo kita makan bersama." Rey menggenggam tangan Valerie, sambil tersenyum ramah dia mempersilakan Ken untuk bergabung bersama mereka. Kini, tidak ada lagi kekhawatiran di dalam hatinya. Yang ada, Rey sangat senang karena Valerie sudah bisa menenggelamkan perasaan cintanya pada Hansel yang selama ini selalu menyakitinya karena tidak terbalaskan.
"Baik, Pa." Valerie turut membalas senyuman Rey, dia mengambil tempat tepat di sebelah Hansel. Karena, memang di sana lah biasanya Valerie duduk. Jadi, yang lain juga terbiasa menyisakan tempat duduk untuk Valerie di sebelah Hansel seperti biasanya.
"Kau keterlaluan, Valerie! Berani-beraninya memperkenalkan calon suami di depan wajah suamimu sendiri!" geram Hansel, berbisik sambil merapatkan giginya karena kesal.
"Sebentar lagi akan menjadi calon suami," cetus Valerie dengan wajah datar. Sedikit pun tidak memikirkan perasaan Hansel yang mungkin saja telah hancur.
"Kau benar-benar mau bercerai dariku?" tanya Hansel.
"Ya. Tentu saja, aku mau bercerai darimu!" jawab Valerie penuh dengan keyakinan.
__ADS_1
"Baiklah. Kalau kau memang mau bercerai dariku, kita harus segera membicarakannya berdua. Setelah makan malam ini, ikut aku pergi," tukas Hansel.
"Ke mana? Aku tidak mau, nanti kau malah mencelakaiku," tolak Valerie.
"Mana mungkin aku mencelakaimu. Lagipula, aku juga masih harus mencari wanita lain, bukan? Membangun keluarga kecilku penuh dengan kebahagiaan di masa yang akan datang," bantah Hansel.
"Kau akan membawaku ke mana?" tanya Valerie memastikan.
"Ke villa, tempat kita mengikat janji saat itu," jawab Hansel.
"Villa itu? Kenapa harus ke sana? Kita bisa membicarakannya di mana saja, bukan? Cafetaria, restaurant, dan di--"
"Kita memang bisa mengatakannya di mana saja. Tetapi, apa kau tidak khawatir ada seseorang yang melihat kita nantinya? Mereka pasti akan bertanya-tanya. Jika kau menggunakan alasan persaudaraan kita, mengapa hanya kita berdua saja? Orang pasti tetap akan curiga, Valerie!" terang Hansel, melirik ke arah Valerie yang sedang dirundung kebingungan.
"Apa keputusanmu? Kamu ingin semuanya cepat selesai atau tidak, semuanya ada di tanganmu," ucap Hansel lagi.
"Baiklah. Bicarakan dengan cepat," Valerie menganggukkan kepalanya.
"Sebenarnya apa sih yang sedang mereka bicarakan? Rencana apa yang sedang mereka buat? Sial!" batin Ken, kesal karena tidak berhasil menguping pembicaraan Hansel dan Valerie.
Hansel dan Valerie kembali ke mode normal. Saat melirik lagi ke arah Valerie, Hansel melihat ada sisa makanan di ujung bibir istrinya itu. Tanpa ragu, Hansel menyeka sisa makanan di sudut bibir Valerie.
"Kau ini makan selalu saja berantakan. Tidak pernah berubah sama sekali," ucapnya.
Sontak, kedua orang itu pun menjadi pusat perhatian. Semua orang saling memandang dengan guratan tanda tanya besar di wajah mereka.
"Hans, sepertinya kau sangat akrab dengan Valerie, ya," gurau Daniel.
"Tidak, kok, Om. Hansel tidak sengaja saja. Mungkin karena dia terlalu perfeksionis," jawab Valerie cepat, dia tidak ingin disalahpahami oleh orang lain. Kemudian, dia menatap Ken yang juga sedang menatapnya.
__ADS_1
"Sayang, lanjutkan makanmu," ucap Valerie, mengusap-usap punggung tangan Ken, memperlihatkan kebucinannya di depan anggota keluarganya.
Ken hanya menjawab dengan anggukan kecil.
Waktu berlalu begitu cepat, setelah acara makan malam selesai, Valerie meminta izin pada kedua orang tuanya untuk pergi ke sebuah tempat. Dia ingin menemui sahabat karibnya. Meski dengan berat hati, akhirnya Rey mengizinkan.
"Papa antarkan?" tanya Rey.
Valerie menolak karena itu hanyalah alasannya saja. "Ken akan mengantarku, Pa. Kebetulan, Apartemennya juga searah dengan rumah Lula," tolaknya.
Tanpa membuang-buang waktu, Valerie bergegas pergi bersama dengan Ken. Setibanya di parkiran, Valerie bertemu dengan Hansel yang sudah menunggunya di dalam mobil.
"Bagaimana?" tanya Hansel.
Valerie hanya menjawab dengan sebuah anggukan kecil.
"Aku menunggumu di persimpangan," ucapnya, kemudian melajukan mobilnya.
"Valerie, kamu yakin? Aku merasa dia memiliki niat terselubung. Apa aku mengikutimu saja?" tanya Ken, merasa tidak senang dan tak tenang jika Valerie pergi bersama Hansel.
"Tidak perlu. Aku hanya membicarakan masalah perceraian kami saja kok. Aku akan cepat pulang, tenanglah." walau Valerie sudah menenangkan Ken, pria itu tetap saja resah tapi tidak bisa berbuat banyak. Ken takut, jika dirinya terlalu ikut campur tangan sementara Valeri tidak memintanya, wanita itu akan kesal dan marah.
"Baiklah. Ayo pergi."
Persimpangan yang dimaksud Hansel tidaklah jauh dari area rumah Valerie. Sedangkan Hansel sudah tiba duluan di persimpangan yang dimaksud. Sengaja dia memilih tempat itu karena dekat dengan apotek besar yang lengkap. Sembari menunggu, Hansel membeli sesuatu yang memang sudah direncanakannya sejak tadi.
Apa yang ingin dibeli Hansel sudah dalam genggamannya. Langsung saja Hansel mencampurkan obat penyubur kandungan ke dalam minuman Valerie. Dia sengaja membeli jus jeruk berkemasan botol yang rasanya sedikit asam agar rasa pahit dari obat yang sudah dilarutkan di dalam minuman itu dapat tersamarkan.
"Walaupun rasa minuman ini agak pahit, tetapi kandungannya akan membuat kita merasakan bahagia di kemudian hari. Valerie, aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Kau milikku, sampai kapan pun tetap akan menjadi milikku!" ucap Hansel sambil memperhatikan minuman di tangannya.
__ADS_1
*Bersambung*