Istri Sempurna Untuk CEO Munafik

Istri Sempurna Untuk CEO Munafik
Pernikahan Yang Sesungguhnya


__ADS_3

Raya yang tak juga mendapat jawaban dari Bara, nekat mendatangi rumahnya. Namun sayang, Bara tak ada di rumahnya. Kesempatan ini digunakan Raya untuk mengadu pada mama Bara.


“Jadi Bara masih di kantor ya, Tan? Bara jadi menjauhi Raya akhir-akhir ini,” adu Raya manja.


“Iya, sayang, mungkin sebentar lagi, Raya tunggu aja ya sambil minum teh dan ngobrol sama Tante,” saran mama Desi meminta Raya menunggu Bara.


Syara yang melihat kedatangan Raya, menegurnya. “Lama juga tidak melihat kamu, Ray. Masih tak punya malu juga kamu mau mencari Bara?”


Bukannya menjawab pertanyaan Syara, Raya justru meminta pendapat mama Bara siapa yang lebih pantas untuk menjadi menantunya.


“Tentu kamu dong. Kamu cantik, pintar, karirnya bagus lagi. Tante tuh mau punya menantu seperti kamu. Nanti kapan-kapan kita belanja bareng lagi ya seperti dulu, tapi gantian Tante yang belikan kamu tas,” ucap mama Bara memanas-manasi menantunya.


“Tapi Tante sudah menikahkan Bara denga Syara, terus Raya gimana?” tanya Raya bermanja-manja pada mama Bara.


Mama Bara menjelaskan bahwa tujuan ia menikahkan Bara dengan Syara hanya lah untuk membalaskan dendamnya. Sekarang, semuanya sudah selesai jadi Bara dan Syara bisa secepatnya berpisah. Mama Bara juga tak segan membicarakan rencana acara pernikahan Raya dan Bara di depan Syara.


“Oh, sudah selesai ya dendamnya, Ma? Syara pikir belum selesai,” sahut Syara sembari meninggalkan mereka di ruang tengah untuk kembali ke kamarnya.


Tak lama, Bara tiba di rumahnya dan cukup terkejut melihat kedatangan Raya.


“Ray, kita sudah selesai, tolong jangan temui aku lagi. Aku sudah tak ingin bertemu kamu!” tegur Bara.


“Bara, dulu kamu sendiri yang bilang kamu menyukai aku, kenapa sekarang jadi dingin begini? Kamu juga susah sekali dihubungi,” protes Raya tak terima dengan sikap Bara.


“Aku hanya berpura-pura menyukai kamu demi menjalankan rencana Mama. Sekarang, aku sudah tak mau ikut kata Mama lagi, jadi kamu pun sudah tak aku butuhkan lagi!” jawab Bara dengan tegas.


Raya marah dan tak terima jika selama ini hanya dimanfaatkan oleh Bara, dan mama Bara segera menengahi pertikaian mereka.

__ADS_1


“Bara, Nak, kenapa tidak dicoba saja ‘kan kalian sudah saling mengenal. Mama izinkan kamu tak lagi menuruti kata-kata Mama untuk membalas dendam pada Syara, jadi sekarang kamu bisa memulai hidup kamu yang baru bersama Raya. Toh kamu ‘kan menikahi Syara tanpa cinta, sudah pasti bercerainya akan mudah, ‘kan?” ucap Mama Bara tanpa perasaan.


Bara begitu marah mendengar ucapan mamanya, ia kesal karena semudah itu sang mama mengatur kehidupan rumah tangganya. Memaksa Bara menikahi Syara lalu sekarang meminta untuk menceraikannya, dan ingin ia menikahi Raya. Bara menolak rencana sang mama dan memilih untuk meninggalkan mereka.


Bara menemui Syara di kamarnya. Ia melihat istri cantiknya itu sedang berdiri melamun di balkon. Bara lalu menghampirinya.


“Kamu tau Raya ke sini?” tanya Bara lembut.


Syara mengangguk dan tersenyum. “Mama kamu meminta kita bercerai ‘kan? Dan meminta kamu menikahi Raya.”


Bara mengarahkan tubuh Syara menghadapnya. “Kamu tau ‘kan Mama memang segila itu. Semudah itu Mama mengatur perasaanku.”


“Bukan kah kamu dari dulu menyukai Raya? Tentu tak sulit ‘kan menuruti ucapan Mama?” Syara menegarkan hatinya. “Aku sudah biasa terluka, jadi sekarang kamu tak perlu takut akan melukaiku.”


Bara menatap Syara begitu lama. Ia menjelaskan bahwa dirinya tak pernah menyukai Raya, semua ia lakukan semata hanya untuk menjalankan rencana sang mama. Bara juga menjelaskan saat Raya menginap di rumahnya, mereka tak tidur bersama, Bara hanya tidur di sofa. Bara masih menjaga semuanya dengan baik, ia sengaja memanas-manasi Syara dengan mengajak Raya tidur di kamarnya.


“Dulu mungkin aku juga tidak menyukai kamu, tapi tidak dengan sekarang. Kalau kamu ingat aku pernah mengatakan aku mencintaimu saat aku mabuk, saat itu aku mengatakannya sudah dalam keadaan sadar.” Bara meyakinkan Syara dengan perasaannya.


“Jadi, tau ‘kan apa responku terhadap permintaan Mama? Bagiku, tak ada kesempatan kedua untuk mengikuti Mama. Sekarang aku lebih mengikuti kemauanku sendiri. Kemauan untuk memulai hidup yang baru bersama kamu,” lanjut Bara memeluk istri sempurnya itu.


“Membangun rumah tangga atas dasar cinta. Tapi kamu masih mencintai aku ‘kan? Masih mau menerima suami kamu yang munafik ini?” tanya Bara mengusap pipi mulus Syara.


Syara menatap Bara dengan berkaca-kaca. Ia mengangguk pelan dan tersenyum tipis. Ia hanyut dalam kehangatan pelukan Bara.


Tak lupa, Syara juga mengadu pada Bara tentang sikap mertuanya tadi pagi ketika Bara tak ada di rumah. “Mama masih ingin membalaskan dendamnya padaku.”


“Kita hadapi Mama sama-sama, sekarang kamu tak sendiri, ada aku yang akan melindungi kamu,” pinta Bara menguatkan Syara.

__ADS_1


###


Sebelum Bara berangkat ke kantor, Syara menyiapkan sarapan terlebih dahulu. Berbeda dengan dahulu kala, kali ini Bara begitu bahagia menyantap sarapan dari sang istri. Bara juga tak henti memuji istrinya yang sekarang tampak lebih cantik.


“Kamu dari mana aja kenapa baru tau sekarang kalau aku cantik?” goda Syara.


“Dulu aku diselimuti kebencian dan dendam dari Mama,” bisik Bara agar mamanya tak mendengar.


Selang beberapa menit, mama Bara keluar dari kamar menuju meja makan dan hanya menyapa Bara. Bara menjawab singkat dan segera menghabiskan makananya. Kemudian, ia berpamitan pada sang mama dan istrinya karena sudah hampir telat.


“Kalau ada apa-apa, hubungi aku,” bisik Bara sembari mencium kening Syara dan berjalan keluar rumah.


“Jangan kamu pikir Bara akan lebih memilih kamu dari pada mamanya sendiri,” sahut mama Bara.


Syara hanya tersenyum. “Jika seandainya ternyata bukan ibu Syara yang meracuni papa Bara, Syara yakin Mama akan menyesal sudah membuat Syara menderita.”


Mama Bara membalas senyuman Syara dengan senyuman sengitnya. “Kamu pikir kalau bukan karena dendam, Mama mau punya menantu seperti kamu? Anak kampung, tak ada apa-apanya dibanding Raya, seperti yang dikatakan Bara waktu itu.”


“Anak kampung yang rumahnya Mama jual ya? Andai Syara mau membawa Mama untuk diproses hukum, akan sangat mudah karena Mama sudah memalsukan tanda tangan ibu. Tapi Syara masih menghargai Mama sebagai mertua Syara, tak peduli dengan apa yang sudah Mama lakukan,” jawab Syara tenang tanpa amarah sedikit pun.


Seakan tak mau kalah, mama Bara tetap memilih Raya sebagai menantunya. “Semua ibu di dunia ini ingin yang terbaik untuk anaknya, menikahkan dengan yang sepadan. Kamu harus ingat atas dasar apa pernikahan kamu dan Bara dilaksanakan. Justru karena Mama membencimu."


Syara tetap berusaha tenang menghadapi mertuanya itu. “Tapi sepertinya Bara tidak mencintai Raya, Ma. Terima kasih ya, Ma, karena Mama memaksa kami menikah, kami menjadi saling mencintai sekarang.”


Syara meninggalkan mertuanya menuju ke kamarnya.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2