
"Valerie, jika aku tidak bisa memilikimu secara baik-baik. Maka aku akan menggunakan cara pemaksaan. Kau istriku, tidak boleh dekat-dekat dengan pria lain!" kecam Hansel, terlihat egois. Tapi, begitulah cara Hansel mempertahankan kepemilikannya yang sempat dia sia-siakan.
"Kau benar-benar sialan, Hansel!" Valerie menangis sejadinya. Berharap ada orang yang mendengar tangisannya yang kencang itu. Mengingat, tadi Hansel mengatakan ada banyak orang yang menginap di villa itu.
Hansel tidak perduli dengan perlawanan Valerie. Dia meniduri wanita itu sampai berkali-kali, dan selalu melepaskan susu kentalnya ke dalam. Melihat Valerie yang sudah terkulai lemas, tidak sanggup bergerak sedikit pun, barulah Hansel menyudahi permainannya.
"Hans, kau jahat! Kau mem--bohongiku." Valerie masih tak henti-hentinya menangis. Harusnya, dari awal dia mengantisipasi untuk tidak terlalu percaya pada pria bajingan seperti Hansel. Sudah berapa kali Valerie ditipu, kenapa malah masih percaya pada pria itu.
"Maafkan aku, Valerie. Aku tidak bisa melepaskanmu. Setiap kali kau mengungkit perceraian di depanku, aku sangat marah. Terlebih ketika kamu mengatakan ma menikah dengan Ken, kemarahanku sudah tidak bisa dikendalikan lagi. Kamu masih istriku, Vale. Jangan bermain-main dengan pria lain di luaran sana!" pinta Hansel, bersiap memeluk Valerie ke dalam dekapannya.
Valerie menolak dalam keadaan tubuh yang lemah. Tidak sudi dipeluk oleh pria sialan itu.
Valerie membelakangi Hansel, menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya yang sudah tertabur kissmark di mana-mana.
"Besok aku akan mengantarkan kamu pulang. Sekali lagi maaf. Selain dengan cara ini, aku tidak tahu harus bagaimana lagi, Vale." Hansel menuturkan penyesalannya. Tetap saja Valerie enggan untuk berbalik apalagi memaafkan. Rasa sakit hatinya sudah tertanam ketika Hansel mengutarakan niat pernikahan mereka saat itu.
Bagi Valerie, memang tidak ada lagi yang perlu dipertahankan dari pernikahan rahasia mereka. Cinta sudah luntur, kesadaran Hansel juga telat, perhatian Valerie perlahan juga sudah beralih pada Ken, pria yang selama ini selalu menghargainya. Lantas, apa lagi yang bisa membuat dirinya bertahan di sisi pria yang sejak dulu selalu melihatnya dari ekor mata itu.
Tidak ada, bukan?
Valerie kelelahan, hati, fisik, dan pikirannya benar-benar melelahkan. Sembari menangis dia tertidur, membawa perasaan kalut dan kecewanya karena lagi dan lagi Hansel berhasil menipunya. Bahkan, sampai detik ini pula, Valerie masih menyimpan rasa sakit hatinya yang mendalam.
***
Pagi-pagi sekali, Hansel sudah lebih dulu membuka matanya. Melihat Valerie yang masih tertidur, Hansel memeluk Istrinya sambil senyam-senyum.
Setengah jam berlalu, Valerie merasa risih dengan pergerakan Hansel. Perlahan-lahan dia membuka matanya yang terasa perih lantaran hampir semalaman dia menangis atas penderitaan yang diberikan Hansel.
"Selamat pagi, istriku ...." Hansel dengan girang menyambut bangunnya Valerie. Menciumi wajah istrinya.
"Menyingkirlah!" sentak Valerie kesal, menolak keras wajah Hansel dari hadapannya.
__ADS_1
"Kamu mau ke mana?" Hansel beranjak, kembali menindih tubuh Valerie.
"Ka--kamu mau apa lagi?" Valerie terkesiap, kembali ketakutan karena Hansel menyunggingkan senyum smirk.
"Mau sarapan," jawabnya enteng.
"Hansel, jangan macam-macam, ya. Aku akan berteriak kalau kau berani kurang ajar lagi!" ancam Valerie, panik.
"Berteriaklah! Keluarkan ******* terindahmu, Sayang... Memangnya, siapa yang bisa mendengar teriakanmu selain aku? Semalam saja, hanya aku yang bisa mendengarkan rintihanmu, bukan?" Hansel memegangi area sensitif Valerie. Bergerak ke sana-sini membuat Valerie kembali merasakan sensasi seperti tersengat.
"Hansel, kumohon... jangan lakukan lagi!" Valerie memohon dengan terurai air mata. Tetap saja, Hansel tidak akan mendengarkan. Tujuannya saat ini mau membuat istrinya itu segera hamil.
"Kenapa? Jika menginginkan baby, bukannya memang harus sering melakukannya?" tahan Hansel sudah bermain di area sensitif Hansel.
"Siapa yang mau mengandung anakmu? Aku tidak mau!" pekik Valerie, berteriak kencang sampai terbatuk-batuk.
"Jangan keras kepala, Valerie!" Hansel tidak lagi mempedulikan ocehan Valerie. Dia memulai foreplay-nya. Setelah dikiranya cukup, segera dia masuk ke permainan inti.
"Kasihan dia. Sejak semalam aku sudah menggagahinya. Biarkan dia beristirahat sejenak. Setelah itu, baru aku antar pulang," gumam Hansel dalam hati.
"Istirahatlah! Sebentar lagi aku akan mengantarkan kamu pulang," ucap Hansel, mencium dahi istrinya.
"Tidak. Antarkan aku pulang sekarang!" kekeuh Vale, dia tidak mau nanti disetubuhi Hansel lagi.
"Tapi, kamu masih--"
"Jangan banyak alasan. Antarkan aku sekarang, atau aku minta Ken yang menjemputku," ancam Valerie.
Hansel menyugar rambutnya. "Baiklah. Pakailah bajumu. Aku antarkan sekarang," putus Hansel pada akhirnya.
Selama perjalanan, Valerie memilih diam walaupun beberapa kali Hansel sempat mengajaknya berbicara. Diam sambil memejamkan matanya, tapi dia tidak tidur.
__ADS_1
"Di sini saja. Aku tidak mau ada yang melihat kamu mengantarku pulang," ucap Valerie, menghentikan mobil Hansel tidak jauh dari jangkauan rumahnya.
"Tapi, kamu sedang kelelahan, Vale."
"Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Turunkan aku di sini atau aku akan melompat?" Valerie kembali mengancam.
Jika Valerie sudah mengeluarkan ancaman. Hansel tidak bisa berkata-kata lagi. Dia tahu jika Valerie adalah seseorang yang nekat.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Valerie bergegas turun. Tadi wanita itu juga meminta Hansel segera pergi karena takut ada yang lihat dan curiga.
"Hey sialan!" panggil seseorang yang sejak tadi sudah menunggu Valerie.
"Kau ... kenapa bisa di sini?" tanya Valerie kaget.
"Sengaja menunggumu. Aku dengar kau sudah pulang, makanya sengaja menunggumu lewat. Bagus kau berjalan kaki," terang Amara, bersedekap sambil menatap tajam Valerie dari atas ke bawah.
"Untuk apa kau menungguku? Mau mengucapkan selamat untuk kepulanganku?" tanya Vale, dia tahu jika sudah bertemu dengan Amara pasti akan terjadi hal buruk.
"Mengucapkan selamat? Cih, justru aku mau bertanya, kenapa kau kembali ke sini dan mengganggu Hansel? Gara-gara kau, hubunganku dengan Hansel memburuk!" pekik Amara, tanpa memperdulikan pandangan orang-orang di sekitarnya.
Amara berjalan semakin mendekat. Valerie tidak lagi mundur seperti sebelumnya.
"Kenapa karena aku? Rumah dan keluargaku ada di sini, kenapa aku harus pergi? Hubunganmu dan Hansel, itu urusan kalian. Tidak ada sangkut pautnya dengan aku!" ketus Valerie, mulai merasakan sesuatu yang menusuk Indra penciumannya.
"Sialan kau, Valerie! Kau pikir, kau bi--"
"Tunggu! Kenapa parfummu bau sekali? Seperti aroma orang meninggal!" ucap Valerie, menutup hidungnya dan mulai memuntahkan semua isi perutnya ke depan Amara. Membuat wanita itu meradang sekaligus jijik.
Valerie tidak henti-hentinya muntah. Selama dia masih mencium parfum Amara, mualnya tak kan hilang.
"Mundurlah sedikit! Aromamu sangat menyengat! Membuatku muntah!" sinis Valerie disela-sela muntahnya.
__ADS_1
*Bersambung*