
"Papa memintaku datang ke cafe Seroja. Om Daniel dan Om Rey juga ada di sana. Katanya, partner bisnis Om Daniel dan anaknya yang mau dijodohkan denganku sudah menunggu, mereka ... mau bertemu denganku!" terang Hansel.
"Kak, aku boleh ikut tidak? Aku juga mau tau siapa yang dijodohkan denganmu," pinta Valerie memelas.
"Kamu ada-ada saja, ya, Vale. Mana mungkin kita pergi bersama. Mereka akan berpikir apa tentang kita? Lebih baik, kamu tunggu di sini saja," ujar Hansel.
Valerie membenarkan apa yang dikatakan oleh Hansel. Tapi, dia benar-benar merasa tidak ikhlas kalau suaminya akan dijodohkan oleh Papanya sendiri.
"Kak, aku mau ikut...." rengek Valerie yang enggan memahami apa yang Hansel katakan.
"Vale? Jangan ikut. Dengarkan apa yang aku katakan!" sentak Hansel mulai kesal.
"Tapi, Kak, aku ma--"
"Vale, dengarkan saja apa yang aku katakan! Jangan membantah!" Hansel langsung meninggalkan Valerie begitu saja di dalam apartemennya.
Valerie menggigit kukunya, dia panik karena bingung harus menggunakan cara apa agar bisa mengikuti Hansel ke cafe Seroja, tempat pertemuan pria itu dan wanita yang akan dijodohkan dengannya.
"Lula!" seru Valerie. Valerie langsung mencari-cari kontak Lula di ponselnya. Meminta sahabatnya itu untuk segera menjemputnya.
"Aku tunggu kamu di lobi apartemen, ya!" ucap Valerie di akhir telepon. Setelah memastikan, Valerie buru-buru mengenakan pakaiannya, dan berlari menuju ke lobi untuk menunggu kehadiran Lula di sana.
Valerie menunggu kehadiran sahabatnya dengan gelisah. Dia cemas, takut ketinggalan topik pembicaraan dan malah jadi tidak tau topik apa yang sedang mereka bicarakan.
"Akhirnya, dia datang juga!" seru Valerie bernafas lega ketika melihat mobil Lula dari kejauhan.
"Kita ke cafe Seroja, ya!" pinta Valerie, "La, kemudikan mobilmu secepat mungkin, ya! Aku tidak mau kita terlambat ke sana!" pinta Valerie dan mendapat anggukan dari Lula.
"Aku akan berusaha secepat mungkin, Vale."
Seperti permintaan Valerie, Lula mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Lula sama sekali tidak peduli dengan klakson yang berbunyi beruntun. Baginya, kepentingan Valerie lah yang harus diutamakan.
"Kamu mau ketemu siapa, sih, Vale? Kenapa buru-buru seperti ini?" tanya Lula. Dia keheranan melihat Valerie yang sedang buru-buru melepaskan seatbeltnya.
"Kak Hansel!" jawab Valerie. "Cepat buka seatbeltmu dan ikut aku ke dalam!"
Mendengar nama Hansel disebutkan, Lula menghela nafas panjang. Dia menyesal sudah rela kebut-kebutan dan mempertaruhkan nyawanya demi mengantarkan Valerie untuk bertemu dengan pria yang sangat dibencinya itu.
__ADS_1
"Aku? Untuk apa aku bertemu dengan pria sialan itu? Aku tidak mau! Masuk saja sendiri sana!" usir Lula sambil mencebikkan bibirnya.
"Lula, ini genting. Kumohon... ayo ikut denganku!" Valerie mengatupkan kedua tangannya di depan wajah. Memohon Lula agar mau ikut dengannya.
"Kita mau ngapain, sih? Mau pergoki Hansel sialan itu jalan dengan wanita lain?" tebak Lula.
Valerie mendengkus. "Lula, bisa tidak kalau kamu Jangan berpikir yang aneh-aneh seperti ini? Aku mengajakmu kemari untuk menemaniku, untuk menerka sesuatu hal yang belum jelas seperti ini. Bahkan, yang kamu tebak itu semuanya salah besar!" sangkal Valerie.
"Salah? Jadi, yang benarnya itu bagaimana?" tanya Lula.
"Sudahlah. Nanti aku akan menjelaskannya di dalam. Yang penting, saat di dalam nanti, apapun yang kamu lihat, pura-pura tidak tahu saja, ya. Anggap saja, kita datang ke cafe ini karena memang kebetulan. Janji?" Valerie memberikan jari kelingkingnya untuk mengikat janji dengan Lula.
"Vale, kamu ini benar-benar sangat kekanak-kanakan!" seloroh Lula, dia menyambut kelingking Valerie dan ikut mengikat janji.
Siang ini, mentari menampakkan diri seutuhnya pada penduduk bumi. Cuaca sangat panas, sepanas gelora semangat Valerie yang sangat ingin tahu siapa yang dijodohkan dengan suaminya. wanita seperti apa yang akan dijodohkan dengan Hansel. Dan, apa saja yang dibicarakan oleh para orang tua di sana. Valerie berbuat seperti ini karena dia tahu, jika nanti dia bertanya pada Hansel, pria itu tidak akan mau menjelaskan secara runtut.
Ketika masuk ke dalam cafe Seroja, Valerie mengedarkan pandangannya. Dia menghela. nafas karena langsung menemukan tempat keluarganya berada.
"Untung mereka tidak berada di ruang VIP!" gumam Valerie menghela nafas panjang.
"Vale, itukan Papamu, Om Bara, dan Om Daniel. Kenapa mereka bisa berada di sini? Wanita cantik itu siapa?" Lula begitu penasaran, tapi sayangnya Valerie belum mau bercerita padanya.
"Vale, kenapa kamu malah diam saja?" Lula menggoyangkan tubuh Valerie agar wanita itu tersadar.
"Diamlah, Lula. Kalau kamu berisik, apa yang bisa kita dengar?" sungut Valerie kesal.
"Oh, ternyata tugas kita menguping?" Lula terkekeh pelan.
"Ssssttt!" lagi dan lagi Valerie meminta sahabatnya itu untuk diam.
Walaupun bingung, aku hanya bisa menuruti apa yang Valerie katakan saja. Diam dan dengar, hanya itu saja, kan?
batin Lula sembari memperhatikan Valerie yang tampak serius dalam mendengarkan pembicaraan para orang tua itu.
"Stela, bagaimana tanggapan kamu tentang Hansel?" tanya Rafa, Ayah dari Stela, dan partner bisnis Daniel.
"Tampan, Pa! Sangat-sangat tampan!" puji Stela yang langsung memperlihatkan ketertarikannya pada Hansel.
__ADS_1
"Wah, sepertinya Stela sudah menyukai Hansel, ya!" seloroh Daniel membuat mereka semua tertawa, kecuali Hansel. Pria itu hanya sedikit tersenyum, merasa tidak suka dengan sikap Stela yang terlalu centil dan terlalu berani dalam mengungkapkan ketertarikannya pada Hansel. Hansel tidak menyukai itu.
"Hansel, bagaimana tanggapan kamu setelah melihat Stela secara langsung? Cantik, kan?" tanya Rafa, sepertinya pria itu juga tidak sabar mau menjodohkan anaknya dengan Hansel.
Hansel tak langsung menjawab. Bahkan, dia ingin mengatakan biasa saja. Namun, saat matanya melirik ke arah samping, dia terkejut karena mendapati Valerie. Walaupun Valerie duduk menyamping dan tidak terlalu terlihat jelas, tapi Hansel tau jelas kalau itu memang lah Valerie.
"Cantik. Sangat-sangat cantik!" puji Hansel membuat Stela salah tingkah.
setelah menyunggingkan senyum manis pada Hansel. Tapi, pria itu malah membalasnya dengan wajah datar.
Tidak sebaik Valerie!
tanpa sadar hatinya berkata seperti itu.
Mendengar Hansel memuji wanita lain, Valerie mengepalkan tangannya. Dia ingin mencabik-cabik tubuh Hansel, tapi mana mungkin dia bisa melakukan hal gila itu?
"Vale, sebenarnya siapa wanita itu? Kenapa aku tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan?" tanya Lula.
"Dia wanita yang akan dijodohkan dengan Kak Hansel!" jawab Valerie sambil menahan sesak.
"A-apa?" suara Lula begitu besar, hingga mengundang perhatian dari banyak orang. Tak terkecuali Hansel dan para orang tua yang sedang berdiskusi.
"Lula, kenapa kamu berteriak-teriak? Kalau kita ketahuan bagaimana?" Valerie merapatkan giginya.
"Maaf. A-aku benar-benar minta maaf. Tanpa sadar, aku malah berteriak sekencang itu!" Lula menunduk.
"Sudahlah. Lagipula, kita juga belum ketahuan," ucap Valerie.
Namun, dugaannya salah. Sepertinya, waktu baik belum berpihak padanya.
"Valerie? Itu kamu?" tanya Rey, suara Rey terdengar begitu dekat.
A-apa aku akan ketahuan?
-Bersambung-
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar. Berikan juga rate 5, Vote, dan Hadiah sebanyak-banyaknya agar author tambah semangat ya... Terima kasih ❤️❤️❤️
__ADS_1