
Syara sudah tak sabar menunggu Bara pulang dari kantor. Ia ingin segera memberitahukan berita bahagia ini pada suaminya. Bahkan, Syara sudah menelepon Bara hingga berkali-kali hanya untuk memintanya cepat pulang.
Tak lama, Bara datang dan Syara langsung memeluknya.
“Ada apa, Sayang? Apa yang terjadi?” Bara tak paham akan maksud istrinya itu.
Syara menunjukkan sebuah alat tes kehamilan yang menunjukkan 2 garis vertikal berwarna merah “Aku hamil!”
Bara hanya bisa melongo saking bahagianya dan mulutnya tak dapat mengeluarkan sepatah kata pun. Ia pun langsung memeluk istrinya lagi. “Kamu serius?”
Syara mengangguk. “Tapi…”
“Tapi apa?” Bara mulai khawatir ada kabar buruk yang menyertainya.
“Aku hamil kembar! Usianya baru 5 minggu, jadi jenis kelaminnya belum terlihat,” ujar Syara bahagia.
Bara tertawa begitu puas dan mereka terus berpelukan sembari mengucap syukur yang tak ada henti-hentinya. Namun, tiba-tiba Bara meneteskan air mata. Diusapnya air mata itu oleh Syara.
“Kamu tidak bahagia?” Syara berganti mencemaskan suaminya.
Bara menggeleng. “Aku sangat bahagia karena kita langsung mendapatkan titipan 2 malaikat kecil. Kita jaga sama-sama ya. Tidak perlu memberitahu Mama, biarkan kita bertemu dengannya kalau perutmu sudah semakin membesar.”
Syara mengangguk. Syara juga menceritakan awal mulanya ia merasa mual hingga dokter memberikan vitamin. Setelah diperiksa ternyata dirinya tak sedang haid, melainkan flek yang keluar karena kehamilannya. Dokter juga meminta ia tetap menjaga pola hidup sehat dan makanan bergizi serta menghindari aktifitas yang membuatnya kelelahan. Tak lupa, dokter juga membekali obat penguat kandungan.
__ADS_1
Mendengar cerita istrinya, Bara begitu ingin menjaga Syara dengan ketat. Syara tidak boleh sampai merasa lelah dan tidak boleh ada yang mengganggu pikirannya. Syara harus selalu bahagia agar janin kembarnya selamat.
Syara juga menceritakan tentang mama Bara yang menghubunginya hanya untuk memaki. Bara pun meminta untuk memblokir nomor tersebut. Ia tak mau jika istrinya mengalami keguguran untuk kedua kalinya hanya karena ulah sang mama.
###
Keesokan paginya, Bara meminta Syara agar berada di apartemen Haris bersama Yesa, sampai ia pulang kantor. Entah mengapa, semenjak mengetahui istrinya sedang hamil anak kembar, Bara terus mengkhawatirkan Syara. Untuk itu, jika Syara bersama Yesa, setidaknya andai terjadi apa-apa dengan Syara, ada Yesa yang akan menghubunginya.
“Syara biar di sini saja bersama Yesa ya, Har. Biar mereka saling menjaga, karena aku takut mama meneror kami. Apalagi, Syara sedang hamil, aku tidak mau terjadi apa-apa dengan kandungannya,” izin Bara pada Haris.
Haris pun ikut sumringah mendengar berita kehamilan Syara dan mengucapkan selamat pada mereka berdua. Haris juga menyetujui saran Bara dan mempersilakan Syara tetap berada di apartemennya sampai Bara pulang kantor. Bara juga meminta agar istrinya memesan makanan melaui online untuk makan siang nanti. Haris pun memberikan saran agar mereka tak turun ke bawah saat mengambil makanan, namun Haris akan meminta satpam untuk mengantarkannya ke unit mereka. Mereka pun berpamitan untuk segera berangkat bekerja.
Saat di parkiran apartemen, ponsel Bara berdering.
“Mas Bara, Ibu sakit, Mas. Vertigonya kambuh, dan tensinya naik,” lapor ART di rumah Bara.
“Har, jangan beri tahu Syara soal ini ya, aku takut dia ikut khawatir,” pesan Bara pada Haris.
Haris mengangguk dan mempersilakan Bara untuk segera melajukan motornya.
Bara tiba di rumahnya setelah 20 menit melawan kemacetan jalanan di pagi hari. Setelah memarkir motor, ia langsung masuk ke dalam rumahnya dan menghampiri ART nya yang tengah cemas di depan kamar mamanya. Bara pun segera memasuki kamar sang mama.
“Bara,” ucap mama Bara lirih.
__ADS_1
“Mama kenapa? Kita ke rumah sakit ya, Ma,” bujuk Bara karena melihat wajah mamanya yang pucat dan lemas.
“Mama mau kamu di sini, jangan tinggalkan Mama,” pinta mamanya lemah tak bertenaga.
Bara yang awalnya tak ingin memberitahukan tentang kehamilan Syara, namun ia rasa saat ini adalah momen yang tepat untuk mengatakannya.
“Ma, Bara meninggalkan Mama karena kesalahan Mama sendiri, sikap Mama sendiri yang melukai istri Bara hanya karena tidak sabar menunggu Syara hamil. Bara juga sudah memperingatkan Mama untuk berubah kalau memang mau Bara tetap di sini, tapi Mama tetap saja seperti itu. Semua itu ada waktunya, Ma. Mama tahu, Syara hamil anak Bara, Mama akan punya cucu kembar,” ungkap Bara pada Mamanya.
Wajah mama Bara yang tengah lemas pun tampak berseri setelah mendengar berita dari anaknya. “Kamu tidak bohong, Bar?”
Bara menggeleng. “Kali ini, Bara akan benar-benar menjaga kandungan Syara, Ma. Bara tak ingin Syara mengalami keguguran untuk kedua kalinya lagi, apalagi, janin yang dikandung Syara ada 2. Jadi, Bara akan menjaga Syara dari siapa pun yang akan menyakitinya, termasuk Mama.
Mama Bara menangis dan mengatakan tak akan menyakiti Syara lagi. Ia sungguh-sungguh berjani pada Bara akan berubah baik pada menantunya itu. Mama Bara juga meminta Bara untuk kembali ke rumah agar mamanya juga bisa menjaga kandungan Syara dengan baik.
“Bara akan ikut apa kata Syara, Ma. Kalau Syara tidak mau, Bara juga tidak akan tinggal di sini. Bukan karena Bara durhaka, namun Mama harus sadar diri dengan apa yang telah Mama lakukan padanya. Syara sudah cukup sabar dengan terus memafkan Mama, bahkan dulu saat Mama selalu menyakitinya, Syara tetap memikirkan keadaan Mama,” tegas Bara berusaha memberikan pengertian pada Mamanya.
“Bara sebenarnya mau saja menjaga Mama di masa tua Mama, tapi kalau sikap Mama masih seperti itu, mau Bara menikah dengan Raya sekali pun, dia juga tidak akan betah tinggal dengan mertua seperti Mama,” lanjut Mama.
Mama Bara tak berhenti mengangis mendengar ucapan anaknya. Ia menguatkan tubuhnya untuk bangun dan memeluk Bara. Bara pun membantu mamanya dan membalas pelukannya.
“Bara, maafkan Mama. Mama tidak mau kehilangan kamu, Mama tidak pernah berjauhan dengan kamu selain saat kamu sedang kuliah di luar,” ucap Mamanya dengan penuh kelembutan.
Bara memandang wajah sang Mama dengan penuh iba. “Andai Mama tidak memperlakukan istri Bara seburuk itu, mungkin sekarang kita bertiga akan menjadi keluarga, Mama punya 2 anak dan akan memiliki 2 cucu. Kita akan bahagia, Ma. Keputusan untuk tinggal dengan Mama lagi, akan Bara diskusikan dengan Syara dulu, Ma, karena bagaimana pun, Syara adalah istri Bara.”
__ADS_1
Mama Bara mengangguk dan meminta Bara menyampaikan permintaan maafnya pada Syara.
...****************...