Istri Rahasia Presdir

Istri Rahasia Presdir
Mulai Menyesali


__ADS_3

Kenapa Hansel? Aku ini kekasihmu. Ini kesempatanmu untuk memperkenalkan aku pada seluruh anggota keluargamu. Jangan-jangan, ada yang kau sembunyikan? Sebenarnya kau mencintai wanita cupu itu, kan? Makanya kau selalu saja memintaku pergi setiap ada wanita sialan itu? Benar, kan?" Amara meninggikan intonasi suaranya.


Hansel merapatkan giginya. Dia benar-benar kesal dengan Amara yang bisa saja memantik perhatian orang lain karena teriakannya itu.


"Bisakah kau diam, Amara? Dari awal aku tidak mengizinkanmu datang ke sini. Kau berani datang ke sini tanpa izinku, maksudmu apa? Hubungan kita cukup dalam kerahasiaan. Memangnya, siapa yang mau menjalin hubungan serius denganmu? Jangan terlalu meninggikan diri sendiri!" ketus Hansel, menepis tangan Amara yang melingkar di lengannya.


"Hansel, kenapa bicaramu sekasar ini? Sebelumnya, kamu selalu bertutur dan bersikap lembut padaku. Sekarang, kenapa ...." Amara menggantung kalimatnya.


"Pulanglah!" Hansel tidak peduli dengan ocehan wanita itu.


"Jangan-jangan yang dikatakan Valerie benar?" Amara mulai menerka.


"Valerie? Apa yang dikatakannya?" tanya Hansel, mulai serius untuk mendengarkan.


"Kau ... akan dijodohkan dengan wanita lain? Makanya mencampakkan aku seperti ini?" Amara tidak mampu membendung air matanya.


"Kalau pun memang benar, apa urusannya denganmu?"


"Apa urusannya denganku? Hansel, kau melupakan sesuatu?"


Hansel menaikkan sebelah alisnya.


"Aku ini kekasihmu, Hansel. Semua tentangmu, wajib aku ketahui. Jika kamu dekat dengan wanita lain, aku juga berhak untuk cemburu. Kenapa kamu bersikap seakan-akan aku tidak berhak melakukan itu semua?" amarah Amara meluap-luap. Dia tidak habis pikir dengan pola pikir Hansel.


"Begitukah?" Hansel malah terkekeh.


"Hansel, hargai aku. Aku ini kekasihmu. Cukup perkenalkan aku dengan keluargamu dan segera nikahi aku saja, aku sudah sangat bahagia. Kumohon...."


"Sekarang kita sudah tidak punya hubungan apa pun lagi. Jadi, aku tidak perlu menikahiku, bukan? Pergilah! Jangan merusuh di acara penting keluargaku atau kau akan tahu akibatnya!"

__ADS_1


Mata Amara membeliak. Wanita itu termangu cukup lama. Sampai akhirnya ketika dia sadar, Hansel sudah tidak lagi berada di sampingnya. Melihat beberapa orang yang dikenali Amara sebagai keluarga Hansel sedang berlalu lalang, timbul niat untuk meneriaki nama pria itu sembari menangis histeris.


Namun, ketika Amara kembali mengingat ancaman Hansel, keberaniannya langsung menciut.


Sambil berdecak akhirnya Amara pergi dari kediaman Rey dan Rena.


Di dalam, pandangan Hansel berpendar, mencari seseorang yang sudah beberapa hari ini tidak dia temui. Bahkan, terselip perasaan rindu yang enggan untuk diakui.


"Di mana dia? Apa benar-benar pergi?" batin Hansel.


Hansel mengerutkan keningnya lantaran tidak ada satu pun orang yang mempertanyakan tidak hadirnya Valerie selain dirinya. Yang Hansel ketahui, selama ini semua orang sangat memperhatikan dan menyayangi Valerie. Hanya dialah orang yang paling membenci kehadiran wanita perusuh itu.


"Hilsa, Valerie tidak ada di sini, tetapi kenapa tidak ada yang mempertanyakan ketidak hadiran wanita itu? Justru, semuanya tetap terlihat bersenang-senang menikmati acara?" tanya Hansel, dia duduk tepat di sebelah Hilsa.


Hilsa menarik sudut bibirnya membentuk lengkungan. "Karena kami semua tahu di mana keberadaan Valerie. Dia baik-baik saja. Sekarang sedang menikmati hidup, Kak. Kenapa? Tumben kamu kecarian? Rindu?" Hilsa menjawab tanpa menoleh pada Kakaknya.


Hilsa tidak lagi menanggapi ucapan Hansel. Wanita itu berpaling, meninggalkan Hansel yang memilih duduk di sudut sambil menikmati minumannya.


"Kenapa?" Gavin ikut duduk di samping Hansel, menyesap jus jeruk di tangannya.


"Tidak ada," jawab Hansel acuh.


"Masalah perusahaan ... atau masalah hati?" Gavin tahu Hansel sedang dirundung kegelisahan.


"Tidak ada masalah apa pun. Aku baik-baik saja," kelitnya.


"Aku merasa dirimu tidak baik." Gavin tertawa. Hansel hanya diam, menatap sekumpulan orang yang sedang tertawa ria. Tidak ada satu pun yang membahas Valerie. Padahal, Hansel sangat ingin mendengar kabar tentang wanita itu.


"Gavin, apa kau pernah menyia-nyiakan perasaan seseorang? Mengabaikan perasaannya? Menyakitinya? Bahkan ... memanfaatkannya. Membuatnya membencimu sampai dia pergi meninggalkanmu?" tanya Hansel, menyesal minuman di tangannya hingga tandas kemudian menunduk, menunggu jawaban dari Gavin.

__ADS_1


"Setelahnya, kau merasa menyesal karena telah memperlakukan dia seperti itu?" tanya Gavin kemudian terkekeh.


Hansel diam saja. Hanya terdengar dengusan nafas panjang dari pria itu. Gavin menepuk pelan pundak Hansel, melihat Hansel yang tampak seperti seseorang yang sedang mengemban beban berat.


"Itu namanya terlambat menyadari kalau kau sudah jatuh cinta, Hansel. Jujurlah padaku, kau menyesali kepergian Valerie, kan?" tebakan Gavin tepat sasaran. Pria itu tersenyum seraya mengangguk membenarkan.


"Dari mana kau tahu?" tanya Hansel.


"Saat kau berbicara dengan Hilsa, aku mendengarnya, Hans!" akunya yang tidak sengaja menguping.


"Sudah bertahun-tahun dia menaruh hati padamu. Selama itu juga kamu selalu mengabaikannya, Hans. Kurasa, pilihannya untuk pergi memanglah tepat. Jika aku berada diposisi Valerie, aku tidak akan menunggu sampai selama itu. Valerie sudah mengorbankan semuanya, termasuk hati dan waktunya juga. Bahkan, dia melupakan harga dirinya ketika dia mengejarmu. Semua orang bukan hanya bisa melihat kesungguhannya. Tetapi, juga dapat melihat kebencianmu saat Valerie mencoba untuk mendekatimu!" tutur Gavin. Hansel masih tidak membantah, dia memilih diam seribu bahasa sambil mendengarkan.


"Semua orang berusaha mempengaruhi Valerie untuk menjauhimu, termasuk Om Bara dan Tante Embun, orang tuamu sendiri. Tetapi, kegigihannya mengalahkan semuanya hingga orang lain memilih bungkam. Tetapi, itu sudah lama sekali berlalu, Hans. Tidak ada gunanya kau menyesali. Kudengar, sekarang Valerie sedang menikmati hidupnya." Gavin tersenyum lirih. Dia mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan story' yang dipasang Valerie. Terlihat Valerie yang sudah berdandan cantik dan sedang duduk sambil tertawa bersama Joana dan seorang pria, Ken!


"Aku tidak menduga dia bisa secantik ini," puji Gavin.


Melihat foto itu, Hansel mengepalkan tangannya. Rahangnya mengeras, dia sedang menahan geram.


"Siapa pria itu?" tanya Hansel, semakin menajamkan penglihatannya.


"Dia Ken, raja bisnis. Tapi, jarang ada yang mengetahui keberadaannya. Sebab, dia sering berpindah-pindah tempat," jawab Gavin.


"Beraninya dia mendekati istriku!" geram Hansel.


"Istrimu?" Gavin tertawa. "Siapa? Valerie atau Tante Joana?" Gavin tertawa gamblang.


"Tentu saja Valerie. Dua bulan yang lalu aku dan Valerie sudah menikah!" Hansel mengakui hubungannya dengan Valerie di depan Gavin.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2