Istri Sempurna Untuk CEO Munafik

Istri Sempurna Untuk CEO Munafik
Kembali ke Rumah


__ADS_3

Malam ini, Haris bersama Yesa dan juga Om Gustav sedang makan malam. Karena kondisi Yesi yang masih membutuhkan banyak istirahat, terpaksa Om Gustav tidak mengajaknya dan meninggalkan di rumah bersama ART kepercayaannya. Om Gustav juga menanyakan tentang kabar keluarga Bara.


Haris mulai menjelaskan bahwa mama Bara kembali tak baik pada Syara semenjak Syara mengidap PCOS. Termasuk dengan sikap mama Bara yang menginginkan putranya menikahi Raya agar bisa segera memiliki anak hingga berita tentang Bara dan Syara yang kini tinggal di apartemen di sebelah unit Haris. Om Gustav tak habis pikir dengan sikap mama Bara yang tak berubah.


“Padahal saat ini, Syara tengah mengandung anak kembar, Yah,” imbuh Haris pada ayah mertuanya.


“Desi benar-benar tak bisa menjadi contoh orang tua yang benar. Padahal dia sendiri yang membuat Syara keguguran, sekarang menantunya sulit hamil malah disalahkan. Lalu bagaimana tanggapannya setelah tahu Syara akhirnya bisa hamil?” tanya Om Gustav yang ingin tahu kelanjutan cerita rumah tangga Bara.


“Haris belum tahu, Yah. Kata Yesa, Syara kembali ke unitnya sebelum Bara pulang. Tapi tadi pagi Bara ke rumah mamanya karena dihubungi oleh ARTnya kalau mamanya sakit,” info Haris.


Haris juga menjelaskan bahwa saat mereka akan berangkat makan malam, motor Haris yang dipinjamkan Bara belum terlihat di parkiran. “Mungkin dari rumah mamanya, Bara langsung ke kantor dan belum pulang.”


Om Gustav menggelengkan kepalanya berkali-kali. “Kasian Syara.”


###


Sementara itu, Bara yang baru sampai di parkiran apartemen, bergegas menemui istrinya karena ia sedikit terlambat pulang.


“Syara,” panggilnya saat membuka pintu.


Terlihat Syara sedang asyik menonton televisi dan makan. “Kok baru pulang? Aku sampai makan duluan karena sudah lapar.”


Bara tersenyum karena istrinya ternyata baik-baik saja. “Maaf, Sayang. Tadi aku ada lembur sebentar. Memang sudah seharusnya kalau lapar kamu segera makan, kasian si kembar kalau sampai kelaparan.

__ADS_1


Syara meminta Bara untuk segera mandi dan makan makanan yang sudah ia pesan. Namun, Bara menolak dan ingin mereka membicarakan tentang mamanya. Bara duduk di sebelah Syara dan mengusap lembut kepala istrinya.


“Ada yang mau aku bicarakan,” ucap Bara pelan.


Bara pun menjelaskan tentang percakapannya dengan sang mama tadi pagi. Ia juga bertanya pada Syara apakah bersedia kembali ke rumah mamanya atau tidak. Bara pun juga mengatakan bahwa ia tak akan memaksa, semua keputusan diserahkan pada istri tercintanya.


Syara menghentikan makannya dan meminum segelas air putih di atas meja. “Berkat mama juga aku bisa hamil, kalau bukan karena kerasnya mama yang memerintahku untuk patuh pada aturannya, mungkin aku belum hamil juga sampai sekarang, karena badanku yang masih belum sehat. Ya walaupun, caranya salah karena dia menuntutku untuk segera punya anak. Tapi aku sudah memaafkan mama, meskipun masih ada sakit hatiku. Tapi, kalau memang mama sakit dan mau kita tinggal di sana, aku tak masalah. Asal, mama benar-benar berubah, karena aku akan sangat tersiksa kalau mama menyakitiku lagi dan bukan hanya aku saja yang sakit, anak-anak kamu juga.”


Bara mencium tangan Syara. “Aku bisa pastikan kalau mama masih berani menyakiti kamu juga anak-anak kita, aku tidak akan mau mendengarkan mama lagi dan kita pindah di sini selamanya.”


Syara tersenyum. Bara pun berterima kasih pada istrinya yang begitu sempurna. Mamanya begitu jahat pada Syara namun ia tetap mau memaafkan. Bara juga berjanji akan menjadi garda terdepan ketika mamanya menyakiti Syara.


“Kalau mama masih berulah, kita pergi. Kalau mama sakit lagi, kita bawa saja ke rumah sakit, tapi tidak akan pernah tinggal 1 atap lagi dengannya,” lanjut Bara mencium kening istrinya.


“Om kapan ke Jakarta?” tanya Bara sembari mempersilakan Haris dan Om Gustav duduk.


“Tadi siang, Bar. Kita baru saja makan malam karena Om rindu sekali dengan Yesa, sekaligus ingin memastikan keadaanya baik-baik saja,” jawab Om Gustav ramah.


“Haris pasti bisa menjaga anak dan calon cucu Om,” ucap Bara.


Om Gustav juga menanyakan keadaan Syara dan kehamilannya, juga tentang mama Bara. “Om dengar mama kamu sakit?”


Bara mengangguk. Bara menceritakan kondisi mamanya dan permintaan sang mama. rencananya, besok pagi mereka akan pulang ke rumah.

__ADS_1


Om Gustav mewanti-wanti Bara agar selalu siaga menjaga Syara juga kandungannya. “Mengingat kejadian saat Syara keguguran waktu itu, Om tidak bisa membayangkannya, makanya sampai sekarang Om takut kalau amit-amit Yesa akan mengalami hal itu.”


Om Gustav memandang Syara penuh kasih sayang yang tulus bak seorang ayah yang memandang tulus anak perempuannya. Tiba-tiba, air mata Om Gustav jatuh membasahi pipi. “Om tidak tega melihat kondisi Syara saat itu, malam-malam ia berjuang sendiri menahan sakitnya, saat kamu dan mama kamu malah tidak ada di rumah untuk menolongnya. Ayah Syara pasti sedih di sana.”


Syara tersenyum kecil dan kembali mengucapkan rasa terima kasihnya pada Om Gustav. “Kalau waktu itu Om Gustav tidak segera datang, mungkin sekarang Syara sudah tidak ada di sini.”


Bara memeluk istrinya dan meminta maaf padanya. “Aku tidak bisa kehilangan kamu.”


Setelah berbicang-bincang selama hampir 30 menit, Haris dan Om Gustav berpamitan karena tak ingin berlama-lama meninggalkan Yesa sendiri.


###


Keesokan paginya, Bara dan Syara bersiap untuk pulang ke rumah Bara. Mama Bara menyambut kedatangan mereka begitu hangat. Syara yang masih trauma dengan sikap mertunya, berdiri di belakang Bara. Bara menenangkan Syara agar tidak takut pada mamanya. Mama Bara kemudian meminta maaf pada menantu satu-satunya itu atas semua kesalahannya.


“Sehat-sehat ya cucu Oma,” ucap mama Bara mengelus perut Syara.


“Kita sarapan yuk,” ajak mama Bara.


Bara bergegas mengajak Syara untuk segera sarapan karena mereka belum sempat sarapan saat di apartemen, dan karena Bara juga harus segera berangkat ke kantor.


"Kamu harus banyak makan, cucu-cucu Oma butuh asupan yang sehat dan bergizi," ujar mama Bara yang mengambilkan makanan untuk menantunya.


Syara tersenyum mengangguk dan masih terdiam. Namun, hatinya menggumam berisik. Apakah mama mertuanya benar-benar berubah? Atau hanya baik karena cucu-cucunya saja?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2