Istri Sempurna Untuk CEO Munafik

Istri Sempurna Untuk CEO Munafik
Hamil Yang Menyiksa


__ADS_3

“Kamu istirahat aja dulu ya, sebentar lagi aku kesana,” ucap Bara dalam panggilan teleponnya.


Syara yang menyadari Bara tengah melakukan panggilan telepon dengan Raya, menegur dan mengingatkan Bara. “Raya masih mau menerima kamu yang akan punya anak?”


“Kenapa kamu katakan pada Raya kamu hamil. Kita jadi bertengkar malam itu,” balas Bara yang tak terima dengan sikap Syara.


“Harusnya aku yang marah karena aku sedang hamil tapi kamu masih saja berhubungan dengan Raya, bukannya malah dia yang marah karena kamu menghamili istri sah kamu sendiri!” Syara mulai mengatur emosinya.


“Cukup, Syara! Jangan menuntut lebih dari pernikahan ini! Masih ingat ‘kan awal pernikahan ini bukan karena cinta.” Bara semakin ingin berdebat dengan istrinya itu.


“Kalau bukan karena cinta kenapa aku bisa hamil anak kamu? Bukankah kamu sendiri yang bilang waktu itu kamu juga mencintai aku!” Syara masih berusaha memperjuangkan haknya.


“Cinta? Syara dengar ya, berhubungan suami istri itu tidak harus atas dasar cinta. Kamu pikir laki-laki hidung belang yang memakai jasa para wanita ****** itu karena cinta? Mereka melakukan itu hanya karena nafsu dan aku lelaki normal. Satu lagi, jangan pernah hiraukan kata-kata saat aku mabuk!” Bara begitu lihai mengelak fakta yang pernah ia tunjukkan sendiri.


Syara hanya terdiam mendengar perkataan Bara yang berlalu pergi meninggalkannya.


“Bara, aku butuh kamu! Aku sakit aku lemas selama hamil ini!” teriak Syara agar Bara mendengarnya.


Bara berbalik ke arah Syara. “Raya juga butuh aku dia sedang sakit.”


“Raya memang butuh kamu, tapi aku dan anak kamu lebih membutuhkan kamu,” ucap Syara menahan isak tangisnya.


Bara hanya terdiam sejenak dan tetap berlalu meninggalkan Syara.


Syara memang harus benar-benar membiasakan diri dengan sikap Bara yang tak akan pernah berubah. “Munafik kamu Bara! Aku benci kamu!”


###


“Ibu Syara,” panggil asisten dokter di rumah sakit.

__ADS_1


Syara mengangguk dan masuk ke dalam ruangan dokter kandungan untuk melakukan pengecekan terhadap kehamilannya.


“Selamat pagi, bu? Ibu sendiri?” tanya dokter dengan ramah.


Syara mengangguk pelan dan tersenyum. “Suami saya sedang ada rapat yang tidak bisa ditinggalkan di kantornya, dok.”


Dokter mulai melakukan pemeriksaan dan USG kehamilan Syara. Dokter mengatakan janin dalam keadaan membutuh perhatian khusus. Dokter meminta Syara untuk kembali melakukan pemeriksaan mingu depan. Dokter juga menyarankan agar Syara lebih memperhatikan kehamilannya dengan memakan lebih banyak makanan bergizi, banyak istirahat, serta tidak boleh mengalami tekanan apapun. Mendengar saran dokter, Syara hanya berusaha tegar menahan tangisnya.


Selesai pemeriksaan dan pemberian obat penguat kandungan, Syara dipersilakan pulang untuk beristirahat. Ia keluar ruangan dan berjalan menuju halte rumah sakit untuk menunggu ojek. Saat menyusuri jalanan di rumah sakit, ia berpapasan dengan Raya dan Bara yang sedang mengantri di poli umum.


Syara melihat Bara yang juga melihatnya, sembari terus berjalan tanpa menghiraukan suaminya. Mau tak mau, memang ini lah yang seharusnya ia lakukan. Acuh. Protes pun seakan sia-sia, hanya menguras energinya. Saat ini, ia hanya butuh kuat dan sehat demi calon bayinya.


Setelah ojek yang telah ia pesan datang, Syara bergegas naik dan meninggalkan rumah sakit. Selama di perjalanan, tak henti ia meneteskan air matanya. Entah seperti ada bisikan, Syara memikirkan untuk lebih baik bercerai dan kembali ke rumahnya. Soal uang, ia yakin bahwa calon bayinya sudah memiliki rejekinya sendiri. Syara yakin ia bisa menafkahi anak dan dirinya sendiri dari bisnis kecilnya yang sudah stabil saat ini, walaupun keuntungannya tak seberapa, setidaknya itu cukup.


Sesampainya di rumah, Syara mulai mencari tahu persyaratan untuk mengajukan gugatan cerai, namun, pesan dari Bara seolah membuatnya harus memikirkan baik-baik akan keputusannya.


Tak dihiraukannya pesan singkat dari suaminya itu. Seperti sedang dalam pikiran yang labil, ia memutuskan untuk tetap sabar menunggu waktu yang terbaik untuk bercerai. Setidaknya, jika ia ingin bercerai, tunggu hingga ia melahirkan dan surat-surat kelengkapan anaknya seperti akta kelahiran telah siap.


Bara kembali menghubungi Syara dengan meneleponnya, namun lagi-lagi Syara mengacuhkannya.


“Untuk apa Bara kamu peduli dengan aku juga anakmu? Dasar manusia munafik!” gumamnya penuh amarah.


###


Bara pulang kantor lebih awal karena ingin menemui Syara dan memastikan keadaannya baik-baik saja.


“Kurang ajar ya kamu, suami tanya tapi tak dijawab!” bentak Bara pada Syara saat memasuki kamar.


“Syara!” panggil Bara dengan nada keras karena Syara tak menghiraukannya.

__ADS_1


“Suami? Suami macam apa yang kamu maksud? Suami yang lebih memilih mengantar pacarnya yang hanya demam, ketimbang mengantar istrinya sendiri yang sedang hamil anaknya?” jawab Syara pelan dan tenang.


Bara bersiap dengan tangannya yang akan menampar Syara.


“Ayo tampar, kenapa berhenti. Kamu tau ibu hamil seharusnya tak boleh mendapatkan tekanan apapun tapi ini malah mendapat kekerasan dari suaminya sendiri! Kamu berharap anak kamu akan baik-baik saja sedangkan selama aku hamil kamu terus menyakitiku. Apa kamu pikir dia tidak bisa melihat dan mendengar kelakuan ayahnya? Jika aku sakit dia akan ikut sakit, jika aku menangis pun dia akan merasakan kesedihanku!” jelas Syara membuat Bara menatap iba.


“Pukul saja, bukankah selama ini juga kamu sudah biasa melakukan kekerasan padaku? Tidak hanya fisik namun juga psikis. Siksa saja terus sampai kamu puas!” lanjut Syara yang berlalu meninggalkan Bara karena tak kuat menahan tangisnya.


Syara keluar dari rumah untuk mencari ketenangan. Seperti sebelumnya, ia berjalan kaki menyusuri komplek perumahannya. Kali ini, Syara ingin menelepon Om Gustav dan mengabarkan keadaannya. Karena hanya Om Gustav lah satu-satunya keluarga yang bisa menjadi tempat cerita. Mendengar cerita Syara, Om Gustav merasa begitu iba dan murka terhadap Bara.


“Syara tenang ya, jangan bersedih, jaga kandungan Syara,” pinta Om Gustav dalam panggilan teleponnya.


Bara yang ingin mengejar Syara, ditahan oleh sang mama. “Biarkan saja, nanti juga dia pulang.”


“Ma, Bara tidak bisa seperti ini terus. Syara sedang mengandung anak Bara, cucu Mama. Bara takut ada apa-apa sama Syara.” Bara tak mampu menahan kekhawatirannya.


“Bara, ingat rencana awal kita. Jangan pernah mengingkari apapun kalau tak ingin membuat Mama kecewa,” cegah mama Bara.


“Ma,awalnya Bara juga marah seperti Mama, tapi semakin ke sini, Bara yakin Syara tak pantas merasakan semua ini. Syara sudah cukup tersiksa, apa itu belum cukup? Mau sampai kapan, Ma? Bara nggak tega melihat Syara seperti ini!” Bara tetap mempertahankan pendapatnya.


“Bara cukup!” bentak sang Mama.


“Bara akan tetap melakukan permintaan Mama, tapi izinkan Bara mencari dan membawa Syara pulang sebelum semuanya terlambat,” lanjut Bara sembari pergi meninggalkan mamanya.


Bara berlari mengelilingi komplek perumahannya, namun tak juga menemukan Syara. Bara teringat akan kejadian dahulu kala ketika menemukan Syara berada di taman perumahaan saat sedang bersama Haris. Ia pun segera berlari menuju taman berharap menemukan Syara di sana.


Bara menghentikan langkahnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2