
Bara terus menggenggam tangan Syara, memberikan isyarat agar istrinya bisa lebih rileks.
“Dari hasil pemeriksaan dan wawancara kita di awal, saya katakan Bu Syara mengalami PCOS. Memang akan sulit memiliki anak karena PCOS ini tidak bisa disembuhkan, hanya saja bisa dikontrol. Penyebabnya bisa karena gaya hidup, stres, efek dari keguguran kemarin, dan ketidakseimbangan hormon. Tetap jaga haid agar teratur dan mulai gaya hidup lebih sehat.” Dokter memberi penjelasan mengenai hasil pemeriksaan organ reproduksi Syara.
Penjelasan dokter membuat Syara bergeming dan membeku sekian detik. Ia bagai disambar petir di siang bolong. Sementara itu, Bara terus mengusap-usap punggung tangan istrinya.
“Apa benar akan sangat sulit, Dok?” Bara memastikan permasalahan yang mereka hadapi tidak akan sesulit itu.
“Sulit bukan berarti tidak mungkin. Jangan khawatir, ada beberapa pasien saya penderita PCOS yang akhirnya bisa hamil setelah beberapa tahun menikah. Jadi, tetap berikhtiar, jangan stres, harus selalu mengaktifkan hormon bahagianya, perbaiki gaya hidup, dan rutin kontrol ya agar saya bisa terus memantau kondisi Bu Syara,” ujar dokter menenangkan sepasang suami istri itu.
Selesai tanya jawab, dan pemberian beberapa obat oleh dokter, Bara dan Syara dipersilakan keluar dari ruangan praktik dokter. Selama perjalanan dari rumah sakit hingga ke rumahnya, Syara lebih banyak diam. Bara tak henti menghibur Syara, namun seakan Syara hanya ingin sendiri dan melamun.
“Bagaimana hasilnya? Tidak apa-apa, ‘kan?” sambut mama Bara saat mereka tiba di rumah.
Bara menceritakan apa yang dikatakan dokter, dan meminta mamanya agar tak membahas soal ini pada istrinya. “Syara tidak boleh stres, Ma. Jadi biarkan dulu ya.”
###
Malam hari, Syara masih banyak melamun. Namun Bara terus mengajaknya bicara agar ia melupakan sejenak permasalahan yang sedang dihadapi. Syara juga terus menyalahkan dirinya sendiri yang tak berguna menjadi wanita.
“Syara, jangan menyalahkan diri kamu sendiri, keguguran yang terjadi kemarin juga salahku. Kalau kamu mau menyalahkan, aku lah orang yang paling berhak disalahkan,” ucap Bara memeluk istrinya.
“Ingat kata dokter tadi, sulit bukan berarti tidak mungkin, kita masih bisa terus mengusahakan. Aku janji akan selalu membuatmu bahagia. Jangan terlalu ditunggu, kalau sudah waktunya pasti datang,” hibur Bara.
Syara menangis mendengar ucapan suaminya.
__ADS_1
“Kita jalan-jalan ya. Semenjak menikah kita belum pernah berlibur. Mau ke Bali? Atau ke Singapura?” tawar Bara ingin membahagiakan istrinya.
Syara menghela nafas panjang. Ia menggeleng. “Nanti ya, aku masih ingin memperbaiki hidupku.”
Bara mengangguk dan memeluk Syara.
###
Beberapa hari ini, Haris sering berkunjung ke rumah lama Om Gustav. Karena Yesa lebih suka tinggal di Jakarta, sehingga Om Gustav memutuskan untuk hanya ia dan Yesi yang tinggal di rumah baru mereka, karena Yesi masih harus mendapatkan perawatan khusus dari rumah sakit. Sementara Yesa dipercayakan untuk tinggal bersama ART terdahulunya yang juga merupakan tetangga Om Gustav.
Haris juga beberapa kali meminta izin pada Om Gustav untuk mengajak Yesa berjalan-jalan. Om Gustav justru berterima kasih karena selama ini Yesa jarang sekali keluar rumah karena Om Gustav tak banyak waktu untuk mengajak anak-anaknya bepergian. Om Gustav juga mempercayakan Haris untuk menjaga putrinya.
Seperti hari ini, Haris mengajak Yesa makan di salah satu kafe langganan Haris. Sejak tiba di kafe, Yesa merasa tak nyaman karena banyak mata menatapnya. Haris dengan sigap selalu mengalihkan perhatian Yesa agar tak memikirkan hal ini.
“Kamu mau makan apa? Ayah kamu bilang kamu suka makan Spaghetti. Mau pesan itu? Kamu juga mau minum apa? Coklat mau?” tawar Haris dengan sabar.
Sembari menunggu pesanan mereka datang, Haris sengaja mengajak Yesa berbincang-bincang. “Kamu tidak nyaman ya di sini? Tempatnya jelek ya, atau kamu tidak suka suasana kafenya?”
“Aku suka, Haris. Tempatnya bagus, tapi aku kurang nyaman mereka melihatku seperti itu. Apa aku terlihat aneh?” Yesa mulai merasa tak percaya diri.
Haris menjelaskan bahwa mungkin orang-orang merasa aneh ketika mereka melihat cara jalan Yesa yang agak pincang karena manusia memang selalu begitu. “Lupakan saja, kalau mereka masih melihatmu, itu karena kamu cantik.”
Yesa tersipu malu pada Haris yang selalu memujinya cantik. Sekilas, Yesa memang tampak sempurna. Kulitnya putih dan mulus, rambutnya terurai lembut, parasnya cantik, dan tubuhnya ideal. Hanya saja, Tuhan memberinya sedikit kekurangan yang tak akan dipermasalahkan oleh orang-orang yang tulus mencintainya.
“Yesa, apa boleh kalau aku mau membangun hubungan sama kamu? Nanti aku minta izin ayah kamu ya?” Haris seakan tak mau berbasa basi.
__ADS_1
“Maksud Haris?” tanya Yesa yang masih tak paham maksud dari lelaki tampan di hadapannya itu.
“Aku menyukai kamu sejak pertama kali aku melihatmu. Bagiku, kamu begitu sempurna. Apa aku boleh jika suatu saat nanti melamarmu?” Haris menjelaskan perasaan dan keinginannya.
Yesa tersenyum tipis. “Apa Haris tidak malu menikahiku?”
Haris menggeleng. “Aku justru bangga sama kamu. Apa kira-kira kamu mau membalas perasaanku?”
Dengan malu-malu, Yesa menganggukkan kepalanya. Haris pun tersenyum lebar mengetahui jawaban Yesa. Ia menggenggam tangan Yesa dan terus tersenyum memandangnya.
###
Syara dan Bara menghampiri mama Bara yang sudah menunggu mereka di meja makan.
“Bar, besok antar Mama ke rumah Bu Lia ya, masih ingat 'kan? Dulu Mama sering ada arisan di rumahnya. Anaknya baru lahiran jadi Mama mau jenguk,” pinta sang mama.
Syara hanya terdiam mendengar ucapan mama mertuanya yang mengingatkan ia akan masalah kesuburannya.
Bara menatap Syara memastikan istrinya baik-baik saja. “Iya, Ma, tapi cuma sebentar aja 'kan?”
“Iya lah masa mau seharian,” jawab mama Bara singkat.
Mama Bara juga meminta Syara untuk mulai hidup sehat. “Kamu sepertinya harus mulai diet juga, Ra. Soalnya ‘kan kamu sudah mendekati usia 30, akan lebih sulit nantinya. Banyak makan buah dan sayur, kurangi makan-makanan instan dan minuman manis, jangan lupa olahrga, kemarin-kemarin kamu banyak tidurnya.”
Syara mengangguk pasrah akan permintaan mama mertuanya.
__ADS_1
...****************...