Istri Sempurna Untuk CEO Munafik

Istri Sempurna Untuk CEO Munafik
Terbuka Perlahan Tapi Pasti


__ADS_3

“Desi hentikan semua ini! Jangan menghukum perempuan yang tak bersalah. Syara tak ada hubungannya dengan semua ini. Kematian Mas Brama memang sudah takdir. Kalau kamu tak juga menghentikan semua ini akan aku bongkar rencana kamu!” ancam Om Gustav pada mama Bara dalam panggilan teleponnya.


“Jangan ikut campur, Gustav! Kamu sudah tidak ada urusan apa pun dalam keluargaku! Kalau kamu berani ikut campur, akan ku hancurkan hidupmu dan anak-anakmu!” Mama Bara berbalik mengancam Om Gustav dan mematikan teleponya.


Sementara itu, Bara yang melihat Syara menangis tersedu-sedu di taman, juga tak kuasa menahan tangisnya melihat istri malangnya itu.


Bara menegarkan hatinya agar tak terlihat lemah di hadapan Syara, ia menghapus air matanya, dan menghampiri istrinya. “Ayo pulang!”


Syara menoleh ke arah Bara dan mengusap air matanya. “Untuk apa? Untuk mendapat kekerasan kamu lagi?”


Ponsel Bara berbunyi dan tak sempat menjawab pertanyaan Syara.


“Halo,” jawab Bara dalam panggilan teleponnya.


Syara berdiri dan bersiap meninggalkan Bara setelah mendengar suara Raya yang menelepon Bara. “Kamu urus saja pacar sempurnamu itu, dia lebih membutuhkan kamu!”


“Syara.” Bara memanggil dan mengejar Syara menuju ke rumahnya.


###


Pagi hari, Bara dibuat panik ketika menyadari Syara tak ada di kamarnya. Ia mencari istrinya di kamar sebelah kamarnya, juga di seluruh ruangan rumahnya, Bara juga memanggil-manggil namanya, namun tak menemukan Syara. Tak lupa juga Bara menanyakan pada sang Mama namun tak ada hasil.

__ADS_1


“Kemarin bukannya sudah pulang, Bar?” Mama Bara berbalik bertanya pada anaknya.


“Sudah, Ma. Bara sendiri yang antar Syara pulang dan kita sama-sama masuk ke kamar,” jawab Bara semakin panik.


Bara menelepon nomor Syara, namun tak aktif lalu bergegas keluar rumah untuk mencari Syara.


Sementara itu, Syara yang tengah berada dalam mobil Haris, sedang dalam perjalanan menuju apartemen Haris.


“Kamu bisa tinggal sementara waktu di apartemenku, tidak ada yang tahu aku punya apartemen di sana. Karena aku juga hanya mengunjungi apartemen saat sedang ingin sendiri. Jadi kamu aman, Bara tak akan tahu. Tapi, Ra, kamu tetap harus pulang ke rumah karena Bara tidak akan tinggal diam sebelum kamu ditemukan,” ucap Haris penuh kepedulian.


“Makasih ya, Har. Aku cuma akan tinggal 1 atau 2 hari aja kok. Aku ingin hatiku bisa tenang dari pada aku salah mengambil keputusan,” jawab Syara penuh tekanan.


Karena apartemen Haris berada di perbatasan Jakarta, mereka harus menempuh perjalanan 1 hingga 2 jam karena macet di pagi hari. Selama di perjalanan, Haris menceritakan pertemuannya dengan Om Gustav kala itu. Haris menceritakan semua informasi yang di dapat juga kesimpulan sementara yang ia ambil. Baginya, lebih baik mengatakan sekarang saat bertemu dari pada harus menyampaikan melalui telepon untuk menghindari murka Bara.


Haris mengangguk pelan.


“Bisa jadi, apa yang dilakukan Bara saat ini sama kamu, adalah apa yang dilakukan papanya dulu terhadap mama Bara. Jadi, Tante Desi ingin kamu merasakan apa yang dia rasakan saat itu karena ibu kamu,” ujar Haris mengeluarkan isi pikirannya.


“Ada satu hal lagi yang masih aku dalami, Ra. Tentang kematian Om Brama. Aku takut ada hubungannya juga sama keluarga kamu, sehingga menambah alasan pembalasan dendam Tante Desi sama kamu,” lanjut Haris dengan hati-hati.


“Aku bahkan tidak tahu kalau papa Bara meninggal, karena memang sudah lama aku tidak melihatnya lagi mengunjungi rumahku. Saat itu, ibu juga mulai sakit-sakitan, jadi aku fokus ke kesehatan ibu. Tapi Har, kalaupun memang semuanya terjadi, kenapa harus aku kalau memang mama Bara dendamnya sama ibu,” jawab Syara yang mulai membuka informasi baru untuk Haris.

__ADS_1


“Karena ibu kamu sudah meninggal, Ra. Jadi, satu-satunya orang sebagai tempat untuk membalaskan dendamnya ya cuma kamu. Tapi sepertinya aku harus mengorek informasi dari Om Gustav lebih dalam lagi. Aku yakin dia pasti tahu semuanya karena ia mengenal juga ibumu,” jawab Haris optimis.


“Tapi kamu bilang kalau papa Bara meninggal karena keracunan, apa hubungannya sama keluargaku? Apa iya ibu yang meracuni Om Brama? Ibu tidak seperti itu. Masa iya karena ibu cemburu pada mama Bara terus ingin mencelakai papa Bara itu sangat tidak mungkin, Har, aku tahu betul seperti apa ibuku,” ucap Syara yang tak terima sang ibu disangkut pautkan dengan kematian mertuanya itu.


“Bukan, Ra, tapi begini, aku ada 2 kemungkinan. Pertama, bisa jadi ibu kamu akhirnya juga mencintai papa Bara karena kebaikannya selama ini pada kalian, lalu diam-diam akhirnya ibu kamu ingin mencelakai mama Bara namun, justru papa Bara lah yang kena. Atau kemungkinan keduanya seperti ini, jadi bisa saja mama Bara yang justru ingin mencelakai ibu kamu karena merasa suaminya telah berselingkuh dengan wanita lain, tapi malah suaminya sendiri yang kena racunnya. Tapi, ini hanya hipotesaku aja ya, Ra. Aku nggak bermaksud apa-apa. Bisa jadi juga, kedua pemikiranku itu salah semua.” Haris mencoba menjabarkan apa yang dipikirkannya.


“Mungkin memang masuk akal yang kamu bicarakan, Har. Tapi aku yakin ibu tidak begitu. Ibu bahkan akan sungkan jika harus menganggu suami orang, apalagi suami dari teman baiknya sendiri. Itu sangat tidak mungkin. Bahkan dulu ibu berkali-kali menolak bantuan Om Brama hanya karena tak enak dengan mama Bara, karena yang aku lihat, papa Bara sering datang ke rumah sendirian, tanpa mama Bara,” jelas Syara.


Dari perkataan Syara, Haris semakin optimis dengan opininya tentang perasaan khusus yang dirasakan papa Bara terhadap ibu Syara, walaupun kemungkinan tak mendapat balasan perasaan dari ibu Syara. Oleh karena itu, mama Bara marah karena merasa suaminya telah berselingkuh. Haris yakin sedikit lagi, cerita masa lampau ini akan segera terungkap.


Selesai mengantarkan Syara menuju apartemennya, Haris izin pergi ke kantor dan meninggalkan Syara dengan banyak makanan juga minuman. Haris tak akan mengunjungi Syara sampai Syara sendiri yang meminta untuk diantar pulang. Hal ini dilakukan untuk menghindari amukan Bara yang akan berdampak pada Syara, untuk itu Haris akan tetap pulang ke rumahnya sendiri.


###


Syara terus memikirkan perkataan Haris saat di mobil. Syara mulai menghubungkan tentang perlakuan Bara dengan dendam mama Bara yang ditujukan padanya. Rasanya, ia hampir tak percaya akan semua ini. Mertuanya itu sangat baik padanya, tapi apakah benar justru ini lah siasatnya untuk mencapai tujuannya dalam pernikahannya dengan Bara.


“Pantas saja dulu Mama Desi sangat menginginkan pernikahan ini terjadi, padahal kalau mama memang mau membantu kehidupanku, mama bisa saja hanya mengirimiku uang dan tak memintaku untuk tinggal di rumahnya. Tapi benarkah setega itu mama padaku?”


Syara pun mulai mengingat tentang hipotesa Haris tentang betapa inginnya mama Bara mencelakai ibunya, karena dianggap telah berselingkuh dengan papa Bara.


“Apa jangan-jangan karena suaminya meninggal, mama Bara jadi semakin membenci ibu dan membuatnya sakit-sakitan? Karena saat itu, sakitnya ibu karena depresi yang aku tak tahu penyebabnya. Apa mama Bara yang sengaja membuat ibu depresi? Lalu apa alasannya mama Bara menyalahkan ibu atas kematian suaminya? Apa ibu terlibat dalam kematian Om Brama? Ibu tak mungkin sengaja membunuh orang yang sudah baik pada keluarga kita.”

__ADS_1


Karena tak ingin memikirkannya sendiri, Syara bermaksud ingin bertanya langsung pada Om Gustav, namun Syara meminta saran dari Haris. Haris menolak dan meminta Syara untuk tak gegabah menanyakan ini pada Om Gustav. Haris merasa jika salah langkah, bisa saja Om Gustav akan tetap menyembunyikan semua ini.


...****************...


__ADS_2