
Bruk!
Valerie tidak sengaja menabrak tubuh seseorang tapi malah dirinya yang terpental ke belakang.
"Maaf ...," ucap pria itu, berusaha membantu Valerie untuk berdiri.
"Tidak apa-apa kok. Aku tidak apa-apa," ucap Valerie, buru-buru bangun sendiri. Sebisa mungkin Valerie menghindari kontak dengan orang asing. Aplikasi, dia terbilang masih baru di negara itu.
Valerie membersihkan sebagian tubuhnya yang kotor. Saat dia mendongak, melihat siapa yang telah ditabraknya, Valerie malah dikejutkan oleh seorang wanita yang langsung memeluknya erat.
"Valerie, ini benar-benar kamu?"
"Stela? Kamu berada di sini? Untuk apa?" Valerie menjadi canggung. Valerie berpikir, dia telah menabrak pacarnya Stela.
"Hay... sudah sangat lama kita tidak bertemu, ya?" Stela menguraikan pelukannya. "Bagaimana kabarmu dan Hansel?" tanya Stela, bernostalgia seperti orang yang sudah saling mengenal lama.
"Hum... aku baik-baik saja. Maaf karena aku menabrak kekasihmu tadi," ucap Valerie lirih.
"Hahah. Dia bukan pacarku. Perkenalkan, ini Ken, Kakakku," ucap Stela memperkenalkan Ken yang masih memandangi Valerie dengan tatapan yang berbeda.
"Hai, Kak." Valerie melambaikan tangannya sembari memaksakan senyumnya.
"Hai." Ken menyapa balik.
"Valerie, kamu ke sini sama siapa? Ini, siapa kamu?" Stela menunjuk ke arah Joana yang sejak tadi hanya diam memperhatikan.
"Ini Bibiku." Joana tersenyum pada Stela dan juga Ken.
__ADS_1
"Aku ke sini sendiri. Rencananya akan menetap beberapa tahun di sini," jawab Valerie dengan senyum manis. Senyuman Valerie semakin menarik minat Ken terhadap wanita itu.
"Wah... kapan-kapan kami boleh berkunjung ke rumahmu, kan?" Stela masih tersenyum manis pada Valerie, wanita yang sudah dianggap teman olehnya.
"Boleh kok. Kapan kalian mau berkunjung ke rumah, bisa hubungi Valerie, ya. Tante akan memasakkan banyak makanan untuk kalian," sahut Joana tanpa menunggu Valerie untuk menjawab.
"Kalau begitu, kami pergi dulu, ya. Kakakku akan bertemu dengan client nya di sekitar sini. Aku malah sibuk shoping baju. Maklum, aku belum ada teman di sini. Lain kali, aku ajak kamu saja, ya?" ucap Stela.
"Boleh," jawab Valerie seadanya.
"Tante, kami permisi dulu," pamit Ken pada Joana.
Setelah Stela dan Ken pergi, Joana langsung menggandeng keponakannya itu dan lanjut memilih sambil bergosip.
"Vale, itu tadi siapa?" tanya Joana.
"Kamu tidak cemburu? Biasanya, kamu akan menyerang wanita yang dekat dengan Hansel, kan?" Joana sengaja memancing supaya Valerie mau sedikit terbuka.
"Cemburu untuk apa, Tant? Lagipula, Kak Hansel juga menyukai Stela. Tante lihat sendiri, Stela itu wanita yang baik dan ramah. Cantik dan modis. Berbeda jauh denganku. Walaupun aku mengusiknya, tidak akan mengubah pandangan Kak Hansel padanya juga, kan? Bisa dikatakan aku lelah." Valerie terlihat abai. Tetapi, tidak ada yang tau jika hatinya sedang teriris perih.
"Pilihan kamu untuk melupakan Hansel sudah benar, Vale. Jangan lagi mengingat sesuatu yang selalu meninggalkan rasa pahit untukmu. Kamu harus berani mengambil sebuah keputusan atau akan menyesalinya seumur hidup. Hidup cuma sekali. Carilah kebahagiaanmu, jangan terus mencintai seseorang yang bahkan enggan untuk melirikmu!" ujar Joana, mengusap lembut puncak kepala keponakannya yang tercenung.
"Jangan tanyakan Tante tahu dari mana. Tante juga pernah muda. Walaupun sampai sekarang Tante masih bertahan dalam kesendirian, bukan berarti Tante tidak tahu bagaimana kisah cinta para anak muda," ucap Joana. "Dalam sekali lihat, Tante juga tahu, Kakaknya temanmu itu menyukaimu, Vale." Joana lanjut memilih. Sekarang, gantian Valerie yang terdiam.
"Cinta pandangan pertama?" Valerie terkekeh pelan. "Aku tidak mempercayainya, Tant."
"Kamu bohong, Vale. Padahal, cintamu pada Hansel juga first sight, bukan? Bagaimana mungkin kamu tidak mempercayai sesuatu yang sudah kamu rasakan sendiri. Kamu tidak bisa membohongi orang-orang yang tulus menyayangimu, Valerie!" Joana terkekeh. Dia mengambil sebuah gaun berwarna hitam yang begitu elegant dan memasangkannya di tubuh Valerie.
__ADS_1
"Nah! Ini cocok kamu kenakan besok malam, Vale. Sangat cantik untukmu. Hansel, kau sungguh buta!" ucap Joana sambil menggeram.
Valerie mengambil gaun itu dan mencobanya. "Sudahlah, Tant, jangan lagi menyebutkan namanya. Tante sendiri tahu, tujuanku datang ke sini untuk melupakan dia. Jika Tante terus-menerus menyebutkan namanya, kapan aku bisa lupa?" Valerie mencebikkan bibirnya.
"Benar. Mulai sekarang, Tante akan mengunci mulut supaya tidak menyebutkan namanya lagi." Joana membungkam mulutnya sendiri.
"Terima kasih." Valerie tersenyum senang.
***
Hari berganti begitu cepat. Malam di mana Valerie dan Joana harus menghadiri acara amal pun tiba. Valerie tidak lagi menolak untuk di-make over seperti yang sudah-sudah. Justru, kali ini Valerie sangat kooperatif dan menuruti semua yang dikatakan Joana.
"Vale, kau sangat cantik. Ini kau pertamamu bermake-up, kan? Mama dan Papamu pasti sangat takjub melihat perubahanmu yang begitu besar!" puja puji tidak henti-hentinya terlontar dari mulut Joana. Bagaimana tidak, Valerie memang sangat cantik dengan penampilan barunya. Gaun bermodel mermaid tanpa lengan, V neck, membuat aura Valerie benar-benar terpancar.
"Tante, ambilkan beberapa fotoku dan kirimkan pada Papa dan Mama. Supaya mereka tahu kalau aku baik-baik saja di sini," pinta Valerie.
"Nanti saja, biar mereka tahu di sini kamu pergi ke acara-acara besar seperti ini," ucap Joana.
"Baiklah."
Joana dan Valerie masuk ke dalam mobil yang sudah disediakan. Dalam perjalanan, Joana menceritakan banyak tentang acara yang akan mereka hadiri supaya Valerie tidak gugup. Joana tau, selama ini Valerie menolak keras untuk datang ke acara-acara seperti itu.
Dari kejauhan, sorot lampu kamera sudah sangat menyilaukan mata. Begitu Joana dan Valerie berjalan di red carpet, semua kamera langsung tertuju pada mereka berdua. Valerie tidak berusaha menutupi wajahnya. Justru, dia dengan senang melambaikan tangan dan tersenyum ramah pada para wartawan yang dengan sengaja memotretnya. Valerie juga bisa mendengar selentingan orang yang berbisik-bisik mempertanyakan identitasnya yang baru pertama kali terlihat oleh mereka.
"Hay Valerie manis, kita bertemu lagi ...," ucap seorang pria yang langsung merangkul pinggang Valerie.
"Ken? Kau juga berada di sini?" Valerie langsung menepis tangan Ken dari pinggang rampingnya. Dia memperlihatkan raut tak sukanya sebab Ken telah lancang memegangnya.
__ADS_1
*Bersambung*