
Sedikit banyak, Bara mulai menyadari perubahan Syara yang menjadi lebih pendiam. Namun, ia tak peduli dengan itu semua. Bara tetap menjadi Bara yang kejam, tak berubah sedikit pun.
Setelah sekian lama Bara tak memberikan kekerasan pada Syara, ia seolah rindu dengan aksinya. Bara yang kesal karena melihat Syara lebih banyak diam hingga cuek padanya pun kembali membentaknya. “Tuli ya kamu! Aku sedang berbicara denganmu bukan dengan tembok! Buatkan aku minuman!”
Syara yang tak banyak bertanya, bergegas membuatkan minuman hangat untuk Bara.
“Aku mau cokelat hangat, bukan teh lemon hangat!” Bara yang biasanya menyukai teh lemon hangat sepulang kerja, tak lagi menginginkannya.
Syara yang tak menjawab bentakan Bara, bergegas membuatkan cokelat panas untuk suaminya.
“Ini yang kamu bilang seorang istri yang bisa mencari uang dan mengurus suaminya?” Bara seolah mencari perhatian Syara.
Syara hanya diam memandang mata Bara. “Aku mungkin bisa mengurus suami, tapi saat bukan kamu lah suamiku.”
Bara meletakkan cangkirnya dengan keras di atas meja. “Apa maksudmu? Mau cerai? Iya?”
“Bukankah itu yang kamu mau? Lakukan jika itu maumu.” Syara pergi meninggalkan Bara sendiri di kamarnya.
Syara tak terlihat kembali ke kamar Bara. Dengan arogan, Bara meminta Syara tidur di kamarnya seperti biasanya. Bara tak rela jika Syara tidur di kasur. Lagi, lagi, tanpa perlawanan dan jawaban, Syara mengikuti perintah Bara untuk tidur di karpet bawah.
###
“Syara sakit, Sayang?” tanya Mama Bara saat melihat muka pucat menantunya itu.
Syara menggeleng.
“Bara, antar Syara periksa dulu ya ke dokter Candi, dia ada praktik pagi kok,” pinta Mama Bara.
“Nggak bisa, Ma. Bara ada rapat pagi ini,” tolak Bara.
“Syara nggak apa-apa kok, Ma, nggak perlu ke dokter. Lagi pula, Bara ‘kan harus antar pacarnya dulu ke kantor, nanti Bara telat kalau juga harus antar Syara ke dokter,” ucap Syara lembut namun penuh arti. Ia pun pergi ke kamarnya, meninggalkan suami dan mertuanya di meja makan.
Syara yang sudah lama tak berbicara pada Haris, ingin sekali bertemu dengannya untuk membicarakan perkara yang sedang mereka selidiki. Haris menyetujui untuk menemui Syara ditempat yang telah ditentukan. Syara yang sudah bersiap, meminta izin mertuanya untuk pergi sebentar.
__ADS_1
“Mau ke mana ya kok sering sekali anak itu keluar?” tanya Mama Bara dalam hati.
Syara yang telah memesan ojek online, bergegas pergi ketika tukang ojek datang menjemputnya. Mama Bara memberi tahu Bara bahwa Syara izin pergi entah ke mana. Seketika, Bara berpikir bahwa Syara akan menemui Haris. Bara yang baru saja sampai kantornya, izin absen rapat pada sekretarisnya dan kembali memacu mobilnya untuk mencari keberadaan Syara. Bara pun seperti cacing kepanasan karena terjebak dalam kemacetan pagi hari.
Syara yang telah tiba di tempat, lagi lagi melihat Haris yang sudah menunggunya.
“Har, kok kamu udah sampai aja?” tanya Syara heran Haris selalu datang tepat waktu.
“Aku ke sini pakai motor, Ra. Biar gak macet aja, kita kan nggak bisa lama-lama. Takut Bara marah kalau tahu kamu menemui aku,” ucap Haris ingin segera memulai percakapannya.
Syara menceritakan tentang perubahan rencananya yang sudah tak ingin lagi meluluhkan hati Bara semenjak kejadian malam itu. Malam di mana dia merasa tak ada harganya dan benar-benar hancur. Syara juga menceritakan tentang Om Gustav yang tak sengaja bertemu dengannya malam itu. Syara juga menanyakan apa langkah selanjutnya yang harus mereka lakukan.
Haris pun menceritakan pertemuannya kala itu dengan Om Gustav.
“Kenapa ya Om Gustav selalu tak sengaja lewat rumah kalian? Rasanya, ini pasti disengaja.” Haris mulai menaruh curiga pada Om Gustav.
“Tapi aku yakin Om Gustav orang baik, Har. Dia seperti memahami perasaanku waktu itu, ekspresi mukanya seperti ketika seorang ayah yang sedang merasakan luka yang dialami anaknya,” ucap Syara mengemukakan pendapatnya.
“Aku nggak menuduh Om Gustav buruk, Ra. Aku hanya merasa Om Gustav tahu banyak soal ini, tapi dia menolak untuk jujur menceritakan semua itu.” Haris mulai mengutarakan kejanggalan yang dirasakannya.
“Aku ingat dulu memang Om Brama pernah membiayai sekolahku sepeninggal ayah, dia juga sering sekali mengantarkan makanan untuk aku dan ibu, bahkan membelikan kami baju. Om Brama memang baik sama kita, beliau banyak membantu kita.” Syara mulai mencoba mengingat bantuan Papa Bara.
“Apa yang kamu ingat lagi, Ra?” Haris mencoba menggali ingatan Syara untuk menemukan titik terang.
Syara yang masih berusaha mengingat, tiba-tiba mendengar Bara memanggil namanya.
“Bukannya istirahat di rumah, malah berduaan di sini. Sudah berapa kali aku bilang jangan temui dia!” amuk Bara.
“Kalau kamu bebas bertemu Raya, apa salahnya Syara menemui aku?” Haris mengalihkan amukan Bara.
“Diam kamu, Har. Kamu sama saja, dasar pengkhianat!” Bara benar-benar murka pada Haris.
Bara kembali menarik tangan Syara memaksanya pulang ke rumah, dan Haris mengikuti mobil Bara.
__ADS_1
“Ah, sakit, Bar.” Kondisi kesehatan Syara yang melemah, membuatnya tak sanggup berbicara keras.
Sesampainya di rumah, Bara mengunci Syara di dalam kamar. “Jangan pernah keluar sebelum aku pulang!”
Haris yang nekat memasuki rumah Bara mengecam aksi Bara tersebut. “Laki-laki macam apa kamu, Bar! Sini lawan aku kalau berani, jangan main kasar sama perempuan,” Haris yang terpancing emosi, menantang Bara.
Mereka pun bertengkar hebat di halaman rumah Bara.
Mama Bara yang mendengar keributan, dengan cekatan lari keluar rumah untuk melerai mereka dan berteriak agar mereka berhenti. “Apa-apaan kalian? Berhenti!”
Bara dan Haris yang sudah sama-sama babak belur pun menghentikan pertiakaian mereka.
“Aku bisa saja laporkan kamu ke polisi dengan pasal kekerasan dalam rumah tangga!” ancam Haris dengan menunjuk muka Bara.
“Kamu pikir aku takut? Aku yang akan menjebloskanmu ke penjara dengan pasal perbuatan tidak menyenangkan!” Bara tak mau kalah mengancam Haris.
“Sudah berhenti! Haris, Bara! Mama bilang berhenti!” Mama Bara hingga kehilangan suaranya untuk membuat mereka berhenti bertikai.
###
Mama Bara mengobati luka pada wajah anak semata wayangnya itu. “Jangan gegabah, Bara. Mama tidak pernah meminta kamu melakukan ini.”
“Bara harus kembali ke kantor, Ma,” pamit Bara yang tak ingin membahas masalah ini lagi.
“Tidak. Kamu tidak boleh ke kantor dalam keadaan seperti ini. Istirahat, Nak, dan urus istrimu itu,” tegas Mama Bara sembari meninggalkannya di sofa ruang tengah.
Bara menuju ke kamarnya, namun tak membukakan pintu yang sedari tadi digedor terus menerus oleh Syara. “Diam!”
Bara terpaksa menuruti perintah mamanya untuk tak kembali ke kantor dalam keadaan seperti ini. Ia menuju kamar yang biasa Syara pakai untuk mengurus baju-baju yang dijualnya. Tak sadar, Bara tertidur hingga hampir sore hari.
Tiba-tiba, ia teringat Syara yang sudah tak terdengar menggedor-gedor pintu kamar. Bara memanggil Syara begitu keras namun ia tak menjawabnya. Bara yang khawatir akan keadaaan Syara, segera membuka pintu kamarnya.
Saat membuka pintu, Bara terkejut melihat Syara tergeletak di lantai. Bara memanggil dan mengguncang-guncangkan tubuh Syara, namun tak ada respon. Bara semakin panik dan takut sesuatu hal buruk akan terjadi pada Syara. Bara menggendong Syara untuk dipindahkannya ke atas kasur. Berkali-kali Bara menggoyangkan tubuh Syara dan memanggilnya, namun Syara tak bergeming, seolah tubuhnya tak dapat merespon.
__ADS_1
"Syara, bangun, maafkan aku."
...****************...