Istri Rahasia Presdir

Istri Rahasia Presdir
Kau milikku!


__ADS_3

Hansel mengetuk pintu beberapa kali. Sama seperti yang Ken lakukan tadi. Berselang lima menit, handle pintu pun bergerak.


"Ada apa Ken, kenapa balik la--" suara Valerie menggantung ketika melihat siapa yang datang.


"Ha--hansel?" kata wanita itu melotot tajam.


"Valerie ... apa kabar istriku?"Hasil tersenyum manis pada wanita yang selama ini sudah mengganggu hari-harinya itu. "Akhirnya aku menemukanmu," sambungnya.


Valerie menyadari alarm bahaya. Buru-buru dia menutup pintu. Namun, terlambat. Tangan Hansel lebih cepat, dia menahan pintu itu dengan lengan tangannya sehingga menyisakan ruang.


Saat Valerie bersiap untuk berteriak, Hansel langsung membuka lebar pintu itu dan masuk. Membekap mulut Valerie dengan tangan dan menarik wanita itu ke dalam.


Setelah itu, barulah Hansel melepaskan tangannya dari mulut Valerie.


"Kau tidak takut aku berteriak?"


"Apartemen semewah ini pasti kedap suara," ujar Hansel sambil tersenyum. Memindai tubuh istrinya dari atas ke bawah kemudian tersenyum manis. "Kau ... sangat cantik istriku," puji Hansel sambil mengelus pipi Valerie.


Sontak, Valerie langsung mundur beberapa langkah. "Jangan menyentuhku, Hansel!" tegur Valerie, tatapannya tak seteduh dulu. Hansel bisa merasakan kebencian wanita itu dengan jelas.


"Kenapa? Kau istriku?" Hansel semakin mendekat.


"Aku lupa. Harusnya, sejak terakhir kali kita bertemu, aku sudah meminta talak darimu," sinis Valerie, menepis tangan Hansel yang mencoba meraih pinggulnya.


"Bercerai? Kenapa? Bukankah kita pasangan yang saling mencintai?" Hansel memegang pipi Valerie dan mengusap-usapnya. Hansel memandangi wajah wanita yang selama ini sudah membuatnya cukup menderita karena kepergiannya.


"Bisakah jauhkan tanganmu, Hansel?" sentak Valerie.


Hansel tersenyum samar. Panggilan Valerie yang sekarang terhadapnya sangat mengganggu. Namun, dia tidak berani complain. Takut wanitanya akan semakin acuh.


"Kenapa kau memblokir semua media sosial-ku, Vale? Aku tersiksa ...." Hansel meringis.

__ADS_1


"Tersiksa? Apa maksudmu? Cukuplah! Jangan mempermainkanku lagi, Hans. Aku tidak mengerti kenapa kau bisa ke sini. Tolong pergilah dan jangan pernah menggangguku lagi!" tegas Valerie.


"Kau ... tega, Vale?" Hansel masih memelas, menyisakan tanda tanya besar bagi Valerie.


Valerie tersenyum sinis. "Tega katamu? Kau lupa, ini semua kau yang memintanya, Hansel. Cukup omong kosongmu!" Valerie hampir mengamuk. Sebisa mungkin dia masih mempertahankan kewarasan sampai matanya memerah.


"Kenapa kau datang secepat ini, Hans? Bahkan, hatiku belum sepenuhnya bisa membencimu. Aku belum sepenuhnya bisa melupakanmu. Hadirmu, membuat cinta sekaligus kecewaku bangkit bersamaan."


"Valerie, aku merindukanmu yang dulu. Tolong ... kembalilah seperti dulu. Cintai aku sepenuh hatimu lagi, Vale. Kumohon ...."


"Dengan mudahnya kamu mengatakan 'Aku ingin kamu yang dulu.' padahal kamu sendiri yang membuatku berubah!" pekik Valerie, tidak mampu lagi meredam sesaknya. Bagi Valerie, sikap Hansel sangat keterlaluan.


"Maafkan aku, Vale. Maafkan aku...."


"Memaafkanmu? Kau tidak salah. Sejak awal, memang aku yang salah karena mencintai orang yang salah." Valerie tersenyum kecut. Hatinya terpelintir, sangat sakit.


"Aku akui, memang telah untuk mengatakan ini. Mungkin juga terdengar keterlaluan. Tetapi, aku mencintaimu, Vale. A--aku baru menyadarinya sekarang. Se--"


Valerie terdiam ketika Hansel mendekapnya dan langsung ******* bibirnya. Valerie melawan sebisa mungkin. Namun, semua usahanya tidak akan membuahkan hasil karena tenaganya jauh lebih kecil dibandingkan dengan Hansel.


Hansel *******, menyesap, bahkan menggrepe tubuh Valerie, wanita yang sampai detik ini masih dianggap sebagai istrinya. Ya. Istri rahasianya.


Valerie terengah-engah. Hampir saja kehabisan nafas sampai wajahnya pun ikut memerah.


Plak!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Hansel. Tatapan tajamnya begitu mengintimidasi. Namun, tidak ada setetes pun air mata yang mengalir. Dalam sekejap saja, wanita itu menjelma menjadi wanita yang teguh dan kuat. Tidak seperti dulu, sangat cengeng sampai Hansel begitu muak padanya.


"Harus berapa kali aku katakan? Jangan menyentuhku sialan!" maki Valerie.


Makian Valerie membuat Hansel menganga. Pasalnya, itulah makian pertama yang dilayangkan Valerie untuknya. Dulu, wanita itu selalu bertutur lembut padanya. Bahkan selalu memanggilnya Kakak. Sekarang, malah mengumpatnya dengan kata-kata sialan?

__ADS_1


"Vale, kau ...." Hansel kehilangan kata-katanya.


"Apa? Ceraikan aku sekarang Hansel!" lagi dan lagi Hansel kembali dibuat tercengang.


"Jangan pernah bermimpi, Valerie!" Hansel menajamkan tatapannya. Berusaha membuat Valerie gentar.


"Kalau begitu, biar aku yang menggugatmu!" kecam Valerie.


"Menggugat? Coba saja. Kau lupa bagaimana pernikahan kita berlangsung?" Hansel menaikkan sudut bibirnya.


Valerie memejamkan matanya sesaat kemudian membuang muka. Benar. Dia tidak bisa menggugat Hansel.


"Jangan pernah berpikir untuk bercerai dariku. Aku mencintaimu, kita jalani pernikahan kita seperti pada umumnya, Vale. Kita akui pernikahan ini id hadapan orang tua kita," tutur Hansel, menggenggam tangan Valerie.


"Jangan memperlakukan aku layaknya sampah daur ulang, Hansel. Aku sudah tidak mencintaimu lagi. Hanya tinggal kebencian dalam relungku. Kau pikir, dirimu sebeharga apa sampai-sampai aku tidak bisa menyingkirkanmu dari hati dan pikiranku? Kau mau aku membencimu, bukan? Aku sudah melakukannya. Lantas, apa lagi yang membuatmu gelisah sampai kau harus menyusul ke sini dan berpura-pura menyatakan cinta. Apa aku sebodoh itu?" cecar Valerie.


"Di mana Tante Joana?" tanya Hansel, pandangannya mengitari seluruh ruangan. Dia yakin, saat ini Joana sedang tidak berada di sana. Keributan mereka cukup besar dan menyita perhatian. Tapi, sejak tadi Joana tidak keluar untuk melihat.


"Pergi dan besok pagi baru pulang," jawab Valerie, tidak menaruh kecurigaan apa pun ada Hansel.


"Yang mana kamarmu?" Hansel melihat ada dua kamar yang berdampingan.


"Yang itu," tunjuk Valerie ke arah kamar yang berada di depan. Setelahnya, Valerie baru menyadari sesuatu. "Tunggu! Kenapa kau menanyai letak kamarku? Jangan bilang kau mau--"


"Ya. Tebakanmu benar, Vale!" Hansel menggendong Valerie ala bridal style. Membuka kamar Valerie dengan sebelah tangannya. Berjalan cepat ke arah ranjang dan melemparkan tubuh mungil Valerie ke ranjang.


Hansel membuka dasinya, mengikat tangan Valerie menggunakan dasinya hingga istrinya itu tidak bisa lagi memberontak.


"Valerie, kau milikku!"


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2