
"Bar, sori, mungkin 2 hari ini aku akan sibuk, jadi baru bisa bantu kamu setelah pekerjaan aku selesai, tapi aku akan terus pantau dari sini. Aku juga sudah meminta saran dari kuasa hukum untuk membantu menyeleseian masalah ini.” Haris memberitahu Bara kalau ia tak akan bisa membantunya selama beberapa hari ini.
“Sip, Har. Tidak apa. Aku tak enak sudah meminta banyak waktumu untuk mengurusi masalahku,” jawab Bara dalam panggilan teleponnya bersama temannya itu.
Bara merasa kebenaran masa lalu pasti akan segera terungkap dengan sendirinya. Kini, ia ingin fokus pada Syara. Memperbaiki hubungan rumah tangganya yang hancur karena dendam sang mama. Terlebih, masalah baru muncul ketika mamanya berubah haluan ingin ia menikah dengan Raya dan bercerai dengan istrinya. Entah rencana apa lagi yang sedang sang mama jalankan.
Setiap hari, Syara berusaha mengembalikan kewarasan dirinya setelah masalah datang bertubi-tubi. Mulai dari keguguran yang ia alami, dan puncaknya adalah ketika mertuanya menjual rumah orang tuanya secara diam-diam. Sekarang, masalah datang lagi ketika mama Bara meminta menceraikannya agar bisa menikah lagi dengan wanita pilihan mama Bara.
Syara ingin melakukan apa yang pernah ia lakukan dulu saat mencari perhatian Bara, hal-hal yang disukai suaminya. Membuatkan sarapan telur kesukaan Bara, menyiapkan teh lemon hangat sepulang kantor, berpenampilan wangi juga cantik, dan mengusap punggung Bara ketika sedang mengobrol. Tak peduli dengan mertuanya yang kini semakin terlihat kejam, ia hanya ingin menikmati rumah tangganya yang kian membaik. Apalagi, saat ini ia tak sendiri dalam menghadapi badai pernikahannya, ada yang akan menemani dan menguatkannya.
Pagi hari sebelum Bara berangkat ke kantor, entah mengapa ada wanita itu lagi datang ke rumah. Raya dengan berani datang ke rumah agar bisa berangkat bersama Bara, padahal kantor mereka berbeda. Dengan tegas Bara menolak Raya dan membentaknya, melakukan apa yang pernah dilakukan pada Syara dulu.
Syara hanya tersenyum tipis melihat Bara begitu keras pada Raya. “Dulu aku yang begitu, sekarang gantian kamu Raya.”
“Bar, dulu kamu yang memintaku untuk kita berpasangan karena kamu menyukaiku dan tak menyukai Syara, kita bahkan bekerja keras agar dia mau menggugat kamu karena mama kamu pasti tak mengizinkan kalian bercerai saat itu. Sekarang, mama kamu sudah mengizinkan kamu bercerai dengan Syara dan setuju kita menikah, tapi kenapa kamu malah berbalik arah?” Raya tak habis pikir dengan perubahan sikap dan perasaan Bara.
Bara menjelaskan sekali lagi bahwa ia tak memiliki perasaan apa pun dengan Raya, semua hanya pura-pura dan kini ia hanya ingin memperbaiki semuanya dengan Syara karena perasaannya yang sesungguhnya hanya lah kepada istrinya.
“Aku tidak terima kamu memanfaatkan aku, aku minta kamu bertanggung jawab atas kepura-puraanmu. Dulu aku sudah bisa mengikhlaskan perasaanku ketika kamu menikah dengan orang lain, tapi ketika kamu memintaku untuk bersamamu karena ternyata kamu juga menyukaiku dan kita terus bersama kala itu, perasaanku kembali tumbuh hingga sekarang pun tak pernah berhenti!” aku Raya akan perasaannya.
__ADS_1
“Apa susahnya kembali mengikhlaskan? Apa yang harus aku tanggung sedangkan ini hanya perasaanmu sendiri. Apa bedanya dengan orang-orang yang ditolak cintanya? Mereka bisa move on pada akhirnya. Kamu saja yang berlebihan!” Bara pergi meninggalkan Raya di rumahnya setelah ia berpamitan pada sang mama dan istrinya.
Syara yang enggan meladeni Raya, kembali menuju kamarnya. Namun, teriakan Raya membuat Syara mengurungkan langkahnya untuk menaiki tangga. Ia menoleh ke arah Raya.
“Ini semua gara-gara kamu! Dasar wanita kampungan! Andai kamu tak menikah dengan Bara mungkin sekarang aku hidup bahagia dengannya! Bara tak pantas bersamamu!”
Syara hanya tersenyum sengit. “Salahkan Mama dong kan Mama yang memaksa kami menikah. Lagi pula, kalau pun Bara tak menikah denganku, belum tentu ia akan menikahimu, nyatanya Bara tak pernah ada perasaan apa pun denganmu. Dulu memang kami menikah tanpa cinta dan Bara terus menyakitiku tapi justru dia akhirnya menyukaiku. Sedangkan dulu, Bara begitu baik padamu dan kalian sering bersama, tapi apa, Bara tak sedikitpun menaruh hati padamu. Artinya, Bara memang benar-benar tak pernah menyukaimu!”
Mama Bara menengahi pertikaian mereka. “Mungkin dulu seharusnya Mama meminta Bara juga menikahi Raya agar pembalasan dendam Mama semakin sempurna, dan tak lupa untuk segera menalakmu biar kamu tau bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang kamu sayang.”
“Tanpa Mama meminta Bara meninggalkan Syara, Mama sudah membuat Syara kehilangan seseorang yang Syara sayang, ibu Syara yang Mama buat meninggal! Entah terbuat dari apa hati Mama, padahal kita sama-sama perempuan. Kasian Bara, dia hidup dikelilingi wanita-wanita jahat yang ambisius!” Syara menaiki tangga menuju kamarnya dan meninggalkan Raya juga mertuanya.
Raya mengikuti permintaan mama Bara. Setelah ia meminta temannya untuk mengizinkannya, ia pergi bersama mama Bara. Mama Bara seakan terus berusaha menghibur Raya.
###
Saat malam hari, Raya dan mamanya belum pulang juga. Bara yang sudah lebih dulu sampai di rumahnya, tak ingin ambil pusing dengan sikap sang mama. “Mereka tidak macam-macam sama kamu ‘kan?”
Syara menggeleng. Ia hanya mengulangi ucapan mertuanya tadi pagi dan melaporkan bahwa mama Bara dan Raya sedang pergi sedari pagi entah ke mana. Syara juga meminta Bara untuk mereka tinggal di apartemen Haris sementara waktu sampai semua masalah ini terungkap.
__ADS_1
“Iya, nanti kita pindah ke sana ya, nanti aku coba izin sama Haris dulu. Aku juga sudah mengirim orang untuk melakukan negoisasi dengan penghuni rumah orang tua kamu. Setelah mereka setuju dengan penawaran harganya, rumah itu akan kembali,” ucap Bara membuat Syara begitu bahagia.
Syara memeluk suaminya itu. “Tapi, Bar, kalau harga yang mereka minta terlalu tinggi, lebih baik kita pakai untuk membeli rumah di sini saja, biar kita tak tinggal bersama Mama lagi. Mama kamu tetap ingin membalas dendamnya padaku.”
Bara mengusap-usap kepala Syara. “Tidak mau! Aku mau rumah orang tua kamu harus kembali dan aku juga akan membeli rumah di sini untuk masa depan kita.”
Syara memeluk Bara semakin erat. “Terima kasih, Bar.”
“Apa yang aku lakukan, belum dapat menebus semua kesalahanku kepadamu,” ucap Bara tersenyum lebar.
Tiba-tiba, ponsel Bara berdering. Haris memanggil. Bara seakan teringat sedari tadi Haris meneleponnya tapi belum sempat ia angkat dan menghubunginya kembali, karena kesibukan hari ini, juga karena Bara sedang menyetir.
“Bar, beberapa hari ini, setiap aku lewat depan rumah Om Gustav, rumahnya selalu tertutup tak seperti biasanya, tetangganya bilang kalau mereka sudah beberapa hari ini pergi. Aku juga mencari di kantornya, info yang aku dapat dia telah berpindah penempatan, tapi kantornya tidak mau memberitahukan di mana, dengan alasan privasi karyawan. Kenapa bisa tiba-tiba?” lapor Haris saat menghubungi Bara malam itu.
Bara seakan membeku. “Apa jangan-jangan benar Om Gustav yang menukar obat papa?”
“Har, sepertinya kita terlambat.”
...****************...
__ADS_1