Istri Sempurna Untuk CEO Munafik

Istri Sempurna Untuk CEO Munafik
Pernikahan Haris dan Yesa


__ADS_3

1 tahun berlalu, kehidupan rumah tangga Syara dan Bara semakin harmonis, meski mereka harus berjuang keras untuk mendapatkan momongan. Syara maupun Bara sama-sama merubah pola hidup mereka agar lebih sehat. Bara juga beberapa kali mengajak Syara liburan ke luar kota, luar pulau, bahkan ke luar negeri. Itu semua Bara lakukan agar Syara selalu dalam keadaan bahagia.


Tepat 1 tahun setelah sejarah masa lalu terungkap, hari ini teman baik Bara, Haris, akan menikah dengan Yesa, salah seorang anak gadis Om Gustav. Setelah melalui proses yang cukup panjang, Haris berhasil meyakinkan Om Gustav bahwa ia benar-benar serius ingin bersama Yesa selamanya. Jatuh cinta pada pandangan pertamanya itu lah yang membawanya ke tahap ini.


Bara dan mamanya yang sudah bersiap berangkat ke acara pernikahan Haris dan Yesa, menunggu Syara yang masih merias wajahnya.


“Jangan sering bepergian, yang ada kalian capek dan makanan juga tidak terjaga, jadi semakin sulit punya anak. Program hamil itu banyak usahanya, bukan banyak liburannya,” tegur mama Bara pada anaknya.


“Dengan kita berlibur, pikiran kita tenang dan bahagia, Ma. Kata dokter, terutama Syara, harus tetap merasa bahagia biar lebih mudah prosesnya,” jawab Bara memberikan pengertian.


“Tapi mana buktinya, sudah 1 tahun masih belum ada hasilnya ‘kan? Padahal sudah 4 hingga 5 kali kalian liburan,” sahut mama Bara mempertahankan pendapatnya.


“Sudah lah, Ma. Kita sedang berusaha, jangan menuntut terus. Kita liburan agar bahagia, di rumah malah mendapat tekanan dari mama. Mama ingat ya, dulu waktu Syara hamil cepat anak Bara, siapa yang membuat dia keguguran karena banyak masalah? Mama!” kesal Bara pada mamanya yang terus membahas hal ini.


Tak lama, Syara keluar kamar dan menuruni tangga menghampiri suami dan mertuanya.


“Sudah siap, yuk berangkat,” ajak Bara pada mama dan istri cantiknya.


Mereka pun berangkat menuju gedung pernikahan Haris dan Yesa.


“Ternyata perjodohan kamu berhasil ya, mereka akhirnya menikah juga,” Syara membuka obrolan selama di perjalanan.


“Karena aku tahu kalau tatapan Haris sudah seperti itu, artinya dia ada rasa, aku hafal betul sama dia,” jawab Bara penuh keyakinan.


“Asal jangan keduluan mereka saja yang tiba-tiba punya anak,” sahut mama Bara yang duduk di kursi belakang.


“Ma, anak itu rezeki, tidak bisa diburu-buru dan tidak bisa dipaksakan, semua sudah ada waktunya,” ucap Bara memberi pengertian pada mamanya. “Lagi, pula, kalau mereka lebih dulu memiliki anak ya bagus dong, tidak ada yang salah.”


Syadira hanya terdiam tak ingin ikut berbicara.


###

__ADS_1


Haris dan Yesa juga orang tua Haris dan Om Gustav sudah bersiap di pelaminan. Sebelum para tamu undangan datang, Bara menyalami dan memberikan selamat pada mereka.


“Haariiis.” Bara memeluk teman baiknya itu begitu lama. “Selamat ya, Bro! Kita jadi keluarga sekarang, titip sepupuku ya.”


“Siap, Bos!” jawab Haris membalas pelukan Bara.


Setelah selesai bersalaman, Syara juga Bara dan mamanya berkumpul di meja VIP yang sudah disiapkan untuk keluarga. Tak lupa, Haris juga mengundang Raya dan Selena yang datang bersama tunangannya. Selesai bersalaman, mereka bertiga menghampiri meja Bara. Bara sengaja menjaga jarak dan bersikap ketus dengan Raya. Mereka sempat mengobrol sebentar, lalu Raya dan Selena juga tunangannya berpindah ke meja di sebelah meja Bara.


Beberapa menit kemudian, mama Bara berpindah duduk ke meja Raya. Mereka berbincang dan terlihat bercanda. Syara hanya diam melihat keakraban mereka. Memang, semenjak Syara dinyatakan sulit hamil, sikap mama Bara sedikit lebih dingin padanya.


Hingga hampir 2 jam lamanya, Bara izin pamit pada Om Gustav juga Haris karena Syara tak boleh kelelahan. Bara juga tak ingin melihat istrinya sedih melihat mamanya begitu baik pada Raya. Mereka pun memutuskan untuk pulang ke rumah.


Sampai rumah, Syara mengajak Bara segera masuk ke kamar. Syara membisikkan sesuatu kepada suaminya. “Walaupun soal dendam sudah selesai, tapi aku rasa mama kamu tetap ingin kamu menikah dengan Raya, apalagi setelah tau kondisiku begini.”


“Sssttt, bicara apa kamu ini? Kita hanya butuh waktu sebentar lagi, sabar ya sama mama. Kalau kamu sudah tidak nyaman di sini, kita pindah ke apartemen,” tawar Bara menguatkan istrinya.


“Tapi, Bar, aku merasa mama terlalu menuntutku. Aku nggak tahu lagi seandainya takdir kita punya anak baru akan terwujud beberapa tahun lagi, mama pasti tidak mau menunggu,” ujar Syara pesimis.


“Maafkan aku.” Syara menangis di pelukan Bara. “Kalau kamu juga sudah tidak sabar menunggu, kamu boleh tinggalkan aku, Bar.”


“Tidak akan. Aku akan tetap di sini. Kita akan terus bersama-sama, Sayang,” jawab Bara terus menenangkan istrinya.


###


Mama Bara begitu sibuk memasak sepulang dari pesta pernikahan Haris. Bara dan Syara pun dibuat bingung untuk siapa mama memasak begitu banyak. Bara dan Syara yang sudah bersiap akan makan malam pun, tidak diperbolehkan menyantap hidangannya.


“Tunggu dulu, belum lengkap!” tegas mama Bara.


Bara yang penasaran, menanyakan siapa tamu yang akan datang hingga mamanya memasak cukup banyak.


“Raya mau ikut makan malam di sini, mama yang undang,” jawab mama Bara tanpa perasaan.

__ADS_1


Bara pun naik darah mendengar sang mama mengundang Raya tanpa sepengetahuannya. “Apa maksud mama mengundang Raya ke sini?”


“Biar ramai saja, Bar,” jawab mama Bara singkat.


Syara pun mengusap-usap lengan Bara agar menurunkan emosinya.


Selang beberapa menit, Raya datang dengan baju cantiknya, namun sedikit terbuka. Setelah mengobrol beberapa menit, mama Bara pun segera mempersilakan mereka makan. Tapi, mama Bara hanya mengizinkan Syara memakan sebagian dari masakannya.


“Syara, kamu ‘kan sedang diet, sedang menjaga pola makan, jadi makan sayurnya saja ya,” pinta mama Bara pelan.


Bara yang cepat marah pun tak terima dengan ucapan mamanya. “Menjaga pola makan tidak harus begini, Ma. Apa gunanya makan makanan yang sehat tapi pikiran dan hati menjadi tidak waras!”


“Bara, kamu jangan marah-marah terus kenapa, sih?” tegur mamanya.


Tanpa berpikir panjang, Bara mengajak Syara kembali ke kamar. Syara pun dibuat bingung oleh tindakan suaminya. Bara meminta Syara segera berganti baju dan pergi.


“Kita makan di luar,” pinta Bara sembari berganti celana panjang dan mengenakan jaket.


Syara pun cepat-cepat berganti pakaian dan mengikuti perkataan suaminya.


Setelah semuanya siap, Bara menggandeng tangan Syara keluar kamar menuruni tangga dan keluar rumah, tanpa berpamitan pada mama Bara.


“Bar, kalau mama marah bagaimana?” tanya Syara yang tak enak pergi tanpa pamit.


“Mama yang lebih dulu membuat aku marah. Mama tidak menghargai aku dengan mengundang Raya tanpa bicara,” jawab Bara dengan melajukan mobilnya.


Melihat suaminya yang tengah naik pitam, Syara mencium pipi Bara lembut saat mobil mereka berhenti di lampu merah. Mimik wajah Bara berubah seketika ketika mendapat ciuman mesra dari istrinya. Syara meminta Bara untuk tetap tenang dan jangan emosi, karena akhir-akhir ini Bara sering sekali marah.


“Katanya hormon bahagianya harus diaktifkan, tapi hormon marah-marah kamu yang aktif terus,” goda Syara.


Bara mencium tangan istrinya dan memandangnya penuh kasih sayang. “Hanya kamu yang mampu menepis amarahku.”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2