
"Har, sori ya kamu jadi harus sering izin kerja karena masalah rumah tanggaku,” ucap Bara yang tak enak pada Haris karena sering membantu dirinya juga Syara dalam memecahkan misteri masa lalu.
Haris menepuk pundak Bara sembari tersenyum. “Yang penting semuanya bisa segera terungkap, Bar.”
“Har, tapi kalau aku pikir-pikir, sebagai anak, aku harus tahu sebab pasti kematian papa agar tidak bias. Apa kita harus menanyakan pada pihak rumah sakit ya, Har?” Bara beropini.
“Aku setuju. Kita bicarakan ini saat sudah sampai di apartemenku,” pinta Haris.
Pagi ini, Haris dan Bara membawa Syara menuju ke apartemen Haris. Haris ingin Bara dan istrinya bisa tenang selama di sana, tak ada gangguan dari mama Bara. Hingga perjalanan selama kurang lebih 3 jam, tiba lah mereka di apartemen Haris.
Bara berkali-kali tampak menenangkan istrinya yang masih kalut. Bara berjanji akan segera mengembalikan rumah orang tua Syara. Bara juga berjanji akan segera mengakhiri dendam sang mama.
“Sayang, kamu istirahat dulu ya, aku ingin berbincang dengan Haris,” pinta Bara seusai mengantar Syara ke kamar.
“Bara, aku takut mama kamu akan mencariku,” ucap Syara tak tenang.
“Ada aku dan Haris di sini yang akan melindungi kamu,” jawab Bara meyakinkan Syara semuanya akan baik-baik saja.
Bara kembali ke ruang tamu menghampiri Haris. Mereka tampak berbincang tentang strategi ke depannya. Beberapa menit kemudian, mama Bara meneleponnya dan meminta untuk pulang ke rumah.
“Bara tidak mau kembali ke rumah. Mama keterlaluan!” tolak Bara tegas.
“Mama janji tidak akan melanjutkan dendam ini pada Syara. Pulang ya, Nak. Mama tidak bisa jauh dari kamu,” rajuk sang Mama bernada sedih.
Bara kemudian mengatakan apa yang dikatakan Om Gustav semalam. Tentang tindakan mamanya yang membuat ibu Syara depresi hingga meninggal. Ia juga mengatakan bahwa dendam sang mama sudah terbalaskan dengan kematian ibu Syara, jadi tak seharusnya masih ingin membalaskan dendamnya pada Syara.
“Bara akan tetap melindungi Syara sampai kapan pun!” tutur Bara.
“Iya, Nak. Mama salah, Mama tak seharusnya bertindak demikian terhadap pernikahan kamu. Pulang ya Nak, beri Mama kesempatan,” bujuk mama Bara agar anaknya kembali pulang.’
__ADS_1
Di tengah percakapan Bara dalam panggilan teleponnya bersama mama Bara, Syara tiba-tiba keluar kamar dan menyahut percakapan mereka. “Apa? Jadi mama kamu yang membuat ibuku depresi hingga sakit-sakitan dan akhirnya meninggal? Mama kamu memang tak punya hati, Bara!”
Bara menutup teleponnya dan menenangkan Syara, begitu pun dengan Haris yang memberi penjelasan lebih lengkap agar Syara kembali tenang.
“Syara, batin kamu harus tenang. Kita tidak bisa menyeleseikan semua ini kalau batin kamu masih terguncang. Kamu tenang ya, kita sedang mengusahakan semuanya,” jelas Haris pelan.
Bara memeluk Syara yang tak sanggup menahan tangisnya. “Atas nama Mama, aku minta maaf, kita hanya korban dendam masa lalu orang tua kita. Aku dan kamu tidak tahu apa-apa. Kita harus memulai hidup yang baru.”
Bara mengantarkan Syara kembali ke kamar, dan segera menemui Haris lagi di ruang tamu.
“Bar, coba tanyakan pada mama kamu dimana rumah sakit tempat papa kamu meninggal, kita akan mencari tahu ke sana sekarang juga,” saran Haris untuk segera bergerak cepat.
Bara setuju dan menghubungi kembali sang mama untuk menanyakan hal ini.
###
“Kamu memang tidak bisa dibiarkan, Gustav! Kamu lupa dengan ancamanku saat itu? Ingat anak-anakmu!” Mama Bara kembali menghubungi adik iparnya itu karena tak terima dengan keterangan yang diberikan pada Bara.
“Jangan pernah menyeret anak-anakku dalam persoalan ini!” lanjut Om Gustav.
“Aku bisa saja melukai anak-anak kembarmu yang cacat itu biar semakin cacat!” ucap Mama Bara tertawa puas.
“Diam kamu, Desi! Wanita sepertimu memang sudah sepantasnya hidup sendirian! Lihat, anakmu saja sudah membencimu!” Om Gustav menutup teleponnya.
Setelah menghubungi Om Gustav, mama Bara menghubungi Syara. Ia meminta maaf atas semua yang dilakukannnya. Mama Bara juga ingin memperbaiki hubungan dengan Syara. Ia terus merayu agar Syara dan Bara kembali ke rumah.
“Maaf, Ma. Syara butuh ketenangan untuk sementara waktu,” ucap Syara kemudian mematikan teleponnya.
###
__ADS_1
Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Haris sempat menanyakan tentang anak-anak kembar Om Gustav yang ditemuinya ketika bertamu di rumah Om Gustav.
“Iya, mereka memang cacat dari kecil. Ibu mereka, istri Om Gustav, meninggal ketika melahirkan mereka,” terang Bara.
Haris mencerna ucapan Bara. “Hebat ya, dia membesarkan anak kembarnya yang berkebutuhan khusus sendirian. Aku jadi kasian saat Om Gustav ditolak papa kamu untuk ikut bekerja di perusahaan papa kamu, Bar. Padahal aku yakin Om Gustav memang hanya ingin bekerja di sana untuk menghidupi anak-anaknya.”
“Itu juga salah satu hal yang membuat aku kecewa pada orang tuaku, Har. Karena penolakan papa itu lah yang merenggangkan hubungan kita, hingga aku pernah membencinya. Dulu, papa sering marah pada adiknya itu hingga sakit jantung papa kambuh. Mereka sering bertengkar. Apalagi, dulu Mama sering mengatakan kalau Om Gustav itu jahat ingin menguasai harta papa. Karena itu lah aku kesal sama Om Gustav,” jelas Bara mengingat masa lalunya.
“Di satu sisi, mama kamu membenci Om Gustav, tapi di sisi lain ia beruntung karena keberadaan Om Gustav saat itu yang membawa papa kamu ke rumah sakit.” Haris kembali mencerna apa yang ia dengar.
“Mama memang munafik, entah kenapa dia bisa sebenci itu dengan Om Gustav, padahal ternyata Om Gustav orang yang sangat baik,” jawab Bara tak ingin ambil pusing.
Tak lama, mereka tiba di rumah sakit yang dituju. Mereka menanyakan pada satpam tentang tujuan kedatangan mereka, kemudian satpam membawa Haris dan Bara menuju bagian administrasi dan rekam medis rumah sakit. Mereka menanyakan tentang data kematian papa Bara.
Bara menunjukkan data-data pribadinya yang berkaitan tentang bukti bahwa ia adalah keluarga dari Brama, papa Bara. Diketahui, Brama adalah pasien IGD beberapa tahun lalu yang meninggal, namun masih sempat diperiksa penyebab kematiannya. Selama 30 menit kemudian, salah seorang petugas, memberikan berkas yang berisi hasil laboratorium beserta surat pernyataan kematian papa Bara. Petugas tersebut menjelaskan hasil pemeriksaan penyebab kematian papa Bara.
“Pak Brama meminum obat dengan dosis yang sangat tinggi. Setelah kami mengkonfirmasi dengan dokter spesialis yang menangani penyakit ayah anda saat itu, ternyata yang diminum bukan lah obat yang diberikan oleh dokter Hardy. Dokter Hardy, yang dulu masih praktik di sini, mengatakan bahwa beliau tidak pernah memberikan obat dengan dosis setinggi itu, karena bisa membahayakan nyawa pasien,” ungkap petugas tersebut.
Haris dan Bara saling berpandangan.
“Jadi, bukan karena keracunan obat, over dosis dan karena meminum obat yang seharusnya tidak diminum secara bersamaan?” Bara mencocokan dengan apa yang diberitakan Om Gustav.
“Kalau dikatakan keracunan obat, saya rasa tidak. Tapi bila dikatakan over dosis ya benar saja, karena dosisnya memang sangat tinggi, makanya dokter tidak pernah memberikan obat dengan dosis setinggi itu, karena jelas menyalahi aturan. Saat itu, dokter Hardy juga kaget kenapa pasiennya bisa meminum obat dengan dosis yang tak pernah ia resepkan. Namun, saat itu keluarga hanya menjelaskan bahwa yang bersangkutan meminum obat dalam jumlah banyak, dan meminta jenazah untuk segera dipulangkan agar bisa dikebumikan, sehingga tim medis terpaksa mengikuti permintaan keluarga dan tak meneliti lebih lanjut soal asal mula obat tersebut diminum. Dan untuk masalah obat yang diminum bersamaan, memang ada beberapa obat yang tidak boleh diminum secara bersamaan, namun tidak se ekstrim itu efeknya. Kondisi pasien saat itu langsung meninggal karena obat yang diminum mematikan fungsi jantung dan ginjal serta organ tubuh yang lain,” jelas petugas tersebut.
Petugas juga menambahkan bukti bahwa pihak keluarga lah yang menginginkan kematian ini tak ditelusuri lebih lanjut. Agar pihak rumah sakit tak terkena dampak di kemudian hari, mereka juga menyertakan berkas hitam di atas putih yang menyatakan bahwa pihak keluarga menyetujui dan menandatangani tindakan medis untuk tak meneliti lebih jauh kasus kematian mendadak tersebut.
Haris dan Bara melihat tanda tangan yang dibubuhkan sebagai perwakilan keluarga papa Bara.
“Mama.”
__ADS_1
...****************...