Istri Sempurna Untuk CEO Munafik

Istri Sempurna Untuk CEO Munafik
Pengakuan Om Gustav


__ADS_3

Pagi hari, Haris mendatangi rumah sakit tempat Om Gustav memeriksakan Yesi. Tim kuasa hukum Haris berhasil mendapatkan informasi kepindahan Om Gustav. Haris mencari keberadaan Om Gustav di poli tempat Yesi akan menjalani terapinya. Tak butuh waktu lama, Haris menemukan Om Gustav sedang duduk di kursi antrian, menunggu Yesi selesai diterapi.


“Untung saja aku tak kesiangan, bisa-bisa Om Gustav sudah pulang,” gumamnya lirih.


Haris menghampiri Om Gustav. “Hai, Om.”


Om Gustav tampak kebingungan dengan kehadiran Haris. “Haris? Kok kamu bisa di sini?”


“Om Gustav kenapa tiba-tiba pindah rumah dan pindah kantor?” Haris membalas pertanyaan Om Gustav dengan pertanyaan lain.


Om Gustav menjelaskan bahwa ia tengah memperjuangkan kesehatan Yesi yang harus mendapatkan terapi khusus untuk penyakitnya.


“Haris pikir Om Gustav kabur,” sahut Haris tanpa basa basi.


Haris menjelaskan semua bukti yang sudah ia dapat termasuk penjelasan dari pihak rumah sakit. Om Gustav adalah salah satu yang dicurigai sebagai penyebab kematian papa Bara, orang yang menukar obat papa Bara. Haris meminta Om Gustav mengakuinya agar bukan orang lain yang menjadi kambing hitamnya. Haris juga menjelaskan kondisi Syara sekarang akibat tuduhan mama Bara yang tak kunjung usai.


“Bukan kah Om memiliki anak perempuan, Haris yakin jika ayah Syara masih ada, beliau juga tak akan tega melihat anak perempuan yang dibesarkannya disakiti oleh mertuanya sendiri, terlebih untuk menanggung kesalahan yang tak dilakukannya,” ujar Haris berusaha membujuk Om Gustav.


“Haris janji akan melindungi Om Gustav. Haris tahu, Yesa dan Yesi membutuhkan Om. Lagi pula, Om Gustav dan Tante Desi saling melakukan kesalahan terkait dengan merencanakan kematian seseorang, jadi tak ada hal yang akan dilakukan selain saling memaafkan dan menerima permintaan maaf satu sama lain. Tante Desi juga Bara memaafkan kesalahan Om Gustav atas kematian papa Bara, dan Syara memaafkan Tante Desi atas kematian ibunya.” Haris melanjutkan sarannya agar Om Gustav segera mengungkapkan kejujurannya.

__ADS_1


Om Gustav menunduk mencerna kata-kata Haris, perlahan ia menangis. Om Gustav menceritakan betapa sakit hatinya dia ketika mendapat penolakan dan cacian papa Bara. Saat itu ia baru saja mengalami PHK dari kantor sebelumnya, dan meminta pekerjaan pada papa Bara untuk menghidupi anak kembarnya. Namun, papa Bara tak mengizinkan ada keluarga yang menduduki jabatan apa pun di perusahaannya selain keluarga inti, karena dianggap hanya akan mengkhianatinya. Untuk itu, papa Bara menolak permintaan Om Gustav dan malah mencacinya. Sakit hati itu lah yang menjadi awal perbuatan buruknya.


“Om tidak ada maksud untuk menghilangkan nyawa Mas Brama, Om pikir obat itu hanya akan membuatnya cacat, karena Om tak terima Mas Brama juga mencaci anak kembar Om yang cacat,” ujarnya jujur pada Haris.


Haris mengusap pundak Om Gustav dan menguatkannya. “Haris hanya menginginkan kejujuran Om, bukan mau memenjarakan. Terima kasih, Om atas kerja samanya. Setiap manusia memiliki kesalahan di masa lampau.”


Haris tampak mematikan perekam dalam ponselnya.


“Ayah,” ucap seorang wanita yang berjalan sedikit pincang menghampiri Om Gustav dan Haris.


“Yesa, kenapa ke sini? Ayah ‘kan sudah bilang tunggu di rumah saja, adikmu masih lama,” tegur Om Gustav pada salah seorang anaknya.


Haris dan Yesa saling menyapa dengan senyuman.


Yesa mengangguk dan tersenyum manis.


“Kalau Om Gustav masih lama di sini, boleh Haris yang mengantar Yesa pulang? Agar dia bisa istirahat di rumah,” tawar Haris ingin mengantar Yesa pulang.


Om Gustav tampak diam memandang Haris dan Yesa.

__ADS_1


Haris tersenyum seolah paham akan pikiran Om Gustav. “Haris tidak akan menyakiti Yesa, Om. Om sudah kenal Haris lama ‘kan? Haris bukan lelaki seperti itu.”


Om Gustav menyetujui penawaran Haris dan berpesan pada Yesa agar tetap menunggu di rumah sampai ayah dan adiknya pulang.


Haris berpamitan pada Om Gustav karena akan langsung pulang ke Jakarta setelah mengantar Yesa.


“Terima kasih, Haris. Titip Yesa ya,” pesan Om Gustav.


Haris mempersilakan Yesa berjalan lebih dahulu menuju mobil Haris yang terparkir di samping rumah sakit. Haris pun dengan sopan membantu Yesa untuk masuk ke dalam mobil. Selama di perjalanan, Haris mencoba mengajak Yesa berbincang dengannya.


“Yesa, kalau boleh tahu, kesibukan kamu di rumah apa?” tanya Haris mulai mencairkan suasana.


“Aku suka merajut, aku sering membuat tas dan baju rajutan. Sebagian, aku jual,” jawab Yesa pelan.


Haris pun bangga dengan keahlian Yesa dan memujinya. "Wah kamu hebat!"


Sekitar 15 menit kemudian, mereka sampai di depan rumah Yesa. Haris juga membantu Yesa turun dari mobilnya. Haris berpesan pada Yesa untuk tetap mengunci pintu dan jendela rumah, dan segera menghubungi sang ayah bila terjadi sesuatu.


Yesa mengangguk tersenyum pada Haris, dan tak lupa mengucapkan terima kasih telah mengantarnya pulang.

__ADS_1


Haris pun tetap berdiri di depan rumah Om Gustav, memastikan Yesa telah masuk ke dalam rumahnya. Yesa terlihat tersenyum dan melambaikan tangannya pada Haris. Haris membalas senyuman dan lambaian tangan Yesa. Haris yang terpukau dengan senyuman Yesa, hingga beberapa detik ia tak beranjak dari tempat berdirinya.


...****************...


__ADS_2