
“Mama kita ke rumah sakit aja ya biar diperiksa dokter,” ajak Bara pada sang Mama yang tengah terbaring sakit di kamarnya.
“Nggak usah, Bar. Mama cuma pusing aja, nanti juga sembuh kok. Mama istirahat aja ya di rumah, gak mau tidur di rumah sakit,” jawab Mama Bara yang memaksa tak mau dibawa ke rumah sakit.
“Tapi ini sudah 2 hari loh, Ma,” rayu Bara agar sang Mama mau diperiksa dokter.
“Ma, minum dulu ya teh panasnya biar enakan,” tawar Syara yang baru saja masuk ke kamar mertuanya itu sembari membawa baki.
Bara melirik sinis ke arah Syara.
“Kamu berangkat gih, Bar. Udah jam segini, Mama biar aku yang jaga,” pinta Syara pada suaminya.
“Ya memang harus kamu yang jaga! Rawat Mama, turuti kalau butuh apa-apa, jangan tidur!” ucap Bara seraya berdiri dari duduknya di samping sang Mama.
Bara berpamitan pergi ke kantor tanpa berbicara lagi kepada Syara.
“Syara, kalau kamu lagi beberes jualan kamu, nggak apa-apa kamu urus aja dulu di atas. Mama mau tidur lagi aja,” ujar Mama Desi pada menantunya.
“Ya udah, Ma, kalau Mama perlu sesuatu, panggil Syara ya,” ucap Syara lembut dan pergi ke luar kamar Mama Bara.
Mama Bara mengangguk dan tersenyum. Syara berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Saat akan menaiki tangga, ia mendengar sebuah mobil baru saja datang dan berhenti di halaman rumah. Syara keluar dan betapa terkejutnya ia melihat kedatangan Om Gustav.
Syara langsung mengulurkan tangan ingin menjabat tangan Om Gustav. “Om, Syara waktu itu mau mengobrol sama Om Gustav.”
“Iya, Syara. Nanti kita atur waktu lagi ya, waktu Haris telepon, om lagi banyak lemburan di kantor,” jawab Om Gustav tersenyum tipis.
__ADS_1
“Desi mana? Om dengar dia sakit ya? Om ke sini sebentar mau jenguk dia, sekalian mau berangkat ke kantor,” lanjut Om Gustav sembari masuk ke dalam rumah.
“Mama ada di dalam kamar, Om. Om mau minum apa?” tawar Syara.
“Oh, nggak usah repot-repot. Om sebentar kok,” jawab Om Gustav sembari mengetuk pintu kamar Mama Desi yang tak tertutup rapat.
“Kalau begitu, Syara tinggal ke atas ya, Om,” pamit Syara.
Om Gustav mengangguk dan masuk ke dalam kamar Mama Bara.
Syara yang mulai menaiki tangga menuju kamarnya, tampak bimbang. Ia merasa perlu mencari tahu tentang keluarga Bara, dan akhirnya memutuskan untuk menguping pembicaraan Om Gustav dan Mama Bara. Perlahan, ia kembali menuruni tangga dengan pelan, dan berdiri di dinding dekat pintu kamar mertuanya.
“Mbak, aku bisa tebak tujuan kamu. Jangan lakukan itu, dia tidak bersalah. Lagi pula, Mbak sudah berbuat banyak saat itu, apa itu masih belum cukup?” Suara Gustav sedikit terdengar samar namun jelas di telinga Syara.
“Jangan ikut campur, Gustav! Masmu sudah meninggal dan kamu sudah tidak ada kepentingan apa pun denganku. Pergilah!” usir Mama Bara.
“Kalau kedatanganmu ke sini hanya untuk menambah sakitku, pergi!” Mama Bara mengusir Om Gustav untuk kedua kalinya.
Syara tak mendengar jawaban apa pun dari Om Gustav. Ia langsung kembali menaiki tangga dan mengintip dari atas. Tak lama, Om Gustav keluar dari kamar Mama Bara dan menuju pintu rumah sembari memandang tiap sudut rumah seakan sedang memastikan tak ada yang mendengar percakapannya dengan kakak iparnya itu.
Saat di kamar, Syara semakin menerka-nerka memikirkan perkataan Om Gustav. “Dia? Siapa yang dimaksud dia yang tak bersalah dan tak tau apa-apa? Apakah Bara? Apakah Mama Desi berniat tak baik pada anaknya sendiri? Apakah Bara bukan anak kandungnya? Kalau bukan Bara yang dimaksud, lalu siapa? Apakah aku? Memangnya aku kenapa?”
“Aku harus meminta bantuan Haris, kita harus bertemu,” ucap Syara dalam hati.
Syara mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Haris.
__ADS_1
###
Seperti biasa, setiap Bara akan pulang kantor, Syara selalu menyiapkan minuman lemon teh hangat dan juga penampilan yang baik serta wangi. Entah apakah Bara akan menerima atau menolak, itu tak jadi masalah karena yang dapat dilakukan saat ini adalah terus berusaha. Tak lama, Bara yang baru saja memarkir mobilnya di garasi rumah, masuk ke dalam kamar.
Syara selalu menyambut Bara dengan senyuman dan menawarkan minuman hangat yang dibuatnya. Kali ini, Bara mau meminum teh yang diletakkan Syara di meja. Bara lalu mendekati Syara dengan tatapan sinisnya.
“Tau dari mana semua makanan dan minuman kesukaanku? Haris?” tanya Bara dengan penuh curiga.
“Maksudnya? Ini minuman kesukaan kamu? Wah aku nggak tau kalau ternyata kamu suka, aku cuma pengen buatkan kamu minuman hangat aja. Kalau cuma teh kayaknya bosan, jadi aku tambahkan perasan lemon sedikit,” jawab Syara dengan senyum sumringah.
“Yang kamu kirim ke kantor kemarin, jangan pura-pura bodoh!” jawab Bara ketus.
“Oh, aku juga nggak tau kalau kamu suka itu, karena aku suka minuman coklat jadi aku pesankan itu buat kamu, dan karena masih pagi, aku pilih yang hangat. Untuk kuenya, aku beli sekalian aja di toko itu. Aku cuma tahu kamu ada magh, jadi nggak mungkin minum kopi,” ujar Syara berbohong dan mengelak jika semua informasi tersebut dari Haris.
Bara mendekatkan wajahnya ke wajah Syara. “Jangan sok peduli dan jangan hanya karena ini, membuatmu merasa aku menerima kamu! Pernikahan ini tetap menjadi hal terbodoh dan terburuk dalam hidupku! Kamu, tetap menjadi perempuan yang tak bernilai di mataku,” seru Bara yang tak pernah absen mengeluaran hinaan.
Syara yang tak marah mendengar caciannya, ia justru mengusap lembut punggung dan pipi Bara. Mimik Bara yang seolah salah tingkah, segera menampik tangan-tangan Syara di tubuhnya. Bara mendorong Syara hingga jatuh ke tempat tidur di belakangnya.
“Jangan pernah mencari perhatianku! Jangan kurang ajar!” sahut Bara meninggalkan Syara yang masih jatuh di atas tempat tidur.
Syara hanya tersenyum puas melihat tingkah Bara. Entah karena sudah terbiasa dengan kekerasan yang dilakukan suaminya, atau mungkin benih cinta Syara pada Bara yang sudah bermekaran. Pikiran Syara terpecah ketika ponselnya berdering tanda ada pesan masuk. Syara bangkit dari tempat tidur dan mengambil ponselnya.
“Maaf ya Ra, aku baru balas pesan kamu. Siap, Ra, dengan senang hati aku akan membantu. Besok kita bertemu di sana ya, sampai jumpa.”
Membaca pesan dari Haris, seolah secercah harapan muncul. Syara benar-benar bertekad ingin mencari tahu sejarah keluarganya dan keluarga Bara. Terutama, apa tujuan Mama Bara yang dimaksud Om Gustav?
__ADS_1
...****************...