Istri Sempurna Untuk CEO Munafik

Istri Sempurna Untuk CEO Munafik
Menjemput Mama


__ADS_3

“Mama pulang hari ini, Bar?” tanya Syara yang masih berusaha baik pada suaminya itu.


“Iya, aku dan Raya akan jemput Mama di bandara,” jawab Bara cuek.


“Memangnya nggak apa-apa kalau Mama tahu kamu jemput sama Raya?” tanya Syara yang merasa ada yang aneh karena biasanya Bara tak seberani ini membawa teman wanitanya bertemu sang Mama.


Bara yang tak menjawab pertanyaan Syara, berlalu pergi bersama Raya yang baru saja menuruni anak tangga dengan membawa tas besarnya.


“Makasih ya, Ra. Lain waktu semoga aku bisa menginap di sini lagi. Yuk sayang berangkat takut Mama menunggu lama,” ajak Raya merangkul pinggang Bara.


“Bereskan barang-barang kamu dan pindahkan lagi ke kamarku, aku gak mau mama bertanya-tanya!” perintah Bara seraya berlalu pergi meninggalkan Syara.


Mereka berlalu tanpa berpamitan pada Syara. Seolah dia benar-benar tak dianggap.


Tiba-tiba, Syara mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menelepon Haris. Syara meminta Haris mengikuti mereka sampai bandara. Syara menceritakan perasaan yang ia rasakan bahwa ia ingin tahu bagaimana reaksi Mama Bara saat mengetahui Bara bersama wanita lain menjemputnya. Syara berpikir apa jangan-jangan Bara dan Raya nekat menunjukkan hubungan mereka agar Mama Bara mau merestui perceraiannya.


Haris yang mengiyakan permintaan Syara, segera menuju bandara.


###


Sampai bandara, Haris yang mengenakan jaket kulit dan topi hitam, tak sulit rasanya menemukan terminal kedatangan Mama Bara. Ya, benar saja, pertemuan mereka bertiga dengan cepat tertangkap mata Haris. Tak ada yang aneh dengan sikap Mama Bara saat Raya ikut menjemputnya bersama Bara. Haris pun dengan cekatan mengikuti mobil Bara.


Selama di dalam mobil, Haris terus menelepon Syara untuk memberikan informasi yang didapatnya. Syara pun meminta Haris untuk pulang karena Syara hanya ingin tahu bagaimana reaksi mertuanya saat Bara menjemputnya bersama wanita lain. Namun Haris tak mengindahkan perintaan Syara. Haris terus memutuskan tetap mengikuti mobil Bara karena tau bahwa yang mereka lalui bukan arah menuju rumah Bara.


Bukannya langsung pulang ke rumah, Bara dan mamanya serta Raya mampir ke sebuah Mall elit. Sudah pasti, dengan bergerilya Haris terus mengikuti mereka. Terlihat mereka mengunjungi butik tas bermerek. Haris yang menunggu dari luar terus memantau apa yang mereka bertiga lakukan. Terkesan aneh bila Mama Bara tak menolak untuk langsung pulang ke rumah, mengingat menantu kesayangannya sedang berada di rumah, sedangkan Bara pergi bersama wanita lain.


Dari luar, Mama Bara dan Raya sudah menenteng paper bag yang sudah bisa dipastikan berisi tas. Haris terus mengikuti mereka hingga berhenti di salah satu tempat makan. Mereka memutuskan untuk makan dahulu. Demi menjaga penyamarannya, Haris sengaja duduk dan memesan makanan di tempat makan yang berdekatan dengan tempat makan mereka. Karena ruangannya terbuka, tak sulit bagi Haris untuk terus memantau mereka.


Keanehan yang dilihat Haris adalah keakraban Mama Bara terhadap Raya. Walaupun sudah mengenal Raya sebagai teman Bara, rasanya Tante Desi tak mungkin akan berlaku seperti itu, terlebih lagi Bara sudah menikah. Tante Desi begitu menyayangi Syara, tak mungkin juga dia akan bersenang-senang bersama anak dan teman wanitanya, bukan menantunya. Otak Haris seolah membeku, karena juga masih menjadi pertanyaan tentang tas yang dibawa Raya dan Mama Bara. Apakah itu untuk Syara, atau justru Syara tak mendapatkan apa-apa?

__ADS_1


Melihat Bara dan kedua orang lainnya keluar dari tempat makan, membuat Haris harus menyudahi santapannya dan kembali mengikuti mereka. Sejujurnya, Haris tak berniat melaporkan apa yang dilihatnya kepada Syara sebelum ia mengetahui betul apa yang sebenarnya terjadi. Namun, tak tega rasanya jika ia harus menyembunyikan ini dari Syara.


“Halo, Ra, maaf ya aku masih mengikuti mereka. Aku liat mereka ke mall untuk makan,” ucap Haris di telepon.


“Oh iya gak apa-apa, Har. Mungkin Mama lapar dan minta berhenti untuk makan. Sekarang kamu di mana, Har?” tanya Syara yang masih ingin berpikir positif.


“Aku masih ikuti mobil Bara, tapi sepertinya mereka sudah mau pulang, tentunya antar Raya dulu. Oh iya, Ra, nanti kabari aku lagi ya apakah Tante Desi atau Bara memberikan kamu hadiah,” pinta Haris saat mengingat tentang tas yang mereka bawa.


Syara tertawa mendengar ucapan Haris. “Kok tiba-tiba nanyain hadiah tuh gimana sih Har maksudnya?”


“Nggak, Ra. Aku cuma pengen tahu aja, mereka bawain kamu hadiah atau nggak,” jawab Haris yang belum mau jujur jika mereka mampir ke toko tas.


“Oke deh, Har. Terima kasih ya,” balas Syara mengakhiri percakapannya di telepon.


20 menit kemudian, Syara mendengar mobil Bara telah sampai di garasi rumahnya.


Syara menyambut Mama Bara dan mencium tangannya. “Hai, Ma. Capek ya, Ma?”


Syara tampak diam bergumam dalam hati saat memperhatikan paper bag yang dibawa mertuanya. “Oh, ini yang dimaksud Haris tadi?”


“Kok diam? Bara nggak macam-macam sama kamu ‘kan?” tanya Mama Bara mengulangi pertanyaannya.


“Oh, nggak kok, Ma. Bara sama Syara baik-baik aja,” jawab Syara dengan melirik Bara yang tampak kesal padanya.


“Ya sudah, mama mau istirahat dulu ya,” pamit Mama Bara berjalan menuju kamarnya.


Syara tak melihat tanda-tanda ia akan diberi hadiah oleh mertuanya itu maupun Bara.


Bara menegur Syara yang terus memperhatikan sang mama. “Liat apa kamu? Iri kamu liat mamaku bawa belanjaan? Makanya kerja! Jangan numpang hidup mulu!”

__ADS_1


Syara menatap Bara yang berlalu meninggalkannya.


Syara tampak mengetik sebuah pesan di ponselnya yang ditujukan kepada Haris. Ia menanyakan apa maksud Haris soal hadiah. Syara pun juga mengatakan bahwa ia tak mendapat hadiah apa-apa dari mertuanya, apalagi dari suaminya yang keras dan kasar itu.


###


Saat Mama Bara sedang menyiapkan makan malam, Syara sengaja ingin bertanya tentang apa yang disampaikan Haris dalam pesan singkatnya.


“Ma, tadi Mama abis belanja ya?” Syara memberanikan diri bertanya pada mertuanya.


“Oh, kamu pasti liat tadi Mama bawa paper bag itu ya? Iya tadi mampir ke mall sebentar karena Mama gak sempat sarapan tadi waktu mau terbang. Terus kita juga mampir ke toko tas tadi karena Raya mau belikan Mama tas, kembaran sama dia juga,” ungkap sang Mama tanpa dosa.


“Oh, gitu,” balas Syara mengangguk.


Syara menatap mata mertuanya itu dengan sedikit beraca-kaca. “Ma, maafin Syara ya nggak bisa jadi wanita seperti Raya yang bisa belikan Mama barang-barang mewah.”


“Hus, bicara apa sih kamu, Syara nggak boleh bilang begitu. Syara itu menantu terbaik pilihan Mama. Jangan berpikir macam-macam ya, Raya cuma mau belikan Mama aja kok, nggak ada maksud apa-apa. Nanti Syara minta Bara belikan juga ya,” ucap Mama Desi mengelus rambut Syara.


“Kenapa harus Bara, suruh dia cari uang sendiri dong, Ma! Dia kan masih muda dan bisa jalan. Masak maunya menumpang hidup dan minta-minta!” sahut Bara menolak membelikan sesuatu untuk Syara.


“Nggak ada yang mau minta sama kamu kok, Bar. Aku juga nggak merasa menumpang hidup di sini karena aku sebagai istri kamu sudah sewajanya kamu menafkahi aku!” protes Syara.


“Mama lihat 'kan, bagaimana menantu pilihan Mama ini bersikap pada suaminya!” bentak Bara yang tak terima Syara selalu melawan ucapannya.


Syara seolah tak sanggup lagi menahan emosinya. “Bukannya kamu yang meminta aku untuk tidak berlaku seperti istri kamu, lalu apa salahnya aku ikuti kata-kata kamu?”


“Sudah, sudah apa-apaan kalian ini? Suami istri kok bertengkar begini? Sudah jangan pada rame, malu kalau didengar tetangga,” Mama Bara melerai perdebatan mereka.


“Maaf, Ma,” ucap Syara sembari pergi meninggalkan mereka di meja makan menuju kamarnya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2