
Sembari mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang menghantui benaknya, Syara tetap melaksanakan rencananya untuk meluluhkan hati Bara. Seperti biasa, saat Bara pulang kantor, Syara selalu menyambutnya dengan penampilan rapi nan wangi, tak lupa juga membuatkan secangkir teh lemon hangat kesukaan Bara. Entah bagaimana respon Bara, seolah Syara sudah kebal jika Bara tetap keras padanya.
Belum sempat Syara menyambutnya, Bara masuk kamar dengan terburu-buru dan mengambil jaket kulitnya.
“Mau kemana, Bar? Nggak mau minum ini dulu?” tanya Syara yang tak dihiraukan Bara.
Syara mengejar Bara menuruni tangga. Dia terkejut ketika melihat Raya sedang berbincang dengan mertuanya. Bara dan Raya pun berpamitan dengan Mama Bara, kemudian pergi meninggalkan rumah.
“Mereka mau kemana, Ma?” tanya Syara yang kebingungan melihat sang mertua seolah mengizinkan mereka pergi berdua malam-malam begini.
“Bara ada urusan sama Raya, penting katanya. Ya sudah, kita makan malam, yuk,” ajak Mama Bara menggandeng tangan Syara.
“Urusan apa, Ma? Kenapa malam-malam begini? Harus ya perginya berdua? Syara protes terhadap sikap mertuanya itu.
“Syara jangan mikir macam-macam ya, mereka ‘kan berteman, dan Bara juga sudah menikah jadi rasanya nggak mungkin kalau mereka mau berbuat sejahat itu. Lagi pula, sepertinya urusannya sangat mendesak.” Mama Bara terus meyakinkan Syara agar tak memikirkannya berlebihan.
Gondok Syara dalam hati karena ia sendiri yang mengetahui bahwa suaminya jelas-jelas berselingkuh dengan teman wanitanya itu. Tapi ia benar-benar tak mau ambil pusing, karena sudah sangat biasa Bara melukai hatinya. Selesai makan malam, Syara izin pada sang mertua untuk kembali ke kamar.
Di balkon, Syara terdiam merenungi nasibnya yang malang di tengah hembusan angin malam yang menusuk kalbu. Berkali-kali ia menarik nafas panjang dan menahan agar air matanya tak jatuh. Ia benar-benar merasa sendiri di sini. Tak ada siapa-siapa, dan tak punya siapa-siapa.
Syara kembali teringat tentang perkataan Haris yang mengatakan bahwa Mama Bara lah yang telah membelikan tas untuk Raya. Namun, yang ia dapati dari mertuanya adalah fakta yang bertolak belakang. Syara mulai merangkai perilaku-perilaku mertuanya. Belakangan, Syara sempat menaruh kesal pada Mama Bara yang terlihat sangat lembut padanya, namun karena kelembutannya itu lah yang justru seolah menampilkan sikap tak peduli dan santai terhadap perilaku Bara padanya.
“Kalau memang Mama Desi itu baik, kenapa dia tak pernah membentak Bara untuk sekedar memperingatkan sikapnya padaku, kenapa seolah mama membiarkan perilaku anak lelakinya itu,” ucap Syara lirih penuh kekecewaan.
__ADS_1
Syara mengirimkan pesan pada Haris. Syara menceritakan kejadian yang baru saja ia alami. Seolah sepemikiran dengan Syara, Haris pun mulai menaruh kekesalan pada Mama Bara. Haris juga mengatakan akan menegur Raya tentang hal ini. Tentunya, Syara juga harus tetap menjalankan rencananya menggoda Bara, karena bagaimana pun, Bara adalah suaminya. Seorang suami haruslah mencintai sang istri.
2 jam lamanya, Bara yang ditunggu Syara pun pulang ke rumah.
“Bara, boleh nggak aku bicara sebentar?” pinta Syara pada suami tampannnya itu sembari mengusap punggungnya.
“Nggak bisa. Aku lelah mau mandi dan istirahat. Besok harus ngantor,” jawab Bara ketus.
“Kamu pergi ke mana tadi sama Raya, Bar?” tanya Syara lirih.
Bara menatap wajah istri lemah lembutnya itu. “Bukan urusan kamu! Kamu nggak berhak tau aku dari mana dan dengan siapa! Urus saja jualanmu itu, sudah untung berapa? Atau malah buntung? Kenapa nggak jual aja di emperan, kali aja ada yang minat beli baju-baju murahanmu itu.”
"Bar, jangan mengalihkan pembicaraan. Aku sedang membahas kamu dan Raya. Apa benar seperti ini yang dilakukan oleh seorang lelaki beristri? Keluar dengan teman wanitanya tanpa pamit pada istrinya. Apakah benar juga tindakan seorang ibu yang mengizinkan anak lelakinya pergi malam-malam dengan wanita lain? Sebegitu mendesakkah urusan kalian? Aku hanya ingin tahu apa urusan yang mendesak itu?" protes Syara mengeluarkan uneg-unegnya.
"Ah, sakit, Bar!" sahut Syara yang sedikit merasa kesakitan.
Bara melepaskan tangannya. "Aku bisa saja mencekikmu!"
"Apa kamu pernah sekasar ini pada Raya? Kamu benar mau kita cerai? Kenapa nggak bilang Mama langsung kamu menalak aku! Kenapa harus menunggu aku yang menggugat kamu?" tanya Syara dengan mata berkaca-kaca menahan tangisnya. Ia seperti berada di dua jalan yang berbeda, antara terpancing emosi setiap Bara menyakitinya, atau tetap lembut dan tenang di depan Bara.
Bara hanya terdiam membisu dengan tatapan penuh amarah.
Walaupun sudah sering Bara menyakitinya, namun nyatanya tak membuat Syara gentar untuk tetap berusaha mengambil hati Bara. Ia yakin bahwa suatu saat cinta itu akan tumbuh, hanya membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama dan kesabaran untuk memupuknya. Semakin disakiti, semakin kuat tekadnya.
__ADS_1
###
Pagi hari, seperti biasa, Bara selalu menolak sarapan yang ditawarkan oleh Syara.
“Kamu jarang sarapan di rumah, Bar, nanti kamu sakit, kamu kan ada magh, nggak boleh telat makan,” ujar Syara memberikan perhatian pada Bara.
“Aku sudah sering memperingatkan kamu untuk jangan sok peduli dan perhatian sama aku! Ingat, pernikahan ini bukanlah yang aku harapkan! Urus saja dirimu sendiri!” bentak Bara yang meninggalkan Syara sendiri di kamarnya.
Syara terdiam menata hatinya. Ia benar-benar tak mau menyerah begitu saja. Setelah mendapatkan informasi dari Haris, Syara memesankan Bara minuman cokelat hangat beserta roti kesukaannnya.
Saat tiba di ruangannya, Bara terkejut mendapati bingkisan makanan dan minuman di mejanya. Dalam bingkisan itu, tampak ada sepucuk surat bertuliskan, “Kamu harus sarapan ya, Bar. Kamu nggak boleh sakit.”
Bara yang langsung mengira bahwa Syara lah pengirimnya, kembali menolak pikiran tersebut. “Gak mungkin, ini pasti dari Raya, perempuan jelek itu gak mungkin tahu kesukaanku karena cuma teman-temanku yang tahu.”
Bara mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Raya dan memastikan bahwa ia lah pengirimnya. Namun sayangnya, Raya tak juga mengangkat panggilan darinya. Tiba-tiba Bara teringat sesuatu bahwa selama ini jika Raya mengirimkan makanan, ia selalu membubuhkan nama “Ray” di bawah pesan.
Tak lama, Raya menjawab panggilan teleponnya. “Ada apa, Bar? Kamu di mana, udah di kantor? Udah sarapan belum, kalau belum mau aku pesankan coklat hangat kah?”
Bara yang tak menjawab pertanyaan Raya langsung menutup teleponnya dan memikirkan Syara. “Apa iya dia pengirimnya? Tapi tahu dari mana?”
Beberapa menit kemudian, Syara mengirim pesan pada Bara dan menanyakan apakah ia sudah menikmati sarapan yang dipesankannya atau belum, namun Bara si hati batu justru membalas pesan Syara dengan mengirim foto lama dirinya saat bersama Raya sedang sarapan di salah satu restoran waralaba.
“Sori, lagi pengen sarapan nasi dengan yang tersayang.”
__ADS_1
...****************...