
Beberapa hari ini, Syara semakin bisa memegang kendali atas sikap Bara. Bara yang selalu mengikuti pemintaan Syara, mulai merasakan kenyamanan saat bersama istrinya itu. Namun entah mengapa, sikap Bara terkadang cepat berubah kembali menjadi Bara yang kejam.
Syara yang seolah tak mau melewatkan kesempatan ini, terus mendekati Bara dan melancarkan aksinya. Bara dan Raya menjadi semakin sering bertengkar karena Bara lebih memilih waktu untuk bersama Syara. Syara terus menjadikan Haris sebagai senjatanya untuk mengancam Bara jika tak mau menurutinya. Entah ada apa dengan nama “Haris”, jika mendengar nama itu, Bara selalu tak rela jika ia tak mengikuti permintaan istrinya, walaupun dengan sangat terpaksa.
Bara yang merasa dirinya mulai luluh terhadap Syara, kembali teringat akan sang Mama karena pernikahan ini bukan untuknya namun untuk sang Mama. “Sadar, Bara, sadar. Dia tetaplah perempuan buruk yang tak pantas dijadikan istri. Raya lebih baik segalanya.”
Walaupun Syara sering mengancam Bara jika tak menuruti kemauannya, Syara juga semakin memanjakan Bara. Ia seringkali menyiapkan segala kebutuhan suaminya. Seperti biasa saat Bara pulang kantor, Syara selalu menawarkan minuman hangat kesukaan Bara. Bara mendekati Syara dan memegang cangkir yang dibawa sang istri. Syara yang tersenyum karena mengira Bara akan tetap baik padanya, ternyata, Bara justru meletakkan cangkir tersebut di atas meja.
“Apa benar Haris yang memberi tahu tentang minuman ini, juga kiriman makanan yang kamu pesan ke kantor waktu itu?” tanya Bara dengan tatapan penuh curiga.
Syara yang tak ingin berbohong lagi pada Bara, hanya mampu mengangguk pelan.
“Sejauh apa pertemuan kamu dengan Haris?” Bara kembali bertanya dengan serius.
“Aku cuma ingin mengenal kamu melalui dia,” jawab Syara lirih.
Bara memalingkan mukanya, tak menghiraukan Syara dan berlalu menuju kamar mandi.
Syara menunggu Bara hingga selesai mandi, untuk membicarakan sesuatu. Tak lama, Bara keluar dari kamar mandi dengan baju perginya. Bara mengambil jaz hitam dalam lemarinya. Syara yang merasa Bara akan pergi, segera memanggilnya. “Bara.”
Bara menoleh melihat Syara.
“Maafkan aku selama ini. Bagaimanapun juga, aku tetap istri kamu yang harus meminta izin kamu terlebih dahulu sebelum keluar rumah,” sesal Syara yang tak sepenuhnya bersalah.
__ADS_1
Bara hanya terdiam dengan tetap memandangi Syara.
“Bara, terima kasih juga karena kamu sudah mau membantu aku beberapa hari ini. Kamu rapi sekali, mau pergi ke mana?”
Bara tak menjawab pertanyaan istrinya, hanya berlalu meninggalkan kamar. Syara mengikutinya dari belakang dengan terus memanggil nama Bara. Namun Bara tak mengindahkan panggilannya.
Syara kembali melihat Raya berada di ruang tamu bersama mertuanya.
“Syara, di kantor Bara sedang ada acara penghargaan. Raya juga mendapat undangan karena bank tempat Raya bekerja merupakan salah satu kolega bisnis perusahaan Papanya Bara. Jadi Bara memutuskan untuk pergi bersama Raya dari pada Raya berangkat sendiri malam-malam begini,” jelas Mama Bara lembut.
“Tapi, Ma, Syara ‘kan istri Bara. Kenapa Bara nggak mengajak Syara juga?” protes Syara dengan terus melihat Bara.
“Syara, Bara datang ke acara itu hanya untuk memberikan sambutan sebentar saja lalu pulang,” jawab Mama Bara meyakinkan Syara.
“Tapi kalau seperti ini kamu jadi tidak menganggap aku sebagai istri kamu, Bar! Dengan mudahnya kamu pergi bersama perempuan lain, sedangkan saat aku hanya bertemu Haris untuk membicarakan kamu, kamu sampai marah seperti itu! Mama juga tak pernah tegas melihat Bara menyakiti Syara. Apa sebenarnya yang Mama mau?” Syara tak mampu menahan emosinya.
“Syara diam! Sejak kapan aku menganggap kamu istriku?” Bara mulai emosi mendengar protes Syara.
“Lalu kenapa kamu mau dianggap sebagai suami? Kalau tidak mau dianggap sebagai suami, tidak seharusnya kamu marah saat aku bertemu siapapun dan melakukan apapun di luar sana!” Syara berlari menaiki tangga menuju kamarnya.
Ia menangis begitu lepas. Selama ini, Syara selalu menyembunyikan tangisnya, namun kali ini ia sudah ingin menyerah. Air mata yang selalu ditahannya, seolah sudah tak terbendung. Tak ingin lagi rasanya melanjutkan rencananya untuk meluluhkan hati Bara. Semua terasa sia-sia jika Bara memang tak ada kemauan untuk menerima pernikahan ini.
Setelah beberapa saat kemudian, Syara berganti baju dan bermaksud ingin keluar rumah untuk berjalan-jalan menyusuri komplek perumahannya hingga kesedihannya mereda. Setelah mengetahui mertuanya sudah berada di kamar, ia pun segera keluar rumah. Syara tampak berjalan dengan lesu dan mata sembab.
__ADS_1
Om Gustav yang baru saja pulang kantor, tak sengaja melewati komplek perumahan Bara, melihat Syara dengan kondisi yang kurang baik. Ia memberhentikan mobilnya dan memanggil Syara serta mengajaknya untuk masuk ke dalam mobil. Tak banyak pikir, Syara masuk ke dalam mobil Om Gustav.
“Syara, kenapa malam-malam begini masih di luar? Mau ke mana?” tanya Om Gustav penuh perhatian.
“Syara cuma mau jalan-jalan aja, Om,” jawabnya tak bertenaga.
“Syara, kamu kenapa? Kamu habis menangis ya? Ada apa?” Om Gustav memastikan keadaan Syara.
“Om kenal orang tua Syara 'kan? Apa Syara dan orang tua Syara pernah ada salah sama Bara dan Mama Desi? Kenapa Bara begitu membenci Syara?” Syara menangis sesenggukan.
Syara kemudian menceritakan apa yang baru saja dialaminya, juga beberapa pesakitan lainnya yang selama ini diterimanya. Tak sadar, Om Gustav ikut meneteskan air matanya mendengar cerita dan tangisan Syara. “Syara, kamu tak seharusnya menerima semua ini, kamu tak bersalah, Nak,” gumamnya dalam hati.
###
Sejak kejadian malam itu, Syara terlihat tak bersemangat. Ia pun tak banyak bicara pada Bara, juga pada mertuanya. Meskipun Mama Bara juga sudah meminta maaf dan menjelaskan semuanya pada Syara, namun Syara tetap tak ingin banyak berinteraksi dengan mereka. Berbicara hanya seperlunya, sekadar untuk menghargai mertuanya. Syara kembali berfokus pada bisnis kecilnya, karena hanya inilah cara untuk melupakan sejenak persoalan rumah tangganya.
Syara tak terlihat memaksa Bara untuk sarapan seperti biasanya, bahkan juga tak menyiapkan minuman hangat kesukaan Bara setiap Bara pulang kantor. Ia pun benar-benar lebih banyak diam dan tak banyak bicara, sekalipun Bara membentaknya, ia hanya diam. Tak ada perlawanan sedikitpun.
Setiap malam, Syara juga tak pernah lagi membujuk Bara untuk mau tidur 1 kasur dengannya, walaupun jika Syara merengek, Bara tetap tak mau menurutinya. Malam ini, tanpa bujukan maupun permintaan, Syara dengan sendirinya tetap tidur beralas karpet yang berbatasan langsung dengan lantai. Jika hari sudah pagi, ia akan segera menuju kamar sebelah untuk mengurus pakaian-pakaian yang dijualnya. Dari mulai merekap orderan, membungkus paket, hingga mengirimkannya. Hanya sedikit kata yang keluar dari mulutnya, begitu seterusnya selama beberapa hari ini yang ia lakukan.
Saat malam hari pun, tak ada sambutan untuk suaminya. Ia tetap asyik berada di kamar sebelahnya. Sehari penuh ia habiskan di kamar itu. Sesekali, ia memegangi foto ayah ibunya dan menangis. Entah sudah berapa tetes air mata yang jatuh membasahi foto mendiang orang tuanya itu.
...****************...
__ADS_1