Istri Sempurna Untuk CEO Munafik

Istri Sempurna Untuk CEO Munafik
Penyesalan Bara


__ADS_3

Semalaman, Syara tak mampu memejamkan matanya. Ia masih terpikirkan perkara rumah orang tuanya. Syara benar-benar tak tahu harus bagaimana lagi. Jika ia bercerai dari Bara, di mana dia akan tinggal. Syara benar-benar tak bisa berpikir jernih.


Sementara itu, Bara terus menenangkan Syara dan meminta maaf pada istrinya itu. Namun, bagaimana Syara bisa tenang jika Bara sendiri tak tegas pada sang mama. Yang ada, ia hanya akan tetap menjadi kaki tangan mamanya.


Setidaknya, Bara memang lebih baik saat ini. Cara ia memperlakukan Syara selayaknya seorang suami melayani istrinya. Bara juga tak terlihat menghubungi Raya.


Agar masalah keluarganya cepat selesai, Bara merasa perlu berbicara pada Haris. Bara menghubungi Haris di balkon kamarnya. Seperti tak peduli dengan gengsinya pada lelaki yang pernah menjadi teman dekatnya itu.


“Halo, kenapa?” sapa Haris ketus dalam panggilan telepon.


“Har, bantu aku. Aku pusing, aku bingung. Malam itu aku sampai stres menghadapi Mama, hingga aku mabuk, saking aku sudah tak tau harus apa. Sekarang, Syara benar-benar sedang tak bisa diajak bicara,” curhat Bara mengungkapkan perasaannya.


“Syara begitu karena ulah mamamu, Bar. Wajar dia marah, kecewa, juga sedih. Aku sudah meminta bantuan timku untuk mencari akar permasalahan keluarga kalian. Memang agak sulit karena papa kamu dan ibu Syara sudah tiada. Aku sendiri tak bisa sepenuhnya percaya pada mama kamu,” ungkap Haris.


“Apa yang akan kamu lakukan, Har? Libatkan aku.” Bara memastikan ia bisa membantu Haris mengungkap masalah ini.


“Kembali menemui Om Gustav, selama ini aku banyak mendapat informasi dari dia, walaupun masih terasa mengambang. Setidaknya, Om Gustav pernah menjadi saksi saat adanya pertikaian antar orang tua kamu juga orang tua Syara,” terang Haris menceritakan penyelidikan yang sudah dimulainya.


Haris menyarankan Bara untuk mengajak Syara tinggal di vila milik papa Bara agar lebih tenang. Karena Bara dan Haris harus segera mencari jalan keluar dari masalah ini. Sedangkan jika Syara ditinggal sendiri di rumah Bara, ia takut mama Bara akan nekat berbuat sesuatu.


Bara menyetujui saran Haris.


“Sayang, kita ke vila yuk, biar kamu lebih tenang. Di sini ada Mama, aku takut kamu semakin kepikiran,” ajak Bara membujuk Syara.

__ADS_1


Bara mengemasi barang-barang Syara.


“Tidak! Kamu mau mengusirku? Kamu dan mama kamu sama saja!” teriak Syara ketakutan.


“Aku tidak mau percaya denganmu lagi, Bara!” lanjut Syara meneriaki suaminya itu.


Melihat Syara seperti orang depresi, Bara menangis dan memeluk Syara menenangkannya. “Tenang, Sayang, aku tidak akan menyakitimu lagi. Aku ingin kamu bahagia.”


Syara meronta dan terus berteriak menolak Bara. Bara yang kebingungan, meminta Haris untuk berbicara pada Syara, karena selama ini Haris lah yang selalu ada untuk Syara. Mendengar teriakan Syara, mama Bara masuk ke dalam kamar mereka.


Mama Bara hanya tersenyum melihat perilaku Syara yang seperti orang tidak waras. “Itu yang Mama alami dulu, dibuat depresi oleh kelakuan ibu kamu!”


Bara kembali berdebat dengan sang mama karena Mama Bara memaksa anaknya untuk tetap melakukan rencananya hingga semua dendam terbalaskan, sedangkan Bara sudah tak kuat melihat Syara yang tertekan.


“Kalau kamu tidak bisa, biarkan Mama yang lakukan!”


Tak lama kemudian, Haris datang. Ia membujuk Syara agar mau tinggal di vila. Sedangkan Bara memaksa mamanya keluar dari kamar.


“Haris,” ucap Syara lembut sembari memeluk Haris.


Bara yang menyaksikan hal ini pun hanya mampu terdiam. Tak ada perasaan marah sedikit pun, walau ia juga sakit. Baginya, yang terpenting hanya lah keadaan Syara harus segera membaik. Pelan-pelan, Haris membawa Syara keluar, dibantu oleh Bara yang membawakan tas berisikan baju-baju Syara. Syara 1 mobil dengan Haris, dan Bara menyetir mobilnya sendiri.


Setibanya di vila, Haris terus berusaha menenangkan Syara. Ia mencoba  berbicara baik-baik dan memberikan pengertian pada Syara. “Syara, kamu aman di sini bersama Bara. Aku janji, aku dan Bara akan segera menyeleseikan semua ini.”

__ADS_1


Syara menolak untuk tinggal bersama Bara, namun Haris berhasil meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja. “Ada aku yang siap selalu untuk menjaga kamu dari jauh. Tidak ada satu pun orang yang berani macam-macam sama kamu.”


Haris meninggalkan Syara di kamar, kemudian ia keluar kamar menghampiri Bara.


“Sepertinya kamu yang harus menemani Syara di sini, Har,” ucap Bara pasrah.


“Tidak, Bar. Kamu suaminya. Syara lebih membutuhkanmu,” jawab Haris meyakinkan Bara untuk tetap di sini.


Haris juga menceritakan betapa dulu Syara sangat mencintai Bara, bahkan saat suaminya berselingkuh dengan wanita lain pun, perasaan Syara justru semakin kuat. Ia selalu berusaha membuat Bara bahagia melihatnya. “Kalau kamu ingat usaha apa saja yang pernah Syara lakukan untuk menarik perhatianmu. Dia selalu menanyakan padaku apa hal-hal yang kamu sukai.”


“Titik puncak kesabarannya dimulai ketika dia mengalami keguguran anak kalian. Syara begitu terpukul, kecewa dan menyesal telah gagal  menjadi seorang ibu. Dan di saat itu, kamu malah memikirkan Raya. Tambah lagi, soal mama kamu yang tega menjual rumah peninggalan orang tuanya.” Haris mengingatkan Bara akan penderitaan yang dirasakan Syara.


“Dia berjuang sendiri, dia merasa sendiri. Untuk itu aku mau membantunya saat itu ketika pertama kali dia cerita soal hubungan kalian. Dari sana aku mencoba mencari tau ada apa sebenarnya tujuan dari pernikahan kalian yang tiba-tiba itu. Jadi, kalau sekarang dia takut melihatmu, itu karena traumanya, selama ini kamu baik, tapi kembali melukainya, kamu berubah baik lagi, lalu menyakitinya, begitu seterusnya,” lanjut Haris.


Haris meminta Bara untuk kali ini benar-benar berubah tak melukai Syara lagi. Haris juga meminta agar Bara mau mencintai Syara dan menerima pernikahan mereka murni tanpa ada tujuan apa pun, apalagi tujuan untuk membalas dendam. “Perlakukan istrimu seperti ratu.”


Bara menangis menyesali perbuatan kejamnya dan menceritakan awal mula ia menyetujui permintaan sang mama. Semua berawal dari cerita masa lalu yang membuat mama Bara begitu ingin membalas dendam. “Saat itu aku sangat emosi mendengar cerita dari Mama hingga aku ingin sekali membalaskan sakit hatinya. Tapi aku salah karena tak mencari tahu kebenarannya terlebih dulu, aku bodoh, Har.”


Haris memeluk Bara dan menguatkannya. “Yang lalu biarlah berlalu, yang penting sekarang, perbaiki hubunganmu dengan Syara. Jangan pernah melibatkan mamamu dalam rumah tanggamu. Dan tinggalah di tempat yang berbeda, tidak lagi 1 atap dengan mamamu, agar kesehatan mental Syara juga segera pulih.”


“Bar, sepertinya kita perlu mencocokan informasi yang aku dapat dari Om Gustav, dan informasi yang kamu dapat dari mamamu. Agar kita bisa mencari celah dan mencari informasi baru yang berkaitan,” pinta Haris.


Bara menyetujui permintaan Haris. Mereka pun mulai bercerita dari awal tentang informasi yang mereka dapat. Dengan tujuan jika ada yang berbeda, bisa segera diluruskan dan dicari tahu mana yang lebih benar. Haris juga memberi tahu Bara tentang apa yang saat ini sedang diselidikinya.

__ADS_1


“Sebentar, Har. Aku ingin menelepon anak buahku untuk menjaga kami di sini. Aku takut mama memaksa masuk vila jika tak ada penjagaan,” ujar Bara sembari menelepon salah satu anak buahnya.


...****************...


__ADS_2