
“Di sini, kita akan lebih bahagia dan bisa lebih fokus menjalankan program hamil kita,” ucap Bara bahagia.
“Kamu yakin tidak mau membuka akses dengan Mama? Aku takut Mama terus memikirkan kamu dan sakitnya akan kambuh. Setidaknya, kita bisa berpamitan baik-baik,” saran Syara yang tak enak pada mertuanya.
Bara dengan tegas tak ingin menghubungi mamanya lagi. Ia sudah berpesan pada ART rumahnya agar meneleponnya saat terjadi sesuatu dengan sang mama. Saat ini, mamanya tak tahu bahwa ia telah membeli unit apartemen di sebelah unit Haris. Bara juga tak peduli jika lambat laun mamanya akan tahu bahwa dia tinggal di sini.
“Kita mulai hidup baru, ya, kita harus selalu bahagia. Tidak boleh ada yang mengganggu kita,” pinta Bara.
Syara juga meminta maaf pada Bara karena dirinya telah membuat Bara harus berjauhan dengan sang mama. Bara pun meyakinkan Syara bahwa semua akan baik-baik saja. Bara juga meminta Syara untuk tak memikirkan hal yang macam-macam.
Hari itu, karena mereka telah resmi menempati apartemen, Bara dan Syara mengundang Haris dan Yesa untuk datang ke unit mereka malam itu.
“Halo, Bro!” sapa Bara pada temannya itu.
“Ada apa, nih? Apa Tante Desi membuat ulah lagi?” tebak Haris yang seolah paham akan masalah Bara juga Syara.
Bara pun menceritakan sikap mamanya yang sudah melewati batas, hingga akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke apartemen. Mereka pun mengobrol karena sudah lama tak bersua. Bara juga telah memesankan makanan dan minuman untuk mereka berempat.
“Pesta ini ceritanya,” ucap Haris selesai menenggak minuman bersoda.
Kebahagiaan mereka seakan terganggu oleh dering ponsel Haris. Raya meneleponnya dan menanyakan keberadaan Bara. Bara memberi kode pada Haris untuk tak mengatakannya. Haris pun berbohong pada Raya tentang keberadaan Bara saat ini.
__ADS_1
“Aku nggak menyangka kalau Raya, si wanita berkelas itu menjadi seperti ini. Apa dia nggak malu kalau pun dia bisa menikah denganmu, lalu teman-teman kantornya tahu dia jadi istri kedua. Apa yang ada di pikirannya?” Haris tak habis pikir dengan tindakan teman wanitanya itu.
“Karena Raya sudah terlanjut mencintai Bara, sejak mengetahui bahwa Bara juga menyukainya walaupun hanya berpura-pura. Perempuan akan mudah tertarik dan geer kalau mendapat sambutan dan respon yang baik dari laki-laki. Dari sana lah dia merasa harus memperjuangkan Bara,” jawab Syara mengingat awal mula semua ini terjadi.
Seakan merasa diingatkan akan kesalahannya terdahulu, Bara meminta maaf pada istrinya karena ini semua terjadi akibat ulah sang Mama yang ingin dirinya membalaskan dendamnya.
“Semua sudah berlalu, kita sudah saling bersepakat untuk tidak membawa masa lalu ke dalam kehidupan kita,” pinta Haris menengahi Syara dan Bara.
Bara juga tak lupa tetap membanggakan Haris di depan Yesa akan jasanya selama ini. “Yesa, kamu tahu? Suami kamu ini adalah lelaki terhebat karena bisa memecahkan kasus masa lalu yang rumit.”
Haris memberikan kode pada Bara agar tak membahasnya lagi, mereka pun tertawa.
###
“Kamu fokus rapat saja, Bar. Aku bisa sendiri kok. Lagi pula, rumah sakitnya dekat. Toh juga dulu aku ke dokter sendiri tanpa diantar kamu karena kamu sedang menemani wanita lain,” goda Syara yang mengingatkan kisah kala itu.
“Sssttt jangan dibahas. Aku malu karena banyak salah. Ya sudah, nanti kamu hati-hati ya, kabari aku jika ada apa-apa,” pesan Bara lalu mencium kening istrinya dan berpamitan berangkat ke kantor.
“Semoga nanti hasilnya baik, jadi aku bisa segera punya anak,” gumamnya lirih.
Sembari menunggu waktu untuk jadwal kontrol ke dokter kandungan yang masih 2 jam lagi, Syara memutuskan untuk memasak terlebih dahulu. Namun, ponselnya seakan tak berhenti berdering. Nomor baru memanggilnya.
__ADS_1
Karena sudah beberapa kali melakukan panggilan, akhirnya Syara mengangkatnya.
“Kurang ajar kamu ya! Sudah mandul, sekarang kamu bawa pergi anak Mama! Di mana kamu? Lihat saja, sampai kapan pun kamu tidak akan punya anak! Dasar anak-anak durhaka!”
Mendengar cacian dan sumpah serapah di telepon, Syara langsung mematikan panggilannya. “Mama benar-benar tak menyadari kesalahannya. Ia belum juga intropeksi diri kenapa kita bisa meninggalkannya, ya Tuhan maafkan kami, Mama begitu keras hatinya.”
“Apa salah kalau kita meninggalkannya? Tapi, siapa yang bertahan melihat sikap Mama setiap hari yang justru membuat aku stres, sedangkan dokter menyarankan aku untuk menjaga hatiku agar selalu bahagia. Di rumah Mama, aku merasa tertekan. Tapi di sini pun, selama Mama masih meneror, aku juga sama tertekannya,” batinnya bersedih dalam hati.
Syara sengaja tak menghubungi Bara untuk melaporkan hal ini karena takut akan mengganggu rapatnya, dan akan menceritakannya nanti saat Bara sudah di apartemen.
Di tengah pikirannya akan sang mama mertua, tiba-tiba Syara merasakan mual yang luar biasa hebatnya. Padahal, hari ini ia masih dalam masa haid. Ia begitu khawatir, takut jika sesuatu yang buruk sedang menimpa dirinya, terkait dengan kesuburannya. Entah mengapa semenjak divonis PCOS, Syara merasa mudah cemas pada kesehatannya. Seketika, Syara segera berangkat menuju rumah sakit. Setidaknya, jika ia tiba-tiba lemas dan pingsan, dia sudah berada di tempat yang tepat.
Dengan taksi online Syara menuju rumah sakit. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 17 menit, ia sudah tiba di sana. Syara bergegas menuju poli kandungan dan melakukan konfirmasi kehadiran kepada asisten dokter. Syukurnya, dokter Syara sudah datang, hanya saja belum memulai praktiknya. Syara lalu menceritakan keluhannya, bahkan sampai saat ini dia sudah tidak tahan akan rasa mualnya. Melihat wajah Syara yang pucat, asisten dokter segera mengantarkannya masuk ke dalam ruangan praktik tanpa sesuai dengan nomor antriannya.
Syara dipersilakan berbaring dan dokter mulai memeriksanya. Dokter juga melakukan tanya jawab terkait jadwal haidnya. Kemudian, dokter memberikan vitamin untuk mengurangi rasa tak nyaman di dalam perutnya.
Mual Syara pun berangsur mereda, ia sudah lebih baik sekarang. Setelah melakukan USG dan beberapa pemeriksaan lain, dokter meragukan haid Syara. Dokter menanyakan sekali lagi apakah benar ia sedang haid? Syara diminta menunjukkan darah haid yang keluar pada asisten dokter.
Melihat raut muka dokter yang tampak serius, Syara menjadi panik dan khawatir.
Dokter menghela nafas panjang. “Bu Syara, ini bukan darah haid, tapi ini flek. Bersyukur Ibu segera ke sini.”
__ADS_1
Deg. Jantung Syara benar-benar terasa berhenti sekian detik. Batinnya terus menggumam. “Ada apa lagi ini? Jadi haidku masih belum teratur? Apa dokter akan memutuskan aku tak akan bisa punya anak? Bagaimana aku akan menjelaskan pada Bara?”
...****************...