
Syara yang sudah mendapat izin dari mertunya untuk makan siang di luar, bergegas menuju kafe menemui Haris. Seperti biasa, Syara yang tak mau dijemput pun ingin pergi sendiri dengan taksi online. Tak berjarak jauh dari rumahnya, 15 menit kemudian Syara telah sampai di kafe. Terlihat Haris sudah berada di salah satu meja.
Syara menghampiri Haris. “Ya ampun, Har, kamu selalu datang dulu, maaf ya.”
“Gak apa-apa kok, Ra. Aku juga baru 5 menit di sini. Duduk, Ra,” jawab Haris mempersilakan Syara duduk dan memberikan buku menu.
Syara dengan cepat memilih menu yang akan di pesan karena ingin segera berbincang dengan Haris. Begitu pun dengan Haris yang sigap segera memanggil pelayan kafe untuk mencatat pesanan mereka. Sembari menunggu pesanan mereka datang, Syara segera membuka percakapan untuk mulai bercerita.
Syara menceritakan ulang tentang kejadian-kejadian yang ia dapati beberapa hari ini. Salah satunya, tentang pembicaraan Om Gustav dengan mertuanya saat itu. Syara juga meminta pendapat Haris apakah menurutnya ada kaitannya dengan pernikahan ini, juga sikap mertuanya yang seolah menutup mata dan telinga tentang perlakuan anaknya.
“Kamu pernah menceritakan perilaku Bara pada Tante Desi? Atau mungkin dia melihatnya sendiri? Apa responnya?” Haris mulai mencoba mencari tahu lebih dalam.
“Mama sudah sering melihat aku dibentak Bara, tapi aku belum pernah cerita kalau aku sudah dua kali ditampar Bara, karena aku juga belum cerita soal Raya yang menginap di rumah waktu itu. Aku juga belum bercerita kalau Bara mengeram daguku kencang sekali, hanya karena aku protes Bara pergi dengan Raya malam itu, jadi dia marah. Tapi aku yakin kalau pun Mama tahu, dia hanya akan tetap meminta aku bersabar menyikapi Bara yang masih dalam proses menerima pernikahan ini, aku yakin respon Mama akan sama seperti ketika Mama tahu Bara sering membentak aku,” ungkap Syara detail.
“Apa? Jadi Bara melakukan kekerasan lagi setelah dia pergi sama Raya malam itu? Bara benar-benar keterlaluan. Aku nggak menyangka dia seperti ini. Teman yang aku kenal baik dan royal bisa sekejam itu!” Haris tersulut emosi mendengar cerita Syara.
“Mama bilang kalau Bara dengan Raya tidak akan macam-macam karena tahu mereka hanya berteman dan Bara sudah menikah. Tapi anehnya, Mama langsung mengizinkan mereka pergi begitu aja padahal Mama tidak tahu mereka ada urusan apa dan mau ke mana,” lanjut Syara menceritakan respon mertuanya itu.
“Aku pikir, walaupun Bara belum mau mencintai aku, setidaknya jika kita masih mau sama-sama belajar, pasti akan bisa. Namun semakin lama, aku paham Bara tidak akan pernah mau belajar hidup denganku karena ada wanita lain di dekatnya. Jadi terasa sia-sia saja yang aku lakukan, aku pesimis, Har.” Syara tak mampu menahan tangisnya.
__ADS_1
“Nggak, Ra. Kamu nggak boleh menyerah, kamu harus tetap berusaha mengambil hati Bara. Seperti yang kamu katakan dulu, seorang suami haruslah mencintai istrinya. Tetap lanjutkan rencana kamu, Ra, sambil aku bantu kamu mencari tahu apa yang terjadi di masa lampau antara keluarga kamu dan keluarga Bara. Yang penting, kamu harus tetap mempertahankan pernikahan kamu. Soal Raya, aku akan bicara baik-baik sama dia nanti,” hibur Haris menguatkan Syara.
Sembari terus berbincang, pesanan mereka pun datang.
“Tapi, Ra, kalau boleh disambungkan antara Tante Desi yang membelikan Raya tas, terus dia yang mengizinkan Bara pergi sama Raya malam itu, sama responnya ketika Bara membentak kamu, sepertinya aku mulai berpikir kalau sebenarnya dia juga sudah tahu kalau Raya menginap di rumahnya saat itu. Bisa jadi juga, Tante Desi sudah mengetahui hubungan Bara dengan Raya, nyatanya waktu mereka bertiga dari bandara dan jalan-jalan ke mall seperti tidak ada sekat. Harusnya kalau melihat dari cara dia meminta kamu menikah dengan Bara, dia tidak akan mau pergi tanpa kamu, sekalipun Raya adalah teman Bara. Tapi anehnya, kalau memang dia tahu hubungan itu, kenapa Tante Desi tetap ingin kamu menjadi menantunya,” ucap Haris mulai berargumen.
“Terus menurut kamu gimana, Har?” tanya Syara yang mulai penasaran dengan opini Haris.
Haris tampak serius mengutarakan pendapatnya. “Ada dua kemungkinan sih, Ra. Pertama, Tante Desi memang hanya menginginkan kamu yang menjadi mantunya, jadi dia baik sama Bara dan Raya hanya karena ingin agar terlihat adil saja, Bara menuruti keingingan mamanya untuk menikah sama kamu, dan Tante Desi menuruti keinginan Bara untuk tetap dekat dengan Raya, jadi seperti perjanjian win win solution. Kemungkinan kedua, Tante Desi memiliki tujuan lain dari pernikahan kamu, jadi dia tidak sebenar-benarnya menginginkan kamu menjadi mantunya, itu kenapa dia terlihat biasa saja ketika Bara menyakiti kamu maupun ketika melihat Bara bersama Raya.”
Haris sempat mengingat perkataan Bara saat menceritakan awal mula Mama Bara ingin Syara dan Bara menikah, yaitu hubungan pertemanan yang baik antara Mama Bara dan Ibu Syara, Bu Murni. Haris meminta agar lebih baik mereka mencari tahu dahulu sejarah antara keluarga Syara dengan keluarga Bara, agar bisa ditarik benang merahnya, dengan begitu, maksud dari percakapan Om Gustav dengan Mama Bara saat itu, akan terungkap. Bagi Haris, fakta-fakta yang terjadi beberapa hari ini belum cukup untuk dapat ditarik kesimpulan. Haris juga meminta Syara untuk mengingat apa yang pernah dikatakan mendiang orang tuanya semasa hidup kepadanya, apakah mereka pernah mengatakan sesuatu tentang Tante Desi dan keluarganya, termasuk pembicaraan ketika Syara dewasa, dia harus menikah dengan anak dari temannya itu.
“Begini kelakuan kamu di belakangku? Ini yang dinamakan wanita baik-baik? Ini yang benar dilakukan seorang istri?” Bara membentak Syara.
“Jangan bikin onar di sini!” Haris menghalau Bara yang ingin menyakiti Syara.
“Kamu juga, Har. Teman macam apa kamu, berduaan dengan istri temanmu sendiri! Kamu suka sama dia?” Bara semakin tak terkendali.
“Bukankah seharusnya kamu senang, Bar? Kamu sendiri yang meminta aku untuk tidak menganggap kamu sebagai suami aku ‘kan, kamu juga yang tak pernah menganggap aku ada. Apa salahnya jika aku mengikuti perintahmu? Kenapa kamu marah melihat aku bertemu Haris sedangkan kamu saja bebas tidur 1 kamar dengan perempuan ini, bebas pergi berdua!” Syara membela diri.
__ADS_1
“Jangan pernah memutar balikkan fakta! Dasar perempuan bodoh tak bernilai! Bisa-bisanya berani sama aku, suami kamu sendiri! Pulang kamu!” Bara menarik paksa tangan Syara dan membawanya ke mobil.
“Ray, aku perlu bicara sama kamu,” tegas Haris mengajak Raya berbicara serius.
###
Bara yang memaksa Syara pulang, tak mengindahkan kesakitan Syara akibat merah di pergelengan tangannya karena ditarik paksa oleh Bara. Sampai di kamar, Bara memarahi Syara habis-habisan. Tak peduli pembelaan Syara sedikitpun. Amarah Bara seperti seseorang yang sedang cemburu buta.
“Kamu cemburu?” tanya Syara dengan mimik muka mempermalukan Bara.
“Omong kosong! Buat apa perempuan seperti kamu dicemburui! Cuih!” jawab Bara kejam.
“Lalu kenapa kamu marah saat aku bertemu Haris? Bukankah seharusnya kamu senang dengan kita begini kita bisa bercerai 'kan?” tantang Syara yang semakin tak kuasa mengontrol perasaannya.
Bara hanya terdiam setiap kali Syara mengatakan kata cerai.
Syara juga seolah menasehati Bara yang entah akan didengar atau tidak. Syara ingin jika memang tak ada rasa, seharusnya Bara tak semarah ini padanya. Jika Bara tak suka melihat Syara bertemu Haris, sama halnya dengan Syara yang juga tak suka melihat Bara bertemu Raya. Tetapi, Bara tetaplah Bara yang tak mau kalah. Ia tetap tak merasa bersalah dan malah mengancam Syara akan mengurungnya jika masih menemui Haris.
...****************...
__ADS_1