Istri Sempurna Untuk CEO Munafik

Istri Sempurna Untuk CEO Munafik
Rumah Peninggalan


__ADS_3

Setelah hubungan antara Syara, Bara, juga sang mama membaik, kini mereka bertiga hidup berdampingan dengan damai. Beberapa hari ini, setelah semua kebenaran terungkap, Mama Bara kembali baik seperti saat awal Syara bertemunya. Kini, Syara juga telah melanjutkan kesibukannya dalam bisnis kecilnya.


Pagi ini, Bara dan Syara akan mendatangi rumah peninggalan orang tua Syara. Bara bertekad harus segera menyeleseikan perkara rumah itu. Ia berambisi kali ini harus sudah ada keputusan, tak akan di undur lagi. Ia sengaja mengambil cuti agar bisa fokus mengambil lagi rumah yang menjadi hak istrinya itu.


Selesai sarapan, Bara dan Syara berpamitan pada mama Bara. Tak lupa mereka juga meminta doa agar semuanya berjalan lancar. Mama Bara juga berkali-kali meminta maaf pada Syara karena telah menjual rumahnya secara diam-diam hingga memalsukan tanda tangan ibunya. Mama Bara juga memberikan sebagian hasil penjualan rumah kepada Bara untuk membeli kembali rumah Syara.


“Nanti, kalau hari ini tidak selesai juga, kita menginap saja di penginapan dekat rumah kamu,” pinta Bara saat sudah mulai melajukan mobilnya.


Syara mengangguk. Ada hotel bagus kok di sana. Tapi mungkin hanya bintang 3.”


“Tidak apa-apa Sayang, yang penting bisa untuk tidur dan istirahat, dan…” Bara tak melanjutkan ucapannya.


“Dan apa?” Syara penasaran.


Bara membisikkan sesuatu pada istrinya dan mereka saling tertawa.


Syara memukul lengan suami tampannya itu. “Genit.”


Selama perjalanan yang cukup panjang, mereka saling berbincang untuk membunuh waktu, agar Bara juga tidak mengantuk selama menyetir. Syara juga membahas tentang anak gadis Om Gustav yang dijodoh-jodohkan dengan Haris oleh Bara kala itu. Bara mulai menjelaskan awal mula ia merasa bahwa sepertinya Haris menaruh hati pada Yesa. Bara juga menceritakan apa yang diceritakan Haris saat mengantar pulang Yesa. Bara berkeinginan untuk mendekatkan mereka.

__ADS_1


“Haris adalah lelaki yang berbeda, dia tak pernah melihat perempuan dari fisiknya. Ia selalu jatuh hati dengan perempuan yang cantik hatinya, entah dari mana dia tahu, tapi selama ini, ia selalu mendapatkan perempuan seperti itu,” terang Bara menceritakan temannya.


Selama 3 jam tepat, mereka tiba di rumah Syara. Bara bertemu dengan anak buahnya yang ditugaskan untuk melakukan negoisasi. Hari ini, Bara sendiri yang akan turun tangan.


Dengan sopan, Bara menjelaskan tujuan kedatangannya kepada penghuni rumah. Ia juga menceritakan semua tentang kejahatan sang mama yang dengan sengaja menjual rumah istrinya dengan murah. Kini, ia ingin membeli kembali rumah tersebut, dan bersedia membeli dengan harga lebih tinggi.


“Ya sebenarnya kami juga tidak mau mempersulit Anda, Pak. Tapi kita belum juga mendapat rumah baru. Jadi ya bisa saja kalau kita menjual kembali rumah ini, tapi bagaimana dengan kita?” ujar Pak Karso, sang penghuni rumah.


Beberapa hari ini memang anak buah Bara belum bisa membantu mereka menemukan rumah baru di sekitar daerah ini.


“Andai saya bangunkan rumah di dekat sini, bagaimana, Pak?” tawar Bara.


Bara menjelaskan bahwa karena tak kunjung mendapat rumah baru, ia berniat ingin membangun rumah di dekat rumah Syara. Rumah yang akan dibangun di atas lahan yang cukup. Agar nantinya, Pak Karso dan anaknya bisa sekalian menjaga dan merawat rumah orang tua Syara.


“Biaya pembangunan rumah semua saya yang tanggung. Bapak juga akan mendapat kompensasi lagi dari saya. Yang jelas, saya jamin harga jual rumah ini akan lebih besar dari harga beli saat itu. Jadi, Bapak akan tetap mendapat keuntungan,” terang Bara.


“Anak buah saya juga sudah memastikan bahwa lahan ini memang dijual dan sudah sempat menghubungi pemiliknya,” lanjut Bara.


Bara juga memastikan bahwa jika mereka setuju, maka akan segera dilakukan transaksi pembelian tanah dan rumah akan segera dibangun dalam waktu maksimal 2,5 bulan, dan selama itu pula, mereka dipersilakan tetap tinggal di rumah Syara.

__ADS_1


Setelah diskusi yang cukup panjang, akhirnya Pak Karso menyetujui saran Bara. Ia juga meminta agar rumah yang dibangun nanti tak terlalu besar karena hanya akan ditempati oleh dia dan anak perempuannya. Selain itu, juga agar biaya pembangunannya tidak begitu besar, sehingga masih ada sisa untuk dimasukkan ke dalam tabungannya. Bara sepakat dengan permintaan Pak karso dan berjanji akan membangun rumah sebagus mungkin dengan ukuran yang diinginkan Pak Karso, pastinya juga dengan memberikan uang lebih sebagai tabungan Pak Karso.


Selesai melakukan kesepakatan dengan Pak Karso, Bara segera melakukan pembelian tanah juga hal lain terkait dengan semua perjanjian yang dilakukan hari itu, dibantu oleh staf legal perusahaannya.


Setelah memastikan segala sesuatunya sudah jelas, Bara dan Syara memutuskan untuk mencari penginapan, dan meninggalkan rumah orang tua Syara.


Tak berselang lama, hanya sekiar 15 menit mereka tiba di hotel dan segera check-in.  Bara sudah tak sabar ingin melakukan rencananya yang sudah direncakana sejak berangkat dari rumah. Melakukan hubungan yang seharusnya dilakukan oleh sepasang suami istri. Mereka begitu menikmati momen ini.


###


Karena merasa semua sudah aman, dan wewenang pembangunan rumah sudah diserahkan pada anak buahnya, Bara dan Syara meninggalkan kampung halaman Syara. Namun, mereka tak langsung kembali ke rumah, karena cuti Bara masih tersisa 2 hari lagi. Mereka memutuskan untuk menginap di hotel mewah di Jakarta. Mereka ingin menggunakan kebersamaan ini sebagai bulan madu yang tertunda, tanpa diganggu oleh siapa pun dan oleh apa pun.


Selama 1 bulan terakhir ini, hubungan mereka dan mama Bara cukup baik. Mama Bara juga meminta agar anak dan menantunya itu sering menghabiskan waktu bersama di akhir pekan, meskipun hanya sekadar menginap di hotel berbintang. Ia ingin segera menimang cucu.


Kegundahan mulai dirasakan Syara ketika ia merasa tak kunjung mengalami tanda-tanda kehamilan, padahal dulu saat pertama kali ia berhubungan dengan Bara, reaksi itu muncul hanya dalam hitungan hari. Tapi kali ini, sudah beberapa kali mereka berhubungan, tak juga menunjukkan munculnya 2 garis. Meskipun masih terbilang singkat, belum di fase yang bertahun-tahun, entah mengapa Syara ingin memeriksakan dirinya ke dokter kandungan.


Bara yang ingin membuat istrinya lebih tenang, menuruti keinginan sang istri untuk menemaninya ke dokter. Mereka pergi menuju rumah sakit untuk menemui dokter kandungan yang sama dengan dokter yang memeriksa kehamilan pertama Syara dahulu. Dengan hati gundah dan cemas, Syara menunggu antrian.


Tak lama kemudian, namanya dipanggil dan mereka segera masuk ke ruangan praktik dokter. Setelah dokter melakukan dialog dengan Syara, ia dipersilakan berbaring untuk dilakukan beberapa pemeriksaan. Melihat dari hasil pemeriksaan yang dilakukan, juga setelah membaca riwayat kehamilan Syara sebelumnya, raut wajah dokter berubah seketika. Tatapan serius dokter pada Syara membuatnya semakin bergetar kedinginan menanti hasil analisa.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2