
Semenjak kejadian di kafe siang itu, hubungan pertemanan antara Bara dan Haris sedikit merenggang. Haris kecewa dengan sikap Bara, begitupun juga dengan Bara yang marah pada Haris karena berani menemui Syara tanpa sepengetahuannya. Tak hanya itu, Raya juga seolah terkena getahnya.
“Bagus dong, Bar, kalau Haris dekat dengan Syara, kita jadi lebih mudah ‘kan?” ucap Raya yang menganggap Haris bisa membantu rencana mereka.
“Bagus apanya?” sahut Bara ketus.
“Ya kita jadi nggak harus berusaha sekeras itu untuk membuat Syara menggugat kamu. Justru kalau Syara bisa jatuh cinta pada Haris dan dia sudah muak karena hubungan kita, dia bisa lebih cepat meminta cerai sama kamu,” jawab Raya dengan bangga.
“Cukup ya Ray, bisa nggak jangan bahas kata cerai. Aku pusing!” bentak Bara mengejutkan Raya.
“Apa sih kamu, Bar, kasar banget tau nggak,” ujar Raya kesal.
“Ya kamu dari tadi bahas itu terus. Aku nggak mau bahas soal Syara dan Haris,” jawab Bara yang masih fokus menyetir.
“Jadi maksudnya, kamu cemburu Syara dekat dengan Haris?” Raya semakin membuat Bara kesal.
Bara menghela nafas panjang menurunkan nada bicaranya. “Bisa nggak kamu dengar aku? Jangan bahas mereka.”
“Kalau kamu memang mau bercerai dengan Syara, seharusnya kamu senang kalau Syara bisa dekat dan jatuh cinta sama Haris. Kecuali kalau sekarang kamu sudah mencintainya!” protes Raya yang masih belum puas membahas hal ini.
“Raya cukup!” teriak Bara.
Raya yang masih tak menyangka Bara bisa membentaknya, hanya mampu terdiam. Sesampainya di kantor Raya, ia pun tak mengucap sepatah kata apapun dan langsung turun dari mobil Bara. Begitu kencang Raya menutup pintu mobil Bara. Bara pun berlalu memacu mobilnya menuju kantornya.
###
__ADS_1
“Mungkin kita harus menjaga jarak dulu, Ra, tunggu sampai suasana kembali kondusif. Aku takut Bara akan semakin menyakiti kamu kalau dia tahu kita masih berkomunikasi. Kamu tenang aja, aku akan tetap bantu kamu dari sini untuk mencari tahu semua ini.” Haris mengirim pesan singkat pada Syara untuk menenangkannya.
Semenjak saat itu, Haris dan Syara memang tak berkomunikasi lagi. Syara pun langsung menghapus semua pesan singkatnya dengan Haris. Bagaimanapun juga, mereka sedang mencari tahu sesuatu, dan bisa jadi, Bara mengetahuinya. Untuk itu, Syara sangat berhati-hati jangan sampai penyelidikannya dengan Haris tercium oleh Bara.
Syara yang mengetahui pertengkaran Bara dengan Raya, memanfaatkan kesempatan ini untuk mendekati Bara. Syara juga mengancam Bara jika ia masih mengantar jemput Raya, ia tak segan akan tetap menemui Haris. Entah mengapa Bara dengan mudahnya mengikuti ancaman Syara.
“Kamu nggak jemput aku, Bar? Aku udah tunggu kamu dari tadi.” Raya kesal menunggu Bara yang tak datang juga menjemputnya di kantor.
“Maaf, Ray, aku sudah di rumah, aku nggak bisa jemput kamu. Ada yang harus aku selesaikan,” jawab Bara dalam panggilan teleponnya dengan Raya.
Raya yang sangat marah akan sikap Bara yang tak memberiknya kabar jika tak ingin menjemputnya, langsung mematikan teleponya.
“Nah, begini kan enak bisa pulang ke rumah nggak terlalu malam. Lagi pula, kamu siapanya Raya sih? Sopirnya?” goda Syara pada suaminya yang kejam itu.
“Diam! Jangan tinggi hati kamu! Aku turuti permintaan kamu hanya untuk sementara! Jangan pancing emosiku!” bentak Bara yang merasa bagai buah simalakama.
“Kamu pikir aku sopir kamu?” jawab Bara dengan nada keras.
“Cuma tanya aja, kalau nggak mau ya sudah. Kalau begitu, aku minta tolong Haris aja deh, dia lebih peka. Bahkan dulu, tanpa aku minta tolong pun, dia sudah langsung mengantar aku pulang dan membawakan karung baju-bajuku,” ucap Syara santai sembari meninggalkan Bara.
Bara langsung menahan tangan Syara dan menatap istrinya dengan tajam. “Aku yang akan mengantar. Jangan pernah sebut nama Haris di depanku!”
Syara tersenyum manis dan membalas tatapan Bara dengan romantis. Bara yang salah tingkah mendapat tatapan Syara, melepaskan tangan Syara dan mengalihkan pandangannya. Bara pun menjauhi Syara dan berjalan akan keluar dari kamar.
Dengan cepat Syara memanggil Bara. “Setelah mengambil baju, besok kita makan siang juga ya. Kalau nggak mau, aku makan siang sendiri di luar, terserah kamu setuju atau tidak.”
__ADS_1
Bara menoleh ke arah Syara dan terdiam dengan tatapan terpaksa menyetujui ajakan istrinya.
###
Diam-diam, Haris menemui Om Gustav tanpa sepengetahuan Syara. Haris sengaja mendatangi kantor tempat Om Gustav bekerja saat jam makan siang, tanpa memberi tahunya terlebih dahulu. Seolah dengan terpaksa, Om Gustav menemui Haris dan mengajaknya makan siang di kantin kantornya.
“Maaf ya, Om, Haris nggak memberi kabar dulu, karena tadi Haris baru bertemu klien di daerah sini, jadi sekalian mampir mau menemui Om Gustav,” ucap Haris berbohong.
“Sebenarnya ada apa, Haris? Kok kamu dan Syara sangat ingin bertemu Om?” tanya Om Gustav tak tenang.
“Harusnya Haris dan Syara yang bertanya pada Om Gustav, sebenarnya ada apa? Apa Om Gustav mengenal orang tua Syara?” tanya Haris mengintrogasi.
Om Gustav menceritakan bahwa Mirna, Ibu Syara adalah teman baik Mama Bara, Desi. Dulu, orang tua Syara sering membantu keuangan keluarga Bara saat Papa Bara masih merintis bisnisnya, padahal keluarga Syara bukan lah kalangan orang berada. Bantuan itu dilakukan murni hanya atas dasar pertemanan antara Mirna dan Desi yang telah berjanji untuk saling membantu satu sama lain.
Untuk itu, setelah bisnis Papa Bara mulai stabil, orang tua Bara berniat membalas budi kebaikan orang tua Syara. Apalagi, saat itu Ayah Syara sakit-sakitan hingga akhirnya meninggal. Papa Bara juga banyak membantu membiayai sekolah Syara sepeninggal ayahnya.
Haris mulai mendapat informasi yang penting dari keterangan Om Gustav, namun sayangnya ia belum mendapat titik terang dari informasi tersebut.
“Lalu apa yang kalian permasalahkan?” Om Gustav berbalik bertanya pada Haris.
Haris menceritakan tentang pernikahan Bara dan Syara yang seolah begitu menyakitkan bagi Syara, termasuk sikap Mama Bara yang seperti tak memihak menantunya, padahal beliau sangat baik dan sayang pada Syara. Tampak ekspresi yang berbeda dari raut wajah Om Gustav saat mendengar penjelasan Haris.
“Kalau soal itu, Om tidak tau karena itu masalah internal. Bisa jadi karena Bara belum mau menerima Syara sebagai istrinya, mengingat bahwa pernikahan mereka atas dasar kemauan Desi yang ingin membantu kehidupan Syara setelah ibunya juga meninggal. Tentang sikap Desi, mungkin di satu sisi Desi sangat menyayangi Bara sebagai anak tunggalnya, jadi dia masih membiarkan Bara berperilaku demikian, dan di satu sisi, Desi juga menyayangi Syara yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri,” jawab Om Gustav dengan mimik muka datar.
Tak lama kemudian, Om Gustav pamit pada Haris untuk menyudahi pembicaraan mereka karena ia sedang ada banyak pekerjaan. Haris pun juga izin pamit dan berterima kasih pada Om Gustav telah meluangkan waktu untuknya. Namun, Haris merasa ada sesuatu yang ditutupi Om Gustav. Hal ini tampak seperti Om Gustav yang tak ingin membahas terlalu jauh persoalan keluarga Syara dan Bara.
__ADS_1
...****************...