
"Boy, kau tidak mau diganggu lebih lama olehku, kan? Berikan sekarang!" Hansel memaksa.
"Kau sudah membuka segel adikmu itu? Kau keterlaluan, Hans!" tukas Boy.
"Aku tidak bisa berkutik, Boy! Awalnya, aku tidak bermaksud seperti itu. Tapi, aku juga tidak bisa menahan hasrat yang terus menggebu!" Hansel memijat keningnya. Rasanya, dia benar-benar menyesal karena telah berhubungan intim dengan Valerie.
"Kau kan bisa melampiaskannya dengan bermain solo. Lantas, kenapa kau malah melampiaskan hasratmu lansung padanya? Jalan pikiranmu ... sangat susah untuk ditebak!" ketus Boy. Kali ini, dia sangat tidak berpendapat dengan Hansel.
"Alasanmu menikahinya saja, tidak bisa aku terima, Hans. Pernikahan rahasia ini saja, sudah sangat menyakitinya. Jika dia tau alasan mengapa kau menikahinya, dia pasti akan membencimu." Boy terus mengultimatum Hansel. Ya, dia memang sudah tau kenapa Hansel menikah di vilanya. Ya karena Hansel ingin merahasiakan pernikahannya dari siapapun.
Awalnya, Boy senang karena Hansel akan menikah di vilanya. Tapi, ketika mengetahui yang sebenarnya, dia begitu kesal dengan Hansel.
"Itulah yang aku mau, Boy. Aku ingin dia membenciku dan melupakan perasaannya yang terlalu berlebihan itu. Dia pantas mendapatkan pria yang lebih baik dariku, yah mencintainya dengan tulus, tanpa terbesit sedikitpun rasa untuk menyakitinya!" sahut Hansel dengan wajah tertunduk.
"Tch! Kau mau menyerahkannya pada pria baik? Kau sudah merusaknya, Hans!" tekan Boy lagi.
"Sudahkah, kekhilafan itu pun sudah terjadi. Sekarang, berikan saja pil kontrasepsi yang aku minta. Jangan berlama-lama atau kecebongku akan menjelma menjadi manusia!"
Boy masuk ke dalam, meminta pil kontrasepsi yang diminta oleh Hansel.
"Siapa, beb? Kenapa kau lama sekali? Kau terlihat kesal pada orang itu?" tanya seorang wanita yang masih bergelung dalam selimut.
"Temanku," jawab Boy singkat.
Setelah mendapat pil kontrasepsi, Boy kembali menemui Hansel yang menunggu di luar.
"Ini! Usahakan istrimu lansung meminumnya."
"Terima kasih!" ucap Hansel kemudian berlalu pergi dari kamar Boy, dan kembali ke dalam kamarnya.
Di dalam kamar, ketika Hansel masuk, terlihat Valerie sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk. Wanita itu duduk di tepi ranjang.
"Kak, kamu sudah mendapatkan pil kontrasepsi itu?" tanya Valerie.
"Sudah. Minumlah!" Hansel meletakkan pil kontrasepsi itu di samping Valerie.
"Apa tidak akan terjadi masalah jangka panjang jika aku meminumnya?" tanya Valerie sambil memperhatikan pil kontrasepsi yang kini berada di tangannya. Dia takut, setelah dia meminum pil ini, ketika nanti dia menginginkan seorang bayi, dia akan susah mendapatkannya.
"Minum saja!" titah Hansel lagi sambil menyambar handuk.
Antara yakin dan tidak, akhirnya Valerie meletakkan pil itu di tenggorokannya. Dengan dorongan beberapa teguk air minum, pil itu masuk ke dalam perutnya.
"Semoga apa yang aku khawatirkan tidak akan terjadi!" ucap Valerie sambil menangkup wajahnya dengan tangan.
Tidak berselang lama, Hansel keluar dari kamar mandi. Handuk kecil yang melilit di pinggang Hansel, seolah tidak bisa menutup besarnya burung perkutut Hansel yang bergantung di balik handuk.
"Kak, ki-kita akan menginap di sini?" tanya Valerie, dia melihat ke arah dinding. Sangat enggan melihat Hansel yang sedang mengenakan pakaiannya.
"Hum!" hanya jawaban singkat itu yang dia dapatkan.
__ADS_1
"Tapi, aku belum bilang pada kedua orang tuaku, Kak."
Hansel menoleh ke arah Valerie.
Aku lupa. Dia anak yang polos.
"Jadi, kau tidak bisa merangkai alasan?" tanya Hansel.
"Entahlah. Aku tidak bisa berbohong, Kak!" Valerie menunduk.
"Kalau begitu, kita pulang saja!"tawar Hansel.
"Tapi, untuk berjalan pun aku kesulitan. Bagaimana kalau mereka mencurigai ku, Kak? Aku bingung, alasan apa yang harus aku katakan nantinya!" Valerie menunduk semakin dalam.
"Lalu, kau maunya bagaimana?"
Dalam diam, Valerie menggelengkan kepalanya. "A-aku tidak tau, Kak."
Hansel menarik nafas panjang. Dia menatap Valerie dan membuang muka.
"Menginaplah di rumahku!" ucap Hansel.
"Menginap di rumah Kakak? Kenapa?" Valerie menatap wajah dingin Hansel.
"Kalau kita berangkat sekarang, pasti kemalaman sampai di rumah. Semua keluargaku sudah tidur. Kamu bisa langsung masuk ke kamar dan tidur. Besok pagi, sakitnya akan hilang. Jadi, kamu akan aman," terang Hansel.
"Untuk alasan itu, kita pikirkan nanti saja. Sekarang, berkemaslah!" seru Hansel.
"Baik, Kak!"
Valerie menuruti apa yang dikatakan oleh Hansel. Dia membereskan barang-barangnya yang tidak terlalu banyak.
Saat mereka keluar dari kamar, kebetulan ada Boy dan pacarnya yang sedang duduk bersantai di luar.
"Hans, kalian mau ke mana?" tanya Boy.
"Kami mau pulang."
"Pulang? Bukankah besok pagi?" tanya Boy keheranan.
"Kami akan pulang sekarang. Kebetulan, besok aku juga harus kembali masuk ke kantor," jelas Hansel. Sedangkan Valerie hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Oh, ya sudah." Boy membalas senyuman ramah Valerie.
"Terima kasih," ucap Hansel.
"Sama-sama."
Hansel dan Valerie pun berangkat dari Vila menuju ke pulang. Meskipun jalanan Vila tersebut agak curam karena dikelilingi gunung. Namun, banyak juga kendaraan lain yang berlalu-lalang. Jadi, Hansel dan Valerie tidak terlalu khawatir walaupun malam-malam mereka berada di jalanan.
__ADS_1
Berulang kali Valerie menguap. Matanya benar-benar sudah tidak sanggup untuk diajak begadang. Hansel melirik ke arah Valerie yang sejak tadi menguap sampai matanya berair.
"Kalau kamu mengantuk, tidur saja! Untuk apa menahan rasa kantukmu?" celetuk Hansel.
"Kalau aku tidur, siapa yang menemanimu, Kak?" Valerie langsung menolak.
"Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa menyetir sendiri. Jadi, tidurlah!" titah Hansel lagi.
"Baiklah kalau Kakak memaksa." Valerie memiringkan tubuhnya. Baru saja memejamkan matanya, dia sudah terlelap.
"Memaksanya? Padahal, dia memang mengantuk!" gumam Hansel geleng-geleng kepala melihat tingkah Valerie.
Setengah jam pun berlalu. Akhirnya, Hansel dan Valerie tiba di kediaman Wirastama. Seperti dugaan Hansel, rumah itu tampak gelap. Menandakan kalau semua orang sudah tidur. Hansel membangunkan Valerie agar memudahkan mereka masuk.
Saat Valerie berjalan menuju ke kamar tamu yang biasa dia gunakan untuk menginap, tidak sengaja dirinya berpapasan dengan seorang maid yang sedang berlalu-lalang.
"Nona Valerie?" sapa maid itu sedikit terkejut dengan Valerie yang tiba-tiba muncul di depannya.
"Eh, mbok?" Valerie tersenyum kikuk. Tidak seperti biasanya, Valerie langsung melengos pergi begitu saja. Di dalam kamar, Valerie langsung melanjutkan tidurnya.
*****
Pagi kembali datang. Hari ini berbeda dengan hari biasanya. Setelah perjuangan panjang, akhirnya Valerie menikah dengan Hansel, pria yang dicintainya. Walaupun hanya pernikahan rahasia, sangat berbeda dengan impian masa kecilnya, tapi Valle sangat menikmati hari-hari bahagianya.
Pagi-pagi Hansel terbangun, juniornya sudah membengkak. Adegannya dan Valerie kemarin terbawa mimpi.
"Ah ... benar-benar sial!" umpat Hansel kesal.
"Valerie sudah bangun belum, ya?" gumam Hansel. Sejurus kemudian Hansel keluar kamar. Yang menjadi tujuan awalnya adalah kamar Valerie.
Diam-diam Hansel masuk ke dalam kamar Valerie. Melihat Valerie yang masih tertidur, Hansel langsung mendekat dan mengendus aroma tubuh istrinya itu.
Di luar kamar, maid yang tadi malam tidak sengaja bertemu degan Valerie pun mengatakan kedatangan Valerie pada Embun.
"Nyonya, semalam saya melihat Nona Valerie datang dan masuk ke kamar!" ucapnya dengan wajah meyakinkan.
"Valerie datang? Masak iya, sih?" Embun meragu.
"Benar, Nyonya, saya melihat sendiri Nona Valerie masuk ke kamar yang biasa dia tempati," ucap sang maid.
"Tapi, Rey ataupun Rena tidak mengatakan apapun tentang kedatangan Valerie. Biasanya, kalau menginap pun Valerie pasti bilang dan datang dari pagi." Embun masih sukar untuk percaya.
"Tidak mungkin saya salah lihat." maid itu juga sangat yakin dengan apa yang dilihatnya.
"Sebentar. Saya akan mengecek langsung ke kamar itu."
-Bersambung-
Jangan lupa tinggalkan jejak like dan komentar. Berikan juga rate 5, Vote, dan Hadiah ya. Terima kasih
__ADS_1