Istri Sempurna Untuk CEO Munafik

Istri Sempurna Untuk CEO Munafik
Mulai Bangkit


__ADS_3

Syara menyesali tindakannya yang akhir-akhir ini sering tak mampu mengontrol emosinya saat menghadapi Bara. “Kalau begini caranya, keinginanku untuk membuat Bara menyayangiku agar pernikahan kita bertahan, nggak akan berhasil. Bara akan semakin membenciku. Duh, bodoh sekali kamu, Syara, sudah dibilang harus sabar kenapa masih kelepasan sih?”


Di satu sisi, Syara juga tak mampu menahan sakit hatinya saat Bara mengatakan bahwa Syara menumpang hidup dan hanya meminta-minta padanya. Bukankah itu sudah kewajiban Bara sebagai suami? Apalagi, Syara juga tak sepenuhnya menganggur. Ia juga tetap melanjutkan bisnis pakaiannya yang telah ia bangun selama ini walaupun harus tersendat karena harus memulai semuanya serba baru semenjak ia berpindah ke kota tempat Bara dan mamanya tinggal.


Syara mulai menghubungi konveksi tempat produksi pakaian-pakaian yang dijualnya. Saat awal Syara tinggal di rumah Bara, Mama Bara memang membantu Syara untuk mencari konveksi di sekitar tempat tinggalnya dan juga memberikan modal pada Syara untuk melanjutkan bisnisnya. Namun, karena disibukkan oleh persoalan rumah tangganya, Syara menjadi lupa untuk mengurus usahanya. Syara yang sudah mendapatkan informasi dari pihak konversi bahwa produksi pakaian-pakaiannya telah selesai, memutuskan untuk segera mengambilnya langsung.


Saat menunggu taksi online yang Syara pesan, tak sengaja mobil Haris baru saja berhenti di rumah Bara. Namun sayangnya ketika Haris akan turun dari mobil, taksi Syara datang dan mereka pun pergi sebelum Syara sempat melihat kedatangan Haris. Haris pun mengikuti Syara karena khawatir jika Syara tersesat, mengingat Syara belum pernah keluar rumah dari pertama kali tinggal di Jakarta.


Haris berhenti di parkiran konveksi, dan melihat Syara memasukinya. Haris yang masih berada di dalam mobilnya sengaja menunggu Syara hingga keluar dari tempat tersebut. Tak lama kemudian, Syara keluar dengan menyeret sebuah karung besar. Haris dengan cepat turun dari mobil untuk membantu membawakannya.


“Haris, kok kamu di sini?” tanya Syara yang terkejut melihat kedatangan teman suaminya itu.


“Aku gak sengaja ikuti kamu dari rumah, Ra. Bingung juga kamu mau ke mana, takut kalau nyasar. Ini apa?” tunjuk Haris pada karung yang dibawa Syara.


“Oh, ini aku baru saja ambil baju-baju aku yang diproduksi di sini. Kan dulu sebelum menikah, aku sempat punya bisnis baju, karena sekarang udah pindah kota, jadi aku pindah konveksi di sini. Mama Desi yang bantu aku cari tempat ini dulu,” jelas Syara pada Haris.


“Yaudah sini aku bantu bawakan, kasian kamu, ini berat banget, Ra,” ucap Haris yang membawa karung tersebut dan memasukkan ke dalam bagasi dan mempersilakan Syara juga masuk ke dalam mobilnya.


“Terima kasih ya, Har. Jadi tadi kamu mau ke rumah atau gimana?” tanya Syara membuka percakapan saat di mobil.


Haris menjelaskan bahwa ia tak sengaja melewati rumah Bara namun justru melihat Syara yang akan pergi. “Aku baru ketemu klien di kafe dekat rumah kalian. Lain kali, kalau ada urusan di luar, jangan pergi sendiri ya, Ra. Kamu bisa minta antar aku, Tante Desi, sopir, atau Bara.”


“Bara mana mau, Har, lagi pula dia pasti sibuk di kantor, aku nggak enak mau minta tolong. Kalau Mama Desi, tadi ada janji sama teman-temannya untuk jenguk temannya yang lagi dirawat di rumah sakit, diantar sopir,” jawab Syara memelas.

__ADS_1


“Oh iya, Ra. Soal hadiah kemarin gimana, sudah kamu tanyakan?” Haris yang masih penasaran soal tas yang dibeli Raya dan Mama Bara kemarin di mall.


“Raya yang belikan Mama, Har. Jadi Raya sengaja beli tas yang sama untuk dia dan Mama. Tapi Mama tetap bawa oleh-oleh juga kok dari Bali buat aku,” jawab Syara terseyum ikhlas.


Haris terdiam melamun mendengar jawaban Syara. “Semalam aku tanya Raya, dia bilang Tante Desi yang sengaja membelikannya tas, mana yang benar.”


“Har, kok diam?” tanya Syara melambaikan tangannya di depan mata Haris.


“Eh, enggak, Ra. Raya memang keterlaluan. Apa coba maksudnya dia seperti itu. Ra, kalau butuh apa-apa kamu jangan sungkan ya, aku pasti bantu kamu,” tawar Haris tulus.


“Iya, Har. Terima kasih banyak kamu sudah banyak bantu aku,” ucap Syara lembut.


Mobil Haris tiba di rumah Syara. Haris juga membawakan karung itu ke dalam rumah. Haris pun berpamitan pada Syara karena harus menemui kliennya yang lain. Namun, saat Haris baru menjalankan mobilnya belum jauh dari rumah Bara, dari kaca spion ia melihat Om Gustav, Om Bara, menemui Syara yang masih berdiri di depan rumah. Haris tampak memperhatian percakapan mereka.


Syara menyambut baik uluran tangan Om Gustav. “Iya, Om. Syara masih ingat kok.”


Tak lupa, Syara juga mempersilakan Om Gustav masuk ke dalam rumah. “Om mau menemui Mama ya? Mari masuk dulu, Om, biar Syara telepon Mama karena masih di luar.”


“Gak usah, Syara. Terima kasih banyak. Om cuma lewat aja kebetulan, dan lihat kamu lagi di luar jadi om hampiri. Syara, Om pengen tanya aja sama kamu. Sebenarnya, apa maksud Desi ingin menjodohkan kamu dengan Bara?” Om Gustav tampak bertanya dengan mimik wajah serius.


Syara menjelasan mengapa mertuanya itu ingin sekali Syara tinggal di rumahnya dan menikah dengan Bara. Termasuk pula menceritakan hubungan antara mendiang orang tua Syara dengan mertuanya. Terasa aneh memang saat Syara menjawab pertanyaan Gustav, namun sebagai keluarga suaminya, Syara harus tetap sopan dan menghargai Om Gustav.


“Jadi kamu anaknya Mirna?” tanya Om Gustav sedikit terkejut.

__ADS_1


Syara mengangguk.


Tak lama, Om Gustav berpamitan pada Syara, Haris pun kembali memacu mobilnya.


###


“Jualan kamu?” tanya Bara meremehkan Syara yang sedang mengemas baju-bajunya.


“Ya ‘kan kamu bilang aku harus cari uang sendiri biar gak minta kamu mulu,” jawab Syara cuek.


Bara berjalan lalu berjongkok mendekati Syara yang tengah duduk di lantai. “Jangan pernah berfikir kamu bisa seperti Raya, karena kalian tidak akan pernah selevel. Timbang jualan baju aja gak akan bikin kamu jadi wanita yang aku idamkan seperti Raya, yang ada aku malu punya istri pedangang!”


“Kamu sekolah bisnis dan jadi CEO. Tapi kamu nggak tau perbedaan antara pedangan dan pebisnis,” sahut Syara santai namun menatap tajam mata Bara.


Bara membalas tatapan Syara dengan tajam. “Gak usah sok berani. Ngaca kamu siapa, perempuan yang nggak bernilai!”


Bara berdiri dan meninggalkan Syara, namun baru beberapa langkah ia berjalan, Syara kembali berucap.


“Aku mau usaha apa pun, tidak akan pernah menggangu kamu. Jadi jangan ganggu juga urusan aku,” ucapnya lembut dan lirih.


Bara yang sempat menoleh dan berbalik ke arah Syara, kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Syara yang masih berkutat dengan baju-bajunya.


Syara tiba-tiba teringat akan apa yang diucapkan Om Gustav tadi pagi agar ia lebih berhati-hati. “Apa maksudnya ya?”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2