Istri Sempurna Untuk CEO Munafik

Istri Sempurna Untuk CEO Munafik
Memperjelas Kebenaran


__ADS_3

Bara dan Haris menemui Om Gustav di kediamannya.


“Syara aman ya, Bar, di vila sendiri?" Haris memastikan keadaan Syara akan baik-baik saja.


Bara mengangguk. “Aku sudah meminta 2 orang untuk menjaga Syara.”


Beberapa menit kemudian, Om Gustav keluar dari kamarnya dan menghampiri Bara dan Haris yang sudah menunggunya di ruang tamu.


“Halo, Om. Bara sudah lama gak ke sini,” sapa Bara pada adik papanya itu.


Om Gustav tersenyum. “Jadi ada perlu apa kalian sampai mendatangi Om malam-malam begini?”


Bara mulai menanyakan kisah cinta segitiga antara papa dan mamanya juga ibu Syara.


“Seperti yang waktu itu om katakan pada Haris, bahwa memang benar papamu menyukai ibu Syara tapi om tidak tahu apakah perasaannya berbalas atau tidak, tapi yang jelas mamamu marah besar ketika papamu ketahuan selingkuh, bahkan sampai sekarang mamamu sangat membenci ibunya Syara. Lalu, hingga suatu ketika mamamu ingin papa dan ibu Syara berkumpul dengannya juga, di rumahmu yang sekarang kamu tempati,” ungkap Om Gustav.


“Lalu apa yang mereka bicarakan, Om?” Haris begitu antusias mendengarkan cerita Om Gustav.


Om Gustav menceritakan bahwa saat pertemuan dulu, ia sempat mendengar mama Bara mengamuk dan mengintrogasi papa Bara dan ibu Syara. Dan seingatnya, ibu Syara terus mengelak bahwa dia tak memiliki perasaan apa pun pada papa Bara karena ia tak mungkin mengkhianati teman baiknya sendiri. Ibu Syara juga mengatakan bahwa dirinya sudah pernah menegur perilaku papa Bara, tapi papa Bara terus mendekatinya. Hampir setiap hari papa Bara menemui ibu Syara, entah sekadar bertamu atau membawakan makanan untuk Syara dan ibunya.


Singkat cerita, setelah papa Bara bisa mendinginkan keadaan, mereka saling berbicara baik-baik selayaknya orang tua ketika menyeleseikan masalah. Ibu Syara juga sempat membuatkan teh untuk mereka bertiga agar suasana semakin hangat. Papa Bara juga pada akhirnya meminta maaf pada keduanya, dan berjanji tak akan mengkhianati mama Bara lagi. Setelah itu, karena papa Bara belum sempat sarapan dan harus minum obat, maka dia memakan sedikit kue lalu meminum obat yang begitu banyak.


Hanya dalam hitungan menit, papa Bara terjatuh dan tergeletak di lantai dengan mulut berbusa. Seketika itu juga papa Bara langsung dibawa ke rumah sakit oleh Om Gustav yang saat itu juga berada di sana. Ternyata, sampai di rumah sakit, papa Bara sudah dinyatakan meninggal.

__ADS_1


“Om sendiri yang mendengar penjelasan tim dokter kalau papa kamu overdosis, dan juga karena meminum obat yang tak seharusnya diminum bersamaan. Tapi mama kamu tidak bisa menerima alasan itu, hingga akhirnya menuduh ibu Syara lah yang telah meracuninya, dengan tuduhan ibu Syara marah karena papamu lebih memilih mama kamu dan meninggalkannya,” lanjut Om Gustav.


“Menurut Syara, ibunya tidak mungkin sampai tega meracuni apalagi jika hanya karena marah tak terima papa Bara kembali pada istrinya. Buktinya juga beliau mengelak memiliki perasaan pada Om Brama. Kalau menurut Haris, hanya Om Brama yang suka pada ibu Syara, tapi tak sebaliknya.” Haris mengemukakan opininya.


“Om setuju, memang seharusnya semua sudah selesai. Kematian Mas Brama memang sudah takdir, tak ada yang salah di sini. Hanya mama kamu yang masih belum selesai dengan sakit hatinya karena perselingkuhan papa kamu. Harusnya kalau mama kamu mau marah dan ingin menghukum, ya dilakukannya ke papa kamu karena dia yang salah, bukan kepada ibu Syara apalagi Syara yang tak tau apa-apa,” jawab Om Gustav menguatkan opini Haris.


Bara terdiam sejenak dan mulai terpancing emosi pada sang mama ketika mendengarkan penjelasan Om Gustav.


“Bara, sudahi semuanya. Beri tahu mama kamu karena setelah kematin papa kamu, mama kamu juga sudah menghukum ibu Syara hingga ia meninggal dunia. Jadi tak seharusnya mama kamu terus melanjutkan hukumannya pada Syara,” beber Om Gustav.


“Apa, Om?” Bara dan Haris bertanya bersamaan karena terkejut mendengar perkataan Om Gustav.


“Jadi mama yang membuat ibu Syara meninggal dunia?” Bara mempertegas pertanyaannnya.


Bara menunduk menangis mengetahui apa yang telah dilakukan mamanya pada keluarga Syara. Haris kemudian juga menceritakan tentang penjualan rumah orang tua Syara oleh mama Bara. Om Gustav mengecam perilaku mama Bara dan akan menegurnya lagi dengan lebih keras.


“Desi benar-benar keterlaluan. Ambil kembali rumahnya! Kamu harus mengembalikan rumah orang tua Syara pada Syara. Buktikan keseriusanmu dalam memperbaiki hubungan rumah tanggamu dengannya!” perintah Om Gustav pada Bara.


“Bara dan Haris sedang mengusahakan hal itu, Om. Tapi akan lebih sulit dan lama kalau melalui proses hukum,” jawab Haris mengatakan rencananya.


“Tak perlu membawa ini ke hukum, Har. Aku yang akan membeli rumah itu kembali,” sahut Bara penuh tekad.


“Tapi, Bar, tidak bisa semudah itu. Mereka membeli rumah itu dari mama kamu dengan harga murah, kalau kamu membeli lagi rumah itu dari mereka, mereka tidak akan mau karena mereka tak akan menemukan rumah lain dengan harga yang sama murahnya dengan rumah Syara.” Haris menyumbangkan opininya.

__ADS_1


“Aku akan membeli dua kali lipat rumah itu dari harga beli mereka. Dan Mama tak perlu tahu soal ini, aku sudah tak mau melibatkan Mama dalam kehidupanku,” jawab Bara penuh keyakinan.


Karena hari sudah malam, Bara dan Haris berpamitan pulang karena mereka harus segera kembali ke vila yang jaraknya cukup jauh dari rumah Om Gustav.


###


“Mulai besok siang kamu dan Syara tinggal di apartemenku aja, di sana kosong dan mama kamu juga tidak tahu lokasinya dimana, jadi pasti aman. Sambil kita terus mencari tahu apa informasi yang kurang,” ucap Haris yang tengah menyetir.


“Har, kalau capek kita gantian nyetirnya,” tawar Bara.


Haris mengagguk.


“Har, menurutmu, apa lagi yang perlu kita cari tahu? Aku rasa penjelasan Om Gustav sudah cukup jelas, mamaku yang bersalah,” lanjut Bara membicarakan permasalahan yang sedang mereka selidiki.


“Eh tapi, Har, aku merasa sedikit ada yang janggal sama cerita Om Gustav. Waktu di rumah sakit, dia pernah bilang kalau hubungan dia dengan papa tak cukup baik, bahkan hingga sekarang. Tapi kenapa saat meninggalnya papa, dia ada di rumahku ya padahal ‘kan mama hanya meminta ibu Syara dan papa untuk berkumpul membicarakan perselingkuhan papaku.” Bara merasa ada yang perlu diluruskan dari apa yang ia dengar.


Haris tampak berusaha memahami maksud Bara.


“Dan lagi nih, dulu mama pernah cerita kalau saat papa dibawa ke rumah sakit, Mama bersyukur ternyata ada Om Gustav di sana karena dia lah yang menggendong papa masuk ke dalam mobil. Artinya, Om Gustav memang tak ada urusan di sana, tapi kenapa tiba-tiba dia di rumahku,” ungkap Bara yang mencoba mengingat semuanya.


“Itu dia yang harus kita cari tahu. Coba nanti tanyakan pada mamamu apa dia mengundang Om Gustav juga saat itu. Dan yang harus diluruskan juga adalah penyebab kematian papamu yang sebenarnya. Kalau memang karena overdosis, kenapa mama kamu terus menyalahkan ibu Syara? Apa iya mama kamu sengaja membuat kematian papamu sebagai jalan ia balas dendam?” saran Haris dengan serius.


“Ya sambil jalan kita buka pelan-pelan sejarah masa lalu ini. Tapi yang jelas, mulai detik ini aku ingin menebus kesalahanku pada Syara, aku ingin kita memulai kehidupan yang baru, tanpa campur tangan Mama,” ucap Bara optimis.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2