Istri Sempurna Untuk CEO Munafik

Istri Sempurna Untuk CEO Munafik
Habis Dendam Terbitlah Wanita Gila


__ADS_3

Semakin ke sini, mama Bara semakin memperlihatkan keakrabannya bersama Raya. Mama Bara pun sering kali membayangkan jika Raya bisa menjadi menantunya. Membayangkan memiliki cucu yang lucu-lucu.


“Kalau kalian punya anak perempuan, pasti secantik kamu, kalau laki-laki, akan segagah dan setampan Bara. Mama mau kembar ya laki-laki dan perempuan!” ucap mama Bara tak punya hati.


Syara yang sedang di dapur pun seakan tak mau peduli dengan pembicaraan mereka. Ada atau tidaknya Bara, mamanya tetap berani berlaku demikian. Apalagi, saat Bara tidak di rumah seperti saat ini.


“Raya sih mau saja, Tan. Punya 4 anak dari Bara juga Raya mau. Tapi, masalahnya ‘kan Bara masih belum mau menikah dengan Raya.” Raya memanja mencari perhatian mama Bara.


Mama Bara hanya tersenyum. “Jangan khawatir, Mama akan terus bicara sama dia.”


"Raya juga akan berusaha menggoda Bara, Tante. Bagaimana pun, laki-laki itu sama saja, akan takluk pada wanita yang mengejar-ngejarnya, apalagi kalau sudah di goda," bisik Raya.


Rencana Raya seolah mendapat persetujuan dari mama Bara.


Raya juga berniat ingin mengajak mama Bara untuk pergi jalan-jalan dan juga belanja, karena ia sedang cuti.


“Yuk, Mama juga sumpek di rumah, mending jalan-jalan sama kamu. Aduh, senangnya kalau Mama bisa jadi mertua kamu nanti, dijajanin terus. Kadang Mama tuh bingung sama Bara kenapa bisa-bisanya dia nggak tertarik sama kamu yang jelas lebih cantik, lebih seksi, lebih royal lagi, karirmu juga bagus,” ucap mama Bara memuji-muji Raya.


Entah perkataan keras mama Bara yang disengaja atau tidak, tapi Syara mendengar dengan jelas pujian mertuanya pada Raya. Berkali-kali ia hanya mampu menghela nafas panjang, dan melanjutkan memasaknya di dapur. Tak lama, mama Bara pamit pada Syara karena mereka akan pergi.


“Ra, Mama mau pergi dulu ya sama Raya, mau jalan-jalan. Kamu ‘kan nggak pernah ajak mama pergi apalagi membelikan Mama sesuatu,” pamit mama Bara meninggalkan menantunya di rumah.


Syara hanya terdiam melihat tingkah mama mertuanya itu. Air matanya pun terasa sudah kering tak bisa menetes lagi. Setiap ia ingin menyerah, Syara selalu berusaha bersyukur bahwa pasti ada orang lain di luar sana yang hidupnya tidak lebih baik dari hidupnya.


###


Saat makan malam, seperti biasa, mama Bara selalu melarang Syara untuk memakan selain sayur dan buah. Syara selalu mencegah Bara yang ingin protes setiap Syara diperlakukan demikian. Bara pun mengikuti Syara untuk memakan makanan yang sama.

__ADS_1


“Bar, kok ayamnya tidak dimakan? Enak loh, tadi Mama beli waktu pergi sama Raya,” ujar mama Bara pada anak semata wayangnya itu.


“Bara ‘kan juga harus menjaga pola hidup sehat, Ma. Karena program hamil itu bukan hanya Syara yang menjalankan, tapi suaminya juga,” ucap Bara berusaha tenang.


“Padahal badan kamu sudah bagus, kamu ‘kan juga harus bekerja besok, kalau makanmu hanya begini, dapat energi dari mana? Kamu tidak perlu sampai begini kalau kamu menikah dengan Raya.” Mama Bara mulai membahas hal ini.


Bara yang paham arah pembicaraan mamanya, segera menohok mamanya agar tak membahas ini terus-menerus. Bara juga mengancam tidak akan makan mau di rumah lagi kalau mamanya masih membicarakan hal ini. Syara berkali-kali memberikan kode pada Bara agar lebih tenang tak terpancing emosi.


Tidak hanya itu, mama Bara juga memamerkan gelang emas yang dibelikan oleh Raya untuknya. Mama Bara begitu sumringah menceritakan kebersamaannya bersama Raya tadi siang. “Akhirnya Mama merasakan juga seperti teman-teman mama lainnya, yang dimanja sama menantunya. Meskipun Raya bukan menantu Mama.”


“Ma, Bara ‘kan sudah memberi uang bulanan buat Mama yang nominalnya sudah lebih dari cukup. Mama bisa belanja dengan uang itu, tak perlu meminta-minta pada Raya!” tegur Bara tegas.


“Uang dari kamu ‘kan memang itu uang gaji dari perusahaan papa kamu, yang Mama juga berhak mendapatkannya. Tapi tetap beda, Bar, kalau Mama dibelanjakan sama menantu yang bekerja.” Mama Bara semakin berbicara tanpa perasaan.


“Syara ‘kan juga pernah membelikan Mama ­gaun yang Mama pakai untuk datang ke pernikahan Haris kemarin,” sahut Syara berani.


“Ma!” bentak Bara.


Syara mengusap-usap lengan Bara, memintanya untuk tidak menanggapi mamanya.


Bara segera menyeleseikan makannya, juga meminta Syara untuk mempercepat makannya agar mereka bisa segera kembali ke kamar. Sebelum Bara menaiki tangga bersama Syara, ia memberitahu mamanya. “Lusa, kita akan menginap di hotel sekalian liburan, biar nggak stres dengar ocehan Mama.”


“Liburan terus, habiskan uang terus, alih-alih mau bahagia. Hamil tidak, bangkrut iya,” jawab mamanya cuek.


Mereka tak menanggapi mama Bara dan langsung menuju ke kamar.


###

__ADS_1


Bara yang tengah bekerja, dikejutkan dengan sekretarisnya yang membawa sekotak bingkisan untuknya.


“Pagi, Pak Bara, ada kiriman untuk Bapak. Saya letakkan di sini ya, Pak.”


“Terima kasih,” ucap Bara sembari membuka bingkisan tersebut.


Melihat sepotong kertas yang diselipkan di paket makanan dan minuman, sudah cukup membuat Bara mengetahui bahwa bingkisan itu dari Raya.


Kemudian, ponsel Bara berdering. Raya memanggilnya. “Mau apa lagi dia?”


“Hai, Bar, sudah terima cokelat hangatnya? Aku juga pesankan croissant kesukaan kamu,” ucap Raya dalam panggilan teleponnya.


“Terima kasih tapi aku sudah sarapan bersama istriku tadi pagi. Aku sudah kenyang, Ray. Aku izin bagi ke anak-anak kantor, terima kasih sekali lagi untuk kirimannya,” jawab Bara acuh dan mematikan teleponnya.


Tak berhenti sampai di sini, Bara semakin dibuat heran dengan tingkah nekat Raya yang tiba-tiba mengetuk pintu dan langsung masuk ke dalam ruangannya.


"Hai, Bar. Sebenarnya aku sendiri yang mau mengantar kue itu, tapi karena tadi aku akan telat datang, jadi aku kirim lebih dulu kuenya," ucap Raya sembari membuka blazernya.


Sontak Bara menegur Raya karena tak sopan. Raya mencoba menenangkan Bara dan mengatakan ia hanya mampir sebentar. Raya meminta Bara untuk tenang dan diam tak bersuara agar tak malu jika didengar karyawannya.


Ia menghampiri kursi Bara dengan tenang. "Bar, aku hanya perlu sebentar, aku ingin bicara baik-baik. Aku cuma mau bilang, entah bagaimana pun perasaan kamu, tapi aku benar-benar jatuh cinta padamu dan aku rindu dengan kebersamaan kita seperti dulu. Bar, mulai lah mencintai aku."


Dengan gerak tangannya yang cepat, Raya mencium bibir Bara. Bara seakan tak sempat menghindarinya. Bara pun segera menepis tangan dan tubuh Raya setelah sekian detik mereka berciuman.


"Kamu tidak akan pernah melupakan bibirku," ucap Raya sembari mengenakan blazernya kembali lalu keluar dari ruangan Bara.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2